Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 77. Ngambek lagi, Rasya?


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Tisha menepis tangan Ray, dia segera menghampiri Rasya yang terbangun dan menangis karena pertengkaran mereka. Ray juga melakukan hal yang sama, begitu melihat anaknya menangis dia menghampiri anaknya itu.


"Papa sama Mama berantem terus.. aku gak suka.. aku gak suka.. hiks.. huu.. huu" Rasya menangis sampai terisak


Bagaimana papa dan mama bisa bersatu kalau mereka terus berantem? bagaimana aku bisa memiliki papa dan mama? Apa aku anak menjadi anak haram lagi yang hanya memiliki satu orang tua?. Kali ini Rasya menangis betulan, dia tidak berakting.


"Sayang, kamu gak berantem kok. Kamu salah paham.. jangan nangis ya sayang" Tisha berusaha menutupi pertengkaran nya dengan Ray, namun Rasya sudah terlanjur mendengar semuanya.


"Iya sayang, mama papa cuma ngobrol biasa kok" Ray juga khawatir melihat anak nya menangis.


Apa dia nangis beneran? kayanya beneran deh bukan akting.


"Ngobrol biasa apanya? sampai papa berteriak kencang seperti itu!" Rasya marah pada papa nya yang bicara dengan membentak.


"Maafin papa, papa membuat kamu terbangun ya? papa gak sengaja sayang" Ray merasa bersalah, dia menepuk-nepuk punggung anaknya dengan lembut, seraya menenangkan nya.


"Tuh kan, ini semua gara-gara kamu tau gak? kalau kamu gak berteriak, Rasya tidak akan bangun, nangis dan marah!" Tisha menatap kesal ke arah Ray, menyalahkan mantan suaminya karena dia sudah membuat Rasya sedih.


"Kenapa kamu jadi menyalahkan aku? ini semua gak akan terjadi kalau bukan kamu yang memulainya!" teriak Ray marah pada Tisha


"Semuanya salah kamu, lihat Rasya jadi menangis!" seru Tisha kesal pada Ray yang tidak mau mengakui kesalahannya.


Ray tidak bisa mengontrol emosi nya, dia memegang tangan Tisha lalu mencengkram nya. "Kalau kamu tidak membahas soal pria lain dan papa baru untuk Rasya, aku juga tidak akan marah seperti ini!"


"Kak Ray! sakit, lepaskan aku!! penyakit gila kamu itu kumat lagi ya?!" seru Tisha sambil berusaha melepaskan dirinya dari Ray.


"Apa?! kamu bilang aku gila?! bukannya itu kamu ya? kamu ngapain sama si Zayn selama 5 tahun ini? kamu mau mati ya?!"


"Zayn..dia adalah malaikat penolongku dan dia adalah orang yang sudah memberikan kasih sayang tulus pada Rasya. Tidak seperti kamu yang tidak pernah ada untukku!" Tisha tidak mau kalah bicara dari Ray, keduanya sama-sama emosi dan akhirnya malah cek-cok di depan Rasya.


"Malaikat penolong?! kalau dia malaikat penolong mu? lalu aku apa bagimu? aku adalah papa Rasya! sebenarnya bukan salah ku juga kenapa aku tidak pernah ada untuk Rasya, kamulah yang pergi membawa Rasya jauh dariku. Mengapa kamu merasa seperti aku satu satunya yang bersalah disini?!" Ray sudah kelewat emosi, kesabaran dan kelembutannya hilang dalam sekejap karena rasa cemburu pada nama pria yang sempat di sebut istrinya itu.


Tanpa sadar mereka berdua jadi bertengkar di depan Rasya. Dan hal itu membuat Rasya sedih, juga terpukul. Rasya tidak tahan mendengar semua percekcokan orang tua nya, dia marah lalu berlari ke arah Gerry yang sedang duduk di kursi belakang jauh dari sana, meninggalkan ayah dan ibunya yang lagi-lagi bertengkar.


Rasya memeluk Gerry dengan berurai air mata, "Pak sekretaris, huuhu...huuhu.."


"Ada apa tuan muda?" tanya Gerry sambil menatap anak berusia lima tahun itu dengan cemas.


"Papa sama Mama.. papa sama Mama berantem terus.. hiks" Rasya mengadu pada Gerry tentang apa yang terjadi antara papa dan mamanya.


Ada apa ini? bukankah beberapa saat yang lalu mereka baik-baik saja? kenapa sekarang mereka malah bertengkar hebat di depan tuan muda?


"Tuan muda tenang dulu ya, duduk sama saya saja yuk.. jangan nangis ya tuan muda.." ajak Gerry sambil menggandeng tangan anak itu dengan lembut.


Gerry keheranan mendengar Ray dan Tisha yang masih adu mulut. Mereka biasanya bisa menahan emosi di depan Rasya, tapi kali ini mereka berdua sama-sama meledak.


Sadar bahwa Rasya pergi, Tisha dan Ray dengan kompak menghampiri Rasya yang sedang duduk bersama Gerry.


"Rasya, sayang.. maafin mama nak, mama gak bermaksud buat kamu marah" bujuk Tisha sambil memegang tangan kecil Rasya, namun Rasya menepisnya dengan kesal.


Ya Allah, tanpa sadar aku dan kak Ray malah bertengkar di depan Rasya. Seharusnya Rasya tidak pernah mendengar nya. Dia pasti sangat sedih dan kecewa padaku. batin Tisha merasa sangat bersalah pada Rasya karena bertengkar dengan Ray di depan nya.


"Papa juga minta maaf ya.." bujuk Ray pada putra nya yang sedang marah itu.


Aku harusnya mengontrol emosiku di depan Rasya, kalau begini caranya Rasya tidak akan memihak ku lagi. Ray juga merasa bersalah, sama hal nya dengan apa yang di rasakan Tisha.


"Sayang.. maafkan Mama sayang, jangan marah ya sayang??" bujuk rayu Tisha dengan mengatupkan kedua tangannya memohon agar Rasya tidak marah lagi padanya.


Beberapa kali Ray dan Tisha memohon padanya, Rasya tetap diam saja dan dia mengacuhkan kedua orang tuanya, dia hanya memeluk Gerry dan memalingkan wajahnya. Rasya berbisik pada Gerry, entah apa yang dia bisikan padanya. Gerry hanya menganggukkan kepalanya.


"Gerry, dia bilang apa?" tanya Ray yang melihat Rasya berbisik pada Gerry.


"Tuan muda, tunggu disini dulu ya. Saya akan berbicara dengan pak Presdir dan bu Tisha" Gerry melepaskan anak itu dari pelukan nya dan mendudukkan Rasya di kursi yang ada disebelahnya.


Rasya patuh pada Gerry. Saat kedua orang tuanya melihat nya dengan tatapan mata penuh harapan berharap di maafkan, Rasya malah memalingkan wajahnya. "Hemph!!"


"Pak Presdir, Bu Tisha.. mari bicara di sana. Saya akan katakan apa yang tuan muda bisikan" bisik Gerry para Ray dan Tisha.


Tisha dan Ray paham, mereka mengerti maksud Gerry. Kemudian Gery, Ray dan Tisha pergi ke tempat yang agak jauh dari tempat Rasya duduk.


"Apa yang mau kamu bicarakan, Gerry? apa yang dikatakan Rasya?" tanya Ray pada Gerry


"Seperti nya untuk sekarang Bu Tisha dan pak Presdir belum bisa bicara dengan tuan muda" jawab Gerry dengan wajah sedih


"Apa maksudnya pak sekretaris?" tanya Tisha dengan mengerutkan keningnya


"Saya tidak percaya saya akan mengatakan ini, tapi inilah yang dikatakan oleh tuan muda Rasya"

__ADS_1


"Ayo katakan saja! jangan bertele-tele!" ujar Ray kesal


"Tuan muda Rasya bilang pada saya, sampai pak Presdir dan bu Tisha berbaikan. Tuan muda tidak akan mau berbicara dengan pak Presdir dan bu Tisha" jelas Gerry sambil tersenyum


"Berbaikan?" Tisha dan Ray saling melirik satu sama lain, lalu memalingkan mata mereka dengan kesal.


"Maafkan saya sebelumnya karena bicara seperti ini, tapi ini pengalaman saya sebagai seorang orang tua. Ketika seorang anak melihat orang tua bertengkar, itu akan sangat mempengaruhi kondisi psikis mereka. Dan seperti nya ini pertama kalinya bagi tuan muda melihat pak Presdir dan bu Tisha bertengkar, itu sebabnya tuan muda syok, marah, menangis. Seperti nya tuan muda juga sedikit kecewa karena kedua orang tua yang baru saja bertemu malah bertengkar di depannya"


Gerry yang sudah punya dua anak, tentu saja mengetahui tentang keadaan seorang anak ketika marah apalagi ketika orang tuanya bertengkar di depannya.


Bahkan Gerry menjelaskan, bahwa sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa pertengkaran orang tua yang disaksikan oleh anak bisa menyebabkan peningkatan produksi hormon stres anak. Bahkan bayi pun bisa terkena efeknya. Saat tertidur, bayi bisa merekam suara-suara keras dan teriakan di sekelilingnya. Itulah yang saat ini dirasakan oleh Rasya, dia bisa stress karena kedua orang tuanya yang bertengkar.


Semoga dengan ini pak Presdir dan bu Tisha bisa semakin dekat lagi. Juga mengerti perasaan tuan muda. Gerry berharap


Kedua orang yang pernah menjadi pasangan suami istri itu terlihat seperti berfikir keras. Keduanya sama-sama diam begitu mendengar penjelasan dari Gerry.


"Saya akan kembali pada tuan muda Rasya, dia juga berpesan kalau kalian harus berduaan selama 2 jam" Gerry nyengir


"Berduaan??" Tisha enggan berduaan dengan Ray.


Ray pun menggandeng tangan Tisha dan membawanya pergi. "Eh, kenapa kamu menarik-narik tanganku?"


"Kamu tidak dengar apa kata Rasya? kita harus berduaan supaya bisa baikan" ucap Ray dengan polosnya.


"Ber- berduaan apa yang dimaksud ya?" Tisha bergumam sendiri dan mulai memikirkan hal yang tidak tidak


Tisha dan Ray pun duduk berdua di kursi mereka. Bermaksud merenungkan semua kesalahan mereka.


"Tisha.. kita bersalah kan?"


"Kamu saja yang salah, aku tidak" Tisha masih sibuk menyalahkan Ray karena Rasya marah


"Kamu mulai lagi" gumam Ray kesal


"Kamu yang memulainya" Tisha tak mau kalah bicara dari Ray.


"Oke, aku duluan yang bicara. Aku minta maaf "


"Nah, itu kamu mengaku salah" Tisha tersenyum sinis mendengar pengakuan dari Ray.


"Aku minta maaf duluan, bukan berarti kamu juga gak salah. Kamu salah, karena kamu mengatakan hal yang memancing emosiku. Dan aku juga salah karena tidak bisa menahan emosiku di depan Rasya"


"Kenapa kamu selalu marah-marah terus? bisa tidak bicara dengan kepala dingin, sebentar saja? pantas saja Rasya selalu bilang kalau kamu galak, ternyata itu benar"


"Aku galak??!"


"Marah-marah terus tidak baik untuk kesehatan, Lebih baik kita baikan saja"


Ray mengusulkan perdamaian pada Tisha, setidaknya demi kondisi psikologis Rasya. Tidak baik bertengkar di depan Rasya, sebagai orang tua mereka harus terlihat rukun. Tisha setuju dengan saran Ray. Mereka pun berbaikan dengan membuat kesepakatan bersama.


Ray menjadikan ini sebagai sebuah kesempatan untuk bisa kembali dekat lagi dengan mantan istrinya.


"Kita berbaikan tapi aku punya syarat" ucap Ray sambil menatap Tisha


"Kamu berani mengajukan syarat??" Tisha tersenyum tipis mendengar kata-kata Ray.


"Ya, kamu harus berjanji kalau kamu tidak akan menikahi pria lain atau menjadikan pria lain sebagai papa nya Rasya" Ray mendekat ke arah Tisha dan mengunci tubuhnya. Sorot matanya yang tajam, membuat Tisha berdebar.


Deg, Deg, Deg,


Kenapa dia semakin tidak tahu malu?


Tisha mendorong pelan tubuh Ray yang mendekat padanya itu, "Kata-kata kak Ray sungguh tidak bisa ku mengerti, suatu saat nanti pasti aku akan menikahi seseorang. Mana bisa aku membuat janji begitu" Tisha tidak setuju dengan apa yang dikatakan Ray padanya.


"Siapa bilang aku melarang mu menikah lagi? kamu bisa menikah lagi, tapi hanya dengan aku" Ray mengangkat dagu Tisha dan membuat wajah mereka bertemu. Mata mereka saling menatap.


Aku tau Tisha, di hatimu masih ada aku. Tidak mungkin cinta pertama itu sirna begitu saja. Bahkan Zayn yang selama ini disisi mu tidak bisa merebut mu dariku. batin Ray semakin percaya diri mendapatkan hati Tisha kembali.


"Kamu sangat percaya diri, aku tidak akan menikah lagi denganmu. Meski kamu adalah pria terakhir di muka bumi ini" Tisha menunjukkan sisi jaim nya itu.


Selama kamu memiliki orang lain di hati kamu, aku tidak bisa lagi terluka karena itu. batin Tisha sedih


"Kita lihat saja nanti" Ray tersenyum percaya diri


Sebentar lagi aku akan membuat wajah jutek itu tersenyum padaku. batin Ray sambil melihat ke arah Tisha.


"Sudahlah, mari kita bicarakan soal anak kita dulu" ucap Tisha mengalihkan pembicaraan


"Ya, ayo kita bicarakan anak KITA" Ray sangat senang mendengar kata anak kita yang diucapkan Tisha

__ADS_1


Heh! dia terlihat senang sekali saat aku mengatakan nya?


πŸ€πŸ€πŸ€


Setelah 2 jam berlalu, Tisha dan Ray memutuskan untuk menemui anak mereka dan meminta maaf atas pertengkaran mereka. Kali ini Ray dan Tisha terlihat akur.


Anak itu terlihat sedang makan kue coklat dan permen di tempat duduknya bersama Gerry. Terlihat beberapa bekas permen disana "Ngapain mama dan papa kesini? emangnya udah baikan?" tanya Rasya dengan nada cueknya.


Seperti yang dikatakan Tisha, kalau sedang marah.. Rasya selalu makan coklat dan permen. Dia sangat menggemaskan. batin Ray sambil tersenyum melihat ke arah putranya yang imut itu


"Sayang, papa sama Mama kesini mau minta maaf sama kamu" Ray menatap putranya dengan penuh kesungguhan.


Rasya menghentikan makan coklatnya dan melihat ke arah Tisha, Ray, "Kenapa minta maaf sama aku?" tanya nya ketus


"Kami salah sayang.. kami sudah membuat kamu marah dan sedih. kami sudah baikan kok" Tisha memegang tangan anaknya dengan lembut


"Beneran kalian udah baikan? Kok aku gak percaya ya?" tanya Rasya dengan dahi berkerut


Mereka pasti cuma pura-pura baikan.


Demi anak mereka, mereka sangat kompak. Alangkah indahnya jika mereka menjadi sebuah keluarga. Gerry tersenyum melihat kekompakan Tisha dan Ray dalam upaya membujuk Rasya.


"Benaran kok kami sudah baikan" Ray berusaha meyakinkan Rasya dengan senyuman lembutnya


"Aku gak percaya" Rasya tetap tidak percaya


"Kami sudah baikan sayang, lalu apa yang harus kami lakukan agar kamu percaya, nak?" tanya Tisha penuh kesungguhan.


"Iya, kami memang sudah baikan kok" Ray duduk di samping Rasya.


Kini posisi Tisha dan Ray bersebelahan dengan Rasya. Rasya ada ditengah-tengah diantara kedua orang tuanya.


Rasya melirik tidak percaya kepada Ray dan Tisha, dia masih merasa kalau kedua orang tuanya berbohong.


"Kalian pasti masih belum baikan" ucap nya dengan wajah cemberut dan tampak imut


"Kami udah baikan kok!" seru Tisha


Aduh, kenapa kali ini Rasya sudah dibujuk ya? apa pertengkaran ku dan kak Ray sangat menyakiti hatinya?


"Kalau kalian udah baikan, pasti kalian pelukan dan ciuman" ucap Rasya dengan santainya


"A-Apa?!!" Ray dan Tisha terkejut mendengar ucapan polos dari anak itu.


"Ayo pelukan, terus ciuman" Rasya tersenyum lebar pada kedua orang tuanya.


Anak ini, masih sempat-sempatnya memiliki ide licik. Persis seperti pak Presdir. batin Gerry yang hanya senyum-senyum saja


"Kita tidak bisa melakukan nya, nak" jawab Tisha langsung menolak


"Papa sih mau mau saja, tapi mama kamu yang tidak mau" ucap Ray tidak tahu malu


PLAK


"Apa yang kamu katakan di depan anak kecil?!!" Tisha memukul punggung Ray dengan kesal


"Auw.. sakit tau!"


"Tuh kan, kalian masih belum baikan dan bertengkar lagi. Sudahlah, aku tidak mau memaafkan kalian" ucap Rasya yang semakin ngambek


Ray dan Tisha panik melihat Rasya semakin marah pada mereka. Rasya pun membuat permintaan agar dia percaya pada orang tuanya. Orang tuanya itu harus pelukan dan ciuman.


"Ayo, pelukan dan ciuman!" seru Rasya menantikan mama papa nya berpelukan.


Dasar bocah licik, persis seperti aku. batin Ray


Ray memeluk Tisha dengan lembut dan penuh kasih sayang, Tisha sendiri membiarkan dirinya di peluk oleh Ray demi Rasya.


GREP


Deg, deg, deg


Ternyata rasa ini masih ada, ya Allah..Tisha merasa hatinya berdebar saat papa dari anaknya itu memeluk dirinya.


Tisha, aku merindukan mu. Aku rindu memeluk mu seperti ini.


"Yeehh!! sekarang ciuman!!" Rasya tersenyum lebar melihat kedua orang tuanya berpelukan.


"Ciuman??!!" Tisha terpana mendengar nya.

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2