Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 141. Kebenaran Dean


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Tisha segera berlari keluar dari ruangan itu untuk memanggil dokter. Betapa bahagianya dia melihat pak Faisal sudah sadar dari komanya. Ray menemaninya, dengan mata berkaca-kaca dia menatap Pak Faisal.


"Kakek! Alhamdulillah kakek kembali sadar.."


"De...an... pang...gil.."ucap pria tua itu pelan-pelan dengan suara nya yang lemah.


"Kakek bilang apa?" tanya Ray sambil mendekatkan dirinya pada pak Faisal untuk mendengarkan dengan jelas apa yang dikatakan oleh kakeknya itu.


"De..an.. ke..mari.." ucap nya lagi terbata-bata.


"Panggil om Dean kemari? Apa itu maksud kakek?" tanya Ray pada kakeknya.


Pak Faisal mengangguk lemah, dia tak mampu bicara banyak. Ray tersenyum dan berkata pada kakeknya bahwa dia akan memanggil Dean sekarang juga.


Kemudian, Tisha datang bersama seorang dokter ke ruangan itu. Dokter langsung memeriksa kondisi pak Faisal, dia mengatakan bahwa sadarnya pak Faisal adalah sebuah keajaiban. Walau luka di kepala nya begitu parah, tapi pak Faisal masih bisa bertahan dan kembali dengan selamat.


Tisha dan Ray sangat amat bersyukur pak Faisal bisa kembali dengan selamat. Tapi hal pertama yang dia tanyakan adalah Dean. Ray gemas ingin bertanya kecelakaan yang menyangkut kakeknya, tapi dia tahan karena Pak Faisal belum bisa di ajak bicara lebih banyak.


Dean datang ke rumah sakit sesuai dengan permintaan Pak Faisal. Dia datang bersama Daniah.


"Masuk saja om, kakek sudah menunggu di dalam" kata Ray pada pamannya dengan judes.


"Baik" jawab Dean.


Papa ingin bertemu denganku? Apa papa akan marah padaku?. Tebaknya dalam hati.


Daniah dan Dean melangkah masuk ke dalam ruangan pak Faisal. Kemudian, Ray menghentikan langkah Daniah. "Kakek bilang dia hanya ingin bertemu dengan om Dean" Ray mendelik sinis kepada bibinya itu.


Daniah tidak dapat berkata apa-apa lagi, dia pun duduk di kursi dengan kesal. Sementara suaminya masuk ke dalam ruangan itu sendirian untuk berbicara dengan pak Faisal.


Dengan langkah yang gemetar, Dean menghampiri pak Faisal yang dalam kondisi duduk berbaring di ranjang. Selang infus, masih terpasang di tubuhnya, kepala dan tangannya di perban.


"Pa..pa.." lirih Dean sambil mengepalkan tangannya dengan gemas.

__ADS_1


"Kemari lah.."Pak Faisal memanggil anaknya untuk mendekat.


Dean melangkah mendekati pak Faisal, ada rasa cemas dan takut di dalam hatinya. Juga ada rasa bersalah karena dia lah yang sudah membuat kondisi sang papa seperti ini.


"Dean.. aku..minta..maaf" Pak Faisal tersenyum pahit, dengan mata berkaca-kaca menahan air mata nya yang akan tumpah.


Deg!


Pria itu menoleh ke arah Pak Faisal dengan mata membulat, kenapa papa nya meminta maaf? Harusnya dia yang meminta maaf pada papanya! Dean tidak mengerti!


"Kenapa papa minta maaf padaku? Apa papa sedang menyindir ku? Supaya aku meminta maaf pada papa kan?" tanya Dean curiga.


"Aku bersungguh-sungguh.. sudah waktunya kamu tau kebenaran. Dean, apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan saat aku jatuh?" tanya Pak Faisal sambil menatap Dean.


"Papa bilang kalau aku anak kandung papa" jawab Dean sambil duduk di samping pak Faisal.


"Benar, kamu anak kandungku" kata Pak Faisal sambil tersenyum pahit, dia menangis.


"Jangan mengatakan omong kosong pa! Aku adalah anak panti asuhan yang papa pungut saat aku berusia 7 tahun!" seru Dean sedih.


"Kamu memang berasal dari panti asuhan, tapi kamu adalah anakku Dean. Anak kandung ku sama seperti Raphael, adikmu" Pak Faisal menangis, berat hatinya mengatakan kebenaran ini.


Pak Faisal akhirnya mengatakan pada Dean, kebenaran yang tidak dia ketahui. 8 tahun yang lalu, Pak Faisal tak sengaja tidur dengan seorang office girl di dalam kantornya dalam keadaan mabuk. Tak lama setelah itu, Pak Faisal menikah dengan ibu Raphael dan memiliki Raphael.


7 tahun kemudian, ke dalam rumah keluarga Argantara ada sebuah surat dari seorang wanita tua yang isinya mengatakan bahwa office girl yang tidur dengan Pak Faisal 8 tahun lalu itu hamil anaknya. Karena tidak sanggup mengurus sang anak, akhirnya si office girl itu menitipkan anaknya ke panti asuhan. Dan anak itu adalah Dean. Demi membawa Dean masuk ke dalam keluarga Argantara, Pak Faisal sengaja memalsukan identitas Dean sebagai anak angkatnya.Jika keluarga Argantara sampai tau kalah Pak Faisal memiliki anak haram, akan berakibat buruk untuk reputasi keluarga nya.


Bahkan sampai kematian istrinya, Pak Faisal tidak pernah mengatakan tentang Dean adalah anak kandung nya dengan office girl itu.


Tanpa sadar air mata Dean mengalir mendengar cerita pak Faisal. Hatinya sakit mendengar kebenaran yang pahit itu.


"Jadi, aku adalah anak haram pa? Aku anak haram papa bersama ob?" tanya Dean sakit hati.


"Maafkan papa nak, papa melakukan ini semua karena papa ingin tinggal bersama kamu"


"Seharusnya papa tidak mengatakan nya sampai mati! Aku tidak suka menjadi anak papa!" seru Dean sambil menangis sakit hati.

__ADS_1


"Kamu berhak marah, tapi ini adalah faktanya. Dean.. kamu sudah tau segalanya. Dean, kamu jangan mengaku kalau kamu yang mendorong ku. Biarlah ini menjadi rahasia kita bertiga, kamu, papa dan Daniah" kata Pak Faisal bermaksud melindungi Dean dari polisi. Hati pak Faisal lega begitu mengatakan kebenaran tentang Dean yang selama ini dia simpan di dalam hatinya.


Dean tersentak kaget mendengar papa nya mencoba melindungi dirinya dari hukum. Dean semakin merasa bersalah, dia menangis. Apakah akhirnya Dean punya hati? Dean melangkah keluar dari ruangan itu. Perasaan nya berkecamuk tidak karuan, antara senang, sedih dan kecewa pada papanya.


"Dean.. tunggu..."


"Ya?" jawab Dean tanpa menoleh ke arah Dean.


"Panggilkan Raymond dan Tisha kemari" titah pria tua itu pada Dean.


Dean tidak menjawab, dia menyeka air matanya dan keluar dari ruangan itu. Dia memanggil Tisha dan Ray untuk masuk ke dalam ruangan, atas perintah pak Faisal.


"Masuklah, kakek menyuruh kamu dan wanita itu ke dalam" ucap Dean dengan wajah sedih nya.


Cekret...


"Kakek.." sapa Tisha kepada pria tua itu, dia tersenyum lembut.


"Kakek, apa kakek sudah baikan?" tanya Ray sambil menatap cemas pak Faisal.


"Tisha, Ray.." Dengan tangan keriputnya, dia mengambil satu tangan Tisha dan satu tangan Ray. Kemudian dia menyatukan kedua tangan itu hingga bertemu.


Ray dan Tisha saling melihat satu sama lain dengan wajah bingung. "Waktu kakek tidak banyak...kakek ingin meminta sesuatu pada kalian berdua"


"Kakek, kenapa kakek bicara seperti itu? Kakek akan panjang umur dan sehat selalu kek" Kata Tisha yang cemas mendengar kata-kata kakeknya.


"Kakek jangan bicara sembarangan" kata Ray tidak suka dengan kata-kata kakeknya.


"Kakek mohon, kabulkan permintaan kakek ini..kakek ingin kalian berdua menikah kembali" Pak Faisal tersenyum kepada kedua cucunya itu.


Deg!


Tisha dan Ray terpana mendengar nya, mereka saling menatap.


...---***---...

__ADS_1


Hai Readers, sambil nunggu up novel ku.. kalian bisa mampir ke karya temanku yang satu iniπŸ₯°πŸ™



__ADS_2