Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 167. Masa lalu apa itu?


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Para karyawan Apparel desain makan malam bersama di restoran itu. Sambil bercanda tawa, namun hanya Tisha saja yang diam saja. Karena dia merasa tidak nyaman dengan Derrick yang duduk di depannya dan terus menatapnya dengan aneh.


Apa apaan sih? Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia sengaja ingin semua orang memperhatikan ku juga? Kak Ray benar, aku harus berhati-hati dengan orang misterius ini.


Semua orang menatap Tisha dan Derrick karena Derrick terus menatap Tisha dengan tatapan aneh. Sesekali pria bermata biru itu menyunggingkan senyumnya.


"Bu Latisha!" ucap Derrick memanggil wanita yang berada di hadapan nya itu.


PRUTTTT!!!


Tisha yang tadinya sedang minum, tak sengaja menyemburkan air di dalam mulutnya pada baju Derrick hingga basah. Itu karena dia terkejut dengan panggilan yang tiba-tiba.


"Ya ampun Tisha!" kata Riani terkejut melihat pemandangan itu.


"Ma-maaf kan saya pak, saya benar-benar tidak sengaja!" Tisha panik melihat kondisi baju Derrick yang basah.


"Tidak apa-apa." jawab Derrick menahan kesal.


"Tisha, kamu cepat bantu pak Derrick!" seru Erika pada rekan kerjanya itu.


"Saya benar-benar tidak enak pak, saya akan bantu membersihkan nya. Tunggu ya!" wanita itu buru-buru pergi ke tempat pemesanan makanan dan dia mengambil lap untuk mengusap baju Derrick.


"Saya sudah bawa lap nya pak!" Tisha berlari, kemudian kaki nya tersandung sesuatu. Seorang pelayan berdiri di depannya dan tertabrak oleh Tisha.


Alhasil makanan yang dibawa pelayan itu menimpa ke tubuh Derrick dan Tisha.


BRAK!


Kenapa aku sangat ceroboh?. Tanpa sadar Tisha duduk di pangkuan Derrick dengan mie yang berada di atas kepala mereka


Bagaimana bisa Raymond menyukai gadis ceroboh seperti ini?


Semua orang disana menahan tawa melihat apa yang terjadi. Tisha juga menahan tawa melihat mie yang berada di atas kepala Derrick.


"PFut!"


Tahan Tisha, jangan tertawa.


"Apa kamu akan tetap berada disini?!" Derrick menatap sinis pada wanita yang duduk dipangkuan nya. Tisha langsung menyingkir dari pangkuan Derrick, kemudian dia membersihkan mie yang ada di badannya juga kepalanya.


"Maafkan saya pak, maafkan saya..saya benar-benar tidak sengaja!"


Disisi lain ada Shara yang terlihat bingung harus berbuat apa.


Ting!


Pak Raymond :


Shara, apa yang sedang di lakukan istriku? Cepat ambil fotonya! Aku mau lihat!


Pesan masuk ke ponsel Shara. Apa yang harus aku katakan? Kalau aku mengambil fotonya saat ini, maka..perang dunia yang akan terjadi.


Balasan:


Pak, Bu Tisha sedang berada di kamar mandi. Apakah saya harus mengambil fotonya juga?


Ray yang sedang duduk di sofa, langsung terperanjat melihat jawaban dari Shara. Kemudian dia menanyakan apakah Derrick berbuat macam-macam pada Tisha? Dan Shara menjawab tidak.


Tisha pergi ke kamar mandi bersama Shara dan Erika. Mereka membicarakan tentang Presdir baru mereka yang terkena mie dan ketumpahan air di tubuhnya.


"Tisha, kamu ada ada saja? Ya ampun, bagaimana bisa kamu membuat acara penyambutan Presdir baru menjadi stasiun lawak! Haha!" Erika tertawa sambil bercermin di cermin.

__ADS_1


"Aku kan tidak sengaja..ya ampun, apakah dia akan memecat ku?" tanya Tisha sambil tersenyum dan membersihkan bajunya.


"Mana mungkin dia berani memecat istri bapak Raymond Argantara!" kata Shara sambil tersenyum ramah pada Tisha.


"Haha, kamu bisa saja Shara. Oh ya jangan lupa besok kita ada rapat, itu pun jika aku masih berada disini..haha" Tisha tertawa terus memikirkan kejadian yang tadi.


Makan malam itu pun usai pukul 9, ketika semua orang sudah pulang. Tisha, Shara dan Derrick berada di paling akhir.


"Bu Tisha, apa perlu saya mengantarkan Bu Tisha pulang? Atau perlukah saya memanggil taksi?" tanya Shara sopan.


"Tidak usah Shara, suamiku bilang dia akan menjemput ku." jawab Tisha menolak ajakan Shara.


Ya benar aku tau pak Raymond akan menjemput nya, tapi aku harus tetap berada disini untuk menjaganya. Shara masih berada ditengah-tengah mereka.


Raymond akan menjemput nya? Kebetulan sekali.


"Oh ya pak Presdir.Kenapa pak presdir belum pulang?"tanya Tisha sambil tersenyum lebar.


"Setelah berbuat salah, kamu masih bisa tersenyum seperti itu. Menyebalkan!" ucap nya sinis.


"Ternyata bapak masih dendam soal masalah tadi? Maafkan saya pak, saya benar-benar tidak sengaja. Apa bapak akan memecat saya?" tanya Tisha sambil menatap tajam ke arah Derrick.


"Memecat kamu? Jangan mimpi! Terlalu mudah untukmu kalau aku memecat mu!" Derrick tersenyum sinis.


"Maaf pak Presdir, tapi saya bukan tipe orang yang akan memendam rasa penasaran. Makanya saya ingin langsung bertanya pada pak presdir, apa yang mengganjal hati saya saat ini. Apa hubungan bapak dengan suami saya?" tanya Tisha penasaran.


Derrick tercekat mendengar pertanyaan Tisha yang begitu terbuka dengan rasa ingin tahu."Kenapa kamu tidak tanya saja kepada suamimu?" tanya Derrick.


"Dia tidak menjawab, hanya saja saya tau kalau itu bukan hubungan yang baik. Apa saya benar?"


"Memang pantas menjadi istri nya, kamu memiliki intuisi yang tajam. Tapi maaf, kamu tidak akan mendapatkan jawaban dariku. Cari tau saja dari suamimu." kata Derrick sinis, dan menolak mengatakan nya.


"Baiklah kalau begitu aku tidak akan memaksa!" seru Tisha sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, Ray dan Rasya datang menjemput Tisha di depan restoran itu. Rasya berlari keluar dan memeluk Mama nya. Diam-diam Shara memberikan isyarat pada Ray untuk pamit pergi.


"Bu Tisha, pak Presdir, saya pamit dulu.Taksinya sudah datang!" Shara tersenyum lebar sambil memberhentikan taksi di depannya.


"Hati-hati ya Shara." Kata Tisha mengingatkan para bawahannya itu.


"Iya Bu" jawab Shara sambil tersenyum dan mendudukkan kepalanya dengan sopan.


Derrick sengaja masih berdiri disana, dia menantikan pertemuan nya dengan Ray. Kedua pria itu saling menatap dengan tajam menunjukkan permusuhan.


"Mama! Mama kok pulangnya malam sih?!" Rasya bersikap manja pada mama nya.


"Hehe iya sayang, maafkan mama ya. Malam nanti enggak akan gini lagi kok," Tisha membujuk anak nya untuk tidak marah.


"Sudah lama tidak bertemu ya Raymond," Derrick menyapa pria itu dengan gaya arogannya.


"Ya, bagaimana kabarmu?" tanya Ray berusaha sopan pada pria itu.


"Menurutmu bagaimana kabarku setelah kau mengambil satu satunya keluarga ku yang berharga?" Derrick melihat Ray dengan mata berkaca-kaca dan emosi.


Tisha melihat keduanya. Dia mendengar pembicaraan diantara mereka berdua. Apa maksudnya Ray mengambil keluarga yang berharga?


"Ternyata kamu masih menyimpan dendam, apa yang terjadi padanya. Bukanlah kesalahan ku, tapi kamu masih menyalahkan ku!"


"Bukan kesalahan mu? Setelah membunuh orang, kau bilang itu bukan salahmu?!" Derrick tersenyum sinis pada Ray.


"Ma, apa papa membunuh orang?" tanya Rasya pada mama nya, dia takut mendengar teriakan Derrick.


Bukan hanya Rasya yang terkejut dengan ucapan Derrick. Tapi Tisha juga tidak paham apa maksud Derrick dengan membunuh.

__ADS_1


"Sayang, kita lebih baik pulang dulu! Rasya sedang mendengarkan." Bisiknya pada Ray, meminta suaminya untuk pulang.


"Seperti nya ini bukan saat yang tepat untuk bicara denganmu. Mari bertemu lagi nanti."


"Baik, lagipula kita akan sering bertemu." jawab Derrick dengan wajah datarnya.


Ray, Rasya dan Tisha pulang ke rumah mereka. Suasana di dalam perjalanan juga hening, apalagi Rasya yang terus bertanya tentang apa maksud perkataan Derrick pada ayahnya.


Sesampainya di rumah, Tisha langsung menidurkan Rasya di kamarnya. Setelah Rasya tertidur lelap, Tisha masuk ke dalam kamarnya dan melihat Ray sedang duduk di balkon.


"Apa kamu masih tidak mau bicara kak?" tanya Tisha pada Ray, "Apa maksudnya kamu membunuh orang?"


Ray mendekati istrinya yang duduk di sudut ranjang. "Masa lalu apa itu kak?"


Pria itu akhirnya menceritakan segalanya pada Tisha. Tentang masa lalunya, di zaman SMA. Dia menceritakan tentang seorang gadis yang jatuh cinta pada Ray, dan selalu mengikuti nya. Suatu hari gadis itu mengatakan cinta nya pada Ray, dan Ray menolaknya dengan dingin.


Gadis itu mengajak Ray untuk bertemu di atap sekolah dan bilang untuk yang terakhir kalinya, tapi Ray tidak menemuinya karena Ray ketiduran. Sampai pada keesokan harinya gadis itu ditemukan sudah tiada di depan sekolah dengan kepala pecah dan tubuh yang patah. Sejak saat itu Ray disalahkan atas meninggalnya gadis itu.


Tisha terkejut mendengar cerita singkat dari suaminya itu, "Innalilahi, lalu..apa hubungannya gadis itu dengan kamu dan pak Derrick?"


"Derrick adalah kakak kelasku, sekaligus kakak dari gadis yang tiada itu. Tadinya aku ingin merahasiakan ini selamanya, tapi aku tidak mau kamu salah paham."


"Ya, terimakasih kamu sudah menceritakan nya. Kini aku mengerti kenapa pak Derrick bersikap seperti itu. Dia pasti sangat kehilangan adiknya, dan menyalahkan mu." Tisha mengerti mengapa Derrick memusuhi Ray dan Ray menganggap dia berbahaya. "Tapi hati manusia bisa berubah, kamu dan pak Derrick bisa berdamai."


"Itu tidak mungkin! Berkali-kali aku berusaha menjelaskan semuanya bahwa aku tidak sengaja tidak datang kesana!"


Wanita itu membelai kedua pipi suaminya dengan lembut. "Sayang, aku percaya dia bisa luluh kalau kamu menjelaskan nya sekali lagi."


"Bertahun-tahun aku meminta maaf padanya, tapi.."


Cup


Tisha mengecup kening suaminya dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, jangan menyerah..aku akan membantumu." Tisha memberikan semangat pada suaminya.


"Tisha, aku mohon keluarlah dari perusahaan itu ya. Demi aku, demi keselamatan mu juga." Ray menundukkan kepala di bahu Tisha. Wanita itu memeluknya.


"Baiklah kalau itu mau kamu, aku akan keluar dari perusahaan secepatnya. Kamu merasa tenang kan?" Tisha setuju untuk berhenti dari perusahaan.


"Iya aku tenang..setelah ini aku akan membantumu masuk ke perusahaan desain yang kamu mau."


"Tidak perlu, aku akan masuk ke perusahaan desain dengan caraku sendiri. Bukan karena aku istri Raymond Victor Argantara. Besok aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku."


"Syukurlah. Terimakasih sayang... terimakasih.."


Dengan begini aku tidak perlu cemas kalau Tisha sudah berhenti bekerja disana.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Grace mendatangi rumah lama Tisha. "Ini kan rumah Tisha? Apa orang itu tidak salah? Di rumah ini ada selingkuhan suamiku?" Grace melihat sebuah foto di tangannya.


Grace memberanikan dirinya mengetuk pintu rumah itu. Tok, tok, tok!


"Ya, sebentar?" Fayra membuka pintu, dia terkejut melihat Grace ada di hadapan nya.


Grace melihat wajah Fayra baik-baik, dia menyamakan foto itu dengan wajah Fayra. Matanya berkaca-kaca menatap wanita itu, insting nya sebagai istri memang kuat.


"Ternyata kamu orangnya, mantan kekasih Sam.. suamiku." perih hati Grace mengatakan hal itu dari mulutnya.


Fayra tercengang, dia menelan saliva nya. Hatinya berdebar kencang! Dia seperti ke gep berselingkuh!


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2