Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 91. Kamu akan dukung papa, kan?


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Selain mengurus pekerjaan Ray di kantor, Gerry si sekretaris kompeten Presdir Argantara grup itu juga ikut berkecimpung dalam urusan pribadi Ray. Tentu saja dengan bayaran yang tidak murah, Gerry mengerjakan semua pekerjaan yang di perintahkan oleh Ray padanya. Walau kadang dia suka mengeluh karena lelah harus mengurusi urusan pribadi Ray juga.


"Gerry, kamu tuli ya?!" tanya Ray yang tak kunjung mendengar suara Gerry..


"Gerry, kamu benar-benar tidak becus! potong gaji!" seru Ray setiap kali Gerry gagal melaksanakan perintah nya.


Terkadang dia dimarahi, di maki, tapi ketika pekerjaannya berakhir dengan baik maka dia akan dipuji.


"Bagus Gerry, bonus untukmu bulan ini"


Begitulah pekerjaan Gerry yang berat sehari-sehari nya, menjadi kaki tangan Raymond V. Argantara. Walaupun lelah, Gerry tetap bertahan pada Ray karena uang dan karena dia memang mengabdi sepenuhnya pada keluarga Argantara.


"Gerry, satu lagi!"


"Ya pak, ada apa?"


"Jangan lupa minta pak Prapto untuk membuat surat tuntutan lagi. Kali ini tuntutannya adalah tentang mengganggu ketertiban di rumah orang dan pencemaran nama baik" jelas Ray sambil tersenyum sinis, dia meneguk kopi hangat nya.


"Kali ini tuntutan nya di tunjukkan untuk siapa pak?"tanya Gerry sedang menuliskan semua yang dikatakan oleh Ray padanya di secarik kertas dengan bolpoin nya. Sang istri melihatnya dari samping.


"Zevanya" jawab Ray singkat dengan mata yang marah karena dia harus mengucapkan nama itu dengan bibirnya.


Wanita itu..aku tidak bisa membiarkan nya masuk ke dalam kehidupan ku dan Tisha lebih dalam lagi. Dia sudah terlalu banyak menghancurkan kebahagiaan kami. Sehingga aku dan Tisha sampai pada ketitik ini. Titik dimana kami harus memulai semuanya dari awal, memulihkan kepercayaan satu sama lain.


"Bukankah tadi siang kita sudah membuat surat tuntutan pada Bu Zevanya?"


"Benar, tapi masalah ini beda lagi. Bisa tidak sih kamu tidak banyak bertanya dan jalankan sana apa perintah ku!" seru Ray kesal


Mulai lagi haaihh, kumat marah-marah nya. gerutu Gerry membatin.


"Ya baiklah pak, saya akan segera menghubungi pak Prapto. Tapi mungkin suratnya akan sampai di rumah Bu Zevanya besok pagi atau siang" jelas Gerry memperkirakan


"Baik, lapor padaku ketika semuanya selesai. Oh ya dan Gerry, tolong berikan laporan tentang Zayn Alterra juga" Raut wajah Ray berubah menyeramkan saat membicarakan soal Zayn, rival cintanya.


"Baik pak, tapi saya butuh untuk mencari informasi nya"


"Jangan buat aku terlalu lama menunggu"


Pembicaraan antara Presdir dan sekretaris nya itu berakhir setelah satu jam lamanya berbicara. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Ray merasa lega karena dia membereskan semua urusan yang mungkin akan menjadi masalahnya di masa depan, namun belum sepenuhnya dengan Zevanya. Ada masalah lain juga menganggu hatinya yaitu sosok Zayn Alterra, pria yang dekat dengan Tisha dan Rasya selama enam tahun ini.

__ADS_1


Sebelum pergi tidur, Ray membuka pintu kamar Rasya pelan-pelan. Dia melihat Tisha tertidur pulas di samping Rasya, sementara Rasya terbangun.


"Nak, ada apa? kenapa kamu bangun jam segini?" tanya Ray sambil menghampiri anaknya yang duduk di ranjang


"Papa jangan berisik! kasihan mama baru tidur" bisik nya pada sang papa mengingatkan


"Iyah, papa gak akan berisik. Kenapa kamu bangun?" tanya Ray berbisik pada Rasya


Mereka pun jadi bicara berbisik-bisik, tak mau menganggu Tisha yang tengah tidur.


"Aku.. aku mau pipis, tapi aku gak bisa jalan sendiri" Rasya menggaruk-garuk telinga nya dengan malu


"Oh itu, ya sudah sama papa antar ke kamar mandi nya ya" kata Ray dengan perhatian pada putranya.


"Gak usah pah, cowok harus kuat. Masa ke kamar mandi aja harus diantar, aku kan udah gede" ucap Rasya sambil berusaha turun dari ranjang nya.


"Sudahlah papa bantu saja biar cepat" Ray memegang tangan kecil Rasya. Melihat ke arah kaki kecil anak itu yang masih di gips.


Dia pasti tidak tega membangunkan mama nya.


"Gak usah pah, aku bisa sendiri" tolak Rasya pada papa nya, anak kecil itu beranjak dari ranjangnya.


"Kamu jangan keras kepala deh"


GREP


"Aduh!"


"Kamu mirip siapa sih? keras kepala sekali" celetuk Ray pada Rasya.


"Bukannya semua orang bilang kalau aku mirip papa?" Rasya tersenyum cerah pada papa nya


"Iya kamu mirip dengan papa. Yuk, papa antar ke kamar mandi" Ray menggendong Rasya dengan lembut


"Hehe iya pa, tapi jalannya pelan-pelan ya.. nanti mama bangun" bisik Rasya pada papa nya


"Iya sayang, jadi papa boleh antar nih?"


"Boleh, tapi jangan sampai masuk ke dalam kamar mandi. Aku bisa pipis sendiri" kata Rasya dengan wajah imutnya


Imutnya sekali anakku ini, seandainya aku melihat dia lebih cepat. Bahkan jika mungkin aku ingin melihat nya di dalam kandungan ibunya. Ray melenguh tersenyum

__ADS_1


Ray mengantar Rasya masuk ke dalam kamar mandi, dia membantu Rasya dengan penuh kasih sayang. Setelah selesai pipis, Ray kembali menggendong Rasya dan menyuruh anaknya untuk kembali tidur. Rasya senang sekali karena dia mempunyai seorang papa yang kelihatan nya sayang padanya.


Dengan seluruh hatinya Ray mengatakan bahwa dia mencintai Rasya dan Tisha. Ray juga janji pada Rasya bahwa mereka akan menjadi keluarga, dia meminta Rasya agar mendukung dan membantunya juga.


"Tenang saja pa, aku akan selalu mendukung papa!" ucap Rasya sambil berbaring di ranjangnya, disisinya Tisha masih tertidur pulas.


"Kamu tidak ingin mendukung Om Zayn menjadi papa kamu?" tanya nya hati-hati pada anak itu. Ray ingin memastikan bagaimana jika seandainya Rasya menerima Zayn sebagai papa nya.


"Kenapa om Zayn mau jadi papaku? aku kan punya papa sendiri" gumam nya dengan wajah polos dan bingung.


"Jadi kamu gak akan menerima om Zayn jadi papa mu? kamu pasti mendukung papa kan?" tanya Ray berapi-api


"Hem.. papa ku ya tetap papa Ray, kalau om Zayn dia itu om baik" Rasya nyengir pada papa nya.


"Rasya, jawab yang benar dong. Kamu pasti dukung papa kan?" tanya Ray sambil menyelimuti anaknya dengan selimut hangat.


"Dukung papa apanya?" tanya Rasya bingung


"Dukung papa jadi papa kamu" jawab Ray dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Papa kan udah jadi papa ku, kenapa harus di dukung lagi untuk jadi papa ku?" Rasya berkata dengan polosnya.


Ray pun tertawa kecil mendengar kata-kata polos anaknya itu, "Ya ampun, aku lupa kalau aku bicara dengan anak kecil usia lima tahun" gumam nya pelan dengan tawa kecil


"Papa walaupun aku baru lima tahun! tapi aku sudah besar pah, jangan panggil aku anak kecil" Rasya mendengus kesal


"Baiklah baiklah kamu bukan anak kecil, kamu sudah besar deh" Ray mengalah, dia menepuk kepala Rasya dengan lembut. "Ya sudah tidurlah sayang" Ray mencium kening putranya dengan lembut, dia yang tidak pernah membagikan kasih sayangnya. Merasa bahwa hatinya terasa hangat.


CUP


Aku tidak suka dicium seperti anak kecil, tapi kenapa aku gak marah ya dicium sama papa? apa ini pertama kalinya?. Rasya senang di cium oleh papa nya


Kenapa anak ini tidak marah? bukannya dia tidak mau diperlakukan seperti anak kecil? haha..dasar.. seperti nya mulai hari hariku akan lebih berwarna. batin Ray bahagia dengan kehadiran Rasya di dalam hidupnya.


"Selamat malam ya sayang" Ray beranjak dari sudut ranjang itu dan melangkah meninggalkan anaknya.


SRET


Tangan kecil Rasya meraih tangan papa nya, menghentikan Ray berjalan."Ya sayang? ada apa?" tanya Ray


"Papa lupa ya? papa harus cium mama juga.." Rasya yang polos itu menatap Ray penuh harapan

__ADS_1


"A-Apa??"


...---***---...


__ADS_2