
...Jelaskan pada ku isi hatimu...
...Seberapa besar kau yakin padaku...
...Untuk tetap bisa bertahan denganmu...
...Menjaga cinta ini...
...Pertengkaran yang terjadi...
...Seperti semua salah ku...
...Mengapa slalu aku yang mengalah...
...Tak pernahkah kau berfikir...
...Sedikit tentang hatiku...
...Mengapa ku yang harus slalu mengalah...
...Pantaskah hatiku masih bisa bersamamu...
...Jelaskan pada ku isi hatimu...
...πππ...
Tisha tersenyum sinis, dia langsung beranjak dari tempat duduknya. "Sayang, aku percaya sama kamu. Kamu tidak perlu membawa wanita ini untuk menjelaskan nya. Sekarang ibu Stefani bisa pulang, terimakasih untuk penjelasan nya." Wanita hamil itu mengusir Stefani secara halus.
Tidak peduli Stefani sedang menangis dan memelas dihadapan nya. Ray juga bersikap sama, dia mengusir Stefani dan meminta Gerry mengantarnya pergi. Ray mengerti sikap yang Tisha tunjukkan itu adalah insting seorang istri.
Stefani kesal sendiri, dia pulang dengan wajah kesal. Merasa harga dirinya di injak-injak oleh Ray dan Tisha. Apalagi Ray yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda tertarik padanya.
"Wanita seperti itu mau bersaing denganku? Dia bahkan masih berada di bawah Zevanya." Gerutu Tisha kesal. Dia teringat Zevanya, wanita yang sudah memisahkan nya dan Ray cukup lama. Kini wanita itu sudah bertaubat mendekam di dalam penjara.
"Sayang." Ray memegang tangan Tisha, seraya merayunya.
"Apa sayang sayang? Apa kamu tidak akan pergi kerja?" tanya Tisha kesal.
"Maafkan aku yang kurang peka. Seharusnya aku lebih peka!" Seru Ray.
"Entah kamu bodoh, polos atau pura-pura tidak menyadarinya walau sudah tau. Aku tidak tahu. Tapi, insting seorang istri tidak pernah salah dan aku menangkap radar pelakor dari wanita itu."
"Iya aku paham, tapi sungguh aku hanya menganggap dia sebagai rekan bisnis. Gak lebih dari itu, mungkin aku terlalu baik padanya karena dia adalah putri pak Wiryawan."
"Memangnya siapa sih pak Wiryawan itu? Sampai kamu harus baik pada putrinya segala?" tanya Tisha naik darah.
"Dia sahabat baik papa, makanya aku tidak enak menolak permintaan nya." Jelas Ray pada istrinya.
"Kalau dia meminta kamu menikahi anaknya, apa kamu akan menikahinya karena tidak enak juga?" Tisha mendelik kesal pada suaminya. Dua hari ini adalah hari yang panas untuk nya.
"Tisha kenapa kamu bertanya begitu? Tentu saja tidak mungkin terjadi!"
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu tidak menolak? Kamu kan bisa menolak permintaan untuk menemaninya?! Aku sama sekali tidak mengerti, kenapa kamu harus bohong dan kenapa kamu tidak bisa menolaknya? Kamu selalu mengulangi kesalahan yang sama. Aku lelah sama kamu kak, selalu saja aku yang mengalah." Tisha menghela napas panjang, mencoba meredakan emosi nya.
"Iya aku minta maaf! Seharusnya aku menolak, aku salah! Maaf Tisha, maaf.. tolong jangan marah. Marah-marah tidak baik untuk anak kita, please, dokter bilang kamu gak boleh stress." Ray melihat Tisha dengan khawatir. Dua hari ini Tisha selalu marah-marah.
"Memangnya siapa yang buat aku stress?" tanya Tisha makin kesal dengan ucapan suaminya. Kepalanya penat, ditambah lagi dia sedang dalam kondisi sensitif.
Ray terus meminta maaf dan membuat Tisha semakin kesal. Karena Ray tidak pernah jera. Seperti nya dia butuh mendinginkan kepala. Dia meminta Ray pergi ke kantor, dan membawa bodyguard bodyguard yang berjaga. Tisha tidak mau banyak orang di rumahnya, Ray pun menurut dan meminta bodyguard nya mundur untuk tidak mengawasi Tisha.
Setelah Ray kembali ke kantor, Tisha memindahkan baju-baju nya ke dalam koper. Entah apa yang akan dia perbuat dengan koper berisi baju-baju nya itu. "Sudah waktunya menjemput Rasya, seperti nya aku harus mendinginkan kepala ku selama beberapa hari."
Tisha menjemput Rasya sambil membawa kopernya ke dalam mobil itu. Pak Joni keheranan karena nyonya nya membawa koper seperti akan bepergian.
"Tolong jangan katakan ini pada suamiku, saya tidak akan pergi jauh kok pak. Tolong ya, saya hanya ingin sendirian." Ujar nya pada Joni, supir sekaligus bodyguard pribadi Rasya.
"Tapi nyonya.." Pak Joni ragu-ragu.
"Saya mohon pak, kasihanilah saya. Saya tidak mau terus menerus stress seperti ini. Tidak baik untuk bayi saya." Tisha memohon pada Joni untuk merahasiakan kepergiannya dari suaminya.
"Baiklah Bu," Joni menghela napas, pada akhirnya ia menyetujui permintaan Tisha.
"Bapak pura-pura tidak tau saja ya, pak" Tisha tersenyum.
Biarlah dia menggila lagi, supaya dia jera! Karena setiap melihat wajahnya aku selalu kesal, tentunya ini tidak baik untuk bayi yang ada di dalam kandunganku. Pikirnya dalam hati.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan sekolah Rasya. Tisha melihat anaknya sudah menunggu di kursi panjang bersama seorang gadis kecil.
"Rasya,"
"Mama!" Rasya tersenyum lebar ketika melihat mama nya ada di hadapan nya. Risya yang sedang berada disamping Rasya langsung memperkenalkan dirinya pada Tisha. Anak itu terlihat ceria dan mudah akrab dengan orang-orang.
πRumah Grace π
Fayra seperti sedang bermimpi buruk, berada di dalam rumah itu bersama Sam, Grace dan juga Milena. Suasana di rumah itu bagai neraka untuk Fayra. Dia terlihat tertekan karena dipaksa oleh Sam untuk tinggal disana. Rasa bersalah juga mencekiknya, ketika Grace memperlakukan nya dengan sangat baik tanpa ada rasa benci padanya. Padahal Grace tau kalau Fayra sedang hamil anak suaminya.
"Fayra, kamu belum makan siang. Lebih baik kamu makan dulu, kasihan bayi kamu"
"Mbak Grace, maafkan saya..saya benar-benar minta maaf mbak!" Fayra menunduk sambil menangis, tangannya memegang tangan Grace.
"Aku yang harusnya minta maaf, karena aku sudah memisahkan mu dan Sam. Aku memanipulasi nya sejak awal." Grace tersenyum pahit, matanya juga berkaca-kaca.
"Tidak mbak! Saya yang salah, mbak tidak bersalah. Seharusnya saya bersembunyi dengan baik." Fayra masih menangis.
Grace tersenyum, kemudian dia mengusap air mata Fayra dengan lembut. Dia meminta Fayra untuk menjaga kesehatan nya dan menerima Sam sebagai calon suaminya. Fayra menolak tegas, sejak awal kepergiannya adalah untuk menghindari Sam. Fayra juga mengatakan yang sejujurnya bahwa dia tidak mencintai Sam lagi. Di hatinya tidak ada yang lebih penting dari anaknya.
Grace bertanya lagi siapa ayah dari bayi itu, Fayra tetap menyangkalnya bahwa Sam bukan ayahnya. Grace tidak percaya, dia bisa melihat bahwa Fayra berbohong. Grace melarang Fayra yang ingin pergi dari sana, karena Sam akan marah pada nya bila Fayra pergi. Di rumah itu juga dijaga ketat oleh bodyguard Sam.
"Ya Allah aku harus bagaimana? Apa aku meminta bantuan pada Zayn saja? Eh, Zayn kan masih di Amerika! Mungkin lebih baik minta bantuan pada Tisha yang lebih dekat!" Fayra mengambil ponselnya, dia segera mengirim pesan pada Tisha untuk meminta bantuannya.
Tisha yang dalam perjalanan pulang, menerima pesan itu. Pesan meminta bantuan dari Fayra untuk mengeluarkan nya dari rumah Sam. Tisha yang akan pergi dari rumah pun mengurungkan niatnya sejenak, dia ingin membantu Fayra.
"Pak Joni, tolong antar Rasya dengan selamat sampai rumah ya. Saya turun disini saja!" Tisha meminta pak Joni menepikan mobilnya ditepi jalan.
__ADS_1
"Ma? Bukannya mama mau diantar sampai hotel?" Tanya Rasya yang sudah tau dari mama nya kalau dia akan meninggalkan rumah sementara waktu.
"Mama ada urusan dulu. Sayang, kalau ada apa-apa kamu hubungi mama lewat bi Ani ya. Mama udah bilang pada Bi Ani untuk menjaga kamu. Gak apa-apa kan kalau kamu mama tinggal satu minggu?" Tisha mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.
Rasya mengangguk dan tersenyum, "Gak apa-apa ma, biar papa merasakan kehilangan mama! Aku gak apa-apa sama Bi Ani, aku juga gak akan bilang sama papa kalau mama pergi!" Rasya patuh pada mama nya.
"Hem, iya sayang. Makasih ya pengertian nya, pak Joni tolong jaga Rasya dan rahasiakan ini. Saya hanya pergi satu Minggu." Ucap Tisha tegas.
"Baik nyonya." Jawab Joni patuh.
"Sayang, mama pergi dulu ya." Ucapnya sembari mengecup kening putranya dengan lembut.
"Iya ma, mama hati-hati ya sama Dede bayi" Rasya mengingatkan.
"Mama sama dede bayi cuma mau istirahat aja. Mama sama dede bayi gak akan kenapa-napa." Tisha tersenyum seraya meyakinkan pada putra nya bahwa dia dan bayinya akan baik-baik saja.
Setelah itu Rasya dan Joni pulang ke rumah, sementara Tisha datang ke rumah Grace untuk menjemput Fayra. Tisha sengaja membuat Grace sibuk, supaya Fayra bisa kabur lebih dulu. Setelah Fayra berhasil kabur melewati penjaga, Fayra pergi ke jalan raya dengan pakaian seadanya yang dia pakai.
Hosh.. Hosh..
Napas ibu hamil itu tersengal-sengal.
Fayra berhasil melarikan diri cukup jauh dari rumah Sam dan para bodyguard nya. Dia memegang perutnya yang menegang. "Tisha bilang aku harus menunggunya disini, tapi sepertinya aku harus sembunyi dulu." Dia terlihat lelah, belum lagi dia sedang hamil.
Fayra melihat diseberang jalan ada kursi panjang, dia bisa duduk disana untuk melepaskan rasa lelahnya sejenak sembari menunggu Tisha. Ketika akan menyebrang, Fayra tidak melihat jalan, sebuah mobil sedan mewah melaju kencang ke arahnya.
CKITT!!!!
"Ahhh!!!!" Fayra berteriak, kakinya lemas dan dia terjatuh tepat di depan mobil itu.
Seseorang keluar dari mobil itu, tepat setelah pedal rem diinjak. Hanya tinggal beberapa centi lagi mobil itu akan menabrak Fayra.
"Hey! Mbak, mbak gak apa-apa?" tanya Derrick sambil membantu Fayra berdiri. Derrick panik karena dia hampir saja menabrak ibu hamil.
"Sa-saya, gak apa-apa mas." Jawab Fayra sambil memegang perutnya. Fayra memegang tangan Derrick, kepalanya berputar-putar. Beberapa kali tubuhnya sempoyongan dan jatuh ke dalam dekapan Derrick.
"Mbak, lebih baik kita ke rumah sakit ya. Periksakan diri mbak!" Derrick memegang tangan Fayra dan menopang wanita hamil itu. Dia merasa bersalah dan cemas. Terlebih lagi ketika dia melihat keringat di wajah cantik Fayra.
"Sa-saya tidak apa-apa.." Fayra terlihat lemas dan pucat.
"Kak Derrick!!" Panggil Tisha sambil berlari-lari kecil menghampiri Fayra dan Derrick.
"Tisha?" Derrick tercengang melihat Tisha berada di jalanan.
Tisha langsung meminta Derrick untuk membawa nya dan Fayra pergi dari sana. Karena orang-orang Sam mengejar mereka. Kedua wanita yang sedang hamil itu duduk di jok belakang.
...---***---...
Mohon maaf untuk chapter ini masih acak-acakan kata-kata nya, author lagi kurang feel dan Ilham nya.π€§
Seperti biasa, jangan bosan ya kasih like, komen, gift atau vote nya.π₯° makasih banyak untuk kalian yang sudah sabar membaca karya author sampai sini πππ
__ADS_1
Hai Readers! Sambil nunggu up lagi, yok mampir ke karya kece temanku β€οΈπ₯°