
Ray menghela napas, dia dalam kebingungan karena tidak mau meninggalkan Tisha yang akan segera melahirkan mungkin dalam waktu satu minggu. Lagi-lagi selalu ada saja sesuatu yang mendesak disaat-saat terakhir. Dan Ray melihat tanda-tanda Tisha yang akan melahirkan semakin dekat saja.
Keesokan harinya, pagi itu Tisha menyiapkan sarapan seperti biasanya dibantu oleh bi Ani yang selalu datang setiap pagi dan pulang pada sore hari.
Rasya dan Ray bersiap-siap untuk melakukan aktivitas mereka. Pergi sekolah dan pergi bekerja, keduanya sudah duduk patuh di kursi meja makan sambil memakan sepotong roti panggang dengan selai coklat.
"Hari ini kamu ada les ya sayang? Mama sudah buatkan bekal makanan buat kamu, jangan jajan sembarangan ya!"
"Iya ma, aku ada les jadi aku pulangnya agak sore. Makasih ya ma udah dibuatin bekal," Rasya tersenyum lebar pada anaknya.
"Iya sayang sama-sama,"
"Gak kerasa ya, Rasya bentar lagi mau naik ke kelas dua." ucap Ray sambil melihat kearah Rasya, tubuh anak itu sudah mulai tumbuh tinggi.
Ray ingat saat pertama kali bertemu dengan Rasya, tubuh anak itu masih terlihat sangat kecil. Pertemuan pertama antara Ray dan Rasya terjadi di New York. Saat itu Ray sedang melakukan perjalanan bisnis, di kota itulah Ray menemukan fakta bahwa Rasya dan Tisha berada disana. Dua orang yang sangat dia cintai.
Waktu telah berlalu begitu cepat, tak terasa Tisha dan Ray sudah 9 bulan bersama dalam ikatan pernikahan. Banyak hal yang mereka lewati, pernikahan palsu, perceraian, cinta segitiga, kecelakaan yang pada akhirnya tetap menyatukan mereka berdua. Ya, cinta memang tau kemana dia harus pulang. Tisha dan Rasya adalah rumah bagi Ray, tempatnya untuk kembali pulang disaat Ray kesepian sendiri tanpa orang tua. Tisha lah yang selalu berada disampingnya dan mendukung Ray pada setiap langkahnya.
Berawal dari pernikahan kontrak dan hutang piutang, membuat Ray dan Tisha bisa bersama. Tak lama setelah itu Tisha meminta cerai karena Ray yang tak kunjung mencintainya, sikapnya dingin dan abai pada wanita itu. Dengan segala cara Ray menahan Tisha, sampai pada akhirnya dia menyadari bahwa ia sangat mencintai istrinya. Kini wanita itu telah memberikannya sebuah kehangatan keluarga yang tak pernah dia dapatkan dari kecil, keluarga hangat dan bahagia seperti mimpinya. Berapa kali mereka berpisah, pada akhirnya akan tetap bersama.
Tiba-tiba saja Ray memeluk istrinya dari belakang, tangannya melingkar lembut di perut buncit istrinya. Tisha malu karena Rasya dan Bi Ani masih ada disana dan terlihat bermesraan dengan sang suami.
"Sayang, terimakasih atas segalanya," bibir panas Ray mendarat di leher Tisha yang berwarna putih itu, mengecupnya dengan lembut.
"Sa-sayang, disini masih ada Rasya dan Bi Ani!" Tisha berbisik pada suaminya, karena Bi Ani dan Rasya sedang melihat pasutri yang berpelukan mesra itu.
"Gak apa-apa dong sayang, kita kan suami istri."
"Kak Ray," lirih Tisha pelan, pada sang suami yang sedang menelusuri lehernya dengan bibir panas itu.
Dasar tidak tahu malu! Aku ingin marah padanya, tapi disini masih ada Rasya dan Bi Ani.
"Ehem ehem, ma, pa aku berangkat dulu ya sama pak Joni," ucap Rasya sambil membawa tas di punggungnya. Dia menahan senyum melihat kemesraan orang tuanya.
"Nyonya, tuan, saya juga sepertinya harus segera pergi ke pasar! Tuan muda, saya bisa numpang pergi ke pasar kan?"
"Boleh kok bi, ayo berangkat bi," jawab Rasya dengan senang hati.
Bi Ani pergi bersama Rasya buru-buru, meninggalkan Tisha dan Ray disana. Tisha langsung bertanya pada suaminya, mengapa suaminya itu tiba-tiba bersikap manja. Ray langsung mengatakan apa maksudnya, dia mengatakan tentang perjalanan bisnisnya pada Tisha untuk pergi selama dua hari ke Yogjakarta dan meminta saran Tisha. Haruskah dia pergi atau tidak?
"Hanya dua hari saja kan? Tidak apa, pergilah. Aku baik-baik saja kok," ucap Tisha pengertian.
"Yahh.. padahal aku berharap kamu akan melarang ku pergi," Ray menghela napas kecewa. Bibitnya mengerucut sebal.
"Tidak boleh, kamu harus pergi. Gerry pernah bilang bahwa perjalanan kamu sangat penting! Lagian hanya dua hari saja kan?" tanya Tisha santai.
"Aku takutnya kamu melahirkan sebelum aku kembali,"
"Perkiraannya masih seminggu lagi, kamu tenang saja. Selesaikan pekerjaan kamu supaya kamu bisa cepat kembali dan cuti. Aku dan anak-anak akan menunggu kamu,"
"Ya udah deh, sayang aku akan segera kembali. Kamu tunggu ya. Sayang nya papa, tunggu papa pulang ya!" Ray terpaksa menuruti perintah istrinya dan tuntutan pekerjaan. Tangan kekarnya mengelus perut buncit itu dengan penuh kasih sayang. Tak lupa sebelum pergi dia mencium perut itu dan juga kening sang istri.
"Kamu hati-hati ya sayang," Tisha mencium tangan suaminya, seraya meminta Ray berhati-hati dalam perjalanannya.
"Kamu juga, aku cinta kamu. Assalamualaikum,"
Hari itu dan saat itu juga, Ray bersama Gerry juga beberapa staf perusahaan nya pergi ke Yogjakarta dengan pesawat terbang.
Selagi menunggu Rasya pulang, Tisha duduk sambil merajut baju bayi. Disaat itu dia sudah merasakan perutnya selalu mengencang tiba-tiba.
Satu hari telah berlalu sejak Ray pergi ke Yogjakarta, komunikasi mereka tak pernah terputus. Ray selalu menyempatkan dirinya untuk melakukan video call dengan Tisha dan Rasya.
"Assalamualaikum Tisha, Rasya, sama cantiknya papa," sapa Ray pada Rasya, Tisha dan bayi yang belum lahir itu.
"Waalaikumsalam sayang," jawab Tisha sambil tersenyum.
"Waalaikum salam pa, eh kenapa si cantik papa? Siapa yang cantik?" tanya Rasya dengan kening berkerut melihat papa nya dari ponsel Tisha.
"Dede bayi lah," jawab Ray sengaja mengolok-olok Rasya.
"Dede bayinya ganteng pa!" Seru Rasya kesal.
__ADS_1
"Kak Ray jangan mulai lagi deh," Tisha mengingatkan Ray untuk tidak memulai pertengkaran dengan putra mereka.
"Iya deh iya! Rasya papa minta maaf ya," Ray tersenyum sambil berbaring di ranjangnya dengan wajah lelah.
"Huh! Papa nyebelin, aku gak mau ngomong sama papa. Papa ngomongnya sama mama aja," Rasya menyilangkan kedua tangan di dada. Dia pergi ke kamarnya dengan langkah yang kesal.
Rasya kesal dan menutup pintunya dengan keras hingga menimbulkan suara. Tisha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat anaknya itu.
"Lihatlah dia! Mirip siapa dia?" tanya Tisha pada suaminya.
"Mirip kamu lah, kamu yang suka begitu kalau marah-marah!" Ray tersenyum pada istrinya.
"APA?" Tisha tersenyum tak percaya. Padahal sudah jelas Rasya mirip dengan papanya, apalagi emosinya itu.
"Haha, sayang aku kangen kamu," Ray tertawa kecil, dia mengutarakan kerinduannya pada Tisha.
"Aku juga kangen," balasnya dengan senyuman lembut.
"Sehari lagi aku disini, kok rasanya setahun ya. Tapi sayang apa anak kita baik-baik saja?" tanya Ray pada istrinya.
"Dia baik-baik saja," jawab Tisha sambil tersenyum.
"Tunggu papa pulang ya, papa mau jadi orang pertama yang melihat kamu." ucap Ray pada Tisha.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, keesokkan harinya Tisha sedang menjemput Rasya di sekolah nya. Dia merasakan perut nya bergerak hebat dan semakin mengencang.
"Aaahhh... Ahhhh..." Tisha memegang perutnya yang mengencang kesakitan.
Apa ku sudah waktunya melahirkan? Tapi kan masih ada waktu 5 hari lagi.
"Bu, ibu kenapa Bu?" tanya Joni melihat Tisha kesakitan. Disaat bersamaan, Rasya baru keluar dari gerbang sekolah. Dia melihat mama nya merintih kesakitan sambil memegang perut buncit itu.
"Mama, mama kenapa ma?" tanya Rasya cemas melihat mama nya kesakitan.
"Pak Joni, bawa saya ke rumah sakit sekarang!" Seru Tisha pada supirnya itu.
"Baik Bu!"
Joni bergerak cepat, dia memapah Tisha yang akan segera melahirkan masuk ke dalam mobil. Bersama Rasya, Joni membawa Tisha ke rumah sakit. Air ketuban Tisha sudah pecah, dia semakin yakin kalau dirinya akan segara melahirkan.
"Sudah pembukaan enam dok," ucap seorang suster.
"Baik," jawab dokter itu sambil memeriksa tekanan darah Tisha. Memastikan segalanya berjalan lancar untuk proses kelahiran. "Tenang ya Bu, jangan tegang!"
"Uhhh... Ahhhh...," Tisha mengambil napas dan menghela napas. Dia berusaha menenangkan dirinya. Wajahnya tampak berkeringat.
Diluar ruangan bersalin, Rasya menelpon papa nya untuk segera kembali pulang karena Tisha akan segera melahirkan. Ray yang baru saja selesai rapat, langsung pergi dengan helikopter dari Yogyakarta menuju ke rumah sakit di Jakarta.
Tak butuh waktu lama, Ray sudah sampai di rumah sakit sore itu. Dengan terburu-buru dia turun dari lantai paling atas gedung rumah sakit, menuju ke tempat bersalin.
"Rasya! Dimana mama mu?" tanya Ray dengan napas yang terengah-engah karena habis berlari.
"Mama di dalam pa," jawab Rasya seraya melirik ke ruang persalinan.
Ray berlari masuk ke dalam ruangan itu, dia melihat sang istri sedang berbaring dengan kondisi tubuh yang berkeringat. Dokter wanita disana menjelaskan bahwa Tisha sudah akan melahirkan, pembukaan nya sudah sepuluh.
Tisha lega melihat suaminya sudah datang, sakit perut yang dikatakan nikmat seorang ibu itu mungkin akan segera berakhir.
"Haaahhh.. kak Ray... haaahhh," lirih Tisha memanggil suaminya.
"Sayang, aku disini! Aku sudah kembali!" Ray memegang erat tangan sang istri. Dia tak tega melihat wajah istrinya yang pucat dan menahan sakit.
Apa wanita yang akan melahirkan memang keadaannya seperti ini? Ray sampai bertanya-tanya di dalam hatinya. Rasa sakit yang tidak bisa dia rasakan sebagai seorang pria.
"AHHHHHH!!! Aaahhhh..." Tisha mengerang kesakitan.
"Sa-sayang," Ray berkaca-kaca melihat istrinya itu.
Dokter wanita memberikan aba-aba pada Tisha yang akan segera melahirkan. Dipandu oleh dokter, ditemani oleh suster dan suaminya, Tisha akan segera melahirkan anaknya.
Wanita hamil itu menarik napas, mengambil napas, dia lakukan secara berulang. Sampai tiba saatnya dia akan melahirkan. Wanita itu menjerit kesakitan, tangannya tanpa sadar menjambak rambut suaminya.
__ADS_1
"AHHHHHH!! Kyaaaakkk!!!"
"Ah, aduhduh sayang, sayang!" Ray meringis menahan sakit ketika rambutnya dijambak oleh sang istri.
Tidak apa-apa aku dijambak, asalkan bisa mengurangi rasa sakit Tisha.
"Ayo Bu, dorong Bu! Kepalanya sudah terlihat, sedikit lagi Bu! Tarik, keluarkan dalam sekali tarikan napas!" Ujar dokter wanita itu memberi aba-aba.
"Hemmmm..... aahhhh!!!" Tisha menarik rambut Ray sekuat tenaga bahkan mencubit lengan Ray.
Suara tangis bayi membuat Ray bahagia, seorang bayi mungil telah terlahir ke dunia. Anak kedua Ray dan Tisha. Rasa sakit dan nikmat itu telah berakhir, berganti dengan suara tangisan yang mengalun indah di telinga pasangan suami istri itu.
"Owaaa...owaaa..."
Suster menggendong bayi baru lahir yang memiliki kulit putih dan bersih itu.
"Alhamdulillah Bu, pak, selamat ya. Bayi nya telah lahir, dia sangat cantik," suster memberikan selamat pada Tisha dan Ray.
Di tengah lelahnya, Tisha tersenyum lebar. Ray bahagia dan langsung mencium kening sang istri, dia tak sabar ingin menggendong anaknya. Namun, suster harus memandikan dulu bayi itu.
"Sayang terimakasih kamu sudah melahirkan anak kedua kita dengan selamat," ucap Ray sangat bersyukur dan berterimakasih pada istrinya. "Terimakasih ya Allah, karena istri dan anakku baik-baik saja," ucap Ray lagi sambil menangis.
"Iya sayang, tapi rambutmu kenapa?" tanya Tisha melihat rambut suaminya yang acak acakan.
"Haha, tidak apa-apa sayang. Ini perjuangan seorang ayah," Ray nyengir.
Suster menyerahkan bayi yang baru lahir itu pada Ray. Ini pertama kalinya Ray menggendong bayi dan itu adalah bayinya sendiri. Alangkah bahagianya hati Ray, karena dia bisa menggendong anaknya. Ray segera mengadzani bayinya dengan hati gembira.
Semua orang sudah berkumpul di rumah sakit untuk melihat Tisha dan bayinya. Fayra, Derrick, Sam, Grace, bahkan Zayn juga ada disana untuk melihat anak kedua Tisha.
"Huuhh.. lucunya bayi ini, dia cantik seperti mu sayang," ucap Ray memuji bayinya yang cantik itu.
"Kamu gak lihat, kalau hidungnya mirip dengan kamu?" tanya Tisha pada suaminya sambil tertawa kecil.
"Iya dia banyak mirip kamu Tisha," ucap Zayn sambil melihat bayi itu.
"Selamat ya Tisha,Ray," kata Grace memberi selamat.
"Makasih semuanya," Tisha tersenyum bahagia.
"Rasya, kamu gak mau lihat adik kamu?" tanya Ray pada Rasya yang baru saja resmi menjadi seorang kakak. Rasya berdiri di pojokan dengan wajah masam nya.
Adikku perempuan, aku gak mau adik perempuan. Rasya kesal di dalam hati.
"Rasya sayang, gak boleh gitu lho!" Seru Tisha.
"Adikmu sangat cantik dan lucu," ucap Fayra membujuk Rasya yang masih tidak terima punya adik perempuan.
"Huh!" Rasya memalingkan wajahnya.
Ray menggendong anak perempuannya dan memperlihatkan bayi mungil itu pada Rasya. Tangan baby girl itu memegang tangan Rasya. Perlahan-lahan Rasya mulai luluh ketika melihat adiknya itu.
"Lihat, cantik kan? Kamu harus menjaga adik kamu ya sayang,"
"Dia akan jadi adik yang baik kan, pa?" tanya Rasya polos.
"Haha, pertanyaan mu lucu sekali sayang. Tentu saja, dia kan adikmu, anak mama dan papa. Dia pastinya baik seperti kita," jelas Ray pada anaknya. "Jadi kamu mau kan terima adik kamu dan menjaganya?"
Rasya mengangguk pelan, dia tersenyum melihat adiknya. Baby girl itu juga tersenyum lebar melihat Rasya. "Papa! Dia senyum padamu pa,"
"Tuh kan? Dia juga suka sama Rasya,"
Rasya tertawa dan memegang pipi chubby adik bayinya. Semua orang yang berkumpul disana ikut merayakan kebahagiaan keluarga Tisha dan Ray.
"Kalau kamu mau adik laki-laki, nanti papa sama mama mu bisa buat lagi kok," celetuk Zayn sambil tertawa kecil.
"Tidak Zayn, sudah cukup dua anak saja!" kata Ray sambil menghela napas.
"Kenapa? Bukannya kamu mau empat anak?" tanya Tisha terheran-heran.
"Aku tidak mau melihat kamu kesakitan lagi, jadi sudah dua anak saja!" Ray memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Baginya dua anak sudah cukup, dia tidak ingin melihat Tisha menderita dan kesakitan lagi.
__ADS_1
...---***---...
...(End)...