Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 142. Duka


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Permintaan sang kakek membuat Ray dan Tisha tidak bisa berkata-kata. Mereka hanya menatap Pak Faisal dengan kebingungan. Mungkin mereka bahagia, atau kah ada perasaan yang lain. Entahlah!


"Tisha, Ray.. kalian pasti terkejut kan? Kenapa kakek meminta hal ini pada kalian? Ini semua demi anak kalian juga, Rasya. Dia sangat ingin sebuah keluarga yang lengkap, dia akan sangat bahagia jika kalian bersama. Dan bukankah kesalahan pahaman diantara kalian sudah usai? Kalian jangan berlama-lama lagi.. uhuk..uhuk.." Pak Faisal tersenyum pahit pada kedua orang yang berada disampingnya itu.


"Kakek, aku akan menikah kembali dengan Tisha.. aku janji" Ray menggenggam tangan kakeknya, dia berjanji akan menikahi Tisha.


"Kak Ray! Aku belum setuju untuk menikah denganmu!" Tisha tercekat dan menatap ke arah Ray dengan mata membuat.


"Tentu saja kamu belum setuju, aku saja belum melamar mu. Tapi aku janji pada kakek, kamu hanya akan menikah denganku dan aku hanya akan menikahi mu" Ray menatap Tisha dengan penuh kebahagiaan, dia tersenyum lebar.


Ternyata Ray cukup cerdas untuk mengerti apa maksudku. Dia terlihat sangat bahagia.. kalau begini, aku bisa pergi dengan tenang. Pak Faisal tersenyum melihat kedua orang yang sudah saling jatuh cinta itu.


"Tisha..."


"Ya kakek?" Tisha menoleh ke arah pria tua itu, dia memegang tangannya.


"Tolong jaga Ray dan Rasya baik-baik ya, kakek titip mereka berdua. Terkadang Ray juga suka bersikap kekanak-kanakan, tapi dia sangat mencintai kamu.. kakek tidak mau melihat cucu kakek sedih lagi karena kamu meninggalkan nya..dia sudah menyesali semua perbuatannya, kamu bisa memaafkannya kan?"


"Tanpa kakek minta, aku pasti akan menjaga Rasya dan Kak Ray. Dan aku juga sudah memaafkan kak Ray, kami sudah berdamai dengan masa lalu kek"


"Syukurlah, kalau begitu aku bisa pergi dengan tenang" Pak Faisal tersenyum bahagia pada Ray dan Tisha. Dia merasa semua beban di hatinya telah terselesaikan karena sudah dia sampaikan. Tidak ada yang lebih penting dengan kebahagiaan anak dan cucu cucunya.


"Kakek.. kenapa kakek bicara seperti itu.."


"Kalian ha..rus.. bahagia.." Pak Faisal tersenyum, dia menangis dan memegang tangan Tisha juga Ray. Pria tua itu menutup matanya, tangannya terkulai lemas.


Keadaan Pak Faisal membuat Tisha dan Ray panik, terlebih lagi suara menegangkan terdengar menggema di ruangan itu.


Tiiiiiitttttttttttt........

__ADS_1


Bunyi panjang dari mesin medis itu, adalah pertanda tidak baik.


"Kakek! Kakek !!" teriak Ray panik melihat kakeknya tidak sadarkan diri. Dia menggoyangkan tubuh pak Faisal, seraya membangunkannya.


Dengan wajah panik dan tanpa bicara apapun, Tisha segera pergi keluar ruangan itu mencari dokter. Melihat Tisha yang panik, Dean dan Daniah yang masih berada di sana langsung masuk ke dalam ruangan pak Faisal. Dia melihat Ray sedang menangis memeluk kakeknya.


Tiiiiiitttttttttttt.....


"Papa!" Dean menghampiri papa nya dengan mata yang tercengang.


"Kakek! Kakek bangun kek!!" Ray menangis, dia tidak merasakan detak jantung atau napas dari tubuh pria tua itu.


Dokter dan suster datang, kemudian dia memeriksa kondisi pak Faisal. "Innalilahi wainnailaihi Raji'un...Maafkan saya pak, Bu, Pak Faisal telah meninggal dunia" Dokter itu menghela napas setelah dia yakin bahwa pria tua itu sudah meninggal, dia menutupi jenazah pak Faisal dengan kain putih. "Waktu kematian, pukul 14.25 lebih 20 detik" ucap Dokter itu sambil melihat ke arah jam tangannya.


Dean dan Daniah membeku disana, mereka menangis atas kepergian pak Faisal. Jika mereka berdua menangis dalam diam, Ray menangis histeris sampai meraung-raung. Dia yang merasa tidak punya siapa-siapa lagi selain kakek nya, merasa sedih kehilangan sang kakek.


Papa.. Dean menatap papa nya dengan air mata bercucuran, dia merasakan kesedihan. Apalagi fakta bahwa dia lah yang sudah membunuh papa nya. Papa kandung nya sendiri.


"Kak..." Tisha tak tahu harus bicara bagaimana lagi untuk menghibur Ray yang sedang berduka. Tisha juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Ray, tapi tidak sesakit dan seperih yang dirasakan oleh pria itu.


"Kakek...hiks...hiks..." Ray tidak mampu mengemban lagi rasa sakit dihatinya. Pria tua yang belum lama bicara dengannya dan Tisha kini sudah tak bernyawa.


Tangan lembut Tisha meraih tubuh Ray, dia memberikan bahu dan pelukannya pada pria itu untuk menghibur dirinya. Ray sangat terpukul, sampai dia tidak sadar kalau dirinya menangis histeris di pelukan Tisha.


"Kakek...hiks" Tisha ikut menangis sama seperti Ray.


3 hari setelah kepergian Pak Faisal, suasana duka masih menyelimuti hati Ray dan Dean. Tiga hari itu, Ray terlihat lebih pendiam dan pemurung. Untunglah dengan kehadiran Rasya dan Tisha membuat perasaan nya menjadi lebih baik.


Suatu hari Ray tidak datang ke kantornya, Tisha merasa cemas dan akhirnya dia menemui Ray di rumah lama nya. Dia juga mengajak Rasya bersama nya.


"Ma, jadi ini rumah lama papa dan mama?" tanya Rasya yang baru pertama kali datang ke rumah itu.

__ADS_1


"Iya sayang, dulu mama sama papa tinggal disini" Tisha agak berat menginjakkan kakinya ke rumah itu lagi, tapi dia sangat khawatir dengan keadaan Ray. Apalagi setelah Gerry mengatakan kalau Ray tidak bisa dihubungi.


Tisha dan Rasya mendekati pintu, dia memencet bel rumah namun tidak ada yang menjawab nya.


"Ma, gimana kalau pakai kode aja bukanya?" tanya Rasya sambil melihat ke arah tempat pascode untuk membuka pintu rumah itu.


"Mama gak tau kodenya sayang" jawab Tisha sambil menggeleng.


"Mungkin ulang tahun papa, atau ulang tahun mama. Coba aja ma!" seru Rasya pada mama nya.


Dulu kan kode rumahnya adalah ulang tahun dia, apakah masih sama? Ya sudah aku coba dulu..


Tisha menekan tombol 1512, tanggal ulang tahun Ray. Namun, kode nya salah. Dia mencoba lagi tanggal ulang tahun nya, walau tidak mungkin. 1508 dan pintu itu terbuka lebar ketika dia menekan tanggal ulang tahunnya.


"Tidak mungkin..." Tisha menggeleng-geleng tak percaya, kode rumah Ray adalah tanggal ulang tahun nya. Dia tak percaya kalau tanggal ulang tahunnya adalah password rumah Ray. Dan kapan juga digantinya?


"Ayo ma, masuk! Papa pasti ada di dalam" kata Rasya sambil menarik tangan mama nya dengan lembut.


Rasya dan Tisha masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi itu, Tisha terpana melihat foto pernikahan nya dan Ray masih terpajang di dinding. Terlihat foto itu sudah usang dan berdebu, seperti tidak pernah terawat.


"Ma, itu foto mama sama papa kan?" tanya Rasya sambil menunjuk ke arah foto mama dan papa nya.


Foto tanpa ekspresi, Ray dingin dan Tisha tersenyum sendiri. Terlihat disana bahwa hanya Tisha yang mencintai Ray.


Kenapa dia masih memasang foto itu? Apa dia benar-benar belum melupakan ku? Apa dari dulu dia memang sudah mencintaiku?


BRUGH!


Sebuah suara mengangetkan Tisha dan Rasya, dan suara itu berasal dari kamar Ray.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2