Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 149. Aku sudah memilihnya


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Kantor Argantara grup!


"Gerry" panggil Ray pada sekretarisnya.


"Ya pak?"


"Minta seorang detektif handal untuk mengikuti gerak-gerak om dan bibiku"


Aku yakin ada sesuatu dibalik kematian kakek. Ray berfikir tajam tentang Dean dan Daniah, dia curiga kedua orang itu yang sudah mencelakai Pak Faisal.


"Baik pak" jawab Gerry sebagai bawahan dia hanya bisa patuh perintah atasan nya.


Apa pak Presdir mencurigai pak Dean dan Bu Daniah?.


"Gerry, satu lagi"


"Ya pak?"


"Kirimkan bunga mawar pink ke kantor Apparel desain" titah Ray pada Gerry.


Dia pasti mau pamer pada pak Zayn, sudah ketebak.


***


Bicara soal surat wasiat, sudah terdengar sampai ke telinga Dean, Daniah, dan kedua putranya. Mereka lah yang memegang surat wasiat pak Faisal yang asli.


"Sayang, kita harus cepat bergerak! Kita bisa mengubah surat wasiat nya dari sekarang!" Daniah sangat terobsesi dengan harta warisan pak Faisal.


"Itu benar pa, dengan surat ini ditangan kita. Kita bisa menguasai semua harta kakek," Armand tersenyum licik, dia sudah tidak sabar ingin meraup harta warisan pak Faisal yang jumlahnya tidak sedikit itu.


Dean hanya terdiam memegang amplop coklat itu. Dia tidak bisa melakukan nya, bagaimana pun juga pak Faisal adalah ayah kandung nya. "Sudahlah, kalian semua hentikan! Aku akan menyerahkan surat ini pada pengacara tanpa mengubahnya" kata Dean setelah memikirkan nya dalam-dalam.


"Apa yang kamu katakan sayang? Tentu saja suratnya harus diubah dulu!" Daniah tidak terima dengan keputusan suaminya.


"Apa papa mau jadi orang baik? Sudah terlambat untuk itu pa, karena papa sudah terlanjur jadi orang jahat dengan membunuh si tua bangka itu!" kata Nico dengan mulut tajamnya.


Deg!

__ADS_1


Dean tersentak kaget dengan kata-kata anaknya, dia memang sudah menjadi orang jahat karena dia sudah membunuh ayah kandungnya dengan tangannya sendiri.


"Jaga omongan mu Niko! Dia adalah kakek mu dan orang yang sudah tiada, hormati dia!" ucapnya tegas pada Niko, anak bungsunya.


"Kenapa pa? Apa aku salah? Kenapa papa begini sekarang? Selama ini tua Bangka itu sudah memperlakukan kita dengan tidak adil pa!" kata Niko dengan suara tegas.


"Lagipula papa kan hanya anak angkatnya" Armand membenarkan ucapan Niko.


"Tidak! Papa bukan anak angkatnya! Ada sebuah kebenaran yang kalian tidak ketahui, sebelum kakek kalian meninggalkan dunia ini! Dia mengatakan kalau papa adalah anak kandungnya" Dean mengatakan sebuah kebenaran yang belum diketahui oleh istri dan kedua anaknya.


Mereka bertiga tercengang dan tak percaya mendengar ucapan Dean. Kemudian Dean menjelaskan segalanya mengapa dia diakui sebagai anak angkat, karena dia adalah anak haram papa nya.


Dean tidak mau rasa bersalah mencekik hatinya lagi , sudah cukup sang papa melindungi nya sampai dia menyimpan rahasia besar tentang kematiannya. Dia tidak mau serakah dan menginginkan hal lebih banyak, memang Ray dan Rasya yang pantas mendapatkan bagian paling besar dari harta kekayaan Argantara.


"Aku paham maksud kamu sayang, aku juga masih punya hati. Jadi, mari kita kembalikan surat wasiat yang asli ini pada pak pengacara. Papa sudah melindungi kita sampai akhir hayat nya, kita tidak boleh serakah lagi," Daniah mengerti apa maksud Dean, dia juga tidak mau hidup dalam rasa bersalah terus menerus.


"Syukurlah kamu mengerti, aku akan mengembalikan surat ini pada orang yang seharusnya," Dean tersenyum sedih.


...***...


.


.


.


Tisha sedang bekerja di kantor nya dengan tekun dan serius. Beberapa pekerjaan nya dapat dia selesaikan dengan baik, bahkan dia selalu di puji atasannya. Kini jabatannya sudah naik menjadi wakil ketua tim berkat kerja kerasnya dalam waktu dua bulan.


Pekerjaan nya pun menjadi tidak terlalu berat, hanya menggambar dan memeriksa pekerjaan bawahannya. Dia tidak terlalu sibuk seperti bawahannya.


Siang itu, Zayn dan Dion turun ke lantai bawah tepatnya ke ruangan tim desain utama. Tempat dimana Tisha bekerja.


"Selamat siang pak!" para pegawai wanita berlomba-lomba untuk menarik perhatian Zayn dan berada di barisan paling depan.


Pegawai-pegawai wanita itu sangat mengagumi Zayn, apalagi mereka tahu kalau Zayn adalah mantan artis juga penyanyi terkenal.


"Siang" jawab Zayn dengan wajah datar dan tanpa senyum seperti biasanya.


Ketika semua orang berlomba-lomba mencari perhatian Zayn, Tisha masih sibuk bekerja bersama ketua tim nya di dalam kantor. Zayn kesal karena Tisha tidak terlihat di depan matanya.

__ADS_1


Zayn pun masuk lebih jauh ke dalam ruangan itu, dia melihat Tisha dan Bu Devi sedang memeriksa beberapa dokumen penting. Hingga mereka tidak menyadari keberadaan Zayn disana ,dan para pegawai yang menghilang untuk menyambut Zayn.


"Ehem!" Zayn berdehem.


Suara itu membuat Tisha dan Bu Devi menghentikan aktivitas mereka. Kemudian mereka memberikan hormat pada Zayn.


"Selamat siang pak Zayn" ucap Tisha dan Devi bersamaan.


"Ya, kenapa kalian masih disini? Bukankah ini sudah siang?" tanya Zayn pada kedua wanita itu.


"Kami masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan pak, sebentar lagi kami akan makan siang" jawab Devi dengan nada yang sopan.


"Tinggalkan pekerjaan siang kalian sekarang juga, makan siang bersama di restoran di depan sana. Saya yang traktir"' ucap Zayn dengan suara keras agar di dengar semua pegawai disana.


Para karyawan sangat senang karena Zayn mentraktir mereka makan siang di restoran mewah. Semuanya pergi ke restoran itu, sementara Tisha menjadi orang yang terakhir pergi karena dia bertemu dengan kurir bunga yang mengantar bunga untuk nya.


Zayn melihat semua itu, dia menghampiri Tisha. Tanpa bertanya dari siapa bunga itu, Zayn sudah bisa menebak siapa orangnya.


"Pak Zayn, kenapa anda masih ada disini? Bukankah yang lain sedang pergi makan siang?" tanya Tisha keheranan melihat Zayn masih ada di kantor.


"Aku sengaja membuat mereka semua pergi, supaya kita bisa bicara berdua"


"Bicara apa? Apa menyangkut proyek desain rumah lama Cokro?" tanya Tisha dengan wajah polosnya, dia berfikir kalau Zayn ingin membicarakan proyek penting yang sedang ditanganinya.


"Bukan soal pekerjaan, tapi masalah pribadi," jawab Zayn. Tatapan mata Zayn mengarah pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis Tisha. Cincin itu sangat mencolok, sehingga tidak mungkin tidak ada yang melihatnya.


"Masalah pribadi? Tapi ini masih jam kerja Zayn"


Zayn memegang tangan Tisha, dia melihat cincin itu dengan tatapan terluka. Pikiran negatif mulai menyeruak di hatinya. "Tisha, cincin ini! Cincin apa ini?!"


"Zayn, lepaskan tanganku!" Tisha meminta Zayn melepaskan tangannya, dia takut ada yang melihatnya sedang berduaan bersama Zayn.


"Jawab! Ini cincin apa, Tisha?" tanya Zayn sambil menatap wanita itu dengan tajam.


"Kak Ray sudah melamar ku, Zayn.. aku sudah memilihnya.. maafkan aku," Dengan berat hati Tisha mengungkapkan penolakan nya lagi pada pria tampan yang menaruh hati padanya yang sudah sejak lama itu.


Perlahan-lahan Zayn, melepaskan tangan Tisha. Matanya berkaca-kaca melihat ke arah Tisha, hatinya terluka dan tidak terlukiskan lagi oleh kata-kata.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2