
...🍀🍀🍀...
Pan Faisal tak sadarkan diri, dia tergeletak di lantai dengan tubuh bersimbah darah. Tisha, Bi Ani dan Rasya menghampiri pria tua itu.
"Kakek! Kakek kenapa kek??!" tanya Rasya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Pak Faisal. Wajah nya tampak pucat seperti kehilangan banyak darah. "Mama, kakek buyut kenapa ma? Darahnya banyak sekali!" tanya Rasya panik
"Astagfirullah! Tuan besar, bagaimana ini bisa terjadi?" Bi Ani panik melihat pak Faisal tidak sadarkan diri.
"Kakek! Bi Ani tolong suruh pak Ujang mengeluarkan mobil, kita harus segera mengantar kakek ke rumah sakit!" titah Tisha pada Bi Ani. Tisha tak kalah paniknya dengan Bi Ani dan Rasya. Anak berusia lima tahun itu malah sampai menangis melihat kondisi Pak Faisal.
Bi Ani memanggil pak Ujang untuk mengeluarkan mobil, sementara itu Bi Iyam membantu menyadarkan pak Faisal. Ketika orang-orang itu tengah berteriak panik melihat kondisi Pak Faisal, datanglah Daniah dan Dean dari lantai atas.
"Astagfirullah papa! Apa yang terjadi dengan papa?!" Daniah menuruni tangga, matanya terbuka lebar. Dia panik melihat kondisi Pak Faisal.
"Ya Allah papa!" Dean juga ikut-ikutan panik sama hal nya seperti Daniah.
"Ada apa ini Tisha? Kenapa papa bisa seperti ini?!" tanya Daniah pada Tisha dengan panik.
"Saya tidak tahu Bu, kami baru saja datang dan kakek sudah dalam kondisi seperti ini" jelas Tisha singkat dan jelas.
"Kakek... huuuhu.. kakek kenapa?" Rasya menangis tersedu-sedu.
"Ayo kita bawa papa ke rumah sakit, pakai mobil ku saja biar cepat!" seru Dean terlihat panik.
Mereka pun membawa pak Faisal ke rumah sakit dengan mobil Dean. Sesampainya disana, Pak Faisal langsung dilarikan ke ruang UGD. Tisha, Dean, Daniah, Tisha dan Rasya menunggu dengan cemas di luar ruang UGD. Mereka mencemaskan kondisi pak Faisal.
Namun seperti nya Daniah dan Dean lebih ke perasaan takut, wajah mereka terlihat gelisah dan bukannya cemas.
"Sayang, bagaimana ini?" bisik Daniah pada suaminya, dia memegang tangan Dean dengan cemas.
"Kamu bisa diam gak sih? Kamu mau ketahuan?" bisik Dean sambil melotot ke arah istrinya. Badannya gemetar ketakutan, tapi dia berusaha setenang mungkin.
Papa.. maafin Dean pa..batin Dean merasa bersalah.
Tisha memperhatikan Dean dan Daniah, mereka kelihatan nya tidak sedang cemas tapi sedang gelisah.
Aneh, kenapa Bu Daniah dan pak Dean seperti itu?
"Ma, apa kakek buyut akan baik-baik saja?" tanya Rasya sambil memegang tangan mama nya.
"Sayang, kita berdoa saja ya untuk keselamatan kakek buyut. Kita doakan semua kakek buyut baik-baik saja"
"Iya ma... Kakek buyut pasti baik-baik saja" Rasya berharap kalau Pak Faisal akan baik-baik saja.
Ya Allah, tolong selamatkan kakek buyut. Jangan biarkan kakek buyut kenapa-napa. Batin Rasya berdoa untuk keselamatan kakeknya.
Selagi menunggu pak Faisal yang sedang menjalani pemeriksaan di ruang UGD, Tisha mengambil ponselnya di dalam tas dan dia bermaksud untuk menghubungi Ray karena tidak satupun dari Dean maupun Daniah yang ingat untuk menghubungi Ray.
Tut..
Tut..
Tut...
Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, mohon tunggu beberapa saat lagi..
"Apa dia masih berada di dalam pesawat ya?" gumam Tisha memikirkan Ray yang telponnya tidak aktif. Dia pun mencoba menghubungi Gerry dan hasilnya tetap sama, keduanya sama-sama tidak aktif. Tisha jadi semakin yakin kalau Ray dan Gerry masih berada di dalam perjalanan atau mereka sedang sibuk.
__ADS_1
Setelah itu dia mendapat telpon dari Fayra yang menanyakan kenapa Tisha dan Rasya belum pulang juga. Kemudian, Tisha mengatakan pada Fayra tentang kondisi pak Faisal dan dia sedang berada di rumah sakit bersama Rasya juga.
Fayra menyusul ke rumah sakit dengan cemas, walaupun dia tidak kenal dengan pak Faisal tapi dia bersimpati dengan keadaan nya. Dia melihat Tisha, Rasya, juga Daniah dan Dean yang masih berada di sana.
"Tisha, Rasya?" panggil Fayra pada wanita itu dan anak laki-laki nya.
"Tante Fayra!"
"Bagaimana keadaan pak Faisal? Apa dia baik-baik saja?" tanya Fayra menanyakan keadaan pak Faisal.
"Belum tau kak, dokter masih memeriksa nya. Maaf kak, tapi aku boleh minta bantuan sama kakak sebentar?" pinta Tisha dengan wajah cemasnya.
"Ya, ada apa Tisha?" tanya Fayra.
"Tolong bawa Rasya untuk makan dulu, dia belum makan dari tadi" Tisha mengkhawatirkan anaknya yang belum makan daritadi.
"Gak mau ma, aku mau tunggu kakek buyut disini!" kata Rasya yang enggan untuk pergi dari sana.
"Rasya, kamu ikut Tante Fayra dulu sebentar ya.. nanti udah makan boleh kesini lagi" Fayra menggandeng tangan Rasya dengan lembut penuh perhatian dan kasih sayang.
"Sayang, kamu ikut Tante Fayra bentar ya. Lagian dokter juga belum keluar, kalau kamu sudah selesai makan, kamu boleh kesini lagi" kata Tisha sambil tersenyum.
"Ya udah deh, ayo tante" Rasya pun patuh ikut pada tantenya.
"Tisha, kamu tenang aja.. Rasya sama aku" Fayra menenangkan Tisha.
"Makasih kak"
Fayra mengajak Rasya pergi dari sana untuk mencari makan. Sementara itu Tisha, Dean dan Daniah masih berada disana. Menunggu dokter yang belum kunjung keluar dari ruang UGD.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan itu. Tisha, Dean dan Daniah sama-sama berdebar menantikan apa hasil pemeriksaan pak Faisal. Tisha berharap pak Faisal baik-baik saja, tapi entahlah apa yang diharapkan Daniah dan Dean di dalam hati mereka.
"Benturan di kepala Pak Faisal sangat parah, kondisinya juga kritis, terlebih lagi pak Faisal memiliki penyakit diabetes yang sudah parah, beliau juga kehilangan banyak darah. Dengan berat hati saya katakan, bahwa saat ini kondisi pak Faisal berada dalam keadaan koma" jelas Dokter dengan wajah yang muram, menyampaikan berita kurang menyenangkan.
Deg!
Tisha, Dean dan Daniah tercengang mendengar kondisi pak Faisal berada di dalam hidup dan mati.
"Astagfirullah.. kakek.." Tisha menahan air matanya.
Koma? Kenapa pria tua itu bukan hanya mati saja!. Batin Daniah kesal sendiri.
"Dokter! Lalu bagaimana keadaan papa saya? Kapan papa saya akan kembali sadar?" tanya Dean pada dokter itu
Kalau papa masih hidup, maka aku yang akan mati. Dean merasa terancam.
"Maafkan saya pak, saya tidak tau kapan pak Faisal akan siuman" jawab Dokter itu tidak tahu menahu tentang kapan pasiennya akan siuman.
Setelah itu Pak Faisal yang sedang berada dalam keadaan koma, dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Dean dan Daniah menunggu nya dengan setia, tak lama setelah itu Armand dan Nico juga datang menjenguk kakeknya.
"Aku kira kakek mati, ternyata dia hanya koma" gerutu Armand sambil tersenyum sinis melihat kondisi sang kakek yang terbaring lemah tak berdaya.
"Itu akibat nya karena kakek selalu mengistimewakan Raymond, jadi beginilah karma nya" gumam Niko yang setengah menertawakan kakeknya.
"Kalian bisa jaga mulut kalian gak sih! Kakek lagi sakit dan kalian malah ngoceh gak jelas!" Tisha tidak tahan lagi dengan kedua pria menyebalkan yang mengoceh di depan orang yang sedang koma itu.
"Woah! Siapa ini? Mantan istri Raymond ya? Kamu masih hidup? Bukankah kamu mati dibunuh oleh psikopat itu?!" Armand tersenyum sinis ke arah Tisha.
__ADS_1
"Dia bukan psikopat dan saya masih hidup, sebaiknya kalian tutup mulut kalian!" Tisha angkat bicara di depan kedua anak Daniah dan Dean itu. Dia tidak senang dengan ocehan Armand dan Niko.
Bagaimana bisa kakek mempunyai cucu cucu seperti ini? Padahal walaupun kakek terlihat tegas dan galak, tapi kakek sangat menyayangi semua cucunya. Lalu kenapa mereka bersikap seperti ini pada kakek?
Tisha prihatin pada pak Faisal, karena dia tau kalau kedua cucunya yang lain tidak menyayangi nya sama seperti Ray menyayangi kakeknya.
"Armand! Niko! Kalau kalian kesini hanya untuk buat keributan, lebih baik kalian pulang saja" Titah Dean pada kedua anaknya. Dean terlihat badmood dan resah.
"Ya, kita emang mau pulang aja kok. Kalau kakek udah meninggal, kasih tau kami ya ma.. pa..." kata Armand sambil tersenyum pada Dean dan Daniah. Dia dan adiknya secara terang-terangan mengharapkan kematian sang kakek.
"Kalian benar-benar ya!" Tisha mengertakkan giginya dengan gemas, dia kesal pada kedua pria itu.
Niko dan Armand tidak peduli, mereka berdua keluar dari ruang rawat pak Faisal. Setelah kedua orang itu pergi, Daniah dan Dean kompak mengusir Tisha dari sana.
"Heh! Ngapain kamu masih disini?" tanya Daniah sambil mendelik sinis ke arah Tisha.
"Saya mau nungguin kakek" jawab Tisha sambil menatap Pak Faisal yang terbaring koma.
"Lancang sekali ya kamu? Kakek siapa yang kamu katakan itu? Lebih baik kamu pergi dari sini, kamu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan keluarga Argantara!" kata Pak Faisal membentak Tisha.
Bahaya, jika wanita ini terus ikut campur. Dia akan tau kalau aku dan Daniah yang sudah membuat papa celaka. Daritadi tatapan curiganya terus menggangguku. Dean merasakan ancaman ketika Tisha melihat nya dengan curiga, jadi dia memutuskan untuk mengusirnya.
"Bapak salah, saya masih ada hubungan dengan keluarga Argantara. Karena saya adalah ibunya Rasya, dan Rasya adalah anak nya kak Ray, cucu pak Faisal. Dan pak Faisal sudah seperti kakek saya sendiri" Tisha tidak mau meninggalkan pak Faisal sendiri saja bersama Dean dan Daniah. Tisha curiga bahwa jatuhnya Pak Faisal dari tangga ada hubungannya dengan kedua orang itu.
"Hentikan omong kosong mu! Pergilah dari sini, kami tidak butuh kamu untuk menjaga papa!" Daniah ikut ikutan mengusir Tisha dari sana. Bahkan Daniah menyeret nya dengan kasar.
Tisha keluar dari ruangan itu, dia menatap curiga ke arah Daniah dan Dean. Seperti nya dia tidak punya cara lain selain menunggu Ray menjawab telponnya.
"Kak Ray, kenapa kamu belum mengangkat telpon mu juga?" Tisha bingung harus bagaimana mengabari Ray.
Dreet..
Dreet...
🎶🎶🎶
"Itu pasti dari kak Ray!" Dengan semangat Tisha mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa yang menghubungi nya.
"Halo.. apa ini Latisha?" tanya seorang wanita pada Tisha.
"Benar, saya sedang bicara dengan siapa ya?"
"Saya Bu Lisa, ibu Zevanya" jawab Bu Lisa
"Bu Lisa? Ada apa ibu menelpon saya?" tanya Tisha sedikit keheranan dengan Bu Lisa yang menghubunginya.
"Saya tidak meminta macam-macam kok, saya hanya ingin menyampaikan pesan dari Zevanya untuk kamu" jelas Bu Lisa dengan suara yang lemah.
"Pesan apa?" tanya Tisha tanpa basa-basi. Dia masih diliputi kemarahan pada Zee yang sudah melukai Rasya
"Zevanya ingin kamu bertemu dengannya, dia bilang dia ingin mengatakan tentang enam tahun yang lalu. Katanya sesuatu yang ingin kamu ketahui"
Tisha terpana dengan kata-kata Bu Lisa, sesuatu yang ingin dia ketahui? Apa itu?
...--***--...
Readers..mohon maaf ya, komennya tidak dibalas semua 🥰🤭 but, makasih buat dukungan kalian buat karyaku🥰🥰
__ADS_1
Jangan lupa besok novel baru ku meluncur, mampir ya.. masukin favorit,kasih like dan komen juga, rate 5 nya jangan lupa🤭