Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 159. Tidak sabaran!


__ADS_3

Hindari chapter ini! Jangan bicara, nanti menyesal!


Sekian!


...~~~...


.


.


Ray melahap bibir itu, menyeret Tisha dari pintu hingga sampai ke tembok di kamar. Pria itu sungguh tidak sabaran, sampai pintu kamarnya belum ditutup.


"Hmphh!! Hmphh!!" Ray masih menyesap bibir cantik itu dengan dalamnya. Tidak peduli akan keadaan sekitar. Hal yang dia inginkan hanya lah memiliki Tisha seutuhnya, menuntaskan hasrat nya yang tertunda selama 6 tahun.


Pintunya belum ditutup! Apa dia sudah gila? Aku pun tidak bisa bernapas!. Tisha melihat pintu kamar itu terbuka lebar.


Tisha memukul-mukul tubuh pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Seraya ingin memberitahu nya untuk menutup pintu lebih dulu.


Puk puk Puk!


Tenaga Tisha memukul tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan tenaga Ray. Apalagi ketika hasrat dan naluriah pria itu telah bangkit setelah 6 tahun lamanya padam.


Keinginan nya menyala-nyala, bahkan masih berada di dalam ciuman panas, Ray membuka setelan jas nya.


PLUK


Jas itu dilempar kemana saja! Satu tangannya merengkuh tubuh wanita yang masih memakai kebaya putih itu.


Sungguh tidak sabaran! Itulah Ray saat ini.


Grettt!


"Auwww!" Ray terpaksa melepaskan pagutan bibirnya dari Tisha, ketika bibirnya digigit. Pria itu merintih kesakitan, "Tisha, apa yang kau lakukan?!"


"Harusnya itu pertanyaan ku padamu! Apa yang kamu lakukan? Kamu sudah kehilangan akal ya?" tanya Tisha kesal dengan sikap tidak sabaran itu.


"Mencium istriku saja tidak boleh! Kamu sudah jadi istriku, jadi kamu tidak boleh menolak ibadah melayani suami!" Seru nya marah kepada Tisha yang menghentikan gairah nya yang sedang menggebu.


"Bukan nya aku menolak! Tapi kamu harus berfikir rasional juga dong, masa pintunya gak ditutup? Dan tadi kamu sudah seperti harimau yang kelaparan!" omel Tisha pada suaminya.


"Oh..maaf, melihat kamu yang sangat cantik membuat aku kehilangan rasionalitas," Ray melancarkan rayuan gombal nya pada Tisha.


"Ka-kamu," Tisha tergagap mendengar rayuan itu.


Ray melangkah menuju ke arah pintu, dia menutup pintunya rapat-rapat, kemudian menguncinya. Pria itu melangkah cepat ke arah Tisha, lagi-lagi pertama yang dia lahap adalah bagian bibirnya.


Matanya menatap wanita itu penuh gairah dan cinta. 6 tahun dia terpisah dan pernah kehilangan dirinya, kini dia tidak akan pernah melepaskan nya lagi.


Kalau perlu aku akan mengikat mu, agar kamu tidak bisa kabur! Kamu akan berada di sisiku selama nya. Ray bermain lidah nya dengan lihai, dia berputar putar di dalam mulut istrinya.


MUACHH!


"Kak Ray..tunggu.. hmphh!!" Tisha meminta pria itu untuk berhenti, ucapannya terputus karena Ray terus menciumnya. Padahal tadi bibirnya terluka, tapi dia masih saja menciuminya.


Tisha merasa semakin panas, hanya ciuman saja sudah membuat tubuhnya melemah. Karena siapa? Tentu lah itu karena Raymond Argantara, pria yang sangat ia cintai.

__ADS_1


Brugh!


Tanpa mereka sadari, mereka sudah berada di ranjang. Tisha duduk lebih dulu di ranjang. Masih dalam posisi berciuman.


"Tung-tunggu!" Tisha mendorong tubuh Ray yang sudah terengah-engah dengan wajah merah merona.


"Ada apa? Aku gak mau nunggu lagi!" Ray mencium leher Tisha, mengecup lembut.


Cup, cup, cup.


"Tunggu dulu kak Ray, tunggu sebentar!" Tisha tetap mendorong Ray yang tidak sabaran itu.


"Hiss.. apa sih?!" desis pria itu kesal.


"Aku, a-aku belum mandi. Mandi dulu ya?" pinta nya lembut. Dia malu karena belum membersihkan dirinya, tubuhnya berkeringat. Make up nya juga masih menempel di wajah, belum lagi melepas hiasan di kepalanya.


"Gak usah mandi, nanti mandinya sekalian,"


"Tapi aku berkeringat, aku bau,"


Ray mengendus tubuh Tisha dengan hidungnya, "Kamu wangi, keringat mu juga.."


"Jangan bercanda! Lebih baik kita mandi dulu!"


"Jadi, kamu mau melakukan nya dikamar mandi?" Ray tersenyum menggoda istrinya.


"Me-melakukan apa?"


Kenapa omongan pria ini terdengar mesum ya?


"Kak.."


Pelan-pelan Ray membantu Tisha melepaskan hiasan di kepalanya, melepas anting-anting nya. Dengan tangan yang menyusuri wajah Tisha.


"A-aku bisa melepasnya sendiri,"


"Diam lah, sebelum aku melahap mu sekarang juga," tutur pria itu yang sibuk melepas aksesoris milik istrinya.


"Aku mau mandi!"


"Kamu berisik sekali! Aku gak mau nunggu,"


Setelah berhasil melepaskan hiasan dan aksesori di kepala istrinya. Tangan Ray bergerak menuju kebaya yang dikenakan istrinya. Dia melepas kancing kebaya itu satu persatu, Tisha hanya melihat nya dengan bingung. Dia lemah pada tatapan Ray sehingga dia membeku.


Ray berhasil melepaskan nya. Bagian tubuh atas Tisha hanya tinggal pelindung dua buah gunungnya saja. Tisha menggigit bibirnya dengan gemas, hal itu malah mengundang hasrat Ray lebih dalam lagi.


Dia membelai lembut pipi Tisha kemudian tersenyum.


"Aku tidak percaya bahwa sekarang aku adalah suamimu. Aku pikir ini mimpi, tapi semuanya menjadi nyata sekarang dan aku tidak mau kebahagiaan ini berlalu," ucap Ray penuh perasaan. Matanya berkaca-kaca menatap cinta nya yang pernah menghilang selama enam tahun itu.


"Kamu tidak bermimpi, aku adalah istrimu sekarang," Tisha tersenyum lembut.


"Tisha, aku ingin kamu sekarang. Boleh ya?"


"Dasar pria tidak sabaran, baiklah silahkan," Tisha dengan senang hati menyambut ajakan suaminya untuk malam pertama mereka

__ADS_1


Tangan cantiknya melepas sendiri bh yang di kenakan olehnya. Dengan malu-malu, dia menutupi bagian atas miliknya. Ray terpana melihat keberanian Tisha. Mereka berdua sama-sama naik ke ranjang. Ray melepaskan kemeja miliknya.


"Kamu yang minta," Ray bersiap untuk melakukan malam pertama yang terkesan mendadak itu.


"Tapi kamu yang mau," ucap Tisha menimpali.


Tubuh telanjang dada pria itu menindih nya. Menyusuri setiap sudut tubuh Tisha dengan bibirnya. Ray memilih berlama-lama menikmati keindahan dua buah gunung yang menyembul itu. Ada kepuasan tersendiri melihat Tisha menggelinjang kegelian olehnya.


"Uhh... haaahhh...hen-hentikan," tangan Tisha melingkar di punggung Ray dan memegang erat nya.


"Hentikan? Bukan lanjutkan? Kamu sudah basah," Ray menatap bagian sensitif Tisha yang sudah becek itu dengan nanar. Dia bersiap melahap nya juga.


"A-ah, ja-jangan.."


"Kenapa? Kamu istriku.." ucap Ray yang ingin memiliki wanita itu seutuhnya dalam jiwa dan raga.


Kini pria itu berada di bawah kakinya, entah apa yang sedang dilakukan nya disana. Hingga membuat Tisha kehilangan seluruh tenaga, pikiran dan akal sehatnya.


"Hahhh...haahh.. sudah cukup," Tisha meminta Ray untuk menghentikan aktivitas nya dibawah sana.


"Jadi, kamu mau aku naik?" tanya Ray sambil mengusap basah yang ada bibirnya. Lidah nya menjulur keluar mengusap noda putih di sekitar mulutnya.


"A-Apa yang kamu bicarakan?" tanya Tisha dengan napas terengah-engah.


"Kali ini, aku tidak akan memaksamu. Tapi, aku tidak yakin kalau aku bisa bermain lembut. Aku sudah lama berpuasa!" Ray menatap tajam pada wanita itu, bagian tubuhnya yang mengeras tidak butuh waktu lama lagi akan meledak.


"Ah? APA?" Tisha membulat menatap Ray, tak mengerti apa yang dikatakan nya.


"Dan lagi, Rasya meminta ku bekerja keras.. dan kamu juga harus bekerjasama dengan ku malam ini, atau dia akan kecewa," Ray tersenyum.


"Ah? Apa kamu mengatakan sesuatu padanya?" tanya Tisha.


"Ya, aku bilang padanya untuk membiarkan kita pergi berduaan!"


"Lalu? Apa yang kamu katakan padanya?" tanya Tisha penasaran.


"Tentu saja aku bilang padanya bahwa kita akan membuat adik untuknya," Bisik Ray dengan senyumannya yang menggoda.


"Ah?! Jadi itu yang kamu katakan kepadanya!!" pekik nya kaget.


Tidak mau berbasa-basi lagi, Ray membenamkan miliknya. Tanpa ampun dia menyatukan tubuhnya dengan tubuh istrinya. Rasanya berbeda ketika dia memaksanya dulu, kini tidak ada paksaan diantara mereka.


Tisha menerima nya dengan senang hati. Malam itu mereka berpacu menikmati alur yang ada. Beberapa gaya bercinta dipraktekkan oleh Ray untuk memuaskan dahaganya yang sudah enam tahun dia tahan.


Malam itu keduanya pecah dalam cinta dan penyatuan tubuh. Mereka sudah menyatu di dalam malam yang panas penuh gairah. Sebuah kata cinta mengakhiri percintaan itu, "Aku mencintai mu, aku tidak akan melepaskan mu lagi.." Ray yang sudah berkeringat itu mengusap wajah Tisha dengan lembut.


"Haah.. aku juga tidak akan melepaskan mu kak, aku cinta kamu,"


"Ray, bukan kakak! Panggil aku Ray mulai sekarang, Ray sayang.." pinta nya lembut.


"Ray..Ray.. aku cinta..." Tisha mendesah kenikmatan dengan aktivitas suaminya. Mereka kedua saling menatap lalu tersenyum puas.


Akhirnya, malam pun telah berganti menjadi pagi...


...---***---...

__ADS_1


Hai Readers! Author lagi malas up nih, boleh gak minta komen like gift atau vote nya biar bikin mood naik 😍😍


__ADS_2