Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 114. Diterima kerja


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Ray membawa makanan yang dibuat Tisha untuknya ke kantor dengan terpaksa, karena dia harus pergi menghadiri rapat penting dengan klien barunya yang berasal dari perusahaan luar negeri.


"Gak apa-apa kan aku bawa makanannya dan gak dimakan disini?" tanya Ray sambil memegang kotak bekal ditangannya


"Tidak masalah, selama kamu memakannya" jawab Tisha dingin


Ray tersenyum melihat tingkah Tisha yang jaim dan malu-malu di depannya, wanita itu sungguh imut di matanya "Aku senang kamu perhatian padaku"


"Siapa juga yang perhatian pada mu?" sangkal Tisha


"Papa, mama tuh perhatian sama papa. Tadi pas bikin makanannya, mama bilang kalau dia tidak mau papa melewatkan makan siang juga! katanya papa punya sakit mag" kata Rasya memberitahu papanya


Tisha melirik ke arah putranya, dia terkejut karena Rasya mengetahui semua yang ia katakan di dapur saat membuat makanan untuk Ray.


Kenapa Rasya bisa tau?


"Itu bukan karena aku perhatian pada kakak, tapi karena.. karena.. sayang kan, aku masak banyak tapi gak di makan nanti jadi mu...


"Mubazir!" Rasya dan Ray dengan kompak langsung menyambar ucapan Tisha sebelum wanita itu menyelesaikan kata nya


"Kalian benar-benar deh.. ckckck" Tisha tersenyum melihat kekompakan ayah dan anak itu.


"Sudah kuduga mama pasti bakal bilang gitu!" Rasya tersenyum lebar


"Ya, dulu mama mu juga suka bilang begitu. Ternyata dia tidak berubah" Ray menimpali kata-kata Rasya dan setuju dengannya.


"Ya sudah, bukannya kamu harus berangkat.. cepat pergi, nanti terlambat" Tisha meminta pria itu segera pergi karena pekerjaan yang sudah menunggu nya.


Ray malah diam saja, dia memandang Tisha dan Rasya dengan tatapan aneh. "Ma, papa kenapa tuh?" tanya Rasya yang heran dengan tatapan papa nya pada dia dan sang mama


"Entahlah sayang" Tisha menatap Ray dengan bingung, Ray terlihat melamun, namun dia melihat ada harapan di mata Ray untuk Rasya dan Tisha.


Tidak lama lagi, ketika aku berangkat dan pulang bekerja. Aku bisa mencium kalian berdua dengan penuh cinta seperti keluarga yang bahagia. Ray tersenyum tipis


"Kak Ray? kamu melamun ya?" tanya Tisha


"Ah...aku tidak apa-apa. Aku berangkat dulu ya, sayang.. papa berangka dulu ya" Ray mencium kening Rasya dengan penuh kasih sayang


CUP


"Ish..!! papa sudah kubilang jangan cium cium aku. Aku sudah besar! jangan di cium cium" gerutu Rasya dengan wajah cemberut nya.

__ADS_1


"Hehe" Ray hanya nyengir sambil mengusap kepala anaknya dengan lembut. Ray berpamitan, sebelum itu dia mengatakan pada Tisha bahwa kemungkinan besar Zee akan mendapat hukuman mati.


Entah kenapa hati Tisha sedikit kasihan dan bersimpati pada wanita yang sudah berkali-kali membuat hidupnya berada dalam bahaya dan menghancurkan hidupnya.


Wanita itu berdiri mematung dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. "Hukuman mati?"


"Ma, mama kenapa? ayo masuk yuk! katanya mau beres-beres" ajak Rasya pada mama nya


"Ya sayang, ayo kita beres-beres" Tisha tersenyum pada Rasya. Ibu dan anak itu pun masuk ke dalam rumah bersama.


Bersama-sama juga ibu dan anak itu membereskan barang-barang yang ada di dalam rumah. Rasya tak sengaja menemukan sebuah foto usang di dalam sebuah kotak kayu yang tampak seperti kotak penyimpanan.


"Foto siapa ini ya?" Rasya mengambil foto itu beserta kotaknya, kemudian dia menghampiri mama nya. "Mama, lihat ini foto siapa ma?" tanya Rasya sambil duduk di samping mama nya


Tisha melihat ke arah foto yang ditunjukkan oleh Rasya, Tisha tercengang melihat foto itu dan segera mengambilnya. "Foto ini.. kamu temukan dimana, sayang?"


"Ada di kotak ini ma" jawab Rasya sambil menyodorkan kotak tua itu pada Tisha. Tisha membuka kotak itu dan melihat banyak foto-foto masa kecilnya di sana.


Tanpa sadar air matanya mengalir melihat foto-foto kenangan itu. Disana banyak foto masa kecil Tisha dan Arya bersama kedua orang tua mereka.


Ibu, ayah, kak Arya.. aku kangen kalian.. seandainya kalian ada disini.


"Ma, mama kenapa nangis?" tanya Rasya cemas melihat mama nya menangis.


Walaupun kalian sudah tidak ada disini, tapi aku masih punya Rasya disisi ku. Aku tidak boleh sedih, aku punya Rasya yang bisa membuatku bahagia.


"Kakek, nenek sama om? jadi di kotak ini ada foto kakek, nenek sama om? yang mana ma, aku mau lihat fotonya!" kata Rasya bersemangat


Dengan senang hati, Tisha menunjukkan foto-foto masa kecilnya pada Rasya. Dia menunjukkan foto kedua orang tuanya juga kakaknya pada Rasya.


"Om imut sekali ya waktu kecil, tapi kelihatan kayanya dia jahil deh" kata Rasya mengeluarkan pendapat nya setelah melihat foto om nya yang terlihat seperti sedang menganggu Tisha, dan di dalam sana Tisha seperti sedang menangis.


"Kamu benar sayang, om kamu itu orangnya jahil banget. Dia selalu buat mama menangis waktu kecil" Wanita itu tersenyum ketika menceritakan masa kecilnya


"Apa dulu mama anak yang cengeng?" tanya Rasya penasaran


Tisha tersenyum, "Cengeng sih tidak, mungkin mama anak yang manja. Dulu mama sangat manja pada kakek kamu"


"Oh begitu ya. Oh ya ma, kakek itu orangnya seperti apa?" tanya Rasya penasaran


Tisha mendudukkan Rasya di pangkuan nya, sambil menunjukkan foto-foto masa kecil nya. Tisha menceritakan semua hal tentang ayah, ibu dan juga kakak nya pada Rasya. Anak itu senang mendengar cerita tentang mama nya yang tidak pernah diketahui olehnya.


Tidak butuh lama untuk Tisha membereskan barang-barang nya yang tidak banyak itu. Selesai beres-beres rumah, Tisha dan Rasya memakan kue coklat yang dibuat oleh Tisha.

__ADS_1


Saat sedang santai, sebuah telpon membuat Tisha tercekat. Sementara Rasya masih asyik ngemil coklat sambil membaca buku.


Dreet..


Dreet..


🎢🎢


"Siapa ya? nomornya tidak ku kenal" Tisha melihat nomor tak dikenal menghubungi nya, Tisha mengangkatnya. "Halo, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, apa benar ini dengan Bu Latisha Anindita?" tanya seorang pria


"Benar, saya sendiri. Maaf, saya sedang bicara dengan siapa ya?" tanya Tisha sopan


"Saya Dion, sekretaris presdir Apparel desain. saya ingin menyampaikan bahwa lamaran anda sudah diterima bekerja di perusahaan Apparel desain" jelas seorang pria yang bernama Dion pada Tisha dengan suara ramah.


Wajah Tisha langsung ceria dan cerah mendengar lamarannya bekerja di perusahaan desain sudah di terima,"Apa itu benar pak? lamaran saya diterima?"


"Benar, besok harap Bu Latisha datang ke kantor untuk segera menandatangani kontrak dengan perusahaan kami" ucap pak Dion pada Tisha


"Saya pasti akan datang pak" Tisha senang dan semangat. Rasya melihat ke arah mama nya yang terlihat bahagia.


Apa yang membuat mama bahagia seperti itu ya? apa mama menang lotre? Batin Rasya bertanya-tanya.


"Kami tunggu kedatangan nya ya Bu, harap datang pukul 10 pagi"


"Jam 10 pagi? bukankah itu terlalu siang untuk jam kantor ya pak?" tanya Tisha heran, dia tau jam masuk kantor desain itu jam 7.30 pagi.


"Tidak apa Bu Tisha, ini kan cuma penandatanganan kontrak saja dan belum mulai bekerja, jadi tidak perlu buru-buru. Mau Bu Tisha datang jam berapa pun tidak masalah, asalkan besok harus datang" kata Dion dengan ramah


"Ba-baik pak saya akan datang jam sepuluh pagi seperti apa kata bapak" kata Tisha patuh, keningnya berkerut. Dia heran mengapa Presdir Apparel desain begitu baik padanya? apa ini hanya perasaan nya saja?


Dion menutup telponnya setelah pembicaraan dengan Tisha telah usai. Disampingnya ada seorang pria berjas rapi duduk di kursi.


"Bagaimana?"


"Saya sudah lakukan apa yang bapak perintah kan" jawab Dion patuh


"Kerja bagus, Dion" Pria itu tersenyum lebar lalu memutar kursinya. Terlihat seorang pria tampan duduk disana.


Siapakah pria itu?


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2