Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 70. Rasya di sekolah


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Kembali? ke Jakarta? apa maksud Ray adalah kembali padanya? Setelah semua yang pernah terjadi, apakah semudah itu Tisha akan memaafkan dirinya?


Bahkan kejelasan masalah tidur bersama Zefanya saja masih menjadi misteri. Berkali-kali Ray menyangkal bahwa ia tak pernah tidur dengan Zefanya, namun bukti mengatakan sebaliknya. Harus bagaimana Tisha bertindak? Sangkalan Ray tentang tidur bersama Zee itu hanyalah keyakinan nya sendiri, namun bukti berkata lain.


Setelah ingat semuanya tentang Ray, hatinya malah semakin terluka. Hal yang paling membuatnya terluka adalah saat kakak dan ibunya meninggal dalam kecelakaan mobil.


Tisha mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia masih mencintai pria itu, tapi untuk kembali bersamanya? entahlah, ia masih belum memberikan jawaban yang pasti.


Ray melihat keraguan di wajah Tisha, setelah ia bertanya tentang kembali ke Jakarta bersamanya dan Rasya.


"Semua itu tidak mungkin, aku dan Rasya tidak bisa kembali dengan mu" jawab Tisha setelah mempertimbangkan semua yang pernah terjadi diantara mereka.


Gelas yang sudah pecah, meskipun sudah diperbaiki beberapa kali pun tidak akan kembali utuh. Begitu pula dengan hubungan ini yang hanya akan membuat luka saja. Hubungan yang sudah hancur, rasa yang pernah ada, tidak akan bisa memperbaiki semua yang sudah terjadi. Kita sudah berakhir sejak lama kak Ray.. kita tidak bisa bersama.


DEG!


Presdir Argantara grup itu terkejut, ia menelan saliva nya. Dia sama sekali tidak menerima apa yang baru saja ia dengar.


Apa 6 tahun belum cukup untuk Tuhan menghukum ku? apa perjuangan ku masih belum cukup? apa yang salah? mengapa dia masih menolak untuk kembali padaku? apa kurang ku padanya? semua sudah ku jelaskan, tapi dia tetap mengambil keputusan ini? Aku ditolak lagi?


"Kenapa kamu tidak mau kembali denganku? apa kamu masih membenciku? apa itu karena masalah Zee? jika aku bisa membuktikan diriku tidak tidur dengan nya, akankah kamu dan Rasya kembali padaku?" Ray memegang kedua tangan Tisha, mata nya memohon pada wanita itu.


"Kamu tidak perlu lakukan itu, apa yang sudah terjadi di antara kita tidak akan pernah bisa di perbaiki. Itu saja" jelas Tisha dengan tenang dan tanpa ragu.


"Atau kamu sudah jatuh cinta pada Zayn, makanya kamu tidak mau kembali padaku?" tanya Ray menebak-nebak


Kedua mata berwarna coklat itu membulat, menengadah ke arah Ray dengan tatapan bingung, seakan tak percaya apa yang dikatakan oleh Ray.


"Apa maksud mu? apa yang terjadi diantara kita tidak akan hubungan nya dengan Zayn..Dia adalah teman baik ku saja" jelas Tisha tanpa kebohongan sedikit pun di dalam kata-kata nya.


Bagaimana bisa kamu bertanya seperti itu kak Ray? disaat semua hatiku sudah kamu bawa pergi dan kamu hancurkan berkeping-keping. matanya mulai berkaca-kaca. Ia tak menyangka bahwa pertemuan nya dengan Ray akan menyakitkan seperti ini.


Ray tertawa sinis, seperti nya ia tidak mempercayai kata-kata Tisha. Ray menyimpulkan sendiri kata-kata Tisha dengan versinya.


Tisha melihat ke arah Ray, lalu bertanya padanya, "Kamu tidak percaya kan?"


"Benar, aku tidak percaya" jawab Ray yakin dengan pemikiran nya sendiri.


Bagaimana bisa aku percaya pada kamu dan Zayn yang sudah tinggal bersama selama bertahun-tahun? bahkan kamu dan Rasya juga tinggal bersamanya. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan? kamu tidak tahu bagaimana rasanya khawatir? apa yang sudah terjadi antara kamu dan Zayn selama enam tahun itu, aku tidak tahu.


Ray mengepal tangannya, menggigit bagian bawah bibirnya. Memikirkan berapa banyak waktu yang sudah ia lewatkan tanpa Tisha dan Rasya dan berapa banyak waktu Zayn bersama dengan kedua orang yang penting dalam hidupnya itu.


"Terserah apa anggapan mu tentang ku dan Zayn, yang jelas kita tidak punya hubungan apa-apa lagi" Tisha berusaha acuh pada pria yang pernah menjadi suami nya itu.


"Apa kamu dan Zayn sudah menikah?" Ray mengatakan apa yang ada di pikiran nya begitu saja tanpa disaring lebih dulu.


"Omong kosong apa yang kakak bicarakan?" sahut Tisha raut wajah yang terkejut.


"Kamu sudah menikah dengannya apa belum?" tanya Ray lagi dengan pandangan yang tajam


Jawabnya cepat,"Tidak!"


"Berarti kamu masih cinta padaku"


"Kalau cinta memangnya kenapa?!" Tisha tidak bisa menyangkal perasaan nya


"Tentu saja kita harus bersama" kata Ray dengan mudahnya


"Itu tidak mungkin"


Karena hanya luka jika kita bersama.


"Meskipun ada Rasya diantara kita?"


Tisha terdiam, beberapa detik kemudian ia mulai berbicara. Hubungan Ray dan Tisha tetaplah orang tua Rasya meski bukan suami istri lagi. Harapan Tisha kembali bersama Ray itu sudah tidak mungkin, walau pernah ada rasa. Tapi Tisha tidak mau terpenjara lagi oleh sikap obsesif Ray padanya.


Tisha memutuskan hal untuk kebaikan bersama, terdengar seperti sebuah kesepakatan. Tisha memperbolehkan Ray untuk menemui Rasya kapanpun ia mau, namun tentu saja atas izinnya lebih dulu. Tidak ada alasan untuk Tisha melarang ayah dan anak bertemu. Kemudian, perihal tentang kembali hidup bersama, Tisha tetap mengatakan tidak.


Wajah pria itu memerah dengan keputusan yang diambil Tisha tanpa memikirkan perasaan nya. Namun, ia tak mau terlihat jelek di depan mantan istrinya itu. Sebisa mungkin ia menahan amarahnya.

__ADS_1


"Baiklah, kamu bilang aku bisa menemui Rasya kapanpun aku mau?" tanya Ray sambil tersenyum


"Iya benar" jawab Tisha


Bagaimana bisa dia tetap tenang? seharusnya ia emosi sekarang. Tisha heran melihat Ray yang masih bisa tersenyum setelah apa yang ia katakan tentang Rasya.


"Oke, kalau begitu aku bisa membawanya juga ke Jakarta, kan?" tanya Ray


"Mengapa harus ke Jakarta?"


"Karena papa nya tinggal disana" Ray merentangkan kedua tangannya dan tersenyum santai


Baiklah Tisha, tidak apa-apa jika kamu belum mau kembali bersama. Aku sudah menunggu lima tahun, tidak apa-apa jika aku harus menunggu 5 hari untuk membawa mu kembali. Dalam waktu lima hari itu akan ku buat kamu dan Rasya kembali ke Jakarta. Bagaimana pun caranya.


"Apa?!" Tisha mendesis kesal dengan ucapan Ray yang selalu santai dan memudahkan segala sesuatu.


Apa lagi yang pria ini rencanakan di kepalanya?


"Kenapa? bukannya kamu bisa aku bisa kapan saja menemui nya?" tanya Ray santai


"Tapi tidak dengan membawanya" Tisha melarang Ray membawa Rasya ke Jakarta, karena ia sudah nyaman berada di New York.


"Baiklah aku tidak akan memaksa, toh nanti kamu sendiri yang ikut kembali denganku" Ray tersenyum menyeringai, ia seperti sudah merencanakan sesuatu di dalam kepalanya


"Apa?!" Tisha tercengang lagi dengan apa yang dikatakan Ray


"Beristirahatlah, besok aku akan datang lagi bersama Rasya untuk menjemput mu. Aku ada rapat penting hari ini" pamit nya pada Tisha.


Ray melangkah pergi keluar dari ruangan itu, Tisha terheran-heran dengan sikap Ray yang menurutnya tidak berubah dan sangat tidak tahu malu.


CEKLEK


Gerry, sudah menunggu di luar ruangan itu. Tidak ada siapapun lagi disana karena Fayra pulang ke rumah bersama Rasya. Farhan dan Zayn pergi ke perusahaan agensi mereka.


"Gerry"


"Ya pak?"


"Kirim beberapa orang untuk mengawasi dan menjaga ruangan ini, jangan biarkan orang bernama Zayn datang menemuinya" Ray memerintah


Mengapa permintaan pak Presdir ini sedikit berlebihan? apa dia kembali ke sikap lamanya?


"Dan juga kirimkan beberapa orang untuk menjaga anakku di sekolahnya, pesankan juga tiga tiket pesawat ke Jakarta untuk 5 hari lagi" titah Ray pada sekretarisnya itu


"Tiga tiket pak?" tanya Gerry terperangah


Untuk siapa tiga tiket itu?


"Dalam lima hari aku akan membawa anak dan istriku kembali" ucap Ray percaya diri, ia tersenyum memandangi ruangan Tisha.


Pak Presdir sangat percaya diri, apa Bu Tisha sudah menerimanya kembali?. batin Gerry bertanya-tanya, ia tak tau apa yang dibicarakan Tisha dan Ray di dalam ruangan itu.


πŸ€πŸ€πŸ€


Setelah keadaan Tisha membaik, ia kembali ke rumahnya bersama Fayra dan Ray. Sementara itu Zayn dan Farhan pergi ke negara lain untuk melakukan konser lagi.


Setiap hari Ray selama masih tinggal di New York, Ray menyempatkan diri di waktu sibuknya dan menemui anaknya setiap hari, bertujuan untuk membangun chemistry dengan Rasya. Ray bahkan melalukan pendekatan dengan Tisha, memakai alasan Rasya.


***


Siang itu, Ray berdiri di depan gerbang sekolah Rasya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi, terlihat beberapa murid satu persatu keluar dari area sekolah.


"Dimana anakku? kenapa dia belum keluar juga?" gumam Ray sambil bersandar di mobil mewahnya itu.


Beberapa saat kemudian, terlihat para siswa berkerumun di depan gerbang sekolah. Entah apa yang terjadi disana, Ray jadi penasaran dan ingin melihat apa yang terjadi.


Ray melangkah ke arah kerumunan anak-anak TK itu, Ray terkejut melihat anaknya sedang berkelahi dengan seorang anak laki-laki berambut pirang.


"Jaga bicaramu! aku bukan anak haram! aku punya papa!" Rasya berbicara dalam bahasa Inggris pada teman bule nya itu, tangannya memukul anak laki-laki itu dengan kasar.


BUK

__ADS_1


BUK


"Ibuku bilang kalau mama mu itu seorang pelacur, makanya kamu terlahir ke dunia ini!" ejek anak laki-laki berambut pirang itu pada Rasya


"A-apa?!!" Rasya semakin emosi, ia memukul temannya itu semakin keras. Anak itu juga tidak mau kalah dan memukul balik Rasya, malah anak itu menendang kaki Rasya.


"Kalau kamu bukan anak haram, lalu dimana papa mu? siapa papa mu?!!" teriak anak laki-laki itu dengan sombongnya.


Anak-anak lain disana hanya memperhatikan perkelahian itu tanpa melerainya. Saat Ray datang, semua anak disana bungkam, diam dan ketakutan melihat sosok Ray yang menurut mereka sangat menyeramkan.


"Aku papa nya, nama ku Raymond Argantara" jawab Ray sambil menarik tubuh Rasya ke dekatnya.


Papa datang? papa pasti marah.. Rasya menunduk sedih karena melihat papa nya ada disana.


Beraninya anak ini menghina keturunan keluarga Argantara? dan yang dia hina itu adalah anakku? anakku dipanggil anak haram?!! anak Raymond Argantara!.


Tangan Ray gemetar, mata dan wajahnya memerah, ia ingin sekali memukul anak kecil yang sudah menghina anaknya itu. Ray tidak diam saja, ia bermaksud memperpanjang masalah.


Ray memanggil orang tua anak yang selalu menganggu dan menghina Rasya. Dengan sekali panggilan telpon darinya, perusahaan orang tua anak itu langsung hancur dalam sedetik. Hal ini membuktikan kekuasaan Ray dan grup Argantara sangatlah besar dalam berbagai negara di dunia.


Setelah menumpas kan orang-orang yang sudah menganggu putranya. Ray membawa Rasya keluar dari lingkungan sekolah.


Sebelum pulang ke rumah, Ray membawa Rasya makan siang bersama di sebuah restoran untuk memperbaiki suasana hati Rasya.


Kenapa anak ku diam saja dari tadi? apa dia sakit? tapi tidak ada luka luar sama sekali, apa mungkin ada luka dalam?. Ray cemas melihat Rasya yang ceria jadi diam saja.


"Hei bocah imut, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ray sambil tersenyum lembut pada anaknya.


Rasya mengangguk lemah menjawab pertanyaan papa nya, namun bibirnya masih cemberut.


"Kamu mau pesan apa? papa pesankan untukmu ya?" tanya Ray sambil memegang daftar menu.


"Apa saja" jawab Rasya malas


"Kamu suka ayam goreng? sosis? steak?" tanya Ray pada anaknya itu


"Aku suka semuanya" jawab Rasya sambil menatap ke arah papa nya.


"Papa pesankan ya" ucap Ray ramah pada anaknya.


Ray memanggil seorang pelayan lalu memesan makanan dan minuman. Beberapa saat kemudian, makanan dan minuman itu telah tersaji di meja. Rasya yang biasanya semangat kalau soal makanan, kini hanya diam memandangi makanan yang ada di depannya dengan mata yang kosong.


"Bocah imut, apa kamu sakit nak?" Ray membelai pipi Rasya dengan lembut


Rasya menggelengkan kepalanya.


"Benarkah tidak ada yang sakit? bilang sama papa dong, kenapa kamu diam saja? kamu memikirkan apa?" Ray perhatian pada putranya, ia khawatir kalau kalau Rasya mengalami luka dalam.


"Hiks.. hiks..." Rasya yang sudah menahan air matanya sejak tadi, akhirnya menangis juga


"Eh, anak papa yang imut kenapa nangis? apa tubuhmu ada yang sakit? haruskah kita ke rumah sakit??!" Ray memegangi kedua tangan anaknya dengan penuh kasih sayang.


Rasya menangis sambil menggelengkan kepalanya, tangisannya semakin besar saja. "hiks hiks"


"Sayang.. hey..,hey.. kenapa nak? bilang sama papa, apa ada yang menganggu mu lagi di sekolah? papa akan musnahkan mereka semua untukmu. Kamu mau papa menutup sekolah itu? papa akan menutupnya, kamu mau balas dendam pada siapa lagi? papa akan bantu membalas nya. Tapi.. kamu jangan nangis lagi ya nak" Ray mengusap air mata di pipi anaknya dengan tangan telanjang, penuh kelembutan dan kasih sayang.


Jadi begini rasanya membagi kasih sayang dengan orang lain, rasanya sangat manis. Apalagi membagi kasih sayang dengan darah daging ku sendiri. Rasanya sangat membahagiakan.. seandainya dulu hatiku terbuka seperti ini pada Tisha, membuka hatiku padanya dan membagikan kasih sayangku padanya. Mungkin kami tidak akan bercerai, mungkin kami tidak akan pernah berpisah...


Miris memang, dulu Ray tidak bisa bersikap selembut ini pada Tisha saat gadis itu masih menjadi istrinya. Bahkan Ray selalu bersikap dingin dan kejam padanya, mengabaikan Tisha selama bertahun-tahun. Jadi wajar saja jika Tisha mengabaikan dirinya sekarang, ini lah karmanya.


"Rasya.. sayang..kamu kenapa nak? kamu sakit nak?" tanya Ray pada anaknya.


Mulai sekarang, aku tidak akan melewatkan waktu bersamamu dan ibu mu. Aku akan menebus semua karma ku. Aku akan bersikap baik, membagi kasih sayangku untuk kalian. batin Ray tulus


"Aku gak sakit...hiks...hiks.. aku senang.. aku senang..hiks"


"Loh? senang kok nangis?" tanya Ray heran


"Aku senang punya papa... aku senang ada yang belain aku... huuhu.." Rasya menangis terisak-isak


Ray memeluk anaknya itu dengan lembut menandakan kasih sayang tulusnya. Ray sedih mendengar kata-kata Rasya yang senang mempunyai seorang papa. Ray merasa bahwa dirinya sudah menjadi papa yang tidak bertanggungjawab, karena tidak melihat Rasya tumbuh besar selama 6 tahun. Sejak di dalam kandungan, sampai Rasya lahir dan sudah sebesar ini.

__ADS_1


"Papa janji nak, papa tidak akan membiarkan kamu dan mama kamu sendirian lagi. Papa akan selalu ada untuk kamu,"


...---****---...


__ADS_2