Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 109. Akhir Zevanya


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Ray berlari untuk menggapai Tisha yang melayang jatuh dari atas gedung, dia melompat tanpa pikir panjang dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.


Rasya terlihat syok melihat kedua orang tuanya jatuh bersama dari atas gedung. "Mama!! papa!!"


"Jangan disitu dek, kamu bisa jatuh!" kata pak polisi sambil memegangi Rasya.


Seorang polisi menghampiri Rasya dan membawanya ke tempat yang aman. Anak itu merengek, menangis melihat kedua orang tuanya jatuh dari atas gedung berlantai tiga itu.


Sementara polisi yang lainnya menangkap Zee, memborgol kedua tangan Zee. Zee tidak bicara apa-apa, dia hanya diam saja dengan wajah sedihnya. Walau kakinya berdarah-darah karena tembakan polisi.


"Pak, saya mohon.. tolong obati dulu luka anak saya, bawa anak saya ke rumah sakit pak" kata Bu Lisa pada polisi. Bu Lisa tidak tega melihat anak nya terluka.


"Baik Bu, kami akan membawanya ke rumah sakit terlebih dahulu" jawab seorang polisi berkumis.


"Terimakasih pak. Zee, tenanglah sayang.. mama akan menemani kamu" ucap Bu Lisa sambil menangisi dirinya.


Ray dan Tisha masih melayang di udara, Tisha merasa jantungnya akan segera patah. Dia hanya menutup mata, sampai dia membuka matanya ketika sepasang tangan kekar memeluknya di tengah-tengah keadaan nya yang sedang berada di udara.


Siapa? siapa yang memelukku? Pelukan ini terasa hangat.


"Aku berhasil menggapai mu, Tisha"


Tisha terperangah mendengar suara itu, dia langsung membuka matanya dan melihat ke arah Ray dengan keheranan. Ternyata pria itu lah yang memeluknya.


"Kak Ray, apa kamu sudah gila??" tanya nya terkejut.


"Kalau kita harus mati, maka kita akan mati bersama" Ray tersenyum pada Tisha penuh cinta ketulusan.


"Ka-kamu!!" Tisha tak percaya bahwa Ray bisa tersenyum di dalam keadaan yang seperti ini.


Dia rela mempertaruhkan nyawanya untukku? jadi, dia mencintaiku? apa aku tidak salah?. Tisha terharu dengan keberanian Ray yang rela jatuh bersamanya.


Mereka berdua pun jatuh tepat di sebuah busa besar berwarna kuning. Ray memeluk wanita itu dengan erat untuk melindungi nya dari rasa sakit.

__ADS_1


BRUGH!


Tubuh mereka berguling-guling beberapa kali, sampai pada akhirnya jatuh ke aspal. Polisi dan petugas medis menghampiri Ray dan Tisha dengan cemas. Tubuh Tisha berada di atas tubuh Ray, sementara Ray tidak sadarkan diri berada di bawahnya. Keningnya berdarah, tangannya yang semula memeluk Tisha kini terkulai lemah.


Anak buah Ray ada dibawah sana, dia panik melihat bos nya tidak sadarkan diri. Merekalah yang menyediakan busa pelindung di bawah gedung.


Saat salah satu anak buah Ray akan memanggil ambulan, tanpa sepengetahuan Tisha mata Ray berkedip mengisyaratkan sesuatu pada para anak buahnya.


"Bos, kita harus panggil petugas medis untuk bos Ray!" kata seorang pria pada ketua bodyguard Ray.


"Bos tidak apa-apa, lebih baik kita mengurus tuan muda kecil dulu" bisik Martin, ketua bodyguard Ray.


"Baik bos!" jawab anak buahnya patuh


Sementara itu Tisha masih dalam keadaan panik karena Ray tidak sadarkan diri.


"Kak...Kak Ray! kak! bangun kak!" Tisha menggoyang-goyangkan tubuh Ray, dengan mata cemas dia menatap pria itu. "Bagaimana ini?! kak Ray tidak sadarkan diri, apa yang harus aku lakukan? ah tidak! kepalanya berdarah! Kak, jangan tinggalkan aku.. kumohon...bangunlah..." gumam Tisha bingung dan panik melihat Ray tidak sadarkan diri di depannya.


"Napas buatan..kamu bisa memberikan napas buatan"


"Tadinya aku mau pura-pura pingsan lebih lama, tapi aku tidak mau melewatkan melihat wajah kamu yang mencemaskan aku" Ray membelai pipi Tisha sambil tersenyum tipis, dia senang karena Tisha memperhatikan nya.


"Ka-kalau kamu sudah sadar, cepatlah bangun!" Tisha memalingkan wajahnya dari Ray, dia terlihat malu dengan apa yang dia gumamkan sebelumnya di depan Ray.


"Tisha, aku tidak akan meninggalkan mu" ucap Ray sambil duduk di aspal itu.


"Kamu ngomong apaan sih?"tanya nya judes


"Aku dengar suara kamu saat kamu bilang, kak, kumohon jangan tinggalkan aku.. kumohon..bang.." Ray menirukan suara Tisha


Buru-buru Tisha menutup mulut Ray dengan satu telapak tangannya. "Hentikan! aku tidak bilang begitu!" seru Tisha malu


"Terus kamu bilang begitu untuk siapa?" Ray tersenyum menggoda wanita itu


"Ten-tentu saja untuk Rasya, kalau terjadi sesuatu pada mu. Rasya tidak akan punya papa, dia akan kehilangan papanya" jelas Tisha

__ADS_1


Maafkan Mama sayang, mama memakai kamu sebagai alasan. Tapi ini gak sepenuhnya alasan kok, itu memang benar.


"Aku akan mengiyakan saja apa yang kamu katakan itu, kita akan bicara nan...uhh" Ray memegang kepalanya, dia meringis kesakitan.


"Kenapa? apa kepala mu sakit?" tanya Tisha cemas


"Gak apa-apa kok" jawab Ray sambil tersenyum


Kemudian, Rasya datang bersama polisi dan anak buah Ray. Rasya memeluk papa dan mama nya, dia merasa lega karena orang tuanya baik-baik saja. Tadinya dia takut akan menjadi anak yatim piatu, tapi untunglah itu tidak terjadi.


Rasya, Tisha dan Ray saling menanyakan keadaan satu sama lain. Seperti sebuah keluarga yang utuh. Tiba-tiba saja Ray marah melihat luka luka sabetan pada tangan anaknya.


"Rasya, kenapa tangan kamu penuh dengan luka?" tanya Ray sambil memegang tangan kecil milik anaknya itu.


"Itu karena nenek sihir gila itu, pa" jawab Rasya


"Zevanya! dia benar-benar tidak waras, lihat saja! aku akan membuat dia membayar semuanya di penjara!" gerutu Ray kesal melihat anaknya terluka karena Zevanya


"Aku setuju dengan kamu kak, aku juga tidak akan melepaskan nya setelah dia melukai Rasya seperti ini" kata Tisha dengan wajah yang kesal, dia yang tadinya akan memaafkan Zevanya, mulai berubah pikiran.


Tisha, Rasya dan Ray pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan. Mereka bersama Zee yang juga mendapatkan perawatan karena kaki nya ditembak polisi. Zee ditemani oleh mama nya dan polisi yang berjaga. Bersiap membawa Zee kembali apabila wanita itu sudah bisa keluar dari rumah sakit. Sudah jelas bagaimana nasib Zee nantinya, dia pasti akan dipenjara atau ada kemungkinan hukuman mati juga.


Setelah luka luka nya di obati, Rasya tertidur pulas. Ray dan Tisha menemani anak mereka dengan setia.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya? luka lukanya tidak akan membekas kan? atau menimbulkan infeksi?" tanya Ray cemas dengan keadaan putranya.


"Bapak tenang saja, beruntung nya luka anak bapak tidak begitu dalam. Hanya cukup dioleskan salep rutin setiap hari pada luka lukanya, insyaallah tidak akan meninggalkan bekas luka. Akan tetapi..."


"Tetapi apa dok?" tanya Tisha heran mendengar ucapan dokter itu tiba-tiba terputus.


"Saya belum bisa memastikan nya sekarang, tapi saya khawatir kalau kejadian ini akan menimbulkan trauma pada kesehatan mental nya. Semoga saja tidak ya, setelah dek Rasya sadar saya akan segera melakukan pemeriksaan nya" jelas dokter itu cemas dengan kondisi Rasya setelah diculik


Ray dan Tisha saling melirik satu sama lain, mereka memandang Rasya. Tisha dan Ray tidak berfikir sama kesitu bahwa tidak hanya luka luar yang dialami oleh Rasya, tapi mungkin juga ada luka dalam.


...---****---...

__ADS_1


Readers! please komen dan like nya ya, biar author semangat πŸ₯°πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2