
...πππ...
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 1, Tisha keluar dari lift itu dengan kondisi terluka. Shara dan Erika melihat nya dan menghampiri Tisha dengan cemas.
Menyebalkan sekali?! Dia pikir dia siapa? Kamu memilih lawan yang salah Derrick! Gerutunya di dalam hati.
"Bu Tisha!" Shara dan Erika memanggil wanita itu.
"Ah, Erika, Shara? Kenapa kalian ada disini?" tanya Tisha pada kedua orang itu.
"Kami baru saja dari toilet, lalu..Bu Tisha anda kenapa?" tanya Shara cemas melihat kening, pipi dan kaki Tisha yang berdarah.
Aku harus segera laporkan ini pada pak Ray!
"Apa pak Presdir menganiaya anda?"
"Dia menolak pengunduran diriku, lalu inilah yang terjadi!" Tisha tidak menutup-nutupi apa yang terjadi padanya. Dia berniat untuk memperpanjang masalah ini kantor polisi, dia tidak takut sama sekali.
"Ya ampun, ini sih namanya kekerasan Bu!" kata Erika khawatir melihat Tisha yang terluka.
"Iya! Dan aku akan melaporkan nya pada polisi, lihat saja!" Tisha tidak takut sama sekali.
Shara mengambil ponselnya, dia berniat mengirimkan pesan pada Ray. Tapi, sebelum itu dilakukannya. Bunyi lift membuatnya terdiam.
Ting!
Di dalam lift itu ada Derrick yang berdiri dengan wajah marah. Dia menggendong Tisha dengan paksa lalu membawanya masuk ke dalam lift.
Ting!
"Hey! Apa yang kamu lakukan? Brengsek! Bajingan!" Tisha memukul-mukul tubuh kekar yang memangku nya dengan paksa itu.
Shara dan Erika tidak sempat menyusul Tisha, karena pintu lift itu sudah tertutup kembali. Shara yang panik langsung menelpon Ray, karena dia yang bisa menghentikan semua ini.
"Halo pak Ray!" Seru Shara panik.
"Tumben kamu menelepon ku, apa ini masalah darurat?" tanya Ray yang sedang mengecek dokumen di meja nya bersama Gerry.
"Iya pak, setelah keluar dari ruangan pak Presdir, Bu Tisha terluka. Entah apa yang terjadi, lalu pak Presdir membawanya dengan paksa masuk ke dalam lift!"
"APA?" Ray tercengang mendengar laporan dari Shara tentang istrinya. Pikiran nya sudah negatif, dia takut terjadi sesuatu pada istrinya.
Saat itu juga Ray langsung memerintahkan Gerry menunda rapat, dia sendiri langsung pergi ke perusahaan desain Apparel tanpa diantar siapapun.
πDi kantor Aparel desain, ruangan Presdir!
Derrick masih membopong wanita itu di bahunya, beberapa kali tubuhnya terkena pukulan, tendangan bahkan gigitan akibat ulat Tisha yang memberontak.
"Lepaskan aku! Aku akan melaporkan mu ke kantor polisi! Suamiku akan memenjarakan mu!" Tisha marah-marah, mengancam pria itu dengan membawa nama Ray.
"Dia tidak akan berani melakukan nya" jawab Derrick dengan senyuman percaya diri.
"Apa?"
Derrick meletakkan Tisha di sofa ruangan nya dengan hati-hati. "Anda mau apa?" tanya Tisha melihat Derrick yang pergi mengambil sesuatu di laci nya.
"Aku akan menyetujui pengunduran diri mu, tapi kamu harus diam dulu disitu sebentar!" seru Derrick tegas.
"Kenapa? Anda takut ya kalau saya akan melaporkan anda ke kantor polisi?" Tisha tersenyum percaya diri. "Tapi sayangnya semua orang sudah tau kalau anda melakukan penganiayaan pada saya."
Derrick hanya diam saja mendengar ocehan Tisha, dia mengambil kotak p3k yang ada disana. Tisha bertanya-tanya di dalam hatinya, kenapa pria itu membawa kotak obat?
Pria itu mendekat ke arah Tisha, kemarahannya yang tadi terlihat mereda. Derrick terlihat lebih tenang dan tidak histeris seperti tadi. Tisha merasa sikap Derrick aneh.
Derrick duduk berlutut di depan wanita itu, dia melihat pergelangan kaki Tisha yang berdarah. "A-Apa yang anda lihat?!" Tisha langsung menutupi rok nya dengan kedua tangan. Dia menatap tajam pada pria yang duduk jongkok dibawah kakinya itu.
Mau apa dia?
Dia mengambil kapas dan obat merah, Derrick mengobati luka di kaki Tisha yang berdarah itu. "Anda-"
"Maaf, aku tidak bermaksud bersikap kasar padamu." ucap Derrick dengan suara yang pelan, dia fokus mengobati luka di kaki Tisha.
Kedua mata Tisha membulat mendengar kata maaf yang meluncur dari bibir Derrick, kata maaf yang penuh penyesalan.
Ada apa dengannya? Kemana sikap arogannya yang tadi?
Di kepala Derrick tiba-tiba saja terngiang kenangan tentang adiknya telah tiada. Dia selalu mengatakan untuk selalu bersikap baik pada wanita, sikap dingin Derrick membuat dia tidak bisa didekati wanita manapun dan tidak punya pacar. Adiknya selalu mengatakan kalau dia harus bersikap baik pada wanita, jangan kasar.
Dan perkataan itu kembali teringat ketika dia melukai Tisha secara tak sengaja karena emosinya. Dia merasa bersalah karena teringat ucapan mendiang adiknya.
Tisha terdiam, dia membiarkan Derrick menyelesaikan nya. Mengobati luka luar ditubuhnya, dia melihat tatapan mata sedih terlihat di kedua mata pria itu. Derrick juga tidak banyak bicara ketika mengobati Tisha.
"Pak Derrick.."
"Alyssa, kakak tidak bermaksud untuk kasar pada wanita. Tolong jangan marah pada kakak! Jangan!" Derrick menatap Tisha dan membelai kedua pipi wanita itu dengan kedua tangannya. Derrick menangis, dia menganggap Tisha adalah wanita bernama Alyssa.
__ADS_1
Alyssa? Apa dia adiknya?
BRAK
"Pak! Anda tidak bisa masuk sembarangan!" seru bodyguard itu berusaha menahan Ray yang menerobos masuk kedalam ruangan Presdir.
Ray memukuli kedua bodyguard itu dengan mudahnya, bahkan Dion yang menghalangi Ray, juga terkena pukulannya. Ray terlihat emosi, apalagi saat dia melihat istrinya berdekatan dengan Derrick.
"Berani-beraninya kamu menyentuh istriku!!" Ray berlari dan langsung menendang tubuh Derrick.
BRUGH!
Terjadilah baku hantam di dalam ruangan itu antara Ray dan Derrick. Tisha berusaha melerai kedua pria itu, tapi mereka sudah berada di dalam emosi yang membara.
Ray dan Derrick saling pukul, sudah seperti anak SD yang berkelahi. Kedua bodyguard disana akhirnya melerai kedua pria yang wajahnya sudah terlihat lebam-lebam itu.
"Kamu! Aku akan membunuhmu! Beraninya kamu menyentuh istriku! Seberapa benci kamu padaku hingga kamu berani melukai nya!" teriak Ray emosi.
"Kak, hentikan! Sudahlah, aku tidak apa-apa!" Tisha memegang tangan suaminya seraya menenangkan pria itu.
Tiba-tiba terdengar suara tawa menakutkan dari Derrick, tatapannya pada Tisha berubah tajam. Dia menatap pria itu dengan sinis.
"Hahaha...aku hanya menyentuh nya sedikit saja dan kamu sudah marah begini? Menarik." Derrick terkekeh sambil menatap Tisha.
"Brengsek kamu!" Seru Ray sambil mendekati Derrick dengan emosi.
"Hentikan! Sudah! Kita pulang kak! Ayo, aku mau pulang!" Tisha memegang erat tangan suaminya, dia menggelengkan kepalanya.
"Dia sudah berani menyentuh mu, aku tidak akan membiarkan nya!" Ray masih murka pada pria itu yang menyentuh pipi Tisha, bahkan melukainya.
Tisha memeluk Ray untuk menahan nya dari kemarahan, dia memohon kepada suaminya untuk tetap tenang. Tisha juga bicara pada Derrick sekalian mengancamnya," Saya tidak suka dengan sikap tidak profesional anda sebagai pimpinan perusahaan. Kalau begitu saya juga bisa berbuat seperti itu."
"Apa maksud kamu?" tanya Derrick sembari menatap wanita itu dengan tajam.
"Saya akan memaafkan kesalahan anda hari ini, tapi anda harus menyetujui surat resign saya. Mulai hari ini dan seterusnya, saya tidak akan bekerja disini lagi! Dan, jika anda mau menuntut saya di pengadilan karena pembatalan kontrak, silahkan saja! Saya tidak takut!"
Derrick terdiam mendengar nya, dia melihat bayangan seorang gadis remaja di dalam diri Tisha. Gadis remaja itu sedang marah padanya.
Kakak! Apa kakak lupa apa yang pernah aku katakan? Jangan sakiti wanita!
Suara itu menyakiti hati Derrick ,dia ingin balas dendam tapi dia tidak bisa menyakiti Tisha. Karena dia melihat bayangan adiknya pada diri Tisha.
Setelah selesai mengancam Derrick, Tisha dan Ray pergi dari perusahaan itu. Tisha bahkan lupa membawa barang-barang nya yang ada di ruang tempat kerjanya. Keributan disana membuat semua orang bergosip lagi, bahwa Tisha sedang diperebutkan oleh dua Presdir perusahaan besar.
Ray mengantar Tisha langsung pulang ke rumah, dia melarang istrinya untuk pergi kemana-mana. Bahkan beberapa bodyguard berjaga disana untuk menjaga Tisha di rumah. Tisha merasa seperti tahanan rumah.
"Papa, papa sudah pulang?" tanya Rasya sambil mencium tangan papa nya dengan sopan.Ray terlihat lelah, tapi dia tetap tersenyum begitu melihat putranya.
"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Tisha sambil tersenyum menyambut suaminya.
Entah sengaja atau tidak, Ray tidak menjawab pertanyaan Tisha. Pria itu malah menggendong Rasya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Mereka berdua duduk di sofa. Tisha bingung kenapa pria itu marah kepadanya, apa kesalahan nya?
"Sayang, kamu mau mandi atau makan malam dulu?" tanya Tisha sambil duduk disamping suaminya.
"......" Ray hanya diam saja dan menatap televisi dengan Rasya yang berada di pangkuan papanya.
Papa sama mama kenapa ya?. Rasya merasa ada yang berbeda dari papa dan mama nya.
"Pa, itu mama lagi tanya papa lho?" tanya Rasya pada Ray.
"Hem, aku mau diam dulu." jawab Ray tanpa melirik pada Tisha sedikitpun.
"Ya sudah, bilang padaku kalau kamu mau mandi. Aku mau menyiapkan cemilan untuk Rasya dulu, apa kamu juga mau?" tanya istrinya ramah.
"Gak." Jawab nya singkat.
"Hem."
Tisha kembali ke dapur, dia mengambil cemilan untuk Rasya. Mereka bertiga berkumpul di ruang tengah dan menonton tv bersama. Namun, Ray tetap diam saja seperti sedang menahan marah.
Setelah selesai makan malam dan menidurkan Rasya, Tisha kembali ke kamarnya. Dia melihat suaminya sudah berbaring lebih dulu di ranjang mereka.
"Sayang, kenapa kamu diam saja dari tadi? Apa aku membuatmu marah? Aku kan sudah melakukan perintah mu dan resign dari perusahaan itu, lalu apa lagi yang membuatmu marah?" tanya Tisha sambil memeluk suaminya yang sedang berbaring dari belakang. Dia menggesekkan kepalanya pada punggung suaminya.
Pria itu membalikkan tubuhnya, kemudian dia membenamkan bibirnya pada bibir yang ranum milik istrinya. Tangannya memeluk tubuh kecil yang tampak ramping itu.
"Hmphh!!"
Tangan Tisha refleks bergerak menggapai leher suaminya, dia membalas ciuman suaminya. Kedua mulut mereka terbuka lebar, lidah mereka saling bersahutan di dalam sana. Hingga entah bagaimana caranya, tubuh Tisha sudah berada di atas tubuh kekar suaminya.
"Haaah.. sayang, sebenarnya kamu kenapa sih?Kamu marah padaku?" tanya Tisha setelah kedua bibir itu berpisah. Dia menatap suaminya dengan sedih.
"Aku bukan marah padamu, tapi seperti nya aku cemburu." Tangan Ray membelai rambut panjang istrinya, dia menatap Tisha yang berada di atas nya.
"Cemburu?" tanya Tisha tak mengerti Ray cemburu pada siapa.
"Tadi dia membelai pipimu, menatapmu seperti itu, aku sangat marah. Aku ingin membunuhnya saat itu juga! Dia pasti sengaja!"
__ADS_1
"Tidak kak, dia tidak sengaja melakukannya, dia memegang pipiku dan menatapku seperti itu karena..."
"Tidak sengaja bagaimana?" tanya Ray sambil mengerutkan keningnya, dia beranjak duduk di ranjang nya. Hingga Tisha juga ikut duduk di pangkuan nya.
Tisha menjelaskan semua yang terjadi pada Ray kalau Derrick seperti itu karena dia merasa Tisha adalah adiknya. Mungkin itu karena Derrick sangat merindukan adiknya. Ray akhirnya mengerti, tapi tetap saja dia marah dan terus menggerutu pada Tisha tentang kejadian tadi siang.
"Jadi suamiku marah karena cemburu padaku?" tanya Tisha sambil tersenyum memeluk suaminya.
"Apa kamu tidak suka?" Ray menatap istrinya dengan nanar.
"Aku suka, cemburu mu sangat seksi." Tisha mencium lembut pipi suaminya.
"Tisha, jangan membangkitkan yang sedang tidur.."
"Hah? Apa?" Wajah polos itu menatap Ray.
"Bagaimana kalau kamu yang diatas?" goda Ray pada istrinya.
"Diatas?" Tisha bertanya-tanya apa maksud pertanyaan Ray.
"Jadi hari ini kamu yang diatas ya, aku anggap kamu setuju." Ray menyelipkan tangannya masuk ke dalam lingeriiiee yang dipakai oleh istrinya. Dia menyusup pada penyangga dua buah gunung menyembul milik istrinya, melepaskan nya pelan-pelan.
Kini Tisha apa maksud Ray, suaminya sedang menggoda nya. Tisha menghentikan tangan suaminya. Dia menggeleng-geleng menolak ajak suaminya.
"Sayang? Apa kamu tega setelah membangunkan milikku?" Ray menatap Tisha dengan tatapan memelas.
Ketika akan melahap istrinya, tiba-tiba Tisha mengeluh kalau dia mual-mual. "Sayang, ada apa?"
"Kepalaku...aku.." Tisha memegang kepalanya. Dia berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah disana. Ray menunggu Tisha di depan pintu kamar mandi.
Uwekk Uweekk
Ray terlihat sangat cemas, berulang kali dia bertanya tentang keadaan istrinya. Dia mengira istrinya terbentur sesuatu, hingga dia muntah-muntah seperti orang yang kena gegar otak ringan
"Sayang, kamu tidak apa-apa? A-Apa mungkin kamu terbentur sesuatu? Kening mu kan terluka?" Pria itu memburu Tisha dengan banyak pertanyaan begitu wanita itu keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat pucat.
"Ehm, tadi si Derrick itu sempat melempar vas bunga ke arahku. Tapi hanya pecahan nya saja yang mengenai kepala ku, aku benar-benar tidak apa-apa."
Ray mengambil ponselnya, "Tidak bisa, aku akan panggil dokter Haris kemari!"
"No, no, aku hanya butuh istirahat saja. Mungkin juga aku masuk angin. Sudahlah sayang, jangan merepotkan orang yang mungkin sedang beristirahat di jam segini." Tisha berbaring di ranjang nya.
"Tapi Tisha.."
"Tidurlah, besok kamu harus bekerja kan?" tanya Tisha seraya meminta suaminya segera tidur.
Sebelum tidur, Ray memeriksa kondisi istrinya. Suhu tubuh Tisha normal, tidak ada demam. Mereka pun tidur, hingga keesokan harinya Tisha kesiangan.
Akhirnya Bi Ani yang membuatkan sarapan. Bahkan Rasya yang tidak dibangunkan saja menjadi protes pada Mama nya, "Mama kok gak bangunin aku sih?" tanya Rasya sambil duduk di kursi meja makan.
"Maaf sayang, mama kesiangan bangun." jawab Tisha sambil tersenyum dan menyiapkan roti di meja.
"Rasya jangan gitu dong, mama mu kesiangan karena mama sedang sakit. " kata Ray pada anaknya.
Anak itu langsung tercekat mendengar dari papa nya kalau mama nya sedang sakit, "Mama sakit? Pantas aja wajah mama pucat, mama sakit apa ma?" Tanya Rasya sambil menghampiri mama nya di kursi sebrang.
"Mama gak apa-apa kok, cuma demam dikit." jawab Tisha sambil memegang kepalanya.
Kenapa denganku? Semalam aku muntah-muntah dan sekarang aku pusing sekali.
Rasya berjinjit, kemudian tangan kecil Rasya menyentuh kening Tisha. "Pah, mama badannya dingin!"
"Sayang, kita ke rumah sakit ya? Aku antar kamu dulu ke rumah sakit, sebelum pergi kerja" Ray memegang tangan Tisha.
"Aku gak apa-apa kak.. ughhh.."
Wanita itu kembali mual-mual, dia berlari ke kamar mandinya. Rasya dan Ray terlihat cemas melihat Tisha yang jarang sakit bisa seperti itu.
"Mama kan jarang sakit, kenapa mama bisa sakit?" Rasya berfikir. Dia jarang melihat mama nya sakit.
"Rasya pertanyaan macam apa itu? Tentu saja mama mu bisa sakit, mama mu kan manusia! Kamu ini ckckck.." Ray tersenyum sambil menepuk kepala anaknya.
Tapi benar juga sih, Tisha itu kan jarang sakit.
****
πSatu Minggu telah berlalu sejak Tisha resign dari perusahaan desain impian nya. Tidak ada kabar lagi dari Derrick, dia membiarkan Tisha bebas. Setelah mendapatkan uang pinalti dan beberapa kata dari Ray.
Selama satu minggu itu Tisha berada di rumah, sakit mual nya yang dikira masuk angin sudah sembuh. Tapi pada hari itu mual nya kembali datang, ketika dia mencium bau badan suaminya.
...--***--...
Mampir juga ke novelku yang lain yaβΊοΈβΊοΈ
__ADS_1