
...πππ...
Tisha pergi dijemput oleh kakak nya Arya, ia memakai piyama tidur, surat cerai ada di tas gendong yang ia bawa. Arya sudah ada di depan apartemen Ray. Tisha memutuskan untuk membungkam mulutnya di depan Arya, tentang apa yang sudah dilakukan Ray padanya.
Mereka pun pergi naik motor yang Arya pinjam dari temannya, dan berencana ke rumah kontrakan yang akan ditinggali oleh mereka untuk sementara waktu.
"Tisha, gimana??" tanya Arya sambil mengemudikan motornya.
"Aku sudah bebas kak, dia sudah menandatangani suratnya. Dan kami tinggal bertemu di pengadilan untuk menyelesaikan semuanya" jelas Tisha pada kakak laki-laki nya itu
"Alhamdulillah.." Arya merasa lega, akhirnya adiknya terbebas dari belenggu pernikahan yang menyiksanya.
"PFut.. "Tisha menahan tawa
Aduh, harusnya aku tidak tertawa. Astagfirullah.
"Kenapa kamu malah ketawa? apa ada yang lucu?" tanya Arya keheranan mendengar adiknya tertawa saat dia mengucapkan kata Alhamdulillah.
"Habisnya aneh aja, kakak biasanya tidak mengucapkan kata-kata seperti itu" Tisha heran
"Aku hanya menyadari kalau aku harus bertaubat atas semua perbuatan ku selama ini. Terutama sama kamu, waktu di usir oleh si sekretaris gila itu. Aku dan ibu melewati waktu yang sulit, tapi ada seorang ustad baik menolong kami dengan ikhlas. Mungkin dari sanalah kami sadar, kalau kami masih membutuhkan orang lain dan harus bersikap baik pada orang lain yang membutuhkan juga" Arya menceritakan tentang perjalanan nya dan Bu Fani untuk hijrah ke jalan yang benar.
"Alhamdulillah kakak, aku senang kakak sudah benar-benar berubah," Tisha tersenyum lega
"Aku tidak terlambat untuk berubah ke arah yang lebih baik kan?" tanya Arya pada adiknya itu
"Tidak kak, kakak belum terlambat. Tidak seperti seseorang" jawab Tisha mengarah pada Ray.
"Aku mengerti maksud kamu" Arya tersenyum pahit mendengar kata-kata adiknya itu.
"Kak, tolong berhenti dulu di apotik!" ujar Tisha melihat apotik yang tak jauh dari pandangannya.
Aku kehabisan pil ku. Waktu itu juga aku pernah lupa makan pil kontrasepsi nya, apakah aku akan baik-baik saja? Aku pasti gak apa-apa. Tisha melamun memikirkan sesuatu yang tidak di inginkan nya.
"Kamu sakit? mau beli obat kah? biar aku yang belikan" kata Arya yang sudah memberhentikan motornya di depan apotik itu.
__ADS_1
"Gak usah kak, aku cuma beli obat sakit kepala aja" kata Tisha pada kakaknya sambil turun dari motor.
Tisha berlari ke arah apotik dan masuk ke dalam sana, ia membeli pil kontrasepsi dan pencegah kehamilan lainnya. Tak lupa Tisha membeli minuman pelancar menstruasi, karena ia sudah telat menstruasi selama 3 Minggu. Tisha juga membeli obat sakit kepala sebagai alibi nya.
****
Di kamar nya, Ray baru selesai membersihkan dirinya. Ray duduk di ranjang nya, ia tampak frustasi setelah menandatangani surat perceraian itu. Ray mengambil ponselnya, ia menghubungi sekretarisnya.
"Halo pak Presdir" jawab Gerry dengan cepat
"Gerry, belikan aku sepuluh bungkus rokok dan dua botol minuman alkohol dengan kadar yang tinggi" titah nya pada sekretaris nya itu
"A-Apa?! apa saya tidak salah dengar pak?" tanya Gerry yang merasa tidak yakin dengan apa yang di perintahkan oleh Ray.
Presdir nya itu memang suka minum-minuman keras, namun itu pun hanya minuman keras dengan kadar alkohol yang sangat rendah. Ray tidak kuat minum-minum. Dan setahu Gerry, Ray tidak merokok, lalu kenapa kali ini Ray menyuruhnya membawa semua itu? Aneh dan heran.
"Kamu itu tuli atau mau mati, Gerry?!! Sialan! cepat bawakan aku semua itu!" teriak Ray penuh kemarahan pada sekretarisnya itu.
Mendengar Presdir yang marah-marah. Seperti nya Bu Tisha berhasil membuat pak Presdir menandatangani surat cerai itu. Gerry merasa prihatin karena Ray dan Tisha benar-benar akan bercerai. Ya, siapa juga yang akan bertahan dengan suami yang sudah tidur dengan wanita lain? jijik yang ada. Begitulah pikir Gerry terhadap bos nya.
"Ma-maafkan saya pak" jawab Gerry ketakutan
"Cepat bawakan apa yang ku minta! Dan gaji mu, aku pangkas bulan ini!" ujar Ray penuh emosi
Tut!
Ray menutup telponnya dengan kesal. Gerry langsung gigit jari dan merasa sedih karena gaji nya di potong bulan ini. Baru saja satu minggu yang lalu ia bahagia dengan kenaikan gaji plus bonus. Eh, sekarang malah harus di potong.
"Kenapa aku yang kena? apa salah ku? apa salah sekretaris kecil ini? Aku harus persiapkan mental ku, karena pasti untuk hari ini dan seterusnya aku akan sering mengalami kesialan ini" gumam Gerry sedih. Dia tahu bahwa mood Presdir nya sangat dipengaruhi oleh Tisha.
"Kenapa sayang? Presdir mu marah-marah lagi?" tanya seorang wanita berambut panjang dengan wajah ramahnya. Wanita itu menepuk bahu Gerry dengan lembut.
"Iya, dia pasti sudah menandatangani surat cerainya. Sayang, aku harus segera berangkat" pamit Gerry sambil mengambil jaket dan kunci mobilnya.
"Ini sih salah si Presdir mu itu, kenapa dia berselingkuh dari istrinya? keterlaluan sekali. Kalau kamu jadi dia, aku bukan hanya akan menceraikan mu. Aku akan memotong anu mu juga!!" oceh istri Gerry, yang bernama Anna.
__ADS_1
"Kamu seram juga ya! untunglah aku setia" Gerry tersenyum manis, lalu mencium kening istrinya. Anna memberikan semangat kepada suaminya agar tetap bertahan demi menafkahi keluarga dan gaji yang besar.
"Semangat sayang! demi uang! demi keluarga! dan anak kita!" Anna tersenyum lebar pada suaminya itu yang selalu bekerja keras dengan profesi nya sebagai sekretaris Presdir.
Istriku ini sangat realistis sekali, tiada hidup tanpa uang. Untunglah gaji ku besar. Gerry tersenyum melihat istrinya menyemangati dirinya.
πππ
Arya dan Tisha sampai ke rumah kontrakan sementara. Disana ada bu Fani yang sedang membereskan baju baju nya. Kontrakan itu terlihat sangat kecil, hanya ada satu ranjang disana, rumah kontrakan itu bahkan tidak seluas kamar mandi di apartemen Ray.
"Loh, kok kamu pakai baju tidur? mana pakaian kamu yang sebelumnya?" tanya Bu Fani curiga melihat anaknya berganti pakaian
"Ta-tadi baju nya kena tumpahan air di apartemen kak Ray. Jadi, aku pakai baju yang ada aja, daripada pakai bajunya" jelas Tisha sambil tersenyum canggung di depan ibunya.
Bu Fani tidak bertanya lagi, ia fokus melipat bajunya. Namun, ia tetap curiga pada Tisha yang memakai jaket tebal walau cuaca sedang panas. Seperti ada yang disembunyikan nya. Arya dan Bu Fani mulai bertanya pada Tisha, apa yang akan mereka lakukan setelah perceraian Ray dan Tisha.
"Apa yang ingin kamu lakukan setelah bercerai dari nya?" tanya Bu Fani
"Tentu saja menikah lagi!" jawab Arya semangat
PLETAK
Sebuah pukulan mendarat di kepala Arya dari bu Fani.
"Aduh! ibu, sakit!" keluh Arya sambil memegang kepalanya.
"Kamu ini, ngomong sembarangan ya! Tisha, kamu jangan dengerin kakak kamu ini! walaupun kamu nanti jadi seorang janda, tapi kamu masih muda. Jangan menikah dulu, kamu lakukan apa yang mau kamu lakukan" jelas Bu Fani pada putrinya, ia ingin kalau Tisha melakukan apa yang di sukai.
Tisha tersenyum lebar, ia mengatakan bahwa setelah bercerai dari Ray, ia ingin bekerja dulu dan kalau bisa ia ingin meneruskan kuliahnya. Menggapai mimpinya menjadi seorang desainer, namun keuangan nya tidak memungkinkan Tisha meneruskan kuliah nya lagi.
"Gimana kalau kita buka usaha kecil-kecilan aja Bu?" tanya Tisha memikirkan sebuah ide cemerlang di kepalanya.
"Usaha kecil-kecilan?" Bu Fani dan Arya saling melirik kebingungan.
...---***--...
__ADS_1
...Hai Readers! jangan lupa komen, like, rate 5, vote dan gift nya ya ππ buat dukung author tambah semangat nulisnyaπ₯°π₯±...