Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 30. Sudah cukup


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Ray yang masih dalam keadaan mabuk, tiba-tiba tercekat mendengar pertanyaan dari Andrew yang mulai mengusik hatinya.


Tiba-tiba ia terpikirkan seorang pria tampan yang dekat dengan istrinya. Siapa lagi kalau bukan Zayn Alterra?


Bagaimana kalau pria itu benar-benar merebut Latisha dariku? tidak.. tidak mungkin, Latisha pasti tidak akan ikut dengannya, dia hanya mencintai ku. Jika dia tidak mencintaiku mana mungkin dia tetap bertahan hidup denganku selama dua tahun? Cintanya tidak mungkin berpindah semudah itu!


Pikiran negatif mulai membayangi Ray, ketenangan pria itu saat mabuk langsung pecah begitu memikirkan sosok Zayn.


"Andrew, kenapa tuh dia? bukannya jawab malah geleng-geleng kepala?" tanya Sam mengernyitkan dahinya, melihat ke arah Ray yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak karuan


"Udah rusak kali ya hehe" jawab Andrew sambil meneguk kembali minuman nya.


"Hey, kalian ada disini juga?" tanya Zee bersama kedua teman wanitanya menyapa Andrew dan Sam.


"Oh hai Zee.. apa kabar?" tanya Andrew


"Aku baik. Loh, ada Ray juga disini?" tanya Zee sambil tersenyum menyeringai melihat Ray yang sedang mabuk itu.


***


Di saat sang suami sedang mabuk-mabukan bersama teman-teman nya. Tisha masih cemas menunggunya, sesekali ia melihat-lihat ke arah jam dinding.


Hari sudah semakin larut, Tisha semakin cemas pada Ray yang belum pulang juga. Bibirnya menggerutu mengatakan bahwa ia tak ingin mencemaskan Ray, tapi hatinya berlainan arah dengan ucapannya.


"Tisha Tisha Tisha! kenapa kamu masih mencemaskan si es batu itu? ayo pejamkan matamu dan istirahat!" Tisha berusaha memejamkan matanya yang tak kunjung terpejam juga. Memang tubuhnya lelah dan mengantuk, tapi matanya tak bisa terpejam walau jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.


Tisha mengecek ngecek ponsel nya, siapa tau ada pesan dan telpon tidak terjawab dari suaminya. Namun tak ada satupun kabar darinya, ada juga 10 pesan dan 10 panggilan telpon dari Zayn padanya.


"Maafkan aku Zayn dan terimakasih atas perhatian kamu. Walaupun kamu teman baik ku, aku harus menjaga jarak denganmu. Karena aku masih lah wanita yang bersuami" Dengan sengaja Tisha menghiraukan panggilan dan pesan dari Zayn. Tisha menyadari posisinya yang tidak memperbolehkan dirinya dekat dengan pria lain.


Selama dua tahun pernikahan nya, ia juga selalu menjaga dirinya dari hal hal yang bisa menimbulkan fitnah. Tapi Ray tidak menjaga dirinya seperti Tisha menjaga dirinya. Ray membiarkan wanita seperti Zee masuk ke dalam kehidupan nya.


Zayn yang masih belum tidur, memikirkan Tisha dan mencemaskan nya. Hatinya tidak tenang karena mendengar suara Tisha yang parau.Zayn takut kalau Ray menyakiti Tisha. Zayn benar-benar yakin kalau Tisha memang tidak bahagia dengan pernikahannya itu, lalu apa yang membuat Tisha menikah dengan Ray? Hal itulah yang membuatnya penasaran.


Tik, tik, tik


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Tisha mulai mondar-mandir, wajahnya resah dan gelisah melanda nya. Tisha memutuskan untuk menghubungi Ray lebih dulu karena cemas.


Tut..tut...Tut...


"Kamu dimana sih kak? Ya Allah.. lindungilah suamiku" Tisha mendengarkan suara di ponselnya. Ada dering sambung, itu artinya ponsel Ray masih aktif.


🎡🎡


Maaf, nomor yang anda hubungi tidak menjawab. Mohon tunggu beberapa saat lagi...


Tisha tidak menyerah untuk menghubungi suaminya, ia bahkan sampai mencoba hingga 20 kali meski telponnya belum diangkat juga oleh Ray.


Gadis itu juga mengirimkan pesan pada Ray berkali-kali, tapi tak ada balasan juga. Ia bingung harus menanyakan pada siapa tentang keadaan Ray. Tisha takut terjadi sesuatu pada suaminya.


"Benar! pak Gerry pasti tau teman-teman kak Ray, aku akan menghubungi nya. Eh.. tapi apakah pak Gerry sudah bangun jam segini? pasti jam segini pak Gerry masih tidur, ini kan jam nya orang tidur lelap" Tisha ragu ragu untuk menghubungi Gerry, takut menganggu waktu istirahat nya. Ia tau kalau Gerry di kantor sangat sibuk, karena menjalankan perintah Ray. Kesana kemari mengurus jadwal yang melelahkan, dokumen-dokumen yang menumpuk dan urusan Ray yang lainnya.


"Maafkan aku untuk sekali ini pak Gerry!" seru Tisha sambil memencet tombol di ponselnya, wajahnya tampak serius.


🍁🍁🍁


Istrinya sedang cemas dan suaminya malah bersama wanita lain di sebuah apartemen mewah yang tak jauh dari klub malam itu.

__ADS_1


Zee lah yang membawanya ke apartemen nya itu. Zee memapah Ray dibantu supir taksi dengan susah payah untuk sampai ke apartemennya.


Ray benar-benar kehilangan kesadarannya, ia tertidur sangat lelap dan tidak sadar sedang berada dimana. Ray berbaring di ranjang kamar Zee.


"Eh? kenapa aku membawanya kemari? kenapa tidak ke rumahnya saja? biar wanita itu tau diri, kalau dia sama sekali tidak ada harganya di mata Ray.." gerutu Zee yang menyesal membawa Ray ke apartemen nya, harusnya ia membawa Ray ke rumahnya untuk menunjukkan pada Tisha dimana posisi nya.


Ray aku sungguh menyesal sudah mengkhianati cinta mu, aku sadar kalau hanya kamu yang mencintai ku dengan tulus. Kamu sangat perhatian padaku. Tapi semenjak kamu menikah dengan istri kontrak mu itu, kamu menomorduakan diriku. Dulu aku satu satunya untukmu, sekarang aku juga harusnya menjadi satu satunya.


Zee tersenyum menyeringai melihat sosok pria tampan, gagah, yang berbaring di tengah ranjang nya. Jari jemari Zee membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Ray secara perlahan-lahan, entah apa yang akan dilakukan nya pada pria yang kehilangan kesadaran nya itu?


"Maafkan aku Ray, aku tidak tau cara apa lagi yang bisa membuatmu kembali padaku. Jika dia tidak mau menyerahkan mu, maka aku yang akan merebut mu kembali. Kau sendiri yang akan kembali padaku" Zee membelai pipi pria itu dengan lembut, sambil tersenyum pahit. Zee benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.


Zee menelanjangi dirinya sendiri dan menelanjangi Ray. Kini tubuh mereka sama-sama telanjang bulat tanpa sehelai benang pun ditubuh mereka.


" Tidak masalah jika aku disebut pelacur atau pelakor sekalipun. Aku hanya melakukan ini demi cinta, demi mendapat mu kembali. Aku korbankan nama baikku Ray, jadi jangan kecewakan aku.."


Kemudian Zee mulai melangkahkan kaki nya naik ke atas ranjang mendekati Ray yang masih tertidur lelap. Zee memberikan kecupan kecupan di tubuh Ray, meninggalkan tanda merah ditubuhnya.


Pagi itu, Ray mulai membuka matanya ia merasakan pegal pegal, dan ada orang yang sedang menindih tubuhnya itu.


Apa Latisha tidur sambil memelukku?


Samar-samar Ray melihat sosok wanita yang berambut panjang agak bergelombang, telanjang bulat, tertidur tepat di atas tubuh nya dan sedang memeluknya. Lalu Ray membuka matanya lebar-lebar, kemudian ia terkejut.


"Zee??!!" teriak Ray panik, sambil mendorong Zee dari atas tubuhnya.


Apa yang ku lakukan disini? ini kan apartemen Zee?. Batin Ray panik saat melihat lihat kalau ia tidak berada di rumahnya.


"Ray.. kamu sudah bangun?" tanya Zee sambil mengucek matanya dan menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut.


"Zee?? kenapa kamu ada disini?" tanya Ray linglung, menyadari bahwa tubuhnya juga telanjang. Pikirannya terus bertanya-tanya kenapa dia ada disana? kenapa ia tidur dengan Zee? dan apa yang sudah terjadi?


CEKRET


DEG!


Ray tercengang bukan main, begitu melihat sosok wanita yang ada di depan pintu kamar apartemen itu. Matanya melirik Ray dan Zee yang masih berada di atas ranjang dengan tubuh telanjang mereka.


Kenapa dia ada disini? apa yang terjadi sebenarnya?


"Maaf, aku terpaksa membuka pintu.. karena kalian tidak menjawab ku" Tisha berdiri tanpa ekspresi di depan pintu kamar apartemen Zee sambil membawa makanan dan minuman di nampan.


"Makasih ya Tisha, kamu memang istri yang pengertian" kata Zee sambil tersenyum licik pada Tisha


Kamu lihat itu kan Latisha Anindita! gadis seperti mu tidak akan pernah menang dariku. Kamu tidak ditakdirkan untuk Ray, Ray itu untukku. Zee merasa menang melihat wajah kekalahan yang menghiasi wajah Tisha.


Ya, kamu menang Zefanya, kamu menang. Aku memang tidak bisa melawan mu, di hati nya tidak pernah ada diriku. Terimakasih sudah menyadarkan posisi ku dihatinya. Tapi, aku tidak mau terlihat menyedihkan, aku harus kuat. batin Tisha sakit hati melihat gadis lain berada diatas ranjang yang sama dengan suaminya.


Apa yang terjadi? kenapa dia ada disini dan sampai menyiapkan sup segala?. Ray termangu


Tisha meletakkan nampan makanan itu di meja yang berada di dekat ranjang."Ini sup pereda mabuk dan minuman nya, kalau sudah tidak ada urusan lagi saya akan pergi" Tisha mengambil tas selempang nya dan melangkah pergi.


Ray yang masih bingung dengan apa yang terjadi padanya, segera beranjak dari ranjang itu dan memakai bajunya. Ray menyusul Tisha yang pergi dari apartemen itu.


Hosh


Hosh


Ray yang belum sempat merapikan bajunya, berlari sampai napasnya terengah-engah, ia melihat Tisha berdiri di pinggir jalan dan terlihat seperti sedang menunggu taksi.

__ADS_1


"Latisha!" seru Ray


Tisha mencoba menahan air mata yang sudah menggenangi bawah matanya. Ia menoleh ke arah Ray, sambil menunjukkan pandangan yang kuat.


"Ada apa?"


Kenapa kamu mengejar ku?. batin Tisha sakit hati mengingat apa yang sudah ia lihat tadi pagi di apartemen Zee bersama Gerry. Tanda tanda merah di sekujur tubuh Ray dan tubuh Zee menjadi bukti bahwa mereka melakukan hubungan yang seharusnya di lakukan oleh suami istri.


"Ini.. ini sungguh salah paham, aku dan dia tidak melakukan hal seperti itu" Ray menjelaskan keadaan yang bahkan ia sendiri tak tau jelasnya seperti apa. Ray tidak ingin istrinya salah paham dengan apa yang ia lihat.


"Tidak usah menjelaskan apa-apa, aku baik-baik saja kok. Kenapa kamu malah mengejar ku kemari? kamu harusnya menemani Bu Zee, dia seperti nya sangat kelelahan" Tisha berusaha tersenyum, walaupun hatinya terluka seperti ditusuk-tusuk


Kata-kata Tisha seperti sindiran yang tajam untuk Ray dan membuat pria itu gelisah."Jadi kamu benar-benar berfikir aku tidur dengannya? kamu tau sendiri kan, kalau aku tidak bisa sembarangan dekat dengan wanita.. hanya dengan kamu saja aku bisa melakukan itu!!" Ray tidak terima dengan kata-kata istrinya yang seperti tuduhan untuknya.


"Sudah cukup! jangan bicara lagi, apa pentingnya ini salah paham atau bukan? apa pentingnya kamu tidur dengan nya atau tidak? aku juga tidak bertanya kan? kamu sudah berkali-kali melakukan ini, aku sih tidak heran. Kenapa kamu repot-repot menjelaskan nya padaku?" Tisha mengerutkan keningnya, mengangkat satu alisnya.


"Tuh kan kamu salah paham lagi, aku bersumpah! sumpah demi Tuhan aku tidak tidur dengannya,aku juga tidak tau mengapa aku berada disana dalam keadaan seperti ini! kamu harus percaya padaku?!!" Ray memegang tangan Tisha dengan erat, tatapan matanya pada Tisha seolah ia ingin mendapatkan kepercayaan dari gadis itu.


Aku mohon percayalah padaku.


Tisha menatap Ray dengan mata yang terluka, bibirnya kelu tanpa senyuman. Raut wajah nya mulai menunjukkan kesedihan di hatinya.


Mengapa kamu berusaha sekeras ini agar aku percaya? sedangkan kamu sendiri mencintai orang lain? sesaat kamu membuat aku merasa kalau kamu memang mencintai ku. Tapi maaf, aku harus melepaskan kamu demi dirimu dan kakek.


"Cukup, jangan jelaskan apa-apa lagi.Aku juga tidak peduli, kamu bebas bermain dengan siapapun yang kamu suka. Aku tidak akan ikut campur" ucap Tisha dengan suara yang kesal.


"Kenapa kamu bicara begini? kamu masih marah kah? kamu tidak percaya padaku?" tanya Ray tak menyangka bahwa Tisha akan bicara seperti itu padanya.


Apa benar aku harus mengatakan perasaanku disaat seperti ini?


"Aku sudah tidak percaya pada kakak lagi" jawab Tisha sambil menepis kedua tangan Ray yang memegangnya, "Kali ini sudah cukup kak, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku tidak mau menunggumu secara sepihak seperti ini. Kita akhiri saja semuanya"


DEG!


Jantung Ray seperti terkena serangan listrik tegangan tinggi, seperti ada hujan badai yang melanda hatinya. Dia tidaklah menyangka bahwa kata-kata istrinya itu bisa sangat menyakitkan hatinya.


"Akhiri? apa maksudmu?" tanya Ray dengan menajamkan pandangan nya kepada istrinya


"Tidak perlu tunggu sebulan lagi, kita bercerai sekarang saja!" seru Tisha dengan memasang wajah dinginnya.


Maafkan aku kak Ray, tapi aku tidak bisa bertahan lagi, hatiku sudah terlalu sakit. Mungkin ini memang jalan terbaik..


"Tidak bisa, kita tidak bisa bercerai! sudah kubilang masalah perceraian itu adalah hak ku! kita masih ada kontrak yang tersisa!" Ray kalang kabut, tidak disangka kalau perkataan Sam dan Andrew padanya memang benar.


"Kontrak? ya benar, soal pinalti kontrak itu akan segera aku transfer ke rekening mu. Sekarang aku tidak mau melihatmu lagi" Tisha mengatakan nya dengan nada yang tegas, ia menahan air matanya itu.


"Bukan itu maksudku! kamu salah paham, maksudku aku hanya ingin kamu selalu di sisi ku.." Untuk pertama kalinya Ray memohon pada seseorang dengan tulus dan nada lembut pada istrinya.


"Tolong jangan memohon lagi padaku. Orang yang harusnya kau minta untuk hidup bersamamu adalah Bu Zee, bukan aku. Karena kakak mencintainya.." Tisha memberhentikan salah satu taksi yang lewat.


"Tidak?! jangan pergi dulu, aku mohon.."Ray memegang tangan Tisha yang sudah akan membuka pintu mobil taksi


"Apa lagi?" tanya Tisha


"Aku tidak mencintainya, tapi aku mencintai.. aku mencintai kamu Latisha!"


DEG!


Tisha menutup kembali pintu taksinya, ia menatap Ray dengan penuh pertanyaan di dalam hatinya.

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2