Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 89. Zee buat rusuh


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Perkelahian antara Zee dan Tisha tidak berakhir sampai disitu saja. Mereka saling adu jambak, bahkan adu cubit. Ray kelimpungan menghadapi mereka berdua yang tampak bersemangat, tidak mau mengalah satu sama lain.


"Lepaskan aku pelacur!!" Zee menatap murka ke arah Tisha, rambutnya sudah berantakan karena Tisha. Wajahnya bahkan tergores oleh kuku kuku Tisha yang tajam.


"Kamu duluan yang harus melepaskan ku, pelakor!!" Tisha menarik rambut Zee semakin keras


"ACK!! sakit!!" rintih Zee kesakitan


"Woah, ini seru sekali. Kalau aku upload ke sosmed, pasti akan viral. Judulnya, selingkuhan melawan mantan istri" Daniah mengambil ponsel nya dan mengambil video perkelahian dua wanita yang ada di dalam hidup Ray itu.


"Daniah! hentikan!" seru Pak Faisal yang tidak senang dengan kelakuan menantunya itu


"Ya pa" Daniah menciut dan langsung menyimpan kembali ponselnya, "Ha...sayang sekali, padahal ini seru"


Ray berusaha menghentikan perkelahian itu, perkelahian yang sangat rusuh. Diiringi teriakan keras, meski tidak saling baku hantam, namun perkelahian itu menimbulkan kehebohan lebih-lebih dari perkelahian pria.


Bagaimana bisa jadi begini? pikir Ray dalam hatinya.


"Hei hentikan! hentikan! kalian!" Ray mencoba meraih tubuh Tisha, tapi Tisha terus menepisnya. Tisha dan Zee masih adu mulut, saling mencaci maki, mencemooh satu sama lain dengan kata-kata yang kasar.


Bi Ani pun turun tangan dan terpaksa menyiram kedua wanita yang sedang berkelahi itu dengan air dingin. Mereka berdua pun berhasil terpisah.


BYURR


"What the f*ck!!" keluh Zee sambil melihat tubuhnya sudah basah kuyup oleh Bi Ani.


"Ya ampun" sama hal nya seperti Zee, tubuh Tisha juga basah.


"Bi Ani! apa yang kamu lakukan?" tanya Ray yang langsung memberikan jaket nya pada Tisha. "Kamu gak apa-apa?" Ray menatap wanita itu dengan cemas


"Maaf tuan, saya hanya ingin mereka terpisah"


"Ray, aku ada disini. Kenapa kamu malah memperhatikan dia?!" tanya Zee tidak terima Ray memperhatikan Tisha dan bukannya dia.


"Kenapa aku harus memperhatikan kamu?" tanya nya sinis pada Zee. Sama sekali Ray tidak mengindahkan wanita yang pernah menjadi cinta pertama nya itu.


Kini dimatanya hanya ada Tisha saja. Zee melihat betapa perhatian nya pada Tisha, mungkin perhatian nya pada Tisha melebihi perhatian Ray pada nya saat mereka berpacaran dulu.


"Kamu bisa kena flu, masuklah dulu dan ganti bajumu!" ujar pak Faisal tidak tega melihat Zee menggigil kedinginan di rumahnya.


Wanita ini, dia begitu terobsesi dengan Ray. Sampai kapan dia akan terus seperti ini?


"Ya kakek, makasih" jawab Zee sambil meremas kedua tangannya dengan kesal. Matanya menatap cemburu para Ray dan Tisha.


"Daniah, bawa dia untuk berganti baju" titah sang Kakek pada menantunya itu


"Ya pa, Zee.. ayo ikut tante" ajak Daniah pada wanita yang tubuhnya basah kuyup itu


Zee akhirnya ikut berganti baju, diantar oleh Daniah ke kamarnya. Disana lah Zee mengatakan semua kekesalan nya pada Tisha dan Rasya. Zee bersikeras berpendapat bahwa anak itu bukan anak Ray.


Daniah ingin menyangkal ucapan Zee, karena di dalam hatinya dia yakin tanpa tes DNA sekalipun. Rasya adalah anak kandung Ray dan Tisha, karena mereka sangat mirip. Tetapi Zee tetap tidak mau mengakui bahwa Ray dan Tisha sudah memiliki anak.


****


Dengan lembut dan perhatian, Ray membantu Tisha mengeringkan rambutnya setelah wanita itu mengganti bajunya. Beruntungnya Rasya sudah ke alam mimpi, sehingga dia tidak mendengar suara-suara berisik dari lantai bawah.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan? bertengkar seperti anak kecil, bagaimana kalau anak kita mendengar nya?" Ray mengeringkan rambut Tisha dengan lembut menggunakan hairdryer.


"Tapi kan dia tidak dengar" ucap Tisha dengan wajah cemberut nya.


Benar juga, kenapa aku bisa seperti anak kecil begini? syukurlah Rasya tidak melihatnya. Tisha tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang bisa emosi karena Zee.


"Kamu semakin galak sekarang, apa ini sisi lain yang selalu kamu sembunyikan?"


"Bukan, ini lah sisi dimana perempuan menjadi kuat karena tersakiti. Namanya pembelaan diri dari penindasan"


"Kamu tersakiti? oleh siapa?" tanya Ray


"Kak Ray lah paling tau siapa yang bisa menyakitiku"


"Tisha...apa kamu belum bisa melupakan masa lalu?"Ray meletakkan hairdryer itu, lalu memeluk Tisha dari belakang dengan hangat.


GREP


"Kak Ray.."


"Tisha, maafkan aku.. aku belum bisa membuktikan kalau aku tidak tidur dengan nya. Tapi, aku bisa menjamin bahwa hatiku hanya untukmu seorang" Ray berbisik ditelinga Tisha


"Apa gunanya kata-kata kak? aku butuh bukti" Tisha melepaskan tangan Ray dari tubuhnya.


"Ya, maka akan aku buktikan dalam waktu satu bulan ini" Ray menatap Tisha dengan penuh rasa bersalah


"Hem.." Tisha beranjak dari tempat duduknya. Wajahnya sedih, teringat lagi tentang Ray yang tidur bersama Zevanya.


Tisha mengambil kotak p3k, dia membuka obat merah, kapas dan satu buah plester. Dia menyuruh pria itu untuk duduk dengan patuh. "Diam lah kak" pintanya sambil menatap pipi Ray yang tercakar olehnya


"Kamu mau apa?" tanya Ray pada Tisha yang memegang kapas di olesi obat merah.


Pria itu tersenyum lembut menatap ke arah Tisha, dia merasa Tisha sedang memberikan perhatian padanya. Dia membiarkan dirinya disentuh oleh Tisha.


"Auch!!" rintih nya merasa perih


"Apa sakit?"tanya Tisha menghentikan aktivitas nya mengoleskan kapas itu.


Saat kedua mata cantik itu menatap ku dengan cemas, aku sangat bahagia. Ray tersenyum ke arah Tisha.


"Kak Ray? apa itu sakit?"


"Sakit.. sakit sekali" Ray memegang tangan Tisha


"Kamu berbohong!" Tisha melepaskan tangannya dari Ray.


"Memang sakit kok, kamu mencakar ku keras sekali. Tidak lihat kah? sampai berdarah kaya gini!" Ray menunjuk ke arah pipinya yang berdarah dengan mulut manja nya.


"Kamu seperti Rasya, selalu melebih-lebihkan sesuatu. Baiklah aku akan pelan-pelan" Tisha kembali mengoleskan obat merah itu pada pipi Ray dengan kapas


"Terbalik! Rasya lah yang mirip denganku, aku kan papa nya. Bahkan dia mewarisi kecerdasan dan ketampanan dariku" Ray bangga pada dirinya sendiri.


"Terserah kamu saja" terakhir Tisha menempelkan plester yang sudah di pipi Ray. "Sudah selesai, sekarang waktunya membereskan sampah di luar"


"Kejam sekali, kamu bilang dia sampah?" tanya Ray dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Kenapa? kamu tidak terima mantan kekasihmu ku panggil sampah?" Tisha mendelik sinis ke arah Ray

__ADS_1


"Tidak, bukannya begitu.. kamu jangan salah paham deh, kamu jangan cemburu padanya. Sudah sejak lama hatiku hanya di penuhi olehmu"


"Jangan gombal! bereskan urusanmu dengan si perusuh itu, aku tidak mau ya dia menganggu ku dan anakku" ucap Tisha tegas


"Makin lama aku semakin cinta sama kamu Tisha, sikap kamu ini benar-benar semakin membuatku terpesona" Ray bicara penuh kekaguman pada ibu dari anaknya itu.


"Dan semakin lama aku semakin geli padamu, kamu yang dingin dan cuek bisa mengucapkan kata-kata manis seperti ini. Membuatku ingin muntah" cemooh nya pada Ray


"Kamu semakin galak, mulutmu juga jadi pedas, tapi kamu semakin cantik juga" Ray malah memuji Tisha setelah dicemooh olehnya


"Dasar! cepat urus mantan pacarmu itu" kata Tisha kesal


Kini Tisha dan Ray duduk bersama Zee untuk menyelesaikan masalah. Tisha menghakimi Zee karena perilaku tidak terpuji nya, Ray sudah pasti membela Tisha dan anaknya.


Zee menjelaskan maksud kedatangan nya kesana, dia ingin Ray mencabut tuntutannya karena telah melukai Rasya. Tentu saja Ray tidak bisa melakukan nya, wanita itu sudah keterlaluan melukai anak kecil hingga kakinya belum bisa berjalan.


"Jadi kamu tidak mau mencabut tuntutannya?" tanya Zee dengan wajah memelas seraya memohon pada Ray


"Tidak akan" jawab Ray tegas


Aku tidak sangka, demi anaknya dia sampai menuntut Zevanya. Iya sih, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama. Aku tidak mau ditindas lagi seperti dulu. Tisha menatap tajam ke arah Zee, seraya mengejek nya.


Si*lan! dia pasti sedang mengejekku di dalam hatinya.


"Ray, aku mohon.. masa demi anak haram itu kamu sampai mau memenjarakan ku?" Zee memegang tangan Ray, berharap pria itu akan mengampuni nya


Lagi-lagi Tisha emosi dengan kata-kata Zee tentang Rasya. Dengan kasar Tisha memberikan lagi tamparan di pipi Zee.


PLAK


"Jaga mulut kamu! sebelum aku menuntut kamu lagi!"


"Kamu?!!" Zee mendorong Tisha dengan murka, Tisha jatuh ke arah Ray.


Mereka pun kembali ribut, hingga membuat Ray kebingungan. Malam itu berakhir dengan datangnya Bu Lisa, yang menjemput Zee si perusuh keluar dari rumah itu.


Tak lama setelah Zee pulang bersama ibunya, Tisha menangis di sofa yang berada di ruang keluarga rumah Argantara. Ray melihat Tisha menangis dan menanyakan apa yang membuatnya sedih.


"Tisha, kenapa kamu menangis?" tanya Ray yang tidak tega melihat air mata jatuh dari kedua mata indah milik Tisha itu.


"Hiks..."


"Apa ada yang sakit? dimana yang sakit?? hm.." tanya Ray sambil menunduk di depan Tisha yang sedang duduk di sofa.


"Sakit.. sakit sekali.. hiks"


"Apa yang sakit, sha?" Ray mengusap air mata Tisha dengan lembut, menatapnya dengan khawatir.


"Hatiku...hatiku sangat sakit" Tisha memegang dadanya, dengan berurai air mata


...---***---...


Hai Readers! mohon maaf untuk besok author seperti nya tidak akan up dulu. Insyaallah author akan up lagi tanggal 3 Januari dan mencoba untuk crazy up bila reader mau crazy up untuk novel ini silahkan komen ya 😍😘


Like komen, vote, dan gift dari kalian sangat berharga untuk author..😘🀭


Selamat tahun baru 2022πŸ₯³πŸ₯³, semoga kita selalu disehatkan dimana pun kita berada, keinginan tahun yang lalu bisa tercapai tahun ini, yang sedang sakit bisa segera sembuhπŸ‘πŸ€­πŸ™

__ADS_1


Bye bye


__ADS_2