
...πππ...
Zayn membuka pintu ruangan itu dengan pelan-pelan. Senyum dan tawa itu menghilang dari wajah Tisha dan Rasya begitu melihat Zayn ada disana. Fayra mengikuti Zayn dari belakang, dia merasa bahwa Zayn adalah pengganggu disana.
"Zayn? Kak Fayra?" Tisha langsung beranjak dari tempat duduknya begitu dia melihat Zayn dan Fayra ada disana.
Ray menatap Zayn dengan tatapan tidak suka. Sementara Rasya yang polos, anak itu berlari ke arah Zayn dan memeluknya.
"Om Zayn!" Rasya tersenyum lebar pada Zayn.
"Hai sayang" sapa Zayn pada Rasya dengan ramah.
"Cih" gumam Ray kesal melihat kedatangan Zayn disana.
"Tisha, Pak Raymond, kami kesini untuk menjenguk pak Faisal" kata Fayra pada Ray.
"Silahkan" jawab Ray dengan suara dinginnya.
Pria ini begitu menyebalkan, bagaimana Tisha bisa begitu mencintai nya? Pribadi nya berbeda jauh dengan Zayn. Fayra menatap Ray dengan sinis, dia membandingkan pria itu dengan sepupunya Zayn.
"Kamu harus ramah kak!" seru Tisha pada Ray
"Oke" jawab Ray sambil duduk lagi di sofa itu, kepalanya sangat pusing. Tangannya menyangga kepalanya, "Haahh.."
"Silahkan kalian duduk dulu, Zayn juga" kata Tisha mempersilakan Zayn dan Fayra untuk di kursi yang ada disana. Zayn membawa sekeresek makanan untuk Tisha dan Rasya, dan dia menyimpan nya di meja.
"Apa ini? Pasti ini untukku kan?" tanya Ray dengan berani mengambil kantong keresek yang dibawa Zayn, Ray membuka isinya adalah sebuah cemilan coklat kesukaan Tisha dan kue vanila kesukaan Rasya.
"Maaf tapi itu bukan..."
"Wah, ini sih makanan kesukaan ku. Makasih banyak pak Zayn, anda sudah repot-repot membawakan cemilan ini untuk saya" Ray tersenyum, dengan tidak tahu malunya dia memakan cemilan itu dan duduk menempel pada Tisha. "Oh ya, ini yang vanilla pasti untuk Rasya.. sini nak, kita makan bersama" ajak Ray pada anaknya untuk makan cemilan bersama.
"Iya pa" jawab Rasya sambil berjalan menghampiri papa nya, mereka berdua makan cemilan bersama. Fayra dan Zayn geram melihat tingkah laku Ray yang tidak tau malu itu.
Si Raymond ini benar-benar tidak tahu malu, sudah jelas kue itu untuk Tisha dan Rasya. Tapi apa yang dia lakukan? Ada dimana sebenarnya urat malunya itu?. Batin Fayra kesal
Zayn mengepalkan tangannya dengan gemas, dia juga sama kesalnya dengan Fayra tapi dia menahan nya.
Tisha juga heran karena Ray kan tidak suka kue cokelat dan kurang suka makanan yang manis-manis, tapi dia memakan semuanya.
__ADS_1
"Woah.. terimakasih ya Pak Zayn, kue nya sangat enak. Lain kali kalau kamu beli kue cokelat, kasih saja langsung padaku," bibir Ray tersenyum, tapi matanya menatap Zayn penuh ancaman.
Ingin merebut Tisha dariku? Kamu berhadapan dengan orang yang salah Zayn Alterra.
"Haha, terimakasih pada Raymond. Tapi sebenarnya kue itu untuk Tisha, Tisha sangat menyukai kue coklat. Tisha, maaf ya kue nya dihabiskan oleh pak Raymond" Zayn berusaha sabar dan tetap tersenyum walau sikap Raymond sudah sedikit menginjak harga dirinya.
"Gak apa-apa kok Zayn, seperti nya pria ini kelaparan karena habis dari perjalanan jauh" Tisha melirik ke arah Ray yang dengan rakusnya memakan kue coklat itu sampai mikirnya belepotan. "Dia sampai tidak mau menyisakan satu pun kue coklat nya, tidak mau kue nya direbut oleh orang lain" Tisha tersenyum menyindir Ray yang duduk disampingnya.
"Kayanya kamu benar Tisha, gak disangka ya presiden Argantara grup bisa serakah juga pada kue coklat" Fayra tersenyum sinis ke arah Ray.
Mata Ray membulat begitu mendengar ucapan Tisha, dia langsung tersedak kue dan batuk-batuk. "Ohok ..ohok..."
"Papa!" Rasya melirik ke arah papa nya yang tiba-tiba saja batuk.
"Kamu gak apa-apa? Minum dulu.. minum" Tisha cemas melihat Ray yang tersedak, dia mengambil segelas air minum dan memberikan nya pada Ray.
"Ohok...oHok.."
Ray meneguk air itu pelan-pelan, Tisha melihatnya dengan khawatir. Begitu pula dengan Rasya yang khawatir juga dengan papa nya.
"Kamu kan lagi sakit, kenapa kamu makan nya cepat-cepat begitu? Jadi tersedak kan?" Tisha marah karena cemas pada Ray.
Lihat ini baik-baik Zayn, Tisha dan Rasya keduanya adalah milikku. batin Ray.
Hati Zayn kembali terluka melihat Tisha begitu memperhatikan Ray. Tatapan Tisha pada pria itu tidak pernah ditujukan kepadanya. Fayra melihat keponakan nya dengan hati yang sedih, tapi dia terpaksa membiarkan Zayn melihatnya agar pria itu sadar kalau cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu tidak akan bisa bersatu dengan Tisha. Sudah jelas itu karena posisi Ray di hati Tisha begitu kuat, begitu juga dengan posisi Ray di hati Rasya.
Fayra mendekatkan wajahnya ke arah Zayn, dia membisikkan sesuatu ke telinganya, "Kamu lihat kan? Mereka terlihat seperti sebuah keluarga, dan kamu disini seperti nyamuk.. Tisha dan Rasya sudah terikat dengan keluarga Argantara"
Aku, nyamuk? Apakah benar aku hanya penganggu? Apakah aku tidak punya kesempatan bersama Tisha dan Rasya?. Pikiran Zayn mulai terbuka, dia sakit hatinya melihat pemandangan itu.
"Tisha"
Tisha menoleh ke arah Zayn yang memanggilnya, "Iya Zayn?"
"Aku pamit duluan ya, aku ada pekerjaan di kantor" Zayn tersenyum pahit, lalu dia beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa buru-buru?" tanya Tisha yang juga ikut beranjak berdiri dari tempat duduknya.
"Kan aku udah bilang, kalau aku ada urusan kantor" Zayn tidak tahan ingin cepat-cepat ingin pergi dari sana, dia tidak sanggup melihat Tisha dan Ray terlihat mesra.
__ADS_1
"Oh ya baiklah" jawab Tisha mempersilakan.
"Aku juga mau pulang duluan, Tisha" kata Fayra yang ikut berpamitan pada Zayn.
"Pak Raymond, saya juga pamit ya.. semoga pak Faisal bisa segera siuman dan cepat sehat seperti sediakala" kata Zayn mendoakan dengan tulus kepada Pak Faisal yang sedang koma.
"Iya, terimakasih pak Zayn" jawab Ray sambil tersenyum pada Zayn.
Zayn kembali memakai topi dan masker nya, sebelum dia pergi keluar dari ruangan itu.
"Unyuku, Tante pulang duluan ya! Sampai ketemu di rumah" Fayra mencubit gemas pipi chubby milik Rasya.
"Iyaaaaaa twaantee lepwaasiin dwong.." jawab Rasya dengan bibir yang mengerucut karena di cubit Fayra.
"Hehe" Fayra tersenyum pada Rasya.
Fayra dan Zayn keluar dari ruangan itu, Zayn terlihat suram. Di depan rumah sakit, Zayn langsung menumpahkan semua kekesalan hatinya. Tangannya memukul tembok dengan keras, hingga punggung tangannya terluka.
BUKK
"Zayn! Apa yang kamu lakukan?!" tanya Fayra terkejut dengan kemarahan Zayn, baru pertama kali dia melihat Zayn semarah itu.
"Kak, aku butuh waktu untuk sendirian" ucap Zayn sambil melangkah pergi meninggalkan Fayra, "Kakak bisa pulang sendiri, kan?" tanya Zayn pada kakak sepupunya, wajahnya tak dapat dikondisikan lagi.
"Baiklah, pergilah! Jangan lupa obati luka mu" Fayra mengingatkan Zayn untuk mengobati luka ditangannya.
Fayra melihat kepergian Zayn dengan rasa kasihan. Ketika akan mencari taksi di jalan, Fayra berpapasan dengan Sam dan Andrew yang membawa buah tangan.
Deg!
Langkah Sam terhenti ketika melihat sosok wanita cantik di depannya itu. Fayra melangkah pergi, tapi Sam memegang tangannya.
"Hey Sam, kenapa kamu?" tanya Andrew heran melihat Sam memegang tangan Fayra.
"Sorry, Andrew.. kamu duluan saja. Dan jangan katakan apa yang kamu lihat pada Grace" pesan Sam pada temannya itu.
"Oke, aku akan menemui Ray duluan" Andrew tersenyum dan melangkah pergi duluan masuk ke dalam gedung rumah sakit.
"Apa yang bapak lakukan?!" Fayra menepis tangan Sam yang memegangnya. Dia menatap Sam dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
...---***---...