
...πππ...
Gerry meringkuk ketakutan dengan ancaman pergi ke Afrika yang artinya pergi selamanya dari Jakarta.
"Pak presdir, Bu Tisha, saya sudah menyiapkan kamar hotel untuk kalian menginap. Pemandangan sangat bagus, kalian bisa menginap disana untuk dua hari,"
"Dua hari? Bukankah itu terlalu singkat Gerry? Tiket ke Afr-," Ray menaikan alisnya, menatap tajam sekretaris nya itu.
"Baiklah, bagaimana kalau tiga hari pak? Saya akan menangani semua pekerjaan bapak dan tuan muda Rasya juga akan saya asuh," Gerry tersenyum lebar. Hatinya tersiksa memohon pada Ray.
Ayolah! Terima saja tiga hari, jangan kirim aku ke Afrika!
"Tiga hari? Masih kurang! Seperti nya aku harus pesan tiket pesawat sekarang!" Seru Ray mengancam. Dia ingin bulan madu lebih lama dengan Tisha.
"Ta-tapi pak, bapak banyak jadwal rapat yang tertunda! Kalau tiga hari tidak bisa pak,"
Sudah terbayang oleh Gerry kalau Ray tidak masuk kantor, maka dia yang akan terkena imbasnya. Satu hari Ray cuti dari kantor saja sudah membuat Gerry kewalahan.
"Kak Ray, jangan menakuti pak sekretaris seperti itu!" Tisha merasa kasihan pada Gerry yang sedari tadi berkeringat dingin.
Nyonya, tolong saya!. Gerry melirik ke arah Tisha dengan wajah yang memelas.
Kasihan pak sekretaris. Tisha iba pada Gerry.
"Ma, kasihan pak sekretaris! Dia mau nangis tuh," Rasya melihat Gerry yang matanya berkaca-kaca.
"Kak Ray! Kamu banyak pekerjaan di kantor!" Seru Tisha dengan mata tajamnya menatap Ray.
Ray tersenyum lalu menghampiri Tisha dan juga Rasya. "Baiklah Gerry, 2 hari! Aku hanya akan pergi selama dua hari saja, kerjakan pekerjaan mu dengan baik. Jangan buat aku mengeluarkan perintah pemindahan mu ke Afrika. Nah, sayang..kamu puas kan?" tanya Ray pada Tisha, dia melakukan itu karena Tisha.
"Terimakasih nyonya Presdir! Saya selamat!" seru Gerry bersyukur.
Tisha dan Rasya tertawa kecil melihat gerak-gerik Gerry yang terlihat lucu ketika dia sedih dan memelas.
Kemudian Tisha dan Ray berniat pergi ke hotel tempat mereka akan menginap sementara waktu. Namun, Rasya merengek ingin ikut dengan kedua orang tuanya.
"Pa, Ma, apa aku gak bisa ikut? Aku gak mau sama pak sekretaris!" Rasya menatap mama nya dengan mata yang berbinar-binar.
"Eh, kak Ray lebih baik kita pulang ke rumah dulu saja. Ke hotel kan bisa nanti, kita bisa menunggu kan?"Tisha tidak tega meninggalkan anaknya dengan Gerry.
Deg!
Ray tersentak kaget mendengar ucapan Tisha.
__ADS_1
Tidak! Kamu bisa menunggu, tapi aku tidak bisa menunggu lagi. Wajahnya terlihat suram.
"Kak? Bisakah kita pergi nanti?" tanya Tisha pada Ray.
Tenang Ray, tenang..
"Tisha, aku mau bicara dulu dengan Rasya sebentar. Kamu masuk mobil saja duluan," ucap Ray pada Tisha, memintanya untuk masuk ke dalam mobil lebih dulu.
"Tapi Rasya gimana?" tanya Tisha bingung.
"Aku akan bicara padanya," jawab Ray tenang.
Tisha masuk ke dalam mobil pengantin mereka yang sudah disiapkan oleh Gerry.
Ray berbisik-bisik berbicara pada Rasya, entah apa yang dia bicarakan padanya. Rasya langsung terlihat senang dan menurut pergi bersama Gerry.
"Mama, mama sama papa pergi nya yang lama aja gak apa-apa kok! Aku main sama pak sektretaris atau tante Fayra aja!" Rasya tersenyum lebar.
"Sayang, kamu gak apa-apa ditinggal mama sama papa?" tanya Tisha pada anaknya.Dia heran karena sikap Rasya berubah begitu cepat setelah bicara dengan Ray.
"Hihi, gak apa-apa kok ma," jawab Rasya sambil menoleh ke arah Ray.
"Tenang saja sayang, papa pasti akan berhasil!" Ray mengepalkan tangannya dengan semangat.
"Papa sama mama harus bekerja sama ya! Jangan mengecewakan aku!" Rasya tersenyum, dia mengingatkan kedua orang tuanya.
"Tapi harus kerja keras juga! Biar pulangnya bisa langsung bawa-" Ray menutup mulut putranya dengan cepat.
"Sayang, jangan dibicarakan dulu! Ini kan masih rahasia," bisik Ray pada putranya. Rasya mengangguk setuju dan anak itu terlihat menggemaskan.
Tisha keheranan melihat kedua orang yang terlihat berbisik bisik itu, dia penasaran dengan apa yang dibicarakan anak dan ayah.
"Ayo kita berangkat!" seru Ray dengan wajah bahagia.
"Dadah mama, dadah papa!" Rasya melambaikan tangannya pada mama dan papa nya yang sudah naik mobil, "Jangan lupa kerjasama dan kerja keras nya!"
Gerry berdiri di belakang Rasya sambil tersenyum juga pada pasangan pengantin baru itu.
Mobil yang membawa Tisha dan Ray pergi menuju ke hotel tempat mereka akan menginap. Sementara Rasya dan Gerry pergi ke rumah Gerry untuk menginap sementara waktu di rumahnya.
Tibalah Rasya di rumah Gerry, Rasya melihat seorang anak perempuan yang sangat cantik berada di sebuah taman. Anak perempuan itu rambutnya di kepang dua.
Siapa gadis kecil ini? Apa dia putrinya pak sektretaris?. Ray melihat gadis yang menatapnya itu.
__ADS_1
Anak perempuan itu menatap Rasya dengan tatapan terpesona, "Pangeran tampan! Papa, ada pangeran tampan!" tunjuk gadis kecil itu pada Rasya yang dibawah ayahnya ke rumah.
"Sayang, ini anak nya bos papa. Kenalan dulu dong," ucap Gerry ramah.
"Ha-hai pangeran tampan, namaku Maura..," gadis kecil itu tersenyum manis pada Rasya dan menunjukkan ketertarikan nya.
"Aku Rasya," jawab Rasya dengan wajah datar dan dingin seperti papanya. Dia memang suka seperti itu bila bertemu dengan orang baru.
Kakak ini seperti pangeran tampan di dalam buku dongeng yang selalu aku baca!. Maura berbinar-binar menatap Rasya, sampai mulutnya menganga dan mengeluarkan air liur.
Biasanya Maura jutek sekali pada orang yang mendekati nya, tapi dia baik pada tuan muda?. Gerry merasakan ada sesuatu yang aneh dengan anak bungsunya itu.
"Apa kamu kelaparan?" tanya Rasya sinis, dia terlihat jijik melihat gadis yang ngiler di depannya.
"Maura sayang, itu.." Gerry langsung mengusap air liur di bibir anaknya.
"Hehe," Maura malah nyengir melihat Rasya.
Memang deh, anak sama bapak sama aja. Gerry berpendapat kalau Rasya dan Ray sangat mirip, tempramen mereka juga sama.
****
Di sebuah hotel bintang lima yang jauh dari pusat kota..
Tisha dan Ray berencana menginap disana untuk menghabiskan malam pertama disana. Tisha heran kenapa Ray memesan kamar hotel ditempat yang jauh dari kota. Ray mengatakan bahwa dia tidak ingin ada yang menganggu malam pertama bersama istrinya. Dia tidak mau memesan kamar hotel di tempat yang ramai. Belum lagi berita tentang Tisha masih menjadi trending topik.
Mereka masuk ke dalam lift menuju ke kamar.
Ting!
Beberapa menit kemudian pintu lift terbuka lebar. Tisha dan Ray melangkahkan kaki keluar dari lift itu. Kemudian mereka berjalan di lorong menuju ke kamar hotel.
Dengan cepat, Ray menangkup dan menggendong Tisha yang masih memakai kebaya pengantin nya.
"Kyaaaa!! Kak Ray, apa yang kamu lakukan?" Tisha terkejut dengan gerakan yang tiba-tiba itu.
"Aku tidak akan membiarkan pengantinku lelah sebelum bekerja keras," ucap Ray sambil berjalan cepat menuju ke kamar pengantin mereka yang berada di ujung lorong.
"Hah? Apa?!" Tisha terpana mendengar ucapan Ray dengan senyuman menggodanya.
BRAK
Pintu kamar itu terbuka lebar, dengan tidak sabar. Ray membenamkan bibirnya pada bibir yang masih diolesi lipstik berwarna nude itu.
__ADS_1
"Hmphh!!
...---***---...