
...πππ...
Selama 6 tahun Ray menjalani hidupnya dengan hambar. Hanya bekerja, pulang, makan dan tidur yang ia lakukan. Tanpa perasaan apa-apa, kehangatan ataupun cinta.
Hanya sendiri dan hampa hidupnya. Ray hanya berpegang pada keyakinan bahwa suatu hari nanti Tisha dan anak nya akan kembali padanya.
Pagi itu, Ray bersiap untuk pergi ke kantor seperti biasanya. Saat keluar dari kamarnya ia melihat Bi Ani yang sedang beberes rumah.
"Bi, besok nginap aja disini. Jaga rumah sama pak Rahmat" ucap Ray pada asisten rumah tangganya itu
"Tuan mau pergi keluar? maksud saya tuan mau menginap di luar?" tanya Bi Ani sambil menyiapkan segelas teh hangat untuk Ray.
"Iya, aku ada perjalanan bisnis untuk satu minggu ke luar negeri. Jadi bibi nginep aja disini" titah Ray sambil menyeruput teh hangat itu pelan-pelan.
Tisha, harusnya kamu yang menyiapkan teh untukku setiap pagi. Bukannya orang lain. Ray sedih karena teringat Tisha yang dulu selalu menyiapkan sarapan dan secangkir teh hangat untuknya setiap pagi.
"Baik tuan, hati-hati dalam perjalanan nya ya tuan" Bi Ani tersenyum penuh ketulusan pada Ray, mendoakan agar Ray selamat dalam perjalanan nya.
Setelah nyonya meninggal, tuan sudah banyak berubah. Dia bisa mengendalikan amarahnya dan sikapnya jadi lebih baik. Tapi, aku jadi kasihan padanya yang hidup kesepian. batin Bi Ani merasa prihatin dengan keadaan Ray yang terus galau dalam 6 tahun setelah istri dan bayi yang dikandungnya itu meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil.
"Makasih Bi, bibi juga hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa minta bantuan sama pak Rahmat" Ray beranjak dari tempat duduknya dan mengambil ponselnya, lalu dimasukan lah ponsel itu ke dalam saku.
"Iya tuan"
"Oh ya Bi, jangan lupa siram bunga di taman belakang secara rutin. Bunga itu kesukaan Tisha dan tidak boleh layu atau pun mati" ucap Ray mengingatkan Bi ani dengan tegas. Setelah Tisha menghilang, Ray menanam sendiri bunga mawar pink kesukaan Tisha di taman dan memenuhi tamannya itu dengan bunga mawar.
"Baiklah tuan, saya pasti akan menjaga bunga bunga itu dengan baik" Bi Ani menyanggupi perintah dari Ray.
Ting tong! Ting Tong!
π΅π΅π΅
"Itu pasti pak Gerry, saya akan membuka pintunya tuan" ucap Bi Ani yang akan segera melangkah mendekati pintu
"Tidak perlu, bibi selesaikan saja pekerjaan bibi. Aku akan segera pergi" ucap Ray sambil menyeret koper besarnya.
Ray membuka pintu dan memang di depan ambang pintunya sudah ada Gerry yang menunggunya. Gerry langsung membawa koper milik Ray dan memasukkan nya ke dalam mobil.
"Barangnya sudah saya simpan di bagasi belakang, pak" Gerry tersenyum pada Presdir nya itu
"Ya, kita berangkat" ucap Ray dengan suara dingin nya.
Ray duduk di kursi belakang, Gerry mengemudi kan mobil itu. Mereka akan langsung menuju ke bandara untuk perjalanan bisnis. Di dalam perjalanan, Ray terus memandangi foto di dalam dompetnya.
Foto siapa lagi yang ada disana, selain foto Tisha dan gambar USG anaknya. Ray selalu membawanya kemana-mana. Ketika semua orang percaya Tisha dan anaknya sudah tiada, Ray tidak percaya sama sekali.
"Gerry" panggil Ray pada Gerry
"Ya pak?" jawab Gerry cepat
"Apa kamu pikir aku gila?" tanya Ray sambil memandang foto di dompetnya itu.
"Apa maksud bapak?" tanya Gerry kebingungan dengan maksud pertanyaan Ray padanya.
"Semua orang berfikir kalau Tisha dan anakku sudah tiada, tapi aku percaya kalau mereka masih ada di dunia ini. Jawab yang jujur Gerry" Ray tersenyum pahit, senyum itu menyimpan sejuta luka.
Luka hati kehilangan wanita yang sangat ia cintai dan calon anaknya yang bahkan belum sempat lahir ke dunia. Bertahun-tahun Ray setia menunggu hidup dalam kesendirian. Menunggu kehadiran Tisha dan anaknya yang akan memecah semua kesepiannya dan mengakhiri penantian nya.
Harus jawab apa? sebenarnya pak presdir memang agak sedikit terganggu, tapi dia tidak gila. Salah salah jawab, gaji ku bisa habis dipangkas. Kalau aku tidak jawab, aku terancam dipecat. Gerry diam saja, ia bingung mau jawab apa
"Menurut saya, bapak tidak gila. Walaupun bapak agak sedikit terganggu, tapi bapak masih waras. Bapak hanya meyakini apa yang bapak yakini" jelas Gerry jujur dari dalam hatinya
Semoga habis ini aku masih hidup. batin Gerry berharap
"Apa kamu jujur?"
"Saya jujur pak" jawab Gerry agak gemetar dengan pertanyaan tajam dari Ray.
"Kamu mengatakan bahwa aku sedikit terganggu, tapi aku masih waras. Jawaban yang bagus" Ray tersenyum menyeringai
"Hehe iya pak" Gerry nyengir, namun hatinya menjerit-jerit takut kehilangan pekerjaan nya.
"Gerry seperti nya tugas mu masih kurang banyak, setelah perjalanan ini selesai aku akan memberikan mu tugas tiga kali lipat dari biasanya" Ray tersenyum sinis, mata nya menatap tajam pada Gerry
"Pak, bapak kan yang menyuruh saya berkata jujur?" Gerry merengek pada Presdir nya itu
__ADS_1
"Ayolah Gerry, mengapa kamu merengek seperti ini? terima saja nasibmu" Ray menyilangkan tangan di dada
Tidak dipecat, tidak di potong gaji, malah diberikan tugas yang banyak. Walaupun pak Presdir sudah berubah sikapnya menjadi lebih baik, tapi dia tetap saja kejam pada pekerja nya. Bu Tisha.. jika anda benar-benar masih hidup, tolong datanglah kemari dan obati luka hati pak Presdir.
Doa Gerry tulus untuk Ray Presdir nya itu. Gerry merasa kasihan dengan kondisi Ray, meski di luar Ray terlihat dingin dan kuat tapi di dalam hati nya, Gerry tau benar bahwa Ray terluka sangat dalam.
Hingga setelah kecelakaan mobil yang nenimpa Tisha, Ray tidak mau menyetir mobil nya sendiri. Ray selalu meminta Gerry untuk mengantar dan menjemput nya ketika akan pergi dan pulang dari kantornya.
Setiap menyetir sendiri, Ray selalu gemetar. Ray teringat akan kecelakaan orang tua nya, juga kecelakaan Tisha. Mungkin yang dirasakan Ray ini adalah shock atau trauma. Obat tidur selalu bertindak di saat Ray tidak bisa memejamkan matanya, setiap ia tidur ia akan selalu terbayang ingatan ingatan tentang Tisha.
Mimpi buruk tentang Tisha yang terbakar di dalam mobil dan meminta tolong padanya, selalu terbayang di kepalanya dan itu sangat menyeramkan. Namun, akhir-akhir ini Ray selalu bermimpi tentang hal yang tidak biasa.
#FLASHBACK
Di dalam mimpi Ray, tadi malam..
Ray sedang berjalan di sebuah padang rumput yang luas, ia sendirian di sana. Tak lama setelah itu ia melihat dua orang di padang rumput itu.
Seorang wanita berambut panjang sedang menggandeng tangan seorang anak laki-laki. Ray hanya melihat punggung kedua orang itu. Hati Ray berdebar debar melihat sosok wanita dewasa berambut panjang itu.
"Tisha! kamu Tisha kan?" panggil Ray pada wanita dan anak kecil itu yang semakin menjauh darinya. "Tisha ini aku!! sudah aku duga kamu masih hidup! apa dia adalah anak kita?" tanya Ray dengan mata yang berkaca-kaca.
Ray bahagia melihat Tisha disana. Ray ingin berlari menyusulnya, namun di sana ia tak bisa bergerak.
Wanita itu membalikkan badannya dan menoleh ke arah Ray, sementara anak kecil itu tidak menoleh ke arahnya "Kak Ray, ini adalah anak kita" Tisha tersenyum pada Ray, matanya mengarah pada anak yang sedang ia gandeng tangannya itu
"Benarkah?? kalian masih hidup?? mana, aku ingin lihat anak kita!" seru Ray semangat, ia menangis haru karena anak dan istrinya baik-baik saja
Anak kecil itu menoleh ke arah Ray dan sebelum Ray sempat melihat wajahnya, mimpi indahnya itu sudah berakhir. Dan ia terbangun dari tidurnya.
#END FLASHBACK
Mimpi itu adalah pertanda kan? pertanda bahwa kamu dan anak kita masih hidup? batin Ray masih penuh harapan.
Gerry dan Ray sudah sampai di bandara, pesawat yang akan mereka naiki akan segera lepas landas menuju ke New York, Amerika.
πππ
Siang itu di depan taman kanak-kanak, New York. Tisha menjemput Rasya. Ia menunggu Rasya di depan sekolahnya lebih awal. Berharap anaknya itu tidak marah lagi padanya. Tisha membelikan permen kesukaan Rasya, permen yang meledak di mulut.
Rasya sangat ingin tahu tentang papa nya, aku dan Zayn akan memberitahu nya nanti.
Ting tong!
πΆπΆ
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, semua murid di taman kanak-kanak itu mulai berhamburan keluar dari area sekolah. Tisha hendak masuk untuk menjemput anaknya itu, akan tetapi saat ia masuk ke area sekolah. Ia melihat hal yang tidak terduga.
"How dare you insult my mother?! my mother is not a whore and I am not an illegitimate child!" Rasya memukuli temannya yang bule itu habis habisan, matanya penuh emosi dan amarah.
BUK
BUK
Sedangkan siswa lain hanya melihat saja seperti menonton pertunjukan.
"If your mother is not a whore? Then where is your father? you don't have a father right?" anak yang dipukuli oleh Rasya itu tidak ada habis habisnya menghina Rasya dan Tisha. Anak itu juga balas memukul Rasya. Terjadilah baku hantam diantara kedua anak kecil itu.
Kesal hati Rasya terus-terusan dihina teman-teman nya karena tidak punya ayah. Tisha dan seorang guru datang melerai mereka. Wajah keduanya sudah babak belur dan terluka.
"Rasya kamu kenapa, nak?!" Tisha memegangi Rasya yang terus ingin memukuli temannya. Rasya mendengus kesal.
Rasya dan anak laki-laki itu di bawa ke ruang guru. Setelah itu mereka berdamai disana. Tisha melihat wajah putranya yang lebam lebam.
"Sayang, mama obati lukanya dulu ya?" tanya Tisha sambil mendudukkan Rasya di kursi yang ada di depan gerbang sekolah.
Apa Rasya marah sama aku? sudah jelas dia marah, dia cemberut terus dari tadi. Kak Fayra benar, aku harus segera memberitahu pada Rasya tentang papa kandungnya. Tisha merasa bersalah pada anaknya
Rasya masih cemberut, ia tidak bicara sepatah katapun. Diam-diam ia melirik mama nya dengan takut.
Apa mamah marah ya sama aku karena aku berantem? tapi mama gak kelihatan marah?
"Sayang, tunggu disini bentar ya. Mama ambil dulu kotak obat" ucap nya pada Rasya dengan lembut
Rasya tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Tisha kembali mengambil kotak obat, ia mengoleskan salep pada wajah lebam putranya. Rasya menatap mama nya dengan takut.
Biasanya Tisha selalu memarahinya kalau Rasya main pukul atau berbuat nakal pada temannya. Tapi kali ini Tisha diam saja malah bertingkah lembut pada Rasya. Hal itu membuat Rasya keheranan.
"Mama.." panggil Rasya pada mama nya
"Ya sayang? apa ada yang sakit?" tanya Tisha khawatir
"Enggak ma.. Rasya cuma mau tanya, apa mama gak marah sama aku?" tanya Rasya polos, ia takut dimarahi.
"Kenapa mama marah? apa ada alasan mama harus marah?" tanya Tisha sambil membelai wajah anaknya dengan lembut.
"Aku kan sudah nakal, aku berantem di sekolah"
"Perbuatan kamu memang salah, tapi mama tidak akan menyalahkan kamu. Karena mama lah penyebab semua ini" Tisha tersenyum pahit, matanya berkaca-kaca menatap Rasya.
"Kenapa semuanya jadi salah mama? aku kan yang memukul nya, aku udah buat mama malu" Rasya menunduk sedih, padahal Tisha sudah menasehati nya untuk menahan amarah dan tidak berbuat kekerasan. Tapi Rasya melanggarnya, anak itu pun merasa bersalah.
"Mama mau tanya dulu sama Rasya, apa Rasya menyesal sudah memukul teman Rasya?"
"Enggak mah" Rasya menggeleng
"Kenapa?" tanya Tisha
"Karena menurut ku dia pantas dipukul!" jawab Rasya sambil mengerucutkan bibirnya, anak berusia lima tahun itu tampak menggemaskan.
GREP
Tisha memeluk anaknya itu sambil menahan tangis. Tisha meminta maaf pada Rasya karena tidak mengerti keadaannya. Kini Tisha tau alasan Rasya marah padanya, Rasya kesal di ejek terus oleh teman-teman nya. Bahkan Rasya memukuli temannya itu karena temannya sudah menghina Tisha sebagai pelacur.
"Mama gak marah?" Rasya tersenyum senang
Ternyata Mama gak marah
"Mama gak marah tapi mama juga gak membenarkan tindakan kamu. Kamu gak boleh berantem lagi ya" Tisha mengingatkan
"Iya ma, Rasya janji"
"Dan mama juga janji akan kasih tau tentang papa kamu" Tisha tersenyum pada Rasya
"Beneran ma?!!" Rasya tersenyum lebar, ia sangat bersemangat.
"Iya sayang, tapi nanti saat om Zayn pulang. Dia akan memberitahu kita"
"Yee asik!!" Rasya melompat kegirangan, sedihnya yang tadi itu langsung hilang saat Tisha berjanji akan memberitahu tentang papa nya.
Dasar anak kecil, baru sedetik yang lalu dia marah dan sedih, sedetik kemudian dia langsung semangat.
"Ini mama beliin permen kesukaan kamu" ucap Tisha sambil menyerahkan sebungkus besar permen itu pada Rasya.
Rasya semakin senang, ia tersenyum cerah. Setelah itu mereka pun masuk ke dalam mobil dan dalam perjalanan pulang kembali ke rumah.
"Sayang, kenapa kamu gak nangis? memangnya luka kamu gak sakit?" tanya Tisha sambil menyetir mobil pada anaknya
"Lukanya sakit ma" jawab Rasya sambil memakan permen yang meledak di mulut nya itu
"Terus kenapa kamu gak nangis?" tanya Tisha heran
"Kata om Zayn, laki-laki harus kuat dan gak boleh nangis" jawab Rasya jujur dan selalu menerapkan apa yang dikatakan oleh Zayn. Selama ini Zayn berperan penting sebagai sosok pria yang paling dekat dengan Rasya.
Akhirnya sebentar lagi aku akan tau papa kandung ku seperti apa. Dia pasti tampan sama seperti ku. ucap Rasya senang
"Oh gitu ya" Tisha hanya tersenyum menanggapi kata-kata anaknya itu.
***
Keesokan harinya di bandara New York, Ray di jemput oleh kolega pentingnya. Ray dan Gerry langsung pergi menuju ke hotel tempat mereka akan tinggal di sebuah pedesaan yang masih asri.
"Aku baru tau kalau ada hotel di pedesaan seperti ini. Biasanya hotel kan berada ditengah kota" ucap Ray sambil melihat hotel mewah yang berdiri ditengah-tengah pedesaan itu. Ray tersenyum kagum.
"Iya pak, saya sengaja membangunnya disini agar pengunjung sekalian bisa menikmati pemandangan yang ada disini" jelas Erik, rekan bisnis Ray
"Bagus juga, seperti nya disini akan menyenangkan" Ray tersenyum puas melihat pemandangan pedesaan dari kamar tempatnya akan menginap.
...---***---...
__ADS_1