
...Sepinya hari yang ku lewati...
...Tanpa ada dirimu menemani...
...Sunyi ku rasa dalam hidupku...
...Tak mampu aku tuk melangkah...
...Masih ku ingat indah senyummu...
...Yang selalu membuatku mengenang mu...
...Terbawa aku dalam sedihku...
...Tak sadar kini kau tak di sini...
...Engkau masih yang terindah...
...Indah di dalam hatiku...
...Mengapa kisah kita berakhir...
...Yang seperti ini...
...Masih ku ingat indah senyummu...
...Yang selalu membuatku mengenangmu...
...Terbawa aku dalam sedihku...
...Tak sadar kini kau tak di sini...
...Engkau masih yang terindah...
...Indah di dalam hatiku...
...Mengapa kisah kita berakhir...
...Yang seperti ini...
...๐๐๐...
"Ada apa dengan kak Derrick? Apa kak Fayra bertengkar dengannya?" Tisha menebak dari raut wajah Derrick, kalau kakak nya itu sedang kesal.
__ADS_1
"Tidak, kami tidak bertengkar. Tapi dia tadi hampir bertengkar dengan Sam," jawab Fayra sambil duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Ada pak Sam datang? Mau apa lagi dia?" Tisha malas mendengar nama Sam disebut. Tisha sudah menganggap bahwa Sam adalah pria pengecut dan menyebalkan, begitulah image Sam di dalam hati Tisha.
"Mau apa lagi? Tentu saja dia ingin menikahi ku, permintaan yang sama dengan sebelumnya," jawab Fayra sambil menghela napas lelah, dia mengelus perutnya dengan lembut.
"Lalu jawaban kakak?" Tisha duduk di samping suaminya yang masih koma, sambil membelai pipi Ray.
"Menolak lah," jawab Fayra.
"Tapi kak, kalau kakak terus menolak untuk menikah.. bayi kakak bagaimana? Apa kakak ingin dia lahir tanpa seorang ayah? Apa kakak bisa menanggungnya?" tanya Tisha pada Fayra, dia merasakan benar bagaimana membesarkan anak tanpa seorang ayah. Rasya juga dulu selalu bertanya sosok ayah nya.
"Aku bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuknya," jawab Fayra dengan keputusan yang sudah bulat.
"Bagaimana kalau kakak mempertimbangkan pria lain menjadi ayah nya?" tanya Tisha sambil tersenyum, dia memberikan kode untuk Fayra agar membuka hatinya.
"Pria lain? Aku tidak butuh pria dan mana mungkin ada pria yang mau dengan wanita hamil seperti ku?" Fayra merentangkan kedua tangannya, hati itu sudah tertutup oleh rasa sakit.
"Kalau ada bagaimana?" tanya Tisha.
"Apa?"
"Kalau ada yang menyukai kakak apa adanya, apa kakak akan menerima nya dan membuka hati?" tanya Tisha sambil menatap serius ke arah Fayra.
"Haaahhh.. aku mengerti sekarang kenapa kak Derrick marah pada kakak, kakak sangat tidak peka. Cobalah buka hati kakak dan lihat di sekeliling kakak, percayalah bahwa kakak akan menemukan kebahagiaan, karena masih banyak cinta di sekitar kakak." Tisha menasehati kakak nya itu untuk membuka hati.
"Derrick? Kenapa Derrick marah padaku?" tanya Fayra keheranan dengan maksud Tisha.
Sepulang nya dari rumah sakit, Fayra terlihat bingung dengan ucapan Tisha padanya. Dia memikirkan ucapan Tisha berulang kali, apa maksud wanita itu tentang Derrick yang marah padanya?
Fayra berusaha menepis cinta yang datang padanya, karena hatinya masih tertutup dan terfokus pada bayi yang ada di dalam kandungannya. Dia sama sekali tidak memikirkan cinta seperti sebelumnya, bagi Fayra kehidupan di dalam perutnya lebih penting daripada cinta.
Cinta? Apa aku berhak mendapatkan cinta lagi? Apa aku berhak bahagia?
Fayra merebahkan dirinya di ranjang empuk, sambil mengelus perut buncitnya.
****
๐Rumah sakit๐
Siang itu, Rasya datang ke rumah sakit menjenguk papa nya. Seperti biasanya dia mengajak papa nya mengobrol, seolah Ray sedang bicara dengannya.
"Papa, lihatlah! Aku dapat nilai seratus lagi lho," Rasya menunjukkan hasil ulangan matematika nya yang selalu dapat nilai seratus. "Pa, papa kapan apa siuman? Katanya papa mau ngajak aku jalan-jalan ke pantai? Kita kan belum ke pantai bersama pa.. pa ayo bangun dong, kasihan mama sama dede bayi nungguin papa," Rasya memandangi papa nya dengan mata berkaca-kaca, dia selalu berdoa papa nya agar segera sadar.
__ADS_1
Usai berbicara dengan papa nya yang masih koma, Rasya menghampiri mama nya yang sedang duduk di kursi. Dia melihat air mata jatuh membasahi pipi mama nya, ketika Rasya melihat nya buru-buru Tisha menyeka air matanya.
"Ma, papa pasti dengar aku kan ma?" Rasya memeluk mama nya pelan-pelan.
"Iya sayang, papa kamu pasti bisa mendengar kamu. Hanya saja dia sedang beristirahat, papa kamu pasti akan segera bangun. Papa kamu kan mau melihat dede bayi. Kita akan kembali berkumpul bersama-sama," ucap Tisha sambil tersenyum meyakinkan anaknya itu.
Tisha menatap suaminya dengan sedih, penuh harapan. Kapan pria yang sudah terbaring selama 2 bulan lamanya itu akan siuman dan mengangkut keluarga nya dengan kasih sayang.
Apakah Allah sedang menguji cinta kita atau Allah sedang menguji kesabaran ku? Atau kah sedang menghukum diriku? Berapa lama lagi kamu akan seperti ini kak? Apa kamu tidak merindukan aku dan anak-anak kita? Aku akan segera melahirkan kak... apa kamu tidak ingin melihat aku melahirkan? Apa kamu ingin melewatkan kelahiran anakmu lagi? Ya Allah, tolong sembuhkan suamiku.. tolong bangunkan lah dia dari koma nya.
Rasanya sesak setiap saat, Tisha harus menyaksikan suaminya tidak berdaya setiap harinya. Tubuh Ray semakin hari semakin kurus, sudah dua bulan dia koma. Dokter juga mengatakan bahwa harapan hidup Ray sangat tipis. Akan tetapi, Tisha tetap bersikeras menunggu suaminya.
Setiap hari, Tisha pergi ke kantor dan juga rumah sakit. Mengerjakan pekerjaan suaminya di kantor, lalu sepulang kerja dia akan pergi ke rumah sakit menjenguk suaminya.
Sampai hingga 1 bulan kemudian, dokter datang memeriksa kondisi Ray yang masih belum ada kemajuan.
"Maafkan saya ibu Tisha, tapi saya terpaksa harus melepas alat medisnya," ucap dokter itu pasrah dengan keadaan Ray yang tak kunjung menunjukkan pemulihan.
"Apa maksud dokter?Melepas alat medis bagaimana?" tanya Tisha tidak paham apa maksud dokter laki-laki itu.
"Tidak ada tanda-tanda kehidupan pada diri pak Raymond, daripada terus menyiksanya dengan semua peralatan medis ini. Lebih baik Bu Tisha melepaskannya, secara medis.. pak Raymond sudah tidak ada disini lagi,"
Jantung Tisha seakan berhenti sejenak ketika dia mendengar ucapan sang dokter yang menyayat hatinya. Bagai petir di siang bolong menyambar ke dalam ulu hatinya, ketika sang dokter itu mengatakan bahwa suami yang dia cintai sudah tidak ada disini lagi. Apakah sama hal nya dengan mati? Apakah Ray sudah tidak ada disampingnya lagi?
"Enggak dok! Suami saya masih hidup! Jelas-jelas dia masih berada disini, bagaimana bisa dokter bilang seperti itu?" Tisha tidak terima dengan keputusan dokter untuk melepas alat medis pada tubuh suaminya. Air matanya sudah mengalir membasahi wajah, turun melewati pipinya.
"Maaf bu, tapi ini adalah faktanya," ucap sang dokter dengan wajah sedih dan kepala menunduk.
Jadi ini akhirnya? Apa kamu tidak akan menunggu ku dan anak kita? Apa kamu ingin pergi begitu saja?
Tisha hanya bisa menangis saat dokter dan suster mulai mencabut satu persatu alat medis yang terpasang di tubuh suaminya. Hatinya patah dan tidak ikhlas karena dokter mengatakan Ray telah tiada.
Kini hanya Tisha dan Ray berdua di ruangan itu. Ray dengan wajah pucat pasi terbaring di atas ranjang pasien, tubuhnya ditutupi kain putih menyeramkan.
"Apa kamu mau pergi begitu saja? Mana janjimu yang katanya ingin membuat ku dan anak anak kita bahagia? Mana janjimu saat kamu mengatakan ingin bersama-sama denganku dan anak-anak selamanya? Apa itu semua bohong? Apa semua janjimu bohong? Aku sudah menunggu mu! 3 bulan lamanya aku menunggu, tinggal satu bulan lagi aku akan melahirkan anak kedua kita! Kenapa kamu mematahkan hatiku lagi dan lagi? Cepat bangun! Bangun! Apa yang harus aku katakan pada Rasya dan anak yang ada di dalam perutku ini saat dia mereka menanyakan ayahnya?" Tisha menangisi suaminya yang sudah mayat.
"Sudah cukup! Kamu harus kembali kak, kamu harus kembali...aku tidak mau hidup sendirian tanpa kamu lagi kak," Tisha menggenggam tangan suaminya yang terasa dingin itu. "Huhuuuhuuhuu..hiks.."
Ketika Tisha sedang menangis di dalam sana, tiba-tiba saja lampu ruangan itu padam. Di luar ruangan terdengar suara orang-orang berlarian dan berteriak ribut.
"Ada apa ya?" Tisha terperanjat dengan wajah bingung. Ada apa di luar sana?
...---***---...
__ADS_1