
...πππ...
"Kak Ray..."Tisha menatap pria itu dengan cemas. Terlebih lagi saat tangan yang menggenggam nya itu terasa panas.
"Kalau kamu pergi panggil dokter, aku tidak mau disuntik dan aku tidak mau minum obat" protes pria itu pada Tisha dengan bibir
manjanya yang mengerucut.
"Huh, papa kaya anak kecil deh" gerutu Rasya sebal.
"Kamu diam saja nak, kamu mau kan papa sama mama bersama kembali?" bisik Ray pada putranya.
"Ckckck, baiklah" jawab Rasya tidak bisa berkomentar lagi kalau ini untuk kebahagiaan nya juga.
Tisha langsung menohok dengan tingkah manja Ray padanya, dia menahan tawa, juga mengernyitkan dahinya. Dia merasa Ray mirip dengan Rasya ketika diajak ke dokter dan dia menolaknya.
"Baiklah, kamu mau aku bagaimana?"tanya Tisha mengalah, wanita itu tersenyum lembut pada Ray.
Lah? Kenapa Tisha setuju saja? Apa yang terjadi selama aku pergi ke Belanda? Mengapa sikap Tisha berubah dalam satu hari? Dia jadi lebih ramah dan lebih hangat padaku. Ray sedikit tercekat melihat sikap dan ucapan Tisha yang tidak seketus sebelum nya. Dia heran.
"Aku kan sedang sakit, jadi aku mau kamu merawat ku" kata Ray manja, menunjukkan wajah memelas yang ingin dikasihani. Ray melirik ke arah Rasya seperti mengisyaratkan sesuatu, matanya berkedip beberapa kali.
Rasya tersenyum lebar, dia mengacungkan jempol nya.
"Ayolah ma.. kasihan papa tidak ada yang merawat, kasihan papa lagi demam ma" Rasya memeluk papa nya, dia berusaha berakting sedramatis mungkin supaya terlihat nyata.
"Iya Tisha, aku benar-benar ingin dirawat oleh kamu," kata Ray sambil memegang tangan Tisha.
Tangan Ray memang panas, kening dan badannya juga hangat. Ray memang berpura-pura memelas, tapi dia tidak sepenuhnya berpura-pura sakit, dia memang demam karena melewatkan jam makan dan jam tidurnya.
"Kalau kamu mau dirawat olehku, kamu harus nurut ya" Tisha tersenyum manis di depan pria itu. Ray malah merasa ada yang aneh dengan Tisha, dia langsung memegang kening Tisha dan menatap nya dengan cemas.
"Tisha, apa kamu baik-baik saja? Kamu sakit ya?" tanya Ray cemas
__ADS_1
"Pertanyaan kamu aneh banget, kak" Tisha mengerutkan keningnya, keheranan dengan pertanyaan Ray.
"Enggak, kamu yang aneh. Kenapa tiba-tiba kamu bersikap manis seperti ini? Apa aku berbuat kesalahan? Kali ini aku tidak berbuat apa-apa, bahkan di Belanda pun aku tidak macam-macam" Ray jadi takut, kalau sikap Tisha yang manis padanya adalah kesengajaan, takutnya Ray melakukan kesalahan dan Tisha ingin membalasnya.
"PFut.. kak kamu ngomong apa sih?" tanya Tisha sambil menahan tawa, "Memangnya aneh ya kalau aku bersikap baik? Apa kamu maunya aku ketus dan dingin terus sama kamu? Gitu?" tanya Tisha sambil tersenyum tipis.
"Ti-tidak! Bukannya gitu, aku takutnya kalau aku berbuat salah.. ma-makanya.."
"Ssstt.." Tisha meletakkan jari telunjuk nya pada benda kenyal indah tepat dibawah hidung Ray, seraya memintanya untuk diam.
"Sekarang nurut ya, kamu harus makan dulu.. minum obat terus istirahat. Paham?" Tisha berbicara dengan bibir seksinya, yang menggoda bagi Ray.
Hanya dengan kata-kata itu, Ray langsung takluk dan patuh. Pria itu mengangguk setuju, Rasya terheran dengan sikap papa nya yang dengan mudahnya di taklukan oleh mama nya
Papa mudah sekali dijinakkan oleh mama. Dan kenapa sikap mama jadi baik ya sama papa? Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi ini awal yang bagus kan?. Rasya tersenyum lebar melihat kedua orang tua nya sudah mulai akrab.
"Iya, aku mau makan, minum obat, terus istirahat" jawab Ray sambil menatap Tisha dengan tatapan terpesona.
Dengan perhatian, Tisha membuka dua box makanan itu. Dia menyuapi Rasya, dan menyediakan makanan juga obat untuk Ray. Inginnya disuapi juga sama seperti Rasya, tapi Ray cukup tau diri kalau dia belum halal untuk meminta hal itu pada Tisha.
"Kenapa diam saja? Kamu tidak makan?" tanya Tisha sambil melihat ke arah Ray yang diam saja dengan makanan di atas telapak tangannya.
"Aku mau makan kok" jawab Ray sambil menatap kakek nya yang masih terbaring koma.
"Apa kepalamu pusing?" tanya Tisha cemas.
"Tidak apa-apa, aku sudah lebih baik saat melihat kamu kok" jawab Ray sambil tersenyum.
"Kamu gombal lagi, huh!"
"Aku serius, perasaan ku jadi lebih baik karena ada kamu dan Rasya menemani ku. Saat ini kakek sedang terbaring sakit, aku merasa sangat bersyukur karena ada kamu dan Rasya disisiku saat ini," Ray menatap kakek nya dengan sedih, dia berharap kakeknya segera siuman.
"Papa tenang saja, aku sama mama akan selalu ada untuk papa. Kita kan keluarga, dan kita akan selalu bersama-sama" Rasya tersenyum lebar, dia memegang tangan papa dan mama nya.
__ADS_1
"Rasya benar, Kamu nggak sendirian Kak. Masih ada aku dan Rasya yang akan menemani kamu. Dan percayalah, kakek pasti akan segera siuman" Tisha menoleh ke arah Ray seraya memberikan Ray kekuatan.
Dan ketika kakek siuman, aku akan meminta restu kakek untuk menikahi mu kembali Tisha. Kata itu hanya bisa Ray ucapkan di dalam hatinya.
"Kamu benar, kakek harus segera siuman untuk melihat kita bersama" jawab Ray, dengan senyuman penuh keteguhan tersirat di wajahnya.
"Eh?" Tisha mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti apa maksud Ray.
Kakek, kakek harus siuman.. kakek harus kembali sehat, karena aku akan menikahi Tisha kembali. Aku, Tisha dan Rasya akan kembali bersama. Ray menatap kakek nya di ranjang itu, dengan harapan sang kakek akan segera bangun dari koma.
****
Ketika hubungan Ray Tisha mulai terbina menjadi lebih baik dan selangkah lebih maju. Zayn sama sekali tidak punya kesempatan untuk mendekat, dia takut kalau ayahnya sang King akan menganggu Tisha dan Rasya karena dirinya.
Zayn dan Fayra pergi ke rumah sakit untuk menjenguk pak Faisal, karena disana juga ada Rasya dan Tisha. Lagi-lagi Zayn harus menyamar untuk pergi keluar meski dia bukan seorang artis lagi.
Fayra dengan sengaja memperlihatkan hubungan baik Ray, Tisha dan Rasya yang sedang makan bersama di ruang rawat pak Faisal. Zayn sakit melihatnya, tangannya terkepal dengan gemas.
"Zayn...buka mata mu lebar-lebar, kamu tidak lihat? Apakah ada tempatmu diantara mereka?" Fayra memperlihatkan pada Zayn, sekalian memeringati sepupunya itu untuk menyerah.
"Tisha dan Rasya tidak akan bahagia bersama Ray" kata Zayn yakin.
"Tidak akan bahagia bagaimana? Kamu buka mata dan hatimu baik-baik Zayn. Mereka sudah ditakdirkan bersama, mau seberapa besar usaha kamu untuk memisahkan mereka, mereka akan selalu bersama karena itulah jodoh" Fayra tidak mau adik sepupu nya sakit hati lagi karena mengharapkan cinta yang tidak pasti.
Zayn, kumohon sadarlah!
Zayn terdiam, dia memegang gagang pintu ruangan itu. Dia tidak berekspresi, hanya saja matanya memancarkan kesedihan melihat Tisha, Ray dan Rasya dia dalam ruangan itu.
Untuk pertama kalinya, aku tidak suka kamu tersenyum Tisha. Aku tidak suka kamu tersenyum untuknya.
CEKRET...
...---***---...
__ADS_1