Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 63. Om eskrim


__ADS_3

...Andai engkau tahu...


...Betapa ku mencinta...


...Selalu menjadikanmu...


...Isi dalam doaku...


...Ku tahu, tak mudah...


...Menjadi yang kau minta...


...Ku pasrahkan hatiku...


...Takdir 'kan menjawabnya...


...Jika aku bukan jalanmu...


...Ku berhenti mengharapkan mu...


...Jika aku memang tercipta untukmu...


...Ku 'kan memilikimu...


...Jodoh pasti bertemu...


...Andai engkau tahu...


...Betapa ku mencinta...


...Ku pasrahkan hatiku...


...Takdir 'kan menjawabnya.....


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Bahagia Ray tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata, saat Gerry memberitahukan berita bahagia tentang Tisha dan anaknya yang kemungkinan besar masih hidup.


"Gerry, aku ingin segera kembali ke Jakarta" ucap Ray sambil tersenyum bahagia


"Maafkan saya pak, tapi urusan kita disini belum selesai. Bisakah bapak menunggu beberapa hari lagi? bapak tenang saja, saya sudah menugaskan beberapa orang untuk mencari keberadaan Bu Tisha" ucap Gerry yang ikut senang melihat Presdir nya bahagia. Sudah lama Gerry tidak melihat senyuman bahagia di wajah Ray.


"Baiklah, segera setelah urusan disini selesai. Kita harus segera kembali ke Jakarta" ucap Ray tegas dan tak sabar ingin segera kembali ke Jakarta


Oh ya, selama aku disini mungkin aku bisa bertemu dengan si bocah imut itu. Aku akan mentraktir nya makan karena dia sudah mendoakan aku. Nanti aku akan ke rumahnya dan sekalian menasehati mama nya untuk menjaga nya dengan baik. Ray tersenyum, ia bertekad ingin mengunjungi rumah Rasya.


πŸ€πŸ€πŸ€


Sesampainya di depan rumah, Tisha langsung berlari masuk ke dalam rumah lebih dulu. Rasya melihatnya dengan cemas.


"Mama! mama kenapa ya?" tanya Rasya pada mama nya


Rasya menyusul mama nya masuk ke dalam rumah. Tisha merebahkan tubuhnya di sofa, wajahnya terlihat pucat.


"Ma.. mama kenapa ma? mama sakit ya?" tanya Rasya sambil memegang kening mama nya


"Mama, gak papa sayang. Kamu mau makan ya? mama siapkan dulu makan siang nya ya" Tisha segera bangun dari kursinya, ia tersenyum di wajah pucat nya.


Aku gak boleh buat Rasya cemas.


"Mama, kening mama panas banget! mama demam, kita ke dokter yuk mah! aku telpon tante Fayra dulu" Rasya panik, ia berjalan mendekati telpon rumah.


"Sayang, mama gak papa kok. Cuma sakit perut biasa aja" ucap Tisha sambil memegang bahu anaknya seraya menenangkan Rasya.


"Gak papa gimana, mama pucat gitu dan badan mamah panas banget! kita ke dokter aja, aku yang antar!" seru Rasya mengomel pada mama nya karena cemas


"PFut.. sayang.. kamu mau antar mama?" tanya Tisha yang merasa terhibur dengan tingkah gemas anaknya itu.


"Iya! untuk apa ada cowok di rumah kalau gak bisa melindungi wanita!" Rasya mengepalkan tangannya, ia bertekad melindungi mama nya


"Sayang, kamu ini masih anak-anak tapi bicaranya udah kaya orang dewasa aja" Tisha menepuk kepala anaknya penuh kasih sayang dan cinta.


"Mama! walaupun aku anak-anak, aku kan tetap cowok ma!" seru Rasya yang mengklaim dirinya adalah seorang pria.


"Walaupun kamu cowok, bagi mama kamu tuh tetap bayi kecil mama" Tisha mencium pipi anaknya dengan gemas


CUP


"Mama! aku bukan bayi ma! aku udah gede ma!" Rasya cemberut kesal pada mama nya yang mencium pipinya seperti anak kecil.


"Ya kamu udah gede deh..Udah ah mama gak papa, kamu ganti baju sana, cuci tangan cuci kaki.. shalat dhuhur.. setelah itu kita makan siang bersama. Mama siap kan! cepet kamu lakukan!" Tisha tersenyum lembut pada anaknya itu, namun matanya menatap tajam pada Rasya yang artinya tak mau dibantah.


"I-iya ma, kalau mama sakit banget bilang sama aku ya" ucap Rasya yang langsung menciut nyalinya melihat tatapan mata Tisha.


Bocah imut berusia lima tahun itu segera melaksanakan perintah ibunya. Ia mengganti baju seragamnya, mencuci kaki dan tangannya. Mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat Zuhur bersama ibunya.

__ADS_1


Makan siang sudah tersedia di meja makan, Tisha menyiapkan nasi dan beberapa lauk pada piring kosong yang ada di depan Rasya.


Uh.. kenapa perutku semakin sakit? padahal aku sudah minum obat maag. Tisha memegang perutnya.


"Sayang, ini cumi-cumi kesukaan kamu.. makan yang banyak ya" ucap Tisha sambil duduk di kursi yang ada diseberang Rasya


"Ma, mama beneran gak papa? mama berkeringat loh?" tanya Rasya seraya menatap ke arah Tisha yang wajahnya berkeringat.


"Gak papa sayang, kita makan aja ya" jawab Tisha sambil tersenyum pada anaknya seolah tidak ada apa-apa. "Oh ya, tadi om yang kamu bilang itu.. siapa namanya?" Tisha bertanya pada Rasya seolah membalikkan bahan pembicaraan


"Oh om eskrim itu.. aku juga gak tau ma, aku gak sempat nanya nama nya. Tapi dia orang Indonesia loh ma, dia dari Jakarta. Dia baik banget ma, dia juga ganteng.." Rasya tersenyum lebar sambil memikirkan Ray, tangannya sibuk memegang cumi-cumi di piring.


"Rasya, mama kan udah bilang untuk jangan bicara sama orang asing. Kamu malah ngobrol sama dia dan menerima eskrim dari nya" Tisha menggeleng sambil menikmati makanan nya.


Tidak biasanya Rasya memuji-muji orang lain dan Rasya kan orangnya tertutup kalau sama orang asing. Kenapa Rasya menceritakan orang itu seperti sudah lama mengenalnya saja? Hem.. siapa yang bisa membuat Rasya ku yang judes menjadi seperti ini? Siapa pria itu?. Tisha jadi penasaran siapa sosok yang dipanggil om eskrim oleh anaknya itu.


Pria asing yang bisa membuat Rasya sampai memuji mujinya dan akrab dengan Rasya. Seperti apa orangnya? Tisha menjadi sangat penasaran.


"Iya ma, aku ingat pesan mama kok. Tadi aku cuma bantuin om itu, dompetnya jatuh dan aku kasih dompetnya ke dia. Tau gak ma, di dalam dompet itu ada foto biji kacang.. dan om itu bilang kalau foto itu adalah anaknya.. lucu kan ma?" Rasya mengoceh pada ibunya tentang pertemuan nya dan Ray dengan semangat, ia tidak peduli mulutnya yang sudah belepotan karena bumbu cumi cumi yang ia makan.


"Kayanya dia orang baik deh, kalau kamu ketemu lagi sama om itu. Bilang pada om itu kalau mama mau ketemu, mama harus bilang makasih sama dia yang udah jagain anak mama yang imut ini"


"Oh iya ma, aku juga udah bilang kalau rumahku ada disini. Katanya nanti kalau om eskrim masih ada disini, dia akan datang kemari" kata Rasya semangat, ia ingin sekali bertemu lagi dengan Ray.


Tidak pernah aku melihat Rasya sesemangat ini. Bahkan saat bersama Zayn pun, Rasya tidak pernah begini. Aku jadi penasaran siapa pria ini?


Malam itu di kamar Rasya..


Rasya sudah tertidur lelap setelah makan malam dan mengerjakan PR nya. Tak hentinya ia berbicara pada Tisha, tentang sosok om eskrim yang ditemuinya itu.


"Tisha.." suara Zayn sedikit berbisik, ia menghampiri Tisha yang sedang mengelus kepala Rasya penuh kasih sayang.


"Zayn, kamu datang?" tanya Tisha seraya menyambut sahabatnya itu


"Rasya udah tidur ya?" Zayn tersenyum melihat Rasya, ia membawakan sebuah mainan untuk diberikan pada anak itu.


Zayn menatap Rasya dengan penuh kasih sayang. "Tisha, aku mau ngomong sama kamu tentang papa nya Rasya.." bisik Zayn pada Tisha


Semoga semua yang akan aku katakan ini tidak membuatku menyesal. Aku sudah mengumpulkan keberanian. Zayn takut dalam hatinya.


DEG!


Mendadak jantung nya berdebar kencang mendengar kata papa nya Rasya dari mulut Zayn.Tisha pun mengikuti Zayn keluar dari kamar Rasya setelah Zayn menyimpan mainan untuk Rasya di dekat bocah yang tertidur pulas itu.


Malam itu mereka berjalan keluar rumah, lalu duduk di ayunan. Zayn terlihat takut untuk mengatakan kebenaran nya.


"Benar, semua infonya ada di sini" ucap Zayn sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat pada Tisha.


Apa aku sanggup untuk mengatakan kebenaran nya padamu Tisha? aku harus bisa!


Tisha mengambil amplop coklat itu dengan hati yang berat.


Ya Allah.. mengapa aku takut untuk mengetahui siapa mantan suamiku?. Tisha takut dan ragu untuk membuka amplop yang ada di tangannya itu. Tisha masih menahan amplop itu dan belum membukanya.


Lalu Zayn pun mulai angkat bicara.


"Mantan suami kamu adalah seorang pengusaha besar, dia bernama Raymond Argantara. Kamu dan dia menikah kontrak, tapi pernikahan kalian hanya bertahan selama dua tahun" jelas Zayn dengan wajah yang serius


"Menikah kontrak? kenapa aku melakukan itu?" tanya Tisha penasaran dengan masa lalu nya, ia juga merasa tidak asing dengan nama Raymond.


"Kamu melakukannya karena kamu mencintai nya" jawab Zayn dengan hati yang berat untuk berkata jujur. Jujur memang menyakitkan baginya.


"Aku mencintainya? lalu apa dia mencintaiku? kenapa kami bercerai?" tanya Tisha sangat penasaran, matanya menatap Zayn menantikan jawaban nya.


DEG!


Zayn terpana mendengarnya, wajahnya yang tadi tegang kini berubah menjadi bingung. Pertanyaan Tisha, sulit untuk ia jawab dengan mudah.


Pilihan jujur atau bohong, kini tergantung jawaban Zayn pada Tisha.


"Dia..dia bercerai denganmu karena dia tidak mencintai kamu dan dia punya wanita lain, bahkan wanita itu sampai hamil anak nya lalu kamu memutuskan untuk bercerai" jawab Zayn tanpa melihat ke arah Tisha.


Maaf Tisha, aku berbohong. Zayn merasa bersalah sudah membohongi Tisha


"Oh jadi begitu ya? itu sebabnya aku kabur dari nya. Pantas saja aku tidak mengingatnya, mungkin aku sangat membencinya" Tisha tersenyum pahit.


Tidak Tisha! kamu salah, kamu tidak mengingatnya bukan karena kamu sangat membencinya tapi karena kamu sangat mencintainya dan dia adalah orang yang penting buat kamu. batin Zayn yang tak mampu mengatakannya pada Tisha.


Mengetahui kebenaran dari mulut Zayn tentang sosok papa Rasya, Tisha berpendapat kalau sosok mantan suaminya itu sangat tidak baik dan tidak berperasaan. Dia selingkuh dengan wanita lain saat ia punya istri dan sampai menghamili selingkuhan nya. Begitulah asumsi Tisha terhadap Ray.


"Sekarang, kamu bisa lihat fotonya di dalam sana. Setidaknya kamu harus beritahu Rasya, dia selalu penasaran soal papa nya" ucap Zayn yang memikirkan Rasya yang sering galau ingin tau sosok Ray, papa nya.


"Terimakasih sudah peduli padaku dan Rasya selama ini Zayn, kamu memang sahabat terbaikku" Tisha tersenyum, tangannya mulai membuka amplop coklat itu.


Sahabat? selama ini kamu selalu melihatku sebagai sahabat? Kapan statusku akan berubah sya?

__ADS_1


Saat Tisha akan membuka foto Ray yang ada di dalam sana. Tiba-tiba saja Tisha merintih kesakitan,memegang perutnya. Tubuhnya ambruk ke tanah.


"Uh... Arggh.."


"Tisha!!" teriak Zayn panik


"Zayn kamu jangan.. teri..ak.. nanti Rasya dengar" pinta Tisha sambil memegangi perutnya yang terasa sakit melilit dan memerasnya.


Zayn panik lalu segera menggendong nya. Kepanikan Zayn bertambah saat tangannya menyentuh tangan Tisha. Kini Tisha berada di dalam gendongan Zayn


"Tisha, badan kamu panas!!" seru Zayn cemas


"Zayn.. jangan berisik.. Ras.. Rasya.." tubuh Tisha terkulai lemas, ia tak sadarkan diri.


"Tisha! Tisha kamu kenapa? hey.. Tisha!!" teriak Zayn panik melihat Tisha yang tiba-tiba pingsan.


Mendengar teriakan Zayn, Fayra yang baru saja pulang kerja langsung pergi ke halaman belakang rumah. Fayra melihat Zayn menggendong Tisha yang tidak sadarkan diri.


"Zayn, ada apa?!" tanya Fayra melirik ke arah Tisha dengan cemas


"Kakak, aku titip Rasya.. aku mau bawa Tisha ke rumah sakit" pesan Zayn pada Fayra agar kakak sepupunya menjaga Rasya selama Zayn dan Tisha pergi


"Kamu gak usah khawatir, Rasya aman sama aku! cepat kamu bawa Tisha ke rumah sakit, kabari aku juga ya Zayn!" seru Fayra pada adik sepupunya itu


"Iya kak" jawab Zayn


Dengan terburu-buru, malam itu Zayn membawa Tisha yang tidak sadarkan diri ke rumah sakit. Tisha di larikan ke ruang UGD.


Seorang dokter keluar dari ruangan Tisha setelah memeriksanya. Dokter itu mengatakan bahwa Tisha harus menjalani operasi usus buntu. Semalaman Zayn menjaga Tisha di rumah sakit, mengurus administrasi dan prosedur nya.


Operasi Tisha berjalan lancar, tinggal menunggu Tisha siuman dan pulih. Zayn merasa senang karena Tisha menjalani operasi dengan baik.


Pada subuh itu..


"Halo kak Farhan"


"Ada apa Zayn?"


"Kakak bisa ke rumah sakit dulu gak? aku mau pulang ganti baju bentar"


"Kamu di rumah sakit ngapain? kamu sakit?!!" tanya Farhan yang tidak tahu kalau Zayn ada di rumah sakit


"Tisha habis operasi, aku bawa dia ke rumah sakit tadi malam" jawab Zayn singkat


"Oke, aku akan ke rumah sakit" jawab Farhan cepat.


Zayn menitipkan Tisha pada Farhan agar ia bisa ke apartemennya dulu untuk ganti baju. Dan Farhan lah yang menjaga Tisha di rumah sakit.


🍁🍁🍁


Hari itu adalah hari libur..


Rasya terbangun dan mencari-cari ibunya yang tidak ada dimana-mana. Ia hanya melihat Fayra yang terlihat sedang menelpon seseorang.


"Iya Zayn, kamu tenang aja. Rasya baik-baik aja kok, Tisha gimana?...... Tisha di operasi??"


Mama di operasi? mama sakit apa sampai harus di operasi? Rasya terkejut mendengarnya


"Oke... rumah sakit xxx, nanti siang aku bawa Rasya kesana... apa? jangan dibawa? ya udah aku di rumah aja sama Rasya" ucap Fayra yang masih menelpon dengan Zayn.


Fayra menutup telponnya, ia melihat ke arah kamar Rasya. Dan Rasya masih tertidur pulas, sambil menunggu Rasya bangun. Fayra pergi ke luar sebentar untuk mencari sarapan pagi karena bahan-bahan di kulkas, maupun roti sudah habis.


Saat Fayra pergi ke luar rumah, Rasya segera bangun dan mengganti pakaiannya. Rasya sangat mencemaskan ibunya, ia tidak sabar ingin segera bertemu dengan ibunya.


"Ya Allah semoga mama gak kenapa-napa.." Rasya memecahkan uang di celengan nya, ia berniat untuk naik taksi ke rumah sakit sendirian karena ia tau kalau Fayra pasti tidak akan memperbolehkan nya pergi ke rumah sakit.


Tak lupa Rasya menempelkan note di kulkas untuk Tante nya itu sebelum pergi.


Rasya benar-benar nekad pergi sendiri, ia berjalan ke jalan raya untuk mencari taksi atau kendaraan lainnya yang lewat disana.


Mama pasti bangga karena aku bisa pergi ke tempat jauh sendirian.


Rasya membawa ranselnya. Saat Rasya berdiri di pinggir jalan sendirian, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya.


Kaca belakang mobil itu terbuka, Rasya sudah bersiap-siap berlari, ia takut kalau mobil itu adalah mobil penculik.


"Hai bocah imut!" Ray sambil tersenyum pada Rasya


"Om eskrim??!" wajah Rasya langsung cerah saat melihat Ray.


Asyik! ada om eskrim! aku bisa dapat tumpangan gratis!


Siapa anak ini? kenapa dia sedikit mirip dengan pak presdir? ucap Gerry sambil melihat ke arah Rasya dan memperhatikan anak itu dari atas sampai ke bawah.


...---***---...

__ADS_1


Readers! jangan lupa Like komen, kalian ya❀️❀️☺️ biar semangat up author nya...kasih vote dan gift nya juga boleh❀️


__ADS_2