Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 41. Aku membencimu


__ADS_3

...Haruskah aku mencinta nya...


...Bila hanya berikan duka?...


...Sepertinya aku bahagia...


...Satu sisi, aku menangis.....


...Aku pernah sangat berharga...


...Semua mata memujaku...


...Sampai kau datang dalam hidupku...


...Segalanya berubah.....


...Kau mengambil hatiku...


...Jadikannya kelabu...


...Kau menghancurkan semua impian...


...Yang tersimpan sejak dulu...


...Kau racuni cintaku...


...Hingga menjadi benci...


...Tak lelah aku setia...


...Tersiksa sendiri.....


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Ray menatap surat cerai itu dengan wajah tanpa ekspresi, matanya menatap kosong pada surat yang mungkin akan memutuskan ikatan pernikahan mereka.


Tisha duduk di depan nya, menunggu Ray untuk segera menandatangani surat cerai itu. Setelah Ray menandatangani nya, dia akan memperoleh kebebasan yang selama ini ia impikan. Selama hampir 3 tahun ia mencintai pria itu yang ada hanya rasa sakit saja.


Begitu bodohnya cinta, begitu banyak waktu yang terbuang demi cinta yang tidak pernah ia dapatkan. Sudah lelah rasanya, Tisha menanggung rasa sakit dari pahitnya kata pernikahan. Dia benar-benar sudah teguh dengan keputusan nya, untuk bercerai.


"Cepat tandatangani, aku mau segera keluar dari rumah ini" ucap Tisha tegas


"Setelah keluar dari rumah ini, kamu dan keluarga mu akan pergi kemana?" tanya Ray sambil memegang bolpoin di meja, hatinya berat untuk menandatangani surat persetujuan perceraian itu.


"Bukan urusan mu" jawab Tisha ketus


"Aku tanya untuk yang terakhir kalinya, apa kamu ingin bercerai?" tanya Ray sambil meletakkan kembali bolpoin nya ke meja.


"Kan aku sudah bilang iya!"seru Tisha tegas


"Kamu tidak mencintai ku lagi?"


"Kenapa kamu terus berbelit-belit seperti ini? tinggal tanda tangan saja, apa susahnya!" Tisha kesal karena Ray terus menahan nya untuk bercerai.


"Apa sangat mudah bercerai dariku? apa kamu sangat ingin berpisah denganku? sejujurnya, tanganku ini tidak bisa menggoreskan tinta di surat ini. Karena jika aku menandatangani nya, maka kamu akan aku akan berpisah" Ray mengigit bibir bawahnya, matanya menatap Tisha dengan berkaca-kaca.

__ADS_1


Setelah semua yang kulakukan selama satu minggu ini ternyata tidak bisa membuat nya berada disisi ku selamanya. Apa akhirnya aku harus bercerai dan menikah dengan wanita yang bahkan tidak aku cintai?. Batin Ray sakit hati.


Kenapa dia memasang wajah seperti itu? apa dia berharap aku mempertahankan pernikahan ini? pernikahan yang selalu menjadi duri dalam hidupku? jangan mimpi! aku tidak mau dibodohi lagi oleh cinta. Tisha menatap tajam ke arah suaminya, di matanya ada cinta dan benci berpadu jadi satu.


"Sejak awal pernikahan kita bukanlah pernikahan yang sebenarnya bukan? kenapa kamu masih mau mempertahankan nya? jangan bodoh, kamu saja tidak mencintaiku" ucap Tisha sinis


"Aku mencintaimu Latisha!!" seru Ray tegas, penuh perasaan mengatakan isi hatinya.


"Kalau kamu mencintaiku, makan tidak akan pernah ada orang ketiga dalam hubungan kita" Tisha merasa semuanya sudah percuma, ia tak mau mendengar lagi kata cinta untuknya dari mulut Ray. Sekarang perasaan cinta itu mungkin hampir terbakar habis oleh rasa jijiknya pada Zee dan Ray.


"Tidak bisakah, aku dapat kesempatan sekali lagi Tisha.."


"Kesempatan yang aku berikan pada kakak, sudah kakak hancurkan" jawab Tisha sedih


"Kalau aku tidak menikahi Zefanya, apa kamu masih mau bersamaku?"tanya Ray yang sangat mengharapkan jawaban ya dari Tisha.


"Mau kamu bersamanya atau bersama orang lain sekalipun, kita akan tetap bercerai kak" jawab Tisha dengan senyuman tegar tersirat di bibirnya. Tisha sepenuhnya ingin kebebasan dari pernikahan yang sudah mengikatnya selama dua tahun.


Pernikahan tanpa cinta, kasih sayang satu sama lain, tanpa kepercayaan yang kuat, tidak akan bisa bertahan lama.


Ray memegang bolpoin itu dengan tangan yang bergetar, jika ia menandatangani surat itu artinya Tisha akan berpisah selamanya darinya dan akan sulit untuk kembali. Ray masih tidak mau bercerai, ia berharap masih bisa mengulur waktu untuk bersama Tisha. Mengapa saat ia menyadari perasaannya pada Tisha, malah terjadi hal seperti ini?


Hatinya berdegup kencang, kepalanya berdenyut-denyut, tangannya bergetar. Ray enggan menandatangani surat itu.


Tidak! aku tidak boleh menyerah semudah ini.


PRAK


Apa yang dia lakukan? kenapa dia meletakkan kembali bolpoin nya ke meja?. Tisha terkejut karena Ray menyimpan kembali bolpoin nya bukan menandatangani surat itu, raut wajah pria itu berubah menjadi menyeramkan.


"Kamu mau bercerai kan? kalau begitu hari ini layani aku sebagai suamimu untuk yang terakhir kalinya" Ray menatap tajam Tisha, ia mulai berfikiran gila, entah dia kehilangan akal sehat nya atau tidak.


"Tidur denganku, layani aku" jawab Ray dengan nada yang tegas dan senyum yang menyeringai


"Kakak sudah gila ya! cepat tandatangani saja suratnya! ibu dan kakak ku sudah menunggu ku!" ujar Tisha kesal dengan permintaan Ray, Tisha beranjak dari kursinya.


"Tidak mau!" jawab Ray yang terus mengulur waktu


"Kita sudah sepakat untuk bercerai! tandatangani suratnya!" seru Tisha mulai kesal


"Layani aku dulu sampai puas, baru aku pertimbangkan perceraian ini" Ray tersenyum santai memandang ke arah istrinya.


Apa aku harus jadi kejam agar kamu tetap disisi ku Latisha?. batin Ray


"Dari awal kamu memang tidak pernah berniat menceraikan aku kan?!! kamu keterlaluan! kamu pikir aku pelacur? kamu suruh aku melayani mu seperti j*l*ng!" teriak Tisha yang sudah sangat emosi dengan sikap tarik ulur Ray padanya menunda perceraian mereka.


Sudah seminggu berlalu dari kesepakatan mereka, namun masih saja Ray tidak mau melepaskan Tisha. Gadis itu semakin sakit hati karena Ray menyuruhnya melayaninya.


"Aku memang tidak pernah ada niatan untuk menceraikan kamu, aku sudah bilang dari awal. Hanya aku yang bisa memutuskan hubungan diantara kita." Ray mendekat ke arah Tisha dengan tatapan yang tajam, berbeda dari biasanya.


"Kamu mau apa? tanda tangani suratnya!!" seru Tisha pada suaminya


Mengapa aku takut dengan tatapannya itu? ya Allah..


"Kamu mau bercerai kan? kalau begitu ikut aku ke kamar, biar tubuh kita yang bicara!!" Ray mengangkat tubuh Tisha dengan paksa.

__ADS_1


"AHH!! lepaskan!! aku tidak mau!! kak Ray!!" Tisha memukul mukul tubuh Ray, mencoba sekuat tenaga bertanding melawan tubuh Ray yang kuat mengangkatnya.


BUGH


BUGH


"Kalau tidak mau jatuh, kamu harus diam!!" teriak Ray membentak pada istrinya itu.


Ya Allah, tolong aku.. aku tidak mau.. Tisha tidak mau harga dirinya dilukai lagi oleh Ray untuk kesekian kalinya.


Tisha ketakutan setengah mati, tubuhnya gemetar hebat bukan main. Ray berhasil membawa istrinya dengan paksa ke dalam kamar tempat mereka pertama kali berhubungan intim.


Ray menindih tubuh Tisha dengan paksa, kedua tangannya mengunci tangan Tisha dengan erat. Hingga wanita itu kesulitan untuk melepaskan diri.


"Aku bukan pelacur! lepaskan aku! kalau kamu mau dilayani, minta saja pada Zefanya yang akan menjadi istrimu!" seru Tisha kesal, sampai air matanya mengalir membasahi pipinya. Tangannya tidak berhenti memberontak melawan Ray, tapi Ray terlalu kuat untuk ia lawan dengan tubuh mungilnya itu.


"Zefanya!! Zefanya!! Zefanya lagi!! aku hanya mencintai kamu! aku tidak tau kenapa aku bisa tidur dengannya?! aku tidak tau!!" teriak Ray menumpahkan semua emosinya pada Tisha, "Mengapa kamu tidak mau memaafkan ku??!! disaat hubungan kita sudah mulai membaik, kenapa malah jadi begini??!!" Ray mulai meneteskan air mata. Tapi, Tisha tidak mau peduli pada Ray. Air mata nya sudah seperti air mata buaya.


"Lepaskan aku!! lepaskan aku!!" teriak Tisha yang terus memberontak.


Aku tidak mau terus ditawan olehmu dan terus kamu sakiti.


Ray melahap bibir Tisha dengan kasar, penuh emosi. Ray tidak memberikan Tisha kesempatan untuk bernapas. Tisha menggigit lidah dan bibir suaminya berkali-kali, agar Ray melepaskan dirinya.


"Hmphh!!"


Kedua bibir itu pun berpisah, saat Ray melepaskan tautan bibirnya, lalu terlihat lah bibir Ray berdarah akibat gigitan Tisha.


"Aku jijik padamu! aku jijik!!" teriak Tisha marah-marah pada suaminya yang ingin menjamah tubuh nya itu.


"Jijik? baguslah kalau begitu. Aku tidak akan sungkan! jijik lah sampai kau tidak bisa melakukan hal ini dengan pria lain selain diriku!" Ray menatap Tisha dengan tatapan yang nanar. Pria itu membuka baju dan celananya, Tisha mulai ketakutan melihatnya.


Tisha berkali-kali mencoba menggapai pintu agar bisa keluar dari sana, tapi Ray seperti orang gila yang sudah kehilangan akal sehatnya. Ray menyeret Tisha kembali ke ranjang itu, memaksa wanita itu melayaninya dengan paksa dan kejam.


Ray menerobos masuk dengan paksa meski Tisha menangis, dan sampai meronta-ronta, Ray tetap melakukannya. Beberapa macam gaya di praktekkan Ray, sesekali ia menggigit gadis itu. Bahkan Ray dengan sengaja menyemburkan cairan vanilla ke dalam tubuh Tisha, bukan hanya sekali saja.


Siang itu sudah berlalu menjadi sore, setelah mereka melakukan itu untuk kedua kalinya. Saat pertama kalinya, Tisha rela dengan kewajiban nya melayani Ray sebagai istri. Tapi kali ini ia merasa sangat tidak ikhlas, tubuhnya di jamah dengan paksa. Penyatuan tubuh itu bukannya membuat bahagia, tapi malah membuat nya tersiksa. Tisha pun sangat yakin bahwa ia tak mau hidup dengan pria seperti Ray.


Pria itu masih tertidur pulas di ranjang dengan tubuh telanjang nya setelah memaksa Tisha melakukan hubungan. Tisha sendiri tidak bisa tidur karena seluruh tubuhnya pegal dan sakit. Bahkan bagian bawahnya berdarah dan sangat perih seperti baru pertama kali melakukannya. Tisha merasa perbuatan Ray ini sama dengan pemerkosaan. Jika Ray bukan suaminya, ia mungkin sudah menuntutnya.


Tisha ingin menangis, tapi ia tidak mau terlihat lemah di hadapan pria yang sudah menyiksa nya itu. Tisha mengambil baju baru yang ada di lemari karena baju nya sobek di koyak oleh Ray, ia pun terpaksa memakai pakaiannya yang masih ada di rumah itu. Tisha pergi membersihkan badannya, lalu memakai piyama tidur nya. Satu satunya pakaian yang tersisa di rumah itu. Tisha pun pergi keluar kamar dan mengambil surat cerai dalam map plus dengan bolpoin.


"Kamu sudah bangun?" tanya Ray sambil beranjak duduk di ranjangnya. Ray tersenyum melihat istrinya sudah berpakaian rapi.


"Kamu sudah puas kan? sekarang tanda tangani suratnya!" seru Tisha sambil menyodorkan map dan bolpoin pada Ray. Matanya menatap tajam pada Ray.


"Haha.. setelah melakukan itu denganku kamu malah mau bercerai? bukankah harusnya kamu meminta tanggung jawab" Ray tertawa sinis, ia pikir bahwa dengan memaksanya akan membuat Tisha selalu disisinya tapi malah membuat gadis itu semakin membencinya.


"Tidak perlu. Untuk apa minta tanggungjawab? cepat tanda tangan, aku sudah cukup bersabar padamu" ucap Tisha sarkastik tanpa senyuman sedikit pun diwajahnya.


Jadi beginilah akhirnya? baiklah, kalau kamu mau bercerai. Tidak masalah, karena kamu akan selalu terikat denganku. Ini hanyalah awal dari hubungan kita.


Ray mengambil bolpoin lalu menandatangani surat cerainya dengan hati yang galau. Tisha mengambil surat itu dari tangan Ray.


Tahan Tisha! jangan menangis. Hati Tisha kembali tersayat melihat surat cerai nya dan Ray yang sudah ada ditangannya.

__ADS_1


"Kamu tau.. aku sangat membencimu. Dan sampai jumpa di pengadilan.." Tisha tersenyum sinis, ia mengambil surat cerai itu lalu pergi meninggalkan Ray di kamarnya.


...---***---...


__ADS_2