
...πππ...
"Maaf kak, bukannya aku tidak mau memberitahu kakak. Karena aku sendiri tidak tahu dimana kak Fayra. Tapi, ada satu orang yang mungkin mengetahui keberadaan nya." jelas Tisha pada Grace.
"Siapa?" tanya Grace penasaran. Dia sangat ingin menghubungi Fayra dengan maksud meminta maaf padanya bersama suaminya yang sudah membuatnya dirugikan.
"Aku akan menghubungi Zayn, tapi aku harus minta izin dulu pada suamiku atau dia akan sangat marah." Tisha tersenyum pada Grace.
"Makasih ya Tisha, tolong kamu kabari aku kalau kamu sudah dapat kabar tentang Fayra." Grace memegang tangan Tisha, wanita itu tersenyum lembut.
Fayra, dimana kamu? Grace cemas bertanya-tanya di dalam hatinya dimana keberadaan Fayra.
"Baik kak." jawab Tisha setuju.
Perceraian Grace dan Sam tidak terjadi karena kepergian Fayra dari hidup mereka. Sam dan Grace kembali menjalani kehidupan mereka. Namun, Sam merasa bersalah pada Fayra karena sudah mengambil hal yang paling penting milik gadis itu.
Selama empat bulan itu Grace dan Sam sudah mencari Fayra kemana-mana. Namun Fayra seperti sedang bersembunyi dari mereka, tidak ada kabar dari Fayra sama sekali, tempat tinggal, ataupun keadaan nya tidak terdengar.
****
Sore itu Ray pulang dari kantornya, dia membawakan makanan untuk anak dan istrinya. Kecupan manis penuh kasih sayang dan cinta mendarat di kening Tisha dengan lembutnya.
"Sayang, kamu sudah pulang?" sambut Tisha dengan senyuman lembut di bibirnya. Menyambut kepulangan suaminya.
"Nah gitu dong, lelahku jadi hilang lihat senyuman kamu." Ray mengelus pipi Tisha dengan lembut. Lelahnya hilang begitu melihat istri dan anaknya Rasya.
"Kamu bisa aja deh. Ngomong-ngomong kenapa kamu sudah pulang sore begini? Bukan kah katanya ada makan malam dengan rekan kantormu?" tanya Tisha sambil membantu melepas jas berwarna abu yang dipakai oleh suaminya.
"Iya memang ada, tapi aku pulang dulu."jawab Ray sambil melepas kemeja yang dikenakan nya.
Tangan Tisha membantu Ray melepas ikat pinggang di celana suaminya itu, "Kenapa pulang dulu? Bukannya tanggung ya, kalau pulang dulu?"
"Kok bilangnya gitu? Kamu seperti gak mau suami mu pulang ke rumah." Pria itu protes dengan pertanyaan istrinya.
"Sayang, bukan begitu maksud ku! Aku cuma tidak mau kamu bolak-balik, nanti kamu lelah." Tisha khawatir pada suaminya yang akhir-akhir ini banyak pekerjaan.
"Justru itu sebabnya, karena lelah makanya aku pulang dulu. Terus lelah ku bisa hilang karena melihat kamu dan anak-anak kita, terutama si kecil ini." Ray memeluk perut Tisha pelan-pelan dengan manja nya. Dia tersenyum melihat perut istrinya yang sudah membuncit itu. "Nak, apa kamu baik-baik saja di dalam sana? Kamu gak rewel kan?"
"Kamu ini...sudah ayo mandi dulu, nanti kamu harus pergi lagi kan? Aku sudah siapkan air hangat untukmu." Tisha memberikan handuk pada suaminya.
"Makasih sayang, kamu memang yang terbaik. Ngomong-ngomong.. aku belum isi daya hari ini?"
Seakan mengerti apa yang diisyaratkan oleh suaminya. Tisha tersenyum, kemudian kakinya berjinjit berusaha menggapai tinggi suaminya. Bibir lembutnya mengecup bibir pria itu dengan lembut penuh kasih sayang
MUACH!
"Udah?"
"Kurang!" Tangan kekar itu merangkul tubuh Tisha yang mulai menggemuk karena kehamilan nya. Sekali lagi Ray membenamkan bibirnya pada bibir ranum milik istrinya. Mengecap, memilin dan merasakan manisnya bibir itu. Meski sedang hamil, Ray malah merasa Tisha malah semakin menggoda. Dia semakin cantik dan hal ini membuatnya semakin terpesona.
Wajah Tisha selalu tampak cerah, berkilau, kulitnya bersih, dia juga rajin membersihkan dirinya sampai mandi 2-4 kali sehari. Selain itu Tisha juga rajin berdandan, sekarang kalau mau pergi kemana-mana dia pasti memakai make up dan baju yang bagus berwarna cerah tidak seperti biasanya yang suka memakai baju berwarna gelap.
Bahkan tak jarang Tisha bersikap manja pada suaminya itu. Tak jarang juga Tisha menjadi lebih sensitif, contohnya saat menonton film yang sedih Tisha selalu menangis. Walaupun sikapnya seperti itu, Ray tetap mengabulkan dan memaklumi semua permintaan juga sikap istrinya yang sedang hamil itu.
Setelah selesai mandi, Ray bermain sebentar dengan putranya Rasya di ruang keluarga sebelum dia berangkat makan malam bersama rekan-rekan bisnisnya termasuk Sam dan Andrew. Sambil merajut, Tisha melihat suami dan anaknya sedang bermain game bersama.
Alangkah bahagianya Tisha, karena dia bisa berkumpul kembali bersama Ray dan Rasya menjadi satu keluarga utuh yang bahagia. Apalagi sekarang dimasa kehamilan nya, ada Ray yang mendampinginya dan siap memberikan apapun yang dia inginkan.
"Sayang, ini udah jam setengah delapan malam. Kamu cepatlah pergi, tempatnya lumayan jauh kan dari sini?" tanya Tisha pada suaminya, mengingatkan dia tentang janji makan malam.
"Oh iya sayang, aku hampir lupa. Rasya, papa pergi dulu ya. Kamu jaga mama dan adek bayi baik-baik ya," Ray menepuk kepala Rasya dengan lembut.
Rasya memberikan hormat dengan patuh pada papa nya."Siap papa!"
"Jagoan nya papa memang pintar," Ray tersenyum bangga pada anaknya yang baru saja meraih juara satu di semester pertama nya masuk sekolah dasar.
Rasya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan patuh. Setelah itu Ray berbicara pada Tisha bahwa dia akan pulang sangat larut, karena itu Tisha jangan menunggu nya pulang.l dan tidur lebih dulu. Tisha paham dan membawanya dengan anggukan. Dia juga meminta suaminya untuk berhati-hati, jangan minum alkohol atau merokok.
"Aku sudah lama meninggalkan nya, mana mungkin aku melakukan nya lagi. Kecuali kalau kamu meninggalkan ku, maka aku akan lebih gila dari itu." jelas Ray.
__ADS_1
"Aku tidak akan meninggalkan mu lagi. Kita kan bersama-sama sekarang." Tisha tersenyum lebar pada suaminya.
Tepat sebelum pergi, Tisha meminta izin pada Ray untuk menelpon Zayn. Karena dia ingin tau keadaan Fayra lewat dirinya, Ray mengizinkan nya. Tisha kembali ke dalam rumah setelah dia mengantar suaminya ke depan rumah, Tisha melihat foto pernikahan mereka terpampang besar di dinding saat resepsi satu Juli yang lalu. Saat perut Tisha masih belum membesar, Tisha tersenyum bahagia melihat nya.
"Ya Allah, kita akan bahagia selamanya kan? Tidak akan ada badai lagi diantara kami, kan?" tanya Tisha sambil melihat foto keluarga nya yang bahagia.
"Ma, ayo kita makan malam. Aku sudah lapar nih, dede juga pasti sudah lapar." ucap Rasya seraya mengajak mama nya untuk makan malam bersama.
"Iya sayang, yuk kita makan!" Tisha memegang tangan Rasya, mereka berdua pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama.
Sementara Ray sedang dalam perjalanan menuju ke tempatnya akan makan bersama. Dia menghubungi Andrew untuk menanyakan lokasi tepatnya.
"Hah? Gak salah kan? Kenapa lokasinya seperti di club malam?" Ray terperanjat melihat lokasi yang dikirimkan oleh Andrew kepadanya lewat share lock.
****
πDi salah satu kota Di negara Inggris, sebuah rumah sederhana dan jauh dari keramaian. Tepatnya di pedesaan, Fayra tinggal disana bersama seorang pembantu rumah tangga nya.
Perut Fayra terlihat membuncit, hampir sama dengan perut buncit milik Tisha yang sedang hamil 5 bulan. Wanita itu terlihat sedang berbelanja di salah satu supermarket yang berada disana.
Dia terlihat sedang berbelanja bahan-bahan makanan, sambil membawa keranjang belanja di tangannya. Ketika pulang ke rumahnya, dia disambut oleh pembantu rumah tangganya yang sedang membersihkan halaman rumah berpagar putih itu.
"Bu Fayra sudah pulang?" tanya Nuri seraya menyambut tuan rumah nya yang baru saja pulang. Dia membantu wanita dengan perut buncitnya itu untuk membawakan keranjang belanjaan nya yang terlihat berat.
Nuri adalah pembantu yang dipekerjakan oleh Fayra, dia adalah TKW berasal dari Indonesia yang mengalami penipuan dan diselamatkan oleh Fayra empat bulan yang lalu.
"Makasih ya Nuri.":
"Harusnya Bu Fayra suruh saya saja yang belanja. Bu Fayra kan sedang hamil, tidak boleh mengangkat yang berat-berat." ucap Nuri sambil mengangkat belanjaan Fayra dengan senang hati.
"Makasih ya Nur. Alhamdulillah ada bibi disini, saya merasa sangat bersyukur.. kalau gak ada kamu, mungkin saya akan selalu sendirian." ucap Fayra merasa sangat bersyukur karena ada Nuri yang selalu mendampinginya selama 4 bulan terakhir.
"Saya yang harusnya sangat berterimakasih dan bersyukur karena bertemu dengan bu Fayra, kalau saya tidak bertemu ibu.. mungkin saya sudah dijual ke tempat pelacuran." ucap Nuri sambil tersenyum. Sejak diselamatkan oleh Fayra, Nuri berjanji akan selalu
Fayra dan Nuri masuk ke dalam rumah. Nuri langsung membereskan barang belanjaan yang dibawa oleh Fayra. Sejujurnya Nuri merasa kasihan melihat wanita cantik itu dalam keadaan hamil dan sendirian tanpa suami yang mendampinginya.
Alasan Fayra sudah jelas, mengapa wanita itu ingin menyembunyikan keberadaan nya dan juga anak nya? Karena ayah dari bayi itu adalah Sam, pada malam di hotel saat pria itu menjebaknya dalam cinta satu malam. Membuat dirinya mengandung, dan kini usia kandungan nya sudah menginjak 5 bulan.
Wanita itu menyeduh susu dari kotak yang bergambar seorang ibu hamil di kemasannya. Setelah diseduh, dia menyeruput pelan-pelan susu yang hangat itu. Dia mengelus perutnya penuh dengan kasih sayang. Walaupun dia membenci Sam, tapi dia tidak bisa menggugurkan anak yang ada di dalam kandungan nya. Anak itu tidak berdosa, orang tuanya lah yang berdosa karena telah melakukan one night stand, sampai Fayra yang mengandung benihnya.
"Tisha, aku merasakan apa yang kamu rasakan dulu. Mengandung seorang anak tanpa kehadiran suami yang mendampingi. Rasanya ternyata tidak nyaman." gumam Fayra sambil mengelus perutnya, matanya berkaca-kaca. Sebenarnya dia lelah karena harus bersembunyi seperti ini. Tapi dia harus tetap melakukan nya, karena kehadiran nya saat ini akan membawa hubungan Grace dan Sam kedalam keadaan yang buruk, keadaan yang akan berujung pada kehancuran rumah tangga mereka.
Dreet..
Dreet..
πΆπΆπΆ
Ketika wanita itu sedang menangis meratapi nasibnya, dia menerima telpon dari nomor yang depannya +62. Mata Fayra membulat terkejut melihat nomor tidak di kenal itu.
Dari Indonesia? Siapa? Apakah Sam? Mbak Grace? Tisha?
Fayra terlihat ragu untuk mengangkat nya. Panggilan itu terus masuk ke dalam ponselnya. Tak lama kemudian, setelah 3 kali berbunyi, ada panggilan masuk lain ke dalam ponselnya.
Kali ini Fayra langsung mengangkat nya.
"Zayn!"
"Kak, Tisha menanyakan nomor ponsel mu. Dan aku memberikan nya, maaf kak." ucap Zayn langsung pada intinya.
Jadi barusan itu Tisha? Fayra tercengang.
"Zayn! Aku kan sudah bilang, kamu harus merahasiakan semua ini!" Fayra marah pada Zayn yang memberitahukan nomor ponselnya pada Tisha. Dia takut bahwa Sam atau Grace akan melacak keberadaan nya, karena dia tau kalau Tisha cukup dekat dengan Grace.
"Kak, mungkin ini saat nya dia tau keberadaan kakak dan anak itu." Zayn bicara dengan suara yang pelan.
"Zayn, aku bersumpah aku akan membencimu kalau kamu benar-benar bicara tentang ku lagi pada Tisha dan yang lainnya!" Fayra langsung menutup telpon nya dengan hati yang perih. Dia menangis sedih.
πππ
__ADS_1
Di depan sebuah klub malam, Ray memarkirkan mobilnya di sana. Dia agak ragu untuk masuk ke dalam sana, karena dia berfikir masa rekan bisnisnya mengajak bertemu di tempat seperti itu.
"Ya sudahlah, aku coba masuk dulu. Mungkin Andrew, Sam, dan pak Andara ada di dalam." ucap Ray sambil berjalan masuk ke dalam klub malam itu.
Benar saja, di dalam salah satu ruangan disana sudah ada Andrew, pak Andara dan Sam disana. Pak Andara ditemani oleh beberapa kupu-kupu malam disampingnya. Pria gendut itu terlihat menikmati keindahan wanita cantik itu. Sementara Sam hanya asyik sendiri dengan lamunan nya, berbeda dengan Andrew yang juga sama seperti pak Andara yang bermain dengan wanita.
Ray terlihat tidak senang dengan pemandangan disana. Terlebih lagi para wanita itu melihat Ray dengan tatapan nanar, mereka tebar pesona menunjukkan kemolekan tubuh mereka di depan pria tampan dan kekar itu.
"Eh, pak Raymond sudah datang." sambut pak Andara pada Ray yang baru saja datang. Mata nya sedikit teler.
"Apa kita benar-benar datang kesini untuk makan malam?" tanya Ray menyindir tempat itu tidak cocok dengan tempat makan malam.
Seperti nya aku jangan cerita pada Tisha kalau aku datang kesini. Dia pasti akan salah paham dan berfikir macam-macam.
"Iya, makan malam nya sebentar lagi datang. Mari duduk dan minum-minum dulu!" ajak Andara pada Ray.
"Maaf pak tapi saya tidak bisa minum. Saya sudah berjanji pada istri saya untuk tidak minum-minum lagi!" Ray menolak dengan tegas rekan bisnisnya itu.
Seorang pelayan datang dan membawakan makanan. Pelayan itu meletakkan makanan dan minuman itu ke atas meja.
"Haha, ternyata pak Ray pria yang sangat sayang istri ya. Baiklah saya tidak akan memaksa, kalau begitu bagaimana kalau kita makan malam dulu." ajak Andara pada Sam, Andrew dan Ray.
Mereka pun malam bersama seperti yang telah disepakati. Mereka berbicara bisnis juga seperti yang telah direncanakan sebelumnya, disana hanya Sam lah yang tidak fokus karena dia memikirkan rasa bersalah nya pada Fayra. Dia juga bercerita pada Ray, meminta Ray untuk membantunya menemukan Fayra.
"Baiklah, aku akan membantumu mencarinya. Tisha juga sedang berusaha mendapatkan informasi dari Zayn tentangnya. Kamu tenang saja." ucap Ray seraya menenangkan temannya itu.
"Terimakasih Ray." jawab Sam sambil tersenyum tipis.
Setelah itu Ray pamit pulang lebih dulu. Dia tak enak meninggalkan istrinya yang sedang hamil kalau dia pulang terlalu larut.
***
Keesokan harinya, pagi itu seperti pagi yang biasanya. Tisha menyiapkan sarapan pagi, melayani suami dan anaknya dengan baik. Ketika Tisha sedang menyiapkan makan untuk bekal suami dan anaknya.
Terdengar bel rumah berbunyi.
Ting tong!
π΅π΅π΅
Bi Ani yang sedang memasak kemudian menghentikan memasaknya untuk membuka pintu. Namun Tisha melarangnya dan berkata bahwa ia yang akan membukanya.
KLAK
"Permisi, apa benar ini rumah bapak Raymond Argantara?" tanya seorang wanita dengan rambut pendek, rok pendek dan pakaian yang menantang itu. Tisha terperangah melihat wanita di depannya itu seperti wanita malam.
Siapa wanita yang bajunya kurang bahan ini? Kenapa dia mencari kak Ray?
Tisha mengerutkan keningnya.
"Benar, maaf anda siapa ya?" tanya Tisha pada wanita itu.
"Saya hanya ingin mengantarkan dompet pak Raymond yang tertinggal di klub xxx" jawab wanita itu sambil menyerahkan dompet milik Ray.
"Klub!!" Tisha tersentak kaget mendengar suaminya pergi ke klub. "Terimakasih ya mbak sudah mengantarkan dompet suami saya."
"Kalau begitu saya permisi ya mbak!" kata wanita berambut pendek itu dengan senyuman genitnya.
Tisha langsung menutup pintunya, dia memegang dompet suaminya dengan penuh amarah.
Raymond Victor Argantara!!
...---***---...
...Hai Readers, makasih ya buat dukungan vote, like, gift dan komen nya..π₯°π₯°βΊοΈ terus dukung karya author ya. Dukung juga karya cinta suci Amayra juga yaπ bantu fav nya...
...Oh ya author Ada Rekomendasi Novel bagus lagi nih buat kalian π₯°π₯°βΊοΈ...
__ADS_1