
...πππ...
"Kenapa? kamu masih ingin ditindas oleh mereka?" tanya Ray sambil melirik istrinya yang terus melihat ke arah mobil yang dinaiki Gerry juga bersama ibu dan kakaknya.
"Apa maksud mu? aku tidak ditindas" elak Tisha
"Tidak ditindas apanya? wajahmu adalah buktinya" ucap Ray seraya menunjuk ke arah wajah Tisha yang lebam
Memalukan, dia melihatku dalam keadaan seperti ini.
Tisha tidak berani mengelak lagi, memangnya apa yang bisa disangkal dari bukti yang terpampang nyata? Tisha hanya merasa malu, kalau Ray melihatnya dalam kondisi yang menurutnya memalukan. Ray juga tidak bicara apa-apa, ia tidak pandai menghibur orang yang sedih apalagi membuat orang itu nyaman dengannya.
Kalau dipikir-pikir lagi, sejak dulu Tisha lah yang selalu menghibur Ray di saat Ray bersedih. Bahkan di hari ulang tahunnya, Tisha mencoba membuat Ray tersenyum dengan berbagai cara, meski saat itu Ray sempat marah-marah pada istrinya
#FLASHBACK
2 tahun yang lalu..
15 Desember.
Tisha sudah bangun pagi-pagi buta, ia tau bahwa hari itu adalah hari yang spesial untuk suaminya. Hari dimana Raymond Argantara dilahirkan ke dunia.
"Bagus, semuanya sudah siap. Tinggal tunggu kue matang," ucap nya sambil melihat-lihat microwave.
Kebetulan hari itu adalah hari minggu dan libur. Biasanya pada hari libur, Ray akan pergi fitnes bersama teman-teman nya atau pergi bersama Zefanya yang saat itu masih mendekatinya walau mereka tidak pacaran.
Sehari sebelumnya Tisha sudah meminta agar Ray meluangkan waktunya di rumah saja. Ray awalnya enggan menuruti perkataan Tisha, tapi Tisha berjanji tidak akan mengganggu waktu Ray lagi jika Ray menuruti nya kali ini. Dengan susah payah Tisha membujuk agar suaminya tetap di rumah saja pada hari itu.
Tisha dan Bi Ani sudah menyiapkan pesta kejutan ulang tahun yang sederhana untuk Ray di rumah itu. Dari mulai mendekorasi rumah, menyiapkan makanan, kue ulang tahun, sampai menghias taman dengan balon dan bunga-bunga. Tisha bahkan membuat sendiri kartu ucapan ulang tahun untuk Ray, juga baliho yang bertuliskan happy birthday Ray yang digantungkan di tembok.
__ADS_1
Pada awalnya Tisha begitu semangat menyambut pagi karena hari itu adalah ulang tahun suaminya. Maka akan menjadi hari spesial juga untuknya.
"Non, saya pergi ke pasar dulu ya. Bahan-bahan di kulkas sudah habis," ucap Bi Ani sambil membawa keranjang belanja nya
"Bibi gak akan ngucapin selamat ulang tahun sama kak Ray?" tanya Tisha
"Nanti saja bibi nyusul ngucapin selamat nya hihi" Bi Ani cekikikan, entah apa yang dipikirkan nya hingga ia begitu.
Aku pergi nya lamaan aja deh, biar non sama tuan bisa berduaan di rumah.
Bi Ani pun pergi meninggalkan rumah Ray dengan alasan belanja kebutuhan rumah. Sementara itu, Tisha duduk di sofa ruang tamu sambil melihat-lihat persiapan kejutan untuk suaminya. Berharap bahwa Ray akan senang dengan semua yang disiapkan nya, terutama hadiah ulang tahunnya.
TING!
Bunyi microwave menyadarkan Tisha dari duduk santainya, Tisha berlari menuju ke arah dapur. Ia segera mengangkat kue yang ada di dalam microwave. Saking buru-buru nya mengangkat kue, Tisha lupa memakai sarung tangan hingga tangannya kepanasan.
"Aw.. aduh.." rintihnya sambil melihat jari nya yang memerah karena kepanasan. Bukannya peduli pada jarinya yang terluka, ia malah memperhatikan kue yang baru saja diangkatnya dari microwave.
Mata Tisha melirik ke arah jam dengan jarum pendek ke arah tujuh dan jarum panjangnya ke arah angka 12. Biasanya pada hari libur Ray akan bangun pukul setengah 8 pagi.
Buru-buru gadis itu menghias kue yang baru keluar dari microwave. Kue coklat itu tampak rapi, terlihat enak, di atasnya ada tulisan "Selamat ulang tahun suamiku"
Tisha senyum senyum sendiri melihat tulisan yang ia buat sendiri. Ia sudah membayangkan kalau Ray akan senang dengan kejutan darinya. 20 menit kemudian, pintu kamar Ray terbuka pelan. Terlihat Ray berdiri di depan pintu dengan rambut basah dan wajah kaget melihat ke sekitar nya.
Apa apaan ini? kenapa ada banyak balon dan bunga-bunga? apa yang bocah itu lakukan?. Ray semakin marah melihat Baliho yang terpasang di tembok bertuliskan selamat ulang tahun untuk nya.
Tisha berdiri di depannya, ia membawakan kue ulang tahun di tangannya dengan lilin menyala di atas kuenya. Tisha tersenyum sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan malu-malu.
"Selamat ulang tahun.. selamat ulang tahun kak Ray.. semoga panjang umur" Tisha tersenyum malu-malu sambil menatap pria tampan yang ada di depannya itu.
__ADS_1
Namun reaksi Ray sungguh jauh di luar dugaan dan harapannya. Kue yang tadinya dipegang di tangan, kini sudah hancur di hempas oleh Ray ke lantai.
"Latisha, apa apaan kamu ini? kamu mau mengejekku?!" teriak Ray emosi, sambil menghancurkan semua yang sudah disiapkan oleh Bi Ani dan Tisha dengan susah payah.
Balon-balon dan bunga-bunga yang ada disana di hancurkan oleh Ray sampai berantakan. Ray juga menginjak kue yang dibuat oleh Tisha dengan sepenuh hatinya.
"Kenapa kakak seperti ini? kenapa kakak marah?" tanya Tisha terpana dengan wajah kecewanya, ia merasa kalau hatinya sudah dihancurkan.
Ray benar-benar menghancurkan semua yang di siapkan oleh Tisha dan Bi Ani dengan penuh kemarahan. Tisha tidak tahu salahnya dimana, ia hanya ingin merayakan ulang tahun suaminya.
"Kamu?! kamu ini kenapa sih? sudah membuat kegaduhan di pagi hari? jadi ini alasan kamu meminta ku tinggal di rumah hari ini? untuk membuatku melihat lelucon konyol ini?!" bentak Ray pada istrinya yang tidak tahu apa-apa itu
"Lelucon konyol? kak, aku hanya ingin merayakan hari ulang tahunmu. Apa yang salah dengan itu?", tanya Tisha sedih
"Kamu salah.. tidak ada yang pernah merayakan hari ulangtahun ku selama ini, hari ulang tahun ku tidak pernah ada! Dasar wanita bodoh!" seru Ray emosi, suaranya terdengar seperti berteriak.
Setelah menghancurkan semua kejutan yang disiapkan istrinya. Ray pergi bersama Zee dan Sam, meninggalkan rumah nya dalam keadaan marah. Dan saat itu Tisha hanya bisa diam, melihat suaminya pergi dengan wanita lain.
#ENDFLASHBACK
Ray merasa malu sendiri dengan sikapnya di masa lalu pada Tisha, ia tersenyum pahit. Memikirkan betapa sakitnya hati Tisha diperlakukan seperti itu olehnya. Padahal Tisha belum tau tentang hari ulang tahunnya bertepatan dengan hari berkabung nya, oleh sebab itu ia tidak mau merayakan hari ulang tahunnya.
"Sial! aku benar-benar bodoh, jahatnya aku", gumam Ray sambil menundukkan kepalanya di stir kemudi.
"Kenapa?" tanya Tisha
"Maafkan aku, saat itu pasti kamu terluka karena ku,"
"Saat itu? terluka? apa maksud kakak?" tanya Tisha tak mengerti apa yang dibicarakan suaminya.
__ADS_1
"Aku tau tanganmu terluka, tapi aku diam saja. Aku bahkan berbuat jahat padamu, aku tidak lebih baik dari ibu dan kakakmu itu," Ray menyesali semua perbuatan kasarnya pada Tisha di masa lalu, dan ia merasa malu pada dirinya sendiri.
...---***---...