Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 82.Tidak ada artinya


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Zevanya berdiri mematung, matanya membulat menatap ke arah Tisha yang bersampingan bersama Ray. Tisha sendiri mengabaikan Zevanya, kemudian menghampiri anaknya yang terluka.


Bagaimana bisa? apakah aku sedang bermimpi? apa aku masih berada di bumi? bagaimana bisa orang mati masih hidup dan baik-baik saja? bagaimana bisa di jal*ng itu masih hidup? anak itu juga.. dia siapa?!


"Mama..huuhuu.." Rasya menangis kesakitan.


"Sayang, kamu kenapa nak? Astagfirullah.. kamu terluka nak" Tisha cemas melihat Rasya yang terluka.


Ray juga cemas dan menghampiri anaknya, dia menggendong Rasya yang menangis. "Sayang, apanya yang sakit?" tanya Ray menatap khawatir anak itu


"Kaki ku sakit pah.." rengek Rasya pada papa nya.


Zee terpana melihat pemandangan Ray yang bersikap lembut layaknya seorang ayah khawatir pada anaknya. Perlahan Zee melangkah mundur, kaki nya gemetar ketakutan melihat Tisha di depannya bersama seorang anak yang memanggil Ray dengan sebutan papa.


Papa? anak itu memanggil Ray papa? Jadi si Daniah itu tidak berbohong?


"Apa yang sebenarnya terjadi? apa kamu terjatuh dari mobil-mobilan?" tanya Tisha cemas pada anaknya.


"Tuan muda di dorong oleh nona Zevanya" jawab Pak Ujang sambil melirik tidak suka pada Zee.


"A-aku.." Zee tidak bisa berkata-kata, ternyata anak yang dia celakai adalah anak Ray dan Tisha.


Tidak, ini pasti mimpi. Tidak mungkin mereka masih


"Beraninya kamu mencelakai anakku!" seru Ray menatap murka pada wanita berambut pendek itu.


"Ray.. aku.."


Mati aku! ini bukan mimpi. Jal*ng itu masih hidup dan bayi yang ada di kandungan nya juga sudah menjadi seorang anak yang mirip dengan Ray.


Zee terpana dengan wajah terluka dia berusaha mencerna kenyataan yang ada di depan matanya. Wanita hamil yang coba ia lenyapkan bertahun-tahun lalu ternyata masih hidup bersama anaknya.


"Aku akan membunuhmu!"


"Kak Ray, hentikan.. ada Rasya disini. Kita obati. dulu luka Rasya" ucap Tisha yang memikirkan kondisi Rasya lebih dulu dibandingkan emosinya pada Zevanya.


Tisha menatap tajam ke arah Zevanya, gadis itu keheranan karena Zevanya terlihat takut dengannya. Tubuhnya gemetaran, matanya memutar kemana-mana.


Apa ini perasaan ku saja? atau memang Zee terlihat takut padaku?


"Papa.. huuuhu..sakit pa.." Rasya menangis terisak-isak


"Sabar ya sayang. Ayo papa bawa ke dalam. Tisha, aku akan membawanya ke dalam" ucap Ray yang menekan dulu emosinya pada wanita bernama Zevanya.


Ray menggendong anaknya yang masih menangis itu dan membawanya ke dalam rumah itu. Tisha melirik ke arah Zevanya untuk memastikan sekali lagi kalau memang Zevanya takut padanya.


"Kalau terjadi sesuatu pada anakku, aku tidak akan memaafkan mu" ucap nya seraya menunjuk wajah Zee dengan jari telunjuknya, mata nya menatap tajam.


Aku bukan wanita lemah seperti dulu lagi Zevanya. Aku adalah seorang ibu, seorang ibu harus kuat untuk anaknya!


"Wanita sialan! beraninya kamu mengancam ku!" seru Zee marah


PLAK


Pertama kali bertemu lagi setelah bertahun-tahun lamanya, Zee mendapatkan tamparan dari Tisha.


"Aku bukan Latisha yang dulu, jangan meremehkan aku! kalau kamu melukai anakku, aku akan membalas mu berkali-kali lipat!" seru Tisha mengancam Zee, dia tau bahwa mungkin dimasa depan Zee akan menyakiti Rasya karena kebencian nya pada Tisha dan Rasya.


Kenapa? kenapa dia memukulku?! beraninya dia!.


Zee murka dan akan membalas pukulan Tisha, namun Tisha menangkap tangannya tepat waktu. Zee terpana dengan sikap Tisha yang berbeda dengan dulu.


"Kamu! beraninya menyentuhku! lepaskan!"


"Aku akan membereskan mu nanti" bisik Tisha pada Zevanya dengan seringai di bibirnya. Tisha mendorong tangan Zee dengan kasar.


Hah! sejak kapan wanita ini menjadi begitu berani?


Zevanya apa benar kamu terlibat dalam kecelakaan yang telah menewaskan ibu dan kakak mu enam tahun yang lalu? melihat wajahmu saat ini kamu pantas di curigai.


Tisha menaruh curiga ketika melihat wajah Zee yang panik, takut sampai gemetar saat melihat nya. Zayn pernah mengatakan padanya bahwa kemungkinan besar Zee adalah pelakunya, tapi dia tidak punya bukti. Bukti satu satunya ada pada si supir truk yang bersembunyi entah dimana keberadaan nya.


Wanita itu menyusul Ray dan Rasya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Zevanya yang sendirian disana bersama pak Ujang. Zee menggigit bibirnya sampai berdarah, dia ketakutan bercampur tidak senang dengan keberadaan Tisha dan Rasya yang mengancamnya.

__ADS_1


Tenanglah Zevanya, kamu tidak akan ketahuan. Selama supir yang aku sewa itu masih belum ditemukan, semuanya masih aman. Mari bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


Dalam hatinya Zee ingin menangis, karena Tisha dan Rasya masih hidup. Penghalang nya untuk mendapatkan Ray semakin besar begitu pula dengan harapannya yang semakin tipis atau bahkan tidak ada lagi. Waktu enam tahun saja dia tidak bisa mendapatkan pria itu. Terlebih lagi dengan keadaan nya yang tidak bisa mengandung seorang anak, karma sudah lebih dulu di dapatkannya.


Dia belum jera juga, seperti permen karet yang sudah diinjak tapi masih terus menempel. Namun, apapun yang dia lakukan Ray masih menutup hati untuknya. Apa dia memang tidak ada artinya bagi Ray? Yang jelas Zee tidak menyerah begitu saja.


Zevanya mengikuti Tisha dan Ray masuk ke dalam rumah itu.


*****


Di dalam rumah keluarga Argantara, Tisha mengobati lutut Rasya yang terluka. "Sayang, tenanglah.. kamu gak apa-apa kok, cuma luka luar aja" ucap Tisha membujuk anaknya yang masih menangis


"Lutut ku.. gak sakit.. sakit nya yang bawah.. hiks ..huuhu.." Rasya masih meringis kesakitan walau sudah di obati oleh Tisha.


"Yang mana yang sakit sayang?" tanya Ray perhatian pada putranya, dia mengangkat kaki Rasya ke pahanya.


Tisha memegang pergelangan kaki Rasya dengan hati-hati, tiba-tiba saja Rasya menjerit kesakitan, "Ah mama! sakit!!"


"Seperti nya Rasya terkilir" ucap Tisha cemas, tidak biasanya dia melihat anaknya menangis. Hal ini semakin meyakinkan Tisha dan Ray bahwa ada apa-apa dengan kaki Rasya.


"Kakek buyut sudah panggil dokter Harun untuk memeriksa Rasya. Sebentar lagi dokter Harun akan datang.. sabar ya cicit kakek" Pak Faisal ikut cemas melihat cicitnya yang menangis terisak-isak. Pak Faisal mengelus kepala Rasya dengan lembut penuh kasih sayang.


Rasya yang biasanya tenang, menjadi rewel karena sakit di kakinya. Bahkan Tisha tak bisa pergi sedetik pun karena Rasya terus memeluknya. "Mama.. jangan kemana-mana.. mama disini aja..hiks"


"Sabar ya sayang..tahan ya.. Kak Ray.." Tisha melirik ke arah Ray seakan mengisyaratkan sesuatu.


Aku tidak mau membicarakan Zevanya begitu saja. .Kalau kamu membela Zevanya, berarti kamu memang tidak peduli padaku dan Rasya.


"Aku mengerti, aku akan membereskan nya" jawab Ray sambil menghela napas, dia melihat Zevanya bersama bibi nya di halaman belakang rumah itu.


Orang yang menyakiti putraku tidak akan ku lepaskan begitu saja meski itu seorang wanita.


Seakan mengerti apa yang di maksud Tisha, entah karena sehati atau insting sebagai orang tua. Ray pergi dengan langkah besarnya dan wajah murka, dia lalu menghampiri Zevanya yang sedang duduk bersama Daniah.


Kaki Ray menendang meja kecil yang berada ditengah-tengah Daniah dan Zevanya. Hingga meja itu terguling ke lantai.


BRAK


PRANG!


"AHHHHHH!! panas.. panas!!" Zee mengipasi pahanya yang terkena air panas dengan kedua tangannya.


"Ray! kamu sudah gila ya?!" teriak Daniah marah dengan kelakuan Ray yang menjungkirbalikkan meja itu.


"Ray, kamu keterlaluan.. lihat kaki ku terkena air panas karena kamu" ucap Zee yang ingin diperhatikan oleh Ray


GREP!


Ray meraih baju Zee dan mengangkat tubuh Zee hingga kakinya ikut berjinjit. "Ray! apa yang kamu lakukan?! lepaskan aku!" teriak Zee yang mulai ketakutan melihat sorot mata Ray mengancam dan murka.


"Ray! lepaskan dia!" pinta Bu Daniah yang juga takut melihat Ray mengamuk


"Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah melukai putraku lepas begitu saja, lihat saja kamu Zevanya!" Ray emosi dan murka pada wanita yang menjadi penghalang besar dalam hubungannya dan Tisha.


"Kamu mau pukul aku? demi anak haram yang tidak tau asal usulnya itu?" Zevanya tersenyum menyeringai, dia mencoba membuat Ray curiga tentang keberadaan Rasya.


"HEY!! siapa yang kamu bilang anak haram dengan mulut kotor mu itu? dia adalah anakku dan Latisha! kamu buta ya? kamu tidak lihat bahwa anak itu mirip denganku waktu kecil?" Ray mendorong Zee dengan kasar hingga wanita itu jatuh ke lantai.


Perlakuan nya pada Zee dan Tisha jelas sangat berbeda. Zee terpukul untuk kesekian kalinya, jatuh cinta pada pria seperti Ray selalu membuat dirinya terluka. Namun dia tidak berhenti mengemis cinta pada pria itu, seberapa buruk pun pria itu memperlakukan nya. Mungkin inilah yang namanya cinta buta.


"Ray! kamu sudah keterlaluan! bagaimana pun juga Zevanya itu adalah seorang wanita, bagaimana bisa kamu memperlakukan wanita seperti ini?" Daniah kesal pada keponakan nya, dia membantu Zee untuk berdiri.


"Dengarkan aku Zevanya! kalau terjadi sesuatu yang serius pada Rasya, aku akan menuntut mu! aku tidak main-main!" jari telunjuk nya mengarah ke arah wajah Zee dengan murka. Ray mengancam wanita itu dengan tajam.


Zee terhenyak melihat sikap Ray padanya. Bagaimana bisa cinta Ray berubah dalam sekejap menjadi kebencian hanya karena satu kesalahannya di masa lalu? yaitu pengkhianatan.


πŸ€πŸ€πŸ€


Dokter Harun datang dan langsung memeriksa kondisi Rasya. Pria tua itu terkejut karena melihat Tisha masih hidup, namun dia tak bisa bertanya dulu karena dia harus memeriksa kondisi Rasya secepatnya.


"Tahan ya nak.. pak dokter akan menyembuhkan kakimu, ini sedikit sakit. Tahan ya" ucap dokter Harun dengan lembut pada Rasya, sambil memegang kaki Rasya pelan-pelan


"Rasya kuat kan? Rasya jagoan nya mama kan? Rasya lihat mama.. Rasya lihat papa.. papa mama disini, sakitnya cuma sekali tapi Rasya akan sembuh" bujuk Tisha pada putranya sambil memeluk putranya


"Sakitnya sekali aja kan ma..pa?" tanya Rasya dengan mata polosnya menatap ke arah kedua orang tuanya yang ada disana. Rasya terlihat ketakutan dengan dokter yang katanya akan menyembuhkan sakit di kakinya.

__ADS_1


"Iya sekali aja, percaya sama papa mama ya" Ray ikut membujuk putranya sambil memegang tangan Rasya.


"Aku mau di obati pak dokter, tapi mama harus janji dulu sama aku" kata Rasya pada mamanya


"Apa sayang? mama akan penuhi semuanya" jawab Tisha sambil tersenyum, dia rela melakukan semuanya untuk Rasya.


"Malam ini kita menginap disini di rumah kakek buyut, aku mau disini sama papa sama Mama juga" rengek Rasya pada mama nya.


Ray terperangah, dia terharu dengan darah dagingnya yang masih memikirkan nya bahkan disaat dirinya sedang sakit. Bertambah lah cinta Ray pada putra yang baru ditemuinya belum lama ini.


"Ra-Rasya, kamu.." Tisha terlihat bingung dia ingin kesal tapi tidak bisa, "Baiklah mama janji kita akan menginap disini, bersama papa kamu juga" Tisha setuju


"Yee! mama sudah janji ya, sekarang aku mau diobati pak Dokter" Rasya tersenyum senang karena mama nya setuju untuk menginap


Papa, selamat berjuang pa. Aku sudah kasih jalan buat papa. Rasya menyemangati papa nya dalam hatinya.


Terimakasih nak, kamu sudah memberikan jalan untuk papa berjuang.


Dokter Harun memelintir kaki Rasya dalam sekali hentakan, anak itu memegang erat tangan mama dan papanya. Dia menjerit kesakitan, ketika sang dokter itu berupaya menyembuhkannya.


Tisha hampir saja menangis mendengar anaknya yang kesakitan. Setelah selesai diobati, Dokter Harun membalutkan gips pada kaki kanan Rasya yang cedera.


Rasya pun jatuh tertidur di pelukan mama nya setelah makan siang dan meminum obat pereda sakit yang diberikan dokter Harun padanya.


"Dokter bagaimana keadaan Rasya? dia udah gak apa-apa kan?" tanya Tisha sambil mengusap keringat di wajah Rasya dengan handuk kecil


"Bu Tisha tenang saja sekarang dek Rasya tidak apa-apa, untunglah segera di obati dengan cepat. Kalau tidak mungkin tulang kakinya bisa patah atau lebih buruk dari itu. Dia anak yang kuat, pasti itu sakit sekali" Dokter Harun mengelus kepala Rasya yang sedang tertidur dengan lembut, bibir nya tersenyum memandangi bocah itu.


"Syukurlah..Tisha, kamu dengar kan? anak kita baik-baik saja" ucap Ray menenangkan sambil memegang pundak Tisha dengan lembut.


Tisha menyingkirkan tangan Ray dengan kasar, wajah nya kembali dingin pada Ray. "Ini gak akan terjadi kalau gak ada selingkuhan kamu itu!" ucapnya ketus.


"Aku minta maaf, aku juga sudah mengusirnya dari sini" ucap Ray pada Tisha


"Heh! kenapa kamu meminta maaf untuknya? seperti nya hubungan kalian masih baik-baik saja ya" sindir Tisha pada Ray


"Bu-bukan begitu.." Ray mencoba menjelaskan semua nya pada Tisha yang salah paham kalau Ray meminta maaf untuk Zee.


Padahal aku ingin meminta maaf karena tidak bisa menjaga Rasya dengan baik, bukannya minta maaf untuk Zevanya.


Hubungan Ray dan Tisha ternyata masih belum membaik. batin Pak Faisal yang kasihan melihat Ray yang diabaikan oleh Tisha.


"Kakek, apa boleh aku membawa Rasya masuk ke dalam kamar? dia harus beristirahat" ucap Tisha meminta izin pada sang kakek


"Tentu saja, Ray antar Tisha dan anak kamu ke kamar nya" titah Pak Faisal pada Ray


"Ya kek.."jawab Ray sambil tersenyum senang mendengar titah sang kakek


"Gak usah, aku bisa sendiri. Aku masih ingat dimana kamar kamu" Tisha menolak Ray dengan dingin.


"Kek, Tisha permisi dulu ya" ucap Tisha sambil berpamitan pada pak Faisal


"Iya Tisha" jawab Pak Faisal sambil melihat wajah Ray yang sedih. Pria tua itu menghela napas, dia bisa merasakan kesedihan cucunya.


Tisha menggendong Rasya yang tidur dan berjalan menuju ke arah kamar Ray di lantai dua. Ray tidak menyerah begitu saja meski sikap Tisha dingin padanya, dia tetap mengikutinya dari belakang.


Mengapa dia terus mengikuti ku?. Tisha kesal


"Sini, biar aku yang menggendong nya, kelihatan nya berat" Ray merentangkan kedua tangannya untuk menggendong Rasya


"Tidak perlu, ini ringan kok" jawab Tisha sambil menaiki anak tangga.


"Dasar keras kepala" gumam Ray pelan dan sebal dengan Tisha.


SREK


Tisha tiba-tiba oleng saat menaiki anak tangga ke empat, karena tubuh Rasya yang cukup berat itu.


"Ahh!!"


GREP


Beruntungnya ada Ray yang berdiri di belakangnya, dia menopang tubuh Tisha dan Rasya dengan kedua tangan kekarnya itu.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2