Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 49. Gugurkan


__ADS_3

🍁🍁🍁


Zee keluar dari rumah sakit dan segera pergi ke rumah keluarga Argantara. Zee memegang sebuah amplop panjang yang berbeda dengan amplop yang sudah ia robek-robek sebelumnya.


Saat berada di depan pintu rumah keluarga Argantara, Zee menghela napas panjang nya. Wanita itu seperti persiapkan dirinya akan sesuatu yang besar.


"Saatnya memulai pertunjukan.." Zee yang tadinya menangis, kini malah tersenyum licik memandangi amplop itu.


Zee membuka pintu rumah itu, terlihat lah Daniah dan pak Faisal yang sedang berada di ruang tengah. Mereka keheranan melihat Zee yang sudah kembali dari rumah sakit, bukannya kembali ke rumahnya malah kembali ke rumah keluarga Argantara.


"Zefanya, kenapa kamu kesini? bukannya langsung pulang saja nak?" tanya pak Faisal


"Kakek, bagaimana ini kek? Tante.. aku harus gimana dong?" Zee memasang wajah memelas nya dan ia langsung duduk di sofa, sambil menghela napasnya.


"Kenapa dengan wajah mu? bagaimana hasil pemeriksaan nya Zee? kamu gak papa kan?" tanya Daniah sambil duduk di sebelah Zee, Daniah menatap Zee dengan cemas


Bagus, Tante Daniah menanyakan hasil pemeriksaan nya.


"Ada apa Zefanya?" tanya Pak Faisal menatap wanita itu dengan khawatir


"Sebenarnya aku kemari ingin memberitahukan hasil pemeriksaan ku pada Ray lebih dulu. Tapi, seperti nya dia tidak ada disini" Zee menunduk sedih


"Memangnya hasil pemeriksaan apa yang membuat mu harus memberitahu Ray lebih dulu?" tanya Daniah penasaran


"Boleh kakek tau hasil pemeriksaan nya lebih dulu?" tanya Pak Faisal yang sangat penasaran dengan isi amplop di tangan Zee.


Dengan senang hati Zee dan senyuman di wajahnya. Zee menyerahkan suratnya pada pak Faisal. Pria tua itu langsung membuka surat yang ada di dalam amplopnya, disampingnya juga ada Daniah yang penasaran dengan surat itu.


Mereka terpana saat melihat surat hasil pemeriksaan Zee.


"Kamu hamil??!!!" tanya Daniah dan Pak Faisal kompak, mata mereka membulat kaget menatap Zee yang hanya senyum-senyum saja.

__ADS_1


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Bu Fani dan Tisha baru saja sampai di rumah Ray yang mereka tinggali. Tisha langsung merebahkan tubuhnya di sofa, ia memegangi perutnya yang masih datar itu. Seakan tak percaya bahwa ada bayi di dalam perutnya.


Apa ini benar-benar nyata? aku hamil.. ini bukan mimpi, kan? tapi aku harus bagaimana? haruskah aku senang karena bayi ini mungkin akan lahir tanpa ayahnya.


Tisha juga sudah memikirkan jalan ke depan yang berhubungan dengan bayinya itu, tak mungkin ia kembali bersama Ray yang akan menikah dengan Zee dua hari lagi. Tisha merasa tidak mungkin bisa kembali pada Ray, dan ia memang tidak mau kembali bersama pria yang sudah menjadi mantan suaminya itu.


Lalu bagaimana dengan nasib bayi yang ada di dalam kandungannya? Haruskah Tisha membesarkan nya sendiri? Dan apakah ia harus memberitahu Ray tentang kehamilannya itu? Tisha benar-benar bingung.


Sementara Bu Fani sendiri merasa tidak tenang dengan fakta kehamilan anaknya. Bu Fani berjalan mondar-mandir sembari berfikir, memikirkan masa depan anaknya yang kini tengah berbadan dua.


"Tisha.. ibu sudah pikirkan cara agar kamu bisa terlepas dari mantan suamimu itu. Dan menggapai mimpi kamu tanpa khawatir dengan anak itu" Bu Fani tersenyum manis


"Apa Bu?" Tisha melihat ke arah Bu Fani dengan wajah serius. Menantikan apa ide Bu Fani.


"Mumpung usia kandungan nya masih kecil, gugurkan saja dia" jawab Bu Fani tanpa keraguan sedikitpun


"Tisha, ini satu satunya jalan agar kamu bisa meraih mimpi kamu. Lagipula kamu kan sudah bercerai dari pria itu, lalu untuk apa kamu mempertahankan anak ini. Jangan bilang kalau kamu masih ingin kembali pada pria peselingkuh itu??!!" Bu Fani meninggikan suaranya pada Tisha yang terlihat tidak ingin menggugurkan anaknya itu.


"Aku tidak ada pikiran seperti itu Bu.. tapi soal menggugurkan anak ini, aku tidak bisa bu" ucapnya sambil memegang perutnya dengan penuh kasih sayang


"Tisha apa kamu berencana memberitahu padanya tentang anak ini? Tisha jangan bodoh, jika dia tau kamu hamil anaknya. Dia akan semakin menawan kamu, mengikat kamu erat-erat disisinya. Mungkin juga dia akan membatalkan pernikahan nya dengan si rubah itu" Bu Fani sudah berfikir macam-macam ke arah depan dan yang belum terjadi, padahal belum apa-apa.


"Aku tau itu Bu! dan aku juga tidak berniat untuk memberitahukan nya tentang kehamilan ku! aku tidak akan kembali padanya Bu. Tapi bu, apa aku harus menggugurkan nyawa yang ada di dalam perutku ini??" Tisha menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca, memohon agar ibunya mengerti bahwa dia ingin mempertahankan anaknya.


"Tisha.. nyawa yang kamu bilang ada di dalam perutmu itu, hanyalah seukuran biji kacang. Dia masih belum memiliki roh di dalamnya, sebelum dia tau kehamilan mu dan sebelum terlambat, kamu harus menggugurkan nya," Bu Fani memegang tangan anaknya, ia berusaha meyakinkan Tisha untuk menggugurkan kandungan nya.


Tisha terdiam, ia merasa bahwa apa yang dikatakan ibunya tidak benar. Menghabisi nyawa di dalam perut nya secara sengaja, adalah sebuah dosa. Namun, disisi lain ia juga bingung harus bagaimana ke depannya. Rencana-rencana yang sudah ia buat untuk masa depannya mungkin tidak akan terlaksana jika Ray mengetahui kehamilannya.


"Ini dosa Bu, aku tidak mau menggugurkan anak ini. Aku akan mempertahankan nya!" Tisha memegang perutnya dan berkata penuh keteguhan bahwasanya ia ingin mempertahankan anaknya.

__ADS_1


"Haa.. baiklah, mungkin ibu bicara terlalu cepat. Kamu pasti butuh waktu untuk berfikir jernih, ibu akan memberimu waktu sampai besok, lalu kita akan menggugurkan janin yang akan didalam kandungan mu itu" Bu Fani menghela napas mendengar kata-kata Tisha, Bu Fani mengira Tisha bicara tanpa berfikir lebih dulu.


"Tidak Bu! aku tidak akan berubah pikiran, aku akan tetap mempertahankan anak ini" ucap Tisha tegas.


Anak ini tidak bersalah, walaupun aku tidak bersama dengan kak Ray lagi. Tapi anak ini adalah anakku dan kak Ray, aku tidak akan menggugurkan nya.


"Kamu tuh benar-benar ya.." Bu Fani kesal pada anaknya yang keras kepala mempertahankan anak di dalam kandungannya.


Ting Tong ting tong!


🎡🎡🎡


Suara bel terdengar beberapa kali dari luar pintu depan rumah itu.


"Kamu tunggu disini, biar ibu yang buka pintunya!" seru Bu Fani pada anak nya itu. Tisha duduk di sofa dengan santai, ia memegang perutnya.


Tisha merasa tubuhnya memang lebih berat dari biasanya, kepalanya juga pusing. Ternyata dirinya memang tidak satu tubuh lagi. Rasanya masih seperti mimpi.


Bu Fani membuka pintunya, ia kesal dengan orang yang berdiri di depannya itu.


"Apa kabar Tante?" tanya Ray sambil tersenyum ramah


Si tidak tahu malu ini datang lagi. gerutu Bu Fani dalam hatinya.


"Apa kamu pikir ini rumahmu yang bisa kamu datangi sesuka hatimu?!!' tanya Bu Fani sinis


"Ini memang rumah kalian, tapi apa saya tidak bisa bersilaturahmi? Oh ya, apa boleh saya masuk Tante?" tanya Ray sambil membuka pintu rumah itu lebar-lebar, sebelum dipersilahkan masuk. Ray sudah masuk bersama Gerry ke dalam rumah itu. Gerry membawa keresek hitam ditangannya.


Bu Fani melirik sinis sekaligus tak percaya dengan sikap tidak tahu malu Ray yang menerobos masuk ke dalam rumah itu sebelum diberi izin.


Kenapa aku tidak tahu kalau pak presdir yang sebelumnya sangat menjunjung harga diri yang tinggi dan egonya, bisa melakukan hal yang tidak tau malu seperti ini?

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2