Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 94. Diancam


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Tisha merasa ada yang janggal dengan semua ini, seperti kedatangan nya itu sudah direncanakan. Namun disisi lain dia bersyukur karena makam ibu dan kakaknya baik-baik saja. Sepulang dari kantor polisi, Tisha langsung pergi ke makam ibu dan kakaknya. Tak lupa dia membawa 2 ikat bunga Camellia berwarna kuning.


"Syukurlah.. ibu dan kakak baik-baik saja disini, maaf ya ibu, kak Arya, aku baru datang sekarang. Karena aku baru ingat semuanya, ibu.. ibu sudah punya cucu, kakak.. kakak juga sudah punya keponakan. Seandainya saat itu kita tidak kabur dari rumah kak Ray, mungkin ibu dan kakak masih ada sampai saat ini. Maafkan aku bu, maafkan aku kakak.. hiks" Tisha memegang keramik nisan ibu dan kakak nya dengan penuh kasih, air matanya menetes.


Tisha sedih mengingat kenangan bersama ibu dan kakak nya. Dan lebih perihnya lagi dia tidak tahu bagaimana ibu dan kakaknya tiada. Namun, dari penuturan Zayn. Ibu dan kakak nya tiada terbakar di dalam mobil yang meledak, demi menyelamatkan nya dan Zayn.


"Pasti kalian sangat kepanasan saat itu, kan? ibu, kakak.. aku berjanji bahwa aku akan menemukan orang yang mencelakai kalian. Aku akan membuat dia mendapatkan balasan yang setimpal" Tisha berjanji dengan sepenuh hatinya.


Tanpa Tisha sadari, ada beberapa orang berpakaian hitam di dalam mobil sedang memperhatikan nya dari kejauhan. Di telinga mereka terpasang alat suara.


"Apa yang sedang Tisha lakukan?" suara Ray terdengar pada salah satu alat yang terpasang di telinga si pengemudi mobil.


"Bu Latisha masih duduk di depan makam, pak"


"Awasi dia baik-baik, jangan biarkan dia tau kalau kalian mengawasi nya" titah Ray


"Baik pak" jawab orang-orang berpakaian hitam itu.


Rupanya Ray telah menyewa beberapa orang untuk mengawasi Tisha dan Rasya. Menjaga keselamatan ibu dan anak itu, dia tidak ingin hal buruk seperti yang terjadi di masa lalu terjadi lagi. Dengan pengawasan yang ketat, tidak akan ada yang bisa mengganggu Tisha ataupun Rasya.


Selain menyuruh orang mengawasi Tisha dan Rasya secara diam-diam. Ray juga pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA pada Rasya, meski dia tak mau melakukan nya.


"Kalau sampai tes DNA nya sampai bocor pada orang luar, aku akan menutup rumah sakit ini!" ancam Ray pada seorang dokter disana.


"Baik pak" jawab dokter itu dengan patuh


Kenapa aku merasa ada seseorang yang mengikuti ku ya? sudah pasti dia adalah orang suruhan om ku. Ray melirik pada balik tembok, instingnya berkata bahwa ada seseorang yang melihat ke arahnya.

__ADS_1


Ray tersenyum sinis melihat orang yang mengendap-endap di sekitanya, dia meminta pada anak buahnya, supaya penjagaan di ruang DNA di longgarkan. Agar dia bisa menangkap pelaku yang berusaha membuat kecurangan.


"Gerry, longgarkan penjagaan ketat di rumah sakit khususnya ruang DNA" titah nya


"Ya? tapi kenapa pak?" tanya Gerry


"Aku ingin menangkap tikus yang mencoba menyusup" ucap Ray tegas


Om Dean, ternyata kamu masih tidak berubah.. dalam urusan bisnis maupun pribadi kamu licik. Kalau kamu licik, aku bisa lebih licik. Aku akan membongkar kebusukan mu di depan kakek dan jika kamu berani menyentuh Tisha dan Rasya, aku tidak akan tinggal diam.


"Tikus yang mencoba menyusup?" gumam Gerry bertanya-tanya


****


Di rumah Zevanya, wanita itu masih tampak diam di kamarnya dan tidak pergi bekerja. Beragam nasihat sudah di lontarkan Bu Lisa pada anak nya itu. Bu Lisa merasa tidak berguna sebagai seorang ibu karena tidak bisa menyadarkan anaknya.


Dan kini Bu Lisa mulai marah pada putrinya, karena dia menghabiskan waktu lama untuk mengejar Ray. Seperti nya anaknya itu sudah cinta buta, mungkin cinta mati pada pria bernama Ray.


"Apa? mama bilang apa?!! mau menjodohkan aku dengan pria lain? aku gak mau mah, aku akan menikah dan itu hanya dengan Raymond!!" Zee keras kepala


"Kamu sangat keras kepala! mama akan carikan pria untukmu, kamu tidak boleh menolak mama! mama cuma ingin yang terbaik untuk kamu" ucap Bu Lisa yang prihatin pada anaknya yang mendambakan jodoh orang lain.


Usai bicara seperti itu, Bu Lisa keluar dari kamar Zee. Zee masih berbaring dengan galau di ranjangnya. Memikirkan pria yang membuatnya tergila-gila setengah mati. Zee memandangi surat tuntutan dari Ray sambil menangis sedih.


"Aku pikir aku tidak akan pernah menangis dan tetap teguh meski sikapmu padaku selalu menyakiti. Tapi kenapa, sekarang aku mulai goyah? apa kamu memang bukan jodohku? apa mungkin kamu tidak mencintaiku lagi?" Zee membuka foto Ray dan dirinya saat masih berpacaran dulu. Foto nya terlihat bahagia, disana Ray terlihat begitu mencintai Zee.


Zee ingin masa masa itu kembali, dimana Ray sangat mencintai nya. Rela melakukan apapun untuknya. Setelah bersedih mengenang masa lalu, wajah Zee berubah menjadi kesal saat mengingat Tisha.


"Kalau bukan karena wanita jal*ng itu, aku pasti sudah hidup bahagia bersama Ray. Kalau bukan karena anak mereka, mereka pasti tidak akan bisa bersatu. Hahaa.. bagus, jika aku menyingkirkan anaknya..maka wanita itu dan Ray akan berpisah selamanya. Baiklah, aku akan mencoba langkah terakhir...tidak peduli aku masuk penjara nantinya, yang penting ucap Zee dengan seringai di wajahnya.

__ADS_1


Dreet.. Drett...


🎢🎢🎢


Unknown number calling


"Siapa yang menelpon ku?" gumam Zee melihat ke arah ponselnya. Zee mengangkat telpon itu "Halo"


"Bu Zevanya, ini saya" suara seorang pria terdengar berbisik di telpon


"Kamu?! kenapa kamu menelpon ku lagi hah?? tidak cukupkah uang yang selalu aku transfer setiap minggunya pada mu??" suara Zee meninggi mendengar suara pria itu.


"Bu Zevanya..,, saya sudah tidak peduli dengan uang itu. Saya hanya ingin hidup tenang Bu! saya tidak mau terus di kejar-kejar seperti buronan" ucap pria itu ketakutan sambil bersembunyi di sebuah rumah yang gelap jauh dari keramaian.


Orang-orang Ray semakin gencar untuk mencari supir yang menjadi kunci dalam kecelakaan mobil 6 tahun lalu. Posisi si supir truk itu terancam dia terus hidup bersembunyi berpindah-pindah meski dia memiliki banyak uang dari Zevanya.


"Itu bukan urusanku lagi! aku sudah memberimu uang! dan semuanya sudah cukup sampai disitu, masalah kamu tertangkap atau tidak! aku tidak peduli"


"Anda benar-benar wanita kurang ajar dan kejam. Anda membuang saja, habis manis sepah dibuang! saya tidak tahan lagi hidup bersembunyi, saya akan mengaku saja! karena mungkin dengan begitu saya akan hidup tenang" Kata pria itu dengan bibir yang gemetar, dia tak kuat hidup bersembunyi lagi walau banyak uang ditangannya.


"HEY! jangan macam-macam ya kamu! kamu mau membongkar semuanya??jangan lupa, aku sudah membayar mahal untukmu!!" seru Zee emosi, wanita itu beranjak dari ranjang nya


"Saya tidak peduli lagi Bu, saya akan menyerahkan diri kepada polisi! ini lebih baik daripada saya harus terus bersembunyi seperti tikus bangkai seumur hidup saya" ucap pria itu serius.


"Hey!! kamu!!" teriak Zevanya


Tut.. Tut...Tut..


"Beraninya dia menutup telpon dariku?? Si*lan!" Zee melempar ponselnya ke ranjang, dia mengacak acak rambutnya dengan kesal.

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2