
...πππ...
Orang-orang disana ricuh dan mengambil foto Zayn. Mereka histeris ingin meminta foto dan tanda tangan Zayn. Zayn menatap Ray dengan penuh kemarahan, niatnya malam itu untuk menemui Tisha digagalkan oleh kelicikan Ray.
"Pak Zayn! Mari pak! Seperti nya kita harus pergi dulu!" Dion membantu Zayn untuk pergi dari kerumunan itu.
"HAH!" Zayn mendengus kesal
Ray menaiki mobil bersama Gerry meninggalkan tempat itu. Ray tersenyum penuh kemenangan, seakan-akan dia memenangkan kejuaraan internasional. Wajah bahagia nya tidak dapat di definisikan lagi. Anggap saja kali ini skor 1-0, satu untuk Ray dan nol untuk Zayn.
Tak hentinya pria itu tersenyum melihat rivalnya dari balik kaca spion mobil. "Haah.. rasakan, siapa suruh dia melawanku. Si Zayn itu masih belum sadar posisinya, dia tidak punya kesempatan. Dan meskipun ada, maka aku akan menghancurkan nya"
Gerry sedang menyetir dan berada di dalam mobil, ikut merasakan kebahagiaan Ray yang baru saja membuat Zayn skak mat.
"Ngapain kamu senyum-senyum begitu?" tanya Ray tidak senang melihat Gerry tersenyum.
"Eng-enggak pak, saya gak senyum" jawab Gerry yang langsung merubah senyuman nya menjadi wajah biasa.
Dasar pelit, senyum saja gak boleh, gak senang lihat orang ikut bahagia. pekik nya dalam hati sebal pada Presdir nya.
Ray sangat senang, dia dapat martabak gratis tanpa membayar dan dia juga berhasil mengerjai Zayn. Sekarang pria itu dan sekretaris nya sedang menuju ke rumah Tisha. Namun, ditengah perjalanan Ray menyuruh Gerry untuk turun dan menyerahkan kunci mobilnya.
"Kenapa bapak meminta saya turun?" tanya Gerry heran
"Aku akan menyetir sendiri"
"Bapak yakin?"
"Sangat yakin" jawab Ray sambil masuk ke dalam mobilnya tepat di bagian kemudi.
"Lalu saya bagaimana pak?"
"Kenapa tanya padaku? Ya kamu pulang saja sendiri"
"Bapak tidak salah kan? Saya pulang sendiri? Ini jalanan sepi pak" Gerry melihat lihat ke arah sekitarnya sepi tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Jalan ke rumah Tisha memang sepi dan jarang ada kendaraan lewat disana. Tempatnya juga agak terpencil, jauh dari jalan raya.
"Terus aku harus gimana?Apa aku harus mengantar mu pulang? Tidak tau diri sekali ya kamu" kata Ray tidak peduli keadaan Gerry. Ray menancapkan pedal gas dengan kakinya, tangannya memegang setir kemudi. Kemudian dia dan mobilnya pergi begitu saja meninggalkan Gerry sendirian disana.
Pria malang itu kebingungan, bagaimana dia akan pulang? Bagaimana dia akan mendapatkan kendaraan di tempat sepi yang seperti antah berantah itu jika pada malam hari?
"Presdir kampret!" umpat Gerry saking kesalnya dengan Ray. "Hari ini Tuhan sedang mengujiku, mungkin ini cobaan untuk naik gaji. Sabar Gerry.. sabar.. huh!" Hari itu Gerry selalu kena marah oleh presdir nya dan sudah jelas penyebabnya adalah Zayn.
Saking kesalnya Gerry, dia sampai menendang tiang listrik yang ada disana. Pria malang itu berjalan dengan gontai menuju ke arah jalan raya yang jaraknya lumayan jauh. Dan lebih sialnya lagi, dia tidak menelpon istrinya karena ponselnya kehabisan baterai.
"Mengapa nasib bawahan yang bergaji besar selalu seperti ini? Ya Tuhan..." keluh Gerry gemas pada dirinya sendiri dan pada kelakuan Ray yang membuatnya naik darah.
****
Di depan rumah Tisha, mobil Ray sudah terparkir rapi disana. Dia mengacak-acak rambut dan pakaian nya, entah apa yang akan dia lakukan dengan penampilan nya yang seperti itu.
Sambil membawa keresek berisi 2 bungkus martabak, Ray berjalan menuju ke arah pintu rumah Tisha. Ray mengetuk pintu rumah karena tak ada bel yang terpasang disana.
Tok, tok, tok
"Assalamualaikum"
CEKRET!
Pintu itu terbuka, seorang wanita dengan wajah judesnya yang membuka pintu itu. Menatapnya dengan tatapan tidak suka. Begitu pula dengan Ray, dia tidak suka melihat wanita yang membukakan pintu rumah untuknya itu.
"Kamu? Kenapa kamu ada disini?" tanya Ray sinis
"Kamu lah yang kenapa bisa ada disini?" tanya Fayra balik, dia menyilangkan kedua tangannya di dada. Mata nya memicing, menatap Ray dengan sinis.
Tidak mau berbasa-basi dan berdebat, Ray langsung menanyakan dimana keberadaan Tisha dan Rasya "Mana Tisha dan Rasya?" tanya Ray langsung pada poin utamanya.
Sebelum Fayra menjawab pertanyaan itu, Rasya sudah lebih dulu menyambut papanya. Anak laki-laki itu tersenyum lebar, dia senang dengan keberadaan Ray disana.
"Papa! Papa datang! Mama, papa datang ma!" Rasya tersenyum cerah dan dia memeluk papanya dengan wajah bahagia.
"Iya sayang, lihat nih papa bawa apa?" Ray juga menyambut putranya itu sambil menunjukkan apa yang dia bawa. Sebelum dipersilahkan oleh Fayra untuk masuk ke dalam rumah, Ray sudah masuk duluan bersama Rasya.
Fayra merasa kalau pria itu alias Ray sangat tidak tahu malu, datang ke rumah Tisha sebelum diizinkan masuk. "Huh! pria tidak tahu malu" gerutu Fayra terhadap sikap Ray
Rasya langsung memburu makanan yang dibawa papa nya. "Wah.. martabak coklat keju" Rasya mengambil makanan itu, dia menatap nya dengan tatapan penuh selera. Rasya melahap martabak itu dengan hati gembira, "Nyam nyam nyam.. enak banget pa"
"Makan yang banyak ya sayang" Ray mengelus kepala anaknya dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak boleh makan banyak-banyak, Rasya bisa sakit gigi" kata Fayra mengingatkan dengan ketus pada Ray.
Ray melirik sekilas pada Fayra lalu dia mengabaikan nya seolah Fayra tidak ada disana.
Kenapa wanita ini ada disini? Apa Zayn menyuruhnya untuk mendekati Tisha dan Rasya? Ray membatin
Woah! Zayn, jika kamu melihat ini.. saingan mu sungguh tidak tahu malu. Fayra menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap Ray
"Sayang, mama mu dimana?" tanya Ray pada putranya
"Mama ada di dapur pa, dia tau papa mau datang jadi mama siapkan minuman untuk papa" bisik Rasya pada Ray, dengan polosnya dia menjawab pertanyaan papa nya.
"Sayang, kamu harus bantu papa ya" bisik Ray pada anaknya
"Bantu apa pa?" tanya Rasya pada sang papa
Ray berbisik pada anaknya, entah apa yang dia bisikkan pada Rasya, anak itu hanya mengangguk angguk saja.
"Gimana jagoannya papa? Bisa kan?" tanya Ray sambil tersenyum pada anaknya
"Siap papa! Aku akan bantu papa" jawab Rasya sambil mengangguk-angguk. Ray mengacungkan jempolnya pada Rasya.
Pria itu beranjak dari kursinya, dia berniat menghampiri Tisha di dapur. Fayra menatap nya tajam, "Mau kemana kamu?" Fayra bertanya dengan nada ketus
Dia pasti mau mendekati Tisha lagi, tidak bisa! Harus aku cegah nih!
"Aku mau ke kamar mandi, kenapa? Mau ikut?" tanya Ray sambil melangkah pergi. Fayra hendak menyusul nya, tapi Rasya menahan Fayra dengan segala cara agar gadis itu tidak kemana-mana.
Tisha sendiri sedang berada di dapur, dia sedang menyiapkan teh untuk Ray. Teh herbal yang dia beli dari temannya untuk membuat pria itu rileks.
"Nanti aku akan memberikan teh ini padanya, teh ini akan bagus untuk kesehatan nya. Tapi teh ini harus diracik dulu, apa bi Ani bisa melakukan nya?" gumam Tisha sambil melihat sebuah kantong bertuliskan teh herbal disana.
"Pada siapa kamu akan memberikan nya?" tanya Ray yang sudah berada di belakang Tisha.
"Kak Ray?! Kamu sudah datang?" tanya Tisha menyambut Ray dengan wajah terkejut
"Kamu fokus memperhatikan kesehatan ku, makanya kamu tidak tahu aku sudah datang"
"Dih! Siapa juga yang memperhatikan kesehatan kamu? Ini minum teh nya, minum selagi hangat" Tisha mengambil cangkir berisi teh hijau itu dan memberikan nya pada Ray
"Minum nya sambil duduk" kata Tisha seperti biasanya
"Hei, kamu mau jawab? Bagaimana kalau nanti ada wanita lain yang mendekatiku? Apa kamu akan marah?" Ray duduk di kursi yang ada di dekat meja dapur itu. Tisha juga melakukan hal yang sama.
"Tergantung sikapmu" jawab Tisha singkat
"Apa?"
"Ah tidak, lupakan saja! Anggap saja aku tidak bicara apa-apa" ucap Tisha dengan wajah yang tidak tenang.
Melihat dari wajahnya, seperti nya dia tidak senang. batin Ray melihat ke arah Tisha
"Tisha, besok aku akan pergi" kata Ray bermaksud memberitahu kepergian nya pada Tisha.
Wanita itu terperangah mendengar ucapan Ray. Ray mau pergi? Apa maksud nya?
"Pergi? Kemana?" tanya Tisha penasaran
"Apa akhirnya kamu penasaran juga kemana aku akan pergi?" tanya Ray
"Kalau kamu tidak mau katakan, ya sudah" jawab Tisha dengan jaim nya
Hmph, dia sedang jual mahal dan tarik ulur lagi padaku. Tidak apa Tisha, apa yang aku lakukan dulu padamu lebih buruk dari ini. Sebenarnya aku adalah sampah yang bahkan tidak pantas untuk memohon cintamu lagi, tapi seseorang yang katanya sampah itu tetap ingin mengejar mu. Ray memaklumi semua sikap ketus dan sinis Tisha kepadanya, apa yang dia lakukan dulu lebih parah pada Tisha.
"Aku akan pergi ke Belanda" ucap Ray pada Tisha
"Aku kan tidak bertanya!" seru Tisha pada Ray
"Tapi matamu mengatakan kalau kamu ingin tau. Ya tidak apa-apa, kalau kamu tidak mau mengakuinya. Aku tidak akan memaksa" Ray tersenyum santai dan sabar menghadapi Tisha.
Tisha masih menyangkal, apa yang ada di mulutnya tidak sinkron dengan apa yang ada di dalam hatinya, "Aku tidak ingin tau"
"Aku akan pergi selama beberapa hari" kata Ray pada Tisha.
Sebenarnya aku hanya pergi dua hari saja.
"Jadi?" tanya Tisha berusaha tidak peduli
__ADS_1
"Jadi.. aku akan mengirim bi Ani kesini untuk menjaga Rasya. Kamu kan harus pergi bekerja? Dan kamu jangan kangen sama aku ya"
"Iyah" jawab Tisha dengan wajah yang sedih
"Senyum dong, bukannya kamu senang ya aku pergi dan tidak akan menganggu kamu selama beberapa hari ini?" tanya Ray menyindir wanita yang ada di depannya itu
"Tidak ada hal yang membuatku senang, jadi kenapa aku harus senyum" jawab nya ketus seperti biasanya.
"Jadi kamu mengakui kalau kamu sedih, kan? Sudahlah ngaku saja" Ray tersenyum penuh percaya diri bahwa Tisha mengkhawatirkan nya
"I-iya.. aku sedih, karena kamu tidak akan ada mengganggu ku dan Rasya selama beberapa hari. Rasya juga pasti akan menanyakan papa nya terus" Tisha bicara sambil memalingkan wajahnya, dalam hatinya dia sangat sedih karena Ray harus pergi ke Belanda.
Pria itu tersenyum, dengan sengaja dia menarik tangan Tisha. Hingga tubuhnya kini duduk dipangkuan Ray, tangan kekar itu juga melingkar di pinggang nya.
"Kak! Kak Ray apa yang kamu lakukan?!" tanya Tisha
"Besok kan aku akan pergi, apa aku gak boleh minta pelukan dari kamu dulu?" Ray berucap dengan manja.
"Pelukan?!" Tisha terpana mendengar nya
"Aku akan merindukan mu, jadi biarlah malam ini aku memeluk kamu. Malam ini aja, please..." Ray memohon pada Tisha, untuk membiarkan dia memeluk Tisha.
"Kamu itu ya..."
"Memangnya kamu tidak akan rindu padaku? Kita tidak akan bertemu selama beberapa hari loh" kata Ray sambil menatap Tisha dengan lembut.
GLEK
Tisha menelan saliva nya, dia tidak bisa menyangkal atau mengakui bahwa dia akan rindu pada pria itu. Jadi dia memilih diam saja dan tidak menjawab.
"Ba-baiklah, peluk saja! Tapi hanya boleh tiga detik" kata Tisha mengingatkan pada pria itu, dia tidak boleh memeluknya lebih dari tiga detik.
Pelan-pelan Ray melingkarkan tangannya dan mendekap tubuh Tisha dengan lembut. "Selama aku pergi, jagalah anak kita baik-baik. Dan, kamu jangan selingkuh dariku" Ray mengingatkan Tisha
"Se-selingkuh?! Siapa yang--"
"Dengarkan aku dulu! Aku belum selesai bicara. Selama aku pergi, jangan dekat-dekat dengan pria lain, jaga mata dan hatimu untukku"
Jaga mata dan hatiku? Aku selalu menjaganya kak, aku selalu mencintai mu bahkan sampai saat ini. Tidak ada pria lain di hatiku selain kamu. Aku hanya mencintai kamu kak, walau orang orang bilang aku adalah wanita yang bodoh, karena mencintai orang yang sudah menyakiti ku berulang kali. Tapi.. aku tetap cinta.
"Lalu.. aku berharap kamu dan Rasya akan baik-baik saja" Ray mengusap punggung Tisha dengan lembut.
"Ehem! Su-sudah selesai, sudah lebih dari tiga detik" Tisha mendorong Ray, dia berdiri dari pangkuan nya.
"Kamu sudah mendengar nya kan? Aku sudah mengingatkan mu, kalau kamu dekat dengan pria lain, aku akan membawamu ke penghulu saat itu juga!" kata Ray tegas
"Mau apa kamu membawaku ke penghulu?!" tanya Tisha keheranan
"Tentu saja menikah, apa lagi?" jawab Ray dengan mudahnya mengatakan menikah
Deg!
Menikah? Aku dan kak Ray menikah kembali? Apa itu mungkin?. Batin Tisha yang hatinya merasa deg degan
"Jangan bicara sembarangan, aku mau samperin Rasya dulu" kata Tisha dengan wajah nya yang memerah. Dia meninggalkan Ray sendirian disana.
"Huh! Jelas-jelas dia malu, tapi tidak mau mengaku. Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil tindakan pencegahan" Ray mengambil ponsel yang ada di dalam saku jas nya. Dia menekan tombol panggilan untuk Gerry.
Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif...mohon tunggu beberapa saat lagi.
"Kemana si Gerry? Mengapa telpon nya tidak aktif? Dia pasti sedang bermalas-malasan di rumah nya kan?" gerutu Ray kesal pada Gerry, "Aku sudah bilang padanya untuk selalu mengaktifkan ponselnya! Dasar sekretaris bodoh! Apa aku harus mengirim nya ke kutub Utara biar dia tau rasa?!" Ray marah karena ponsel Gerry tidak aktif
Sementara orang yang dibicarakan nya itu masih luntang lantung di jalanan mencari kendaraan yang lewat.
"Kenapa kuping ku panas ya?" Gerry memegang kuping kirinya yang terasa panas secara tiba-tiba. "Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini!" Gerry menggerutu sepanjang jalan karena belum menemukan kendaraan yang bisa dia tumpangi disana.
...---***---...
Hai Readers! Please komen, like nya ya jangan lupa ππ
Sambil nunggu up novelku, mampir yuk ke novel temanku..
Mampir juga ke novel baruku,yang akan release 24 Januari 2022 πβΊοΈ
__ADS_1