
...Sepinya hari yang ku lewati...
...Tanpa ada dirimu menemani...
...Sunyi kurasa dalam hidupku...
...Tak mampu aku 'tuk melangkah...
...Masih kuingat indah senyummu...
...Yang selalu membuatku mengenang mu...
...Terbawa aku dalam sedihku...
...Tak sadar kini kau tak di sini...
...Engkau masih yang terindah...
...Indah di dalam hatiku...
...Mengapa kisah kita berakhir...
...Yang seperti ini...
...Masih kuingat indah senyummu...
...Yang selalu membuatku mengenang mu...
...Terbawa aku dalam sedihku...
...Tak sadar kini kau tak di sini...
...Engkau masih yang terindah...
...Indah di dalam hatiku...
...Mengapa kisah kita berakhir...
...Hampa kini yang kurasa...
...Menangis pun 'ku tak mampu...
...Hanya sisa kenangan terindah...
...Dan kesedihanku...
...πππ...
Keadaan Ray yang terlihat menyedihkan, menyadarkan Zayn kalau Ray sangat mencintai Tisha dan anaknya yang belum lahir ke dunia.
Kematian Tisha membuat hati Ray seolah sudah mati, tingkahnya menjadi seperti orang yang kadang waras dan kadang tidak. Tepat setelah selesai pemakaman dan doa, satu persatu orang mulai pergi meninggalkan tempat pemakaman itu. Termasuk Grace, Sam, Gerry dan Anna istrinya yang ikut melayat.
Kini nisan bertuliskan nama Tisha, Bu Fani dan Arya tertulis disana. Mereka di makamkan dengan layak dan berdampingan. Zayn merasa bersalah telah menyembunyikan keberadaan Tisha juga kebenaran Tisha yang masih hidup pada Ray dan semua orang.
Namun Zayn tidak punya pilihan lain, ia Han menjalankan amanah terakhir Bu Fani dan Arya untuk menjauhkan Tisha dan Ray selamanya. Amanat itu sangat kejam untuk Ray, pria yang sangat mencintai Tisha melebihi dirinya sendiri.
Ray, mantan suami Tisha, yang sudah memperlakukan Tisha dengan dingin selama Tisha menikah dengannya. Pria itu menangis meraung-raung setelah kehilangan Tisha dan calon anak mereka. Meninggal dalam keadaan tubuh terbakar hangus sampai tidak bisa di kenali, siapa yang tidak akan menangis sedih? mungkin ada beberapa orang yang senang dengan meninggalnya Tisha.
Saat semua orang sudah pulang dari pemakaman itu, hanya Zee yang masih berada disana. Zee tersenyum puas melihat Nisan bertuliskan Latisha Anindita.
"Sayang sekali, kamu dan anakmu harus mati dengan mudah. Alur cerita nya jadi tidak seru lagi dong? mungkin pemeran utamanya adalah aku bukan kamu. Aku berjanji padamu Tisha, aku akan menikah dengan Ray bagaimana pun caranya?!! kamu yang sudah mati tidak akan bisa menghalangiku! " Zee tersenyum penuh kemenangan, dengan tidak sopan tanpa perasaan takut karma, gadis itu meludahi nisan Tisha.
Zee pergi meninggalkan pemakaman itu dengan hati bahagia, namun ia tetap berpura pura sedih di depan semua orang yang melihatnya. Terutama di depan keluarga Argantara.
***
Zayn berada dalam mobil bersama Farhan. Farhan menatap Zayn yang sedang melamun entah memikirkan apa.
Aku harus bagaimana? jika Tisha tetap berada di kota ataupun negara ini, Ray akan segera menemukan nya. Setelah itu aku tidak bisa menjaganya lagi, haruskah aku pergi keluar negeri? Sudah susah payah aku membuat cerita kematian Tisha dan menutupi semuanya, kalau ketahuan dia semuanya akan hancur.
Zayn tau kalau Ray bukanlah orang bodoh, koneksi dan kekuasaan di kota dan negara itu sangat besar. Cukup besar untuk menggoyahkan Tisha dan Zayn, Ray bisa menemukan Tisha dan mengetahui kebenaran nya dengan mudah. Zayn bingung akan membawa Tisha kemana, supaya Ray tidak bisa menemukannya lagi. Hal yang paling membuat Zayn khawatir adalah ketidakpercayaan Ray pada kematian Tisha.
__ADS_1
"Zayn, kenapa kamu melamun?" Tanya Farhan penasaran
Apa dia masih sedih karena kehilangan gadis itu? makanya dia seperti ini? tapi syukurlah dia tidak seperti pak Raymond yang terlihat seperti orang gila.
"Zayn!!" teriak Farhan pada Zayn yang masih tenggelam dalam lamunannya itu.
"Ah ya kak Farhan?" tanya Zayn sambil melihat ke arah Farhan yang sedang menyetir.
"Kamu pasti sangat sedih ya? yang tabah ya Zayn" Farhan menghibur Zayn
Ah ya benar, disana kan ada keluarga ku yang bisa membantu menjaga Tisha. batin Zayn yang baru kepikiran kalau ada satu anggota keluarga nya ada di Amerika.
"Kak.. aku mau mengambil tour ke Amerika!" seru Zayn penuh keyakinan
"A-apa? bukankah kamu baru saja berduka, Zayn? tour ke Amerika? bukankah ini terlalu tiba-tiba?"
Farhan terkejut dan heran karena Zayn tiba-tiba ingin melakukan tour musik ke Amerika. Padahal Zayn sudah pernah menolaknya dengan alasan ingin bergelut di negeri sendiri. Lalu kenapa tiba-tiba ia ingin pergi?
"Kak, aku mau memberitahu kakak sesuatu. Aku percaya kakak bisa menjaga rahasia, karena kakak orang terdekat ku jadi kakak harus tau" Zayn terlihat serius
"Apa hal itu adalah alasan kamu tiba-tiba ingin ke Amerika?" tanya Farhan
"Iya kak, kakak harus berjanji untuk menjaga rahasia ku"
"Aku kan keluarga mu juga, kamu tidak perlu sampai meminta hal seperti ini, Zayn. Aku pasti merahasiakan nya" jelas Farhan sambil tersenyum yakin
"Kalau begitu, ayo kita ke apartemen ku kak!" seru Zayn pada Farhan
Farhan dan Zayn sampai di depan pintu apartemen Zayn. Di dalam apartemen itu ada seorang wanita berjas putih menyambut kepulangan nya.
"Pak Zayn, anda sudah pulang?" tanya wanita itu ramah
"Jadi ini yang kamu sembunyikan di apartemen mu? pacarmu ini tidaklah sedikit tua, Zayn?" bisik Farhan yang mengira wanita yang berjas itu adalah pacar Zayn
"Kakak kalau ngomong suka sembarangan deh! ini dokter Wulan, dia dokter spesialis kandungan" Zayn memperkenalkan dokter itu pada Farhan
"Dokter kandungan?! Zayn apa kamu menghamili seorang wanita? jadi ini yang kamu suruh kakak untuk merahasiakannya??!" Farhan terkejut sendiri, dia berfikir yang bukan-bukan.
Mereka bertiga masuk ke kamar Zayn. Alangkah kagetnya saat Farhan melihat seorang wanita terbaring diatas ranjang, dengan selang infus, perban di kepala dan tangan.
Farhan lebih kaget lagi saat memperhatikan wajah gadis itu dari dekat. "Astagfirullah hal adzim!! Zayn.. apa ini.." Farhan ternganga kehabisan kata-kata, ia melihat Tisha yang baru saja ia saksikan pemakaman nya.
"Ini benar kak, dia benar-benar Tisha." jawab Zayn singkat, pria itu menghela napas.
"Ya Allah Zayn! sebenarnya apa yang terjadi? aku punya banyak pertanyaan di kepalaku saat ini Zayn?!" Farhan memegang kepalanya, ia tak percaya kalau Tisha masih hidup.
Apa yang sebenarnya terjadi? Farhan kaget dan bingung
"Ya kak, akan aku jelaskan semuanya pada kakak. Tapi sebelum itu aku akan menanyakan kondisi Tisha pada dokter Wulan dulu" Zayn melirik ke arah dokter Wulan, mengisyaratkan agar dokter itu menjelaskan kondisi Tisha.
Dokter Wulan mengangguk, "Kondisi Bu Latisha masih sama pak Zayn, belum ada kemajuan sama sekali. Dan tentang bayinya, Alhamdulillah baik baik saja. Namun, saya tidak yakin jika Bu Latisha tetap seperti ini dan belum sadar dari koma, mungkin saja nyawa bayinya juga terancam"
"Astagfirullah.." gumam Zayn sedih mendengar penjelasan dari dokter tentang kondisi Tisha yang masih sama. Kondisi yang masih berada dalam status koma.
Kini giliran Zayn menjelaskan pada Farhan tentang bagaimana situasi ini bisa terjadi. Zayn menceritakan dari awal hingga akhir sejelas-jelasnya pada Farhan dan tidak ada yang ia tutupi.
"Jadi amanat Almh. Bu Fani dan Alm. Pak Arya seperti itu? mereka menitipkan Tisha padamu dan mengatakan untuk menjauhkan pak Ray darinya?" tanya Farhan sekali lagi
"Iya kak, jadi inilah alasan ku ingin membawanya ke luar negeri. Sekalian mengobati nya" jelas Zayn singkat
"Baiklah Zayn, aku tidak akan menghalangi mu. Aku juga pasti akan merahasiakan ini, tapi kamu harus tetap berhati-hati karena kamu adalah publik figur. Sembunyikan Bu Tisha dengan baik, jangan sampai ketahuan" Farhan mendukung semua keputusan Zayn, Farhan sangatlah pengertian.
"Aku tau kakak akan mengatakan ini. Kakak kan sangat pengertian. Terimakasih kak" Zayn tersenyum senang dengan keputusan Farhan yang setuju padanya.
Zayn pun melihat Tisha yang masih terbaring di ranjang nya. Zayn memegang tangan Tisha dengan lembut. "Tisha, aku akan menjaga kamu dan anak kamu. Kamu tenang saja ya dan cepatlah sadar Tisha..." ucap Zayn cemas, matanya menatap Tisha yang masih berada di atas ranjang.
πππ
Sepulang dari pemakaman, Ray dibawa ke rumah besar keluarga Argantara karena kekhawatiran pak Faisal dengan kondisi cucunya.
Dan benar saja, Ray terlihat seperti kehilangan akal sehatnya."Kakek kenapa kakek bawa aku kesini? aku kan punya rumah sendiri. Tisha juga sudah menungguku disana bersama anak ku. Aku harus pulang" ucap Ray pada pak Faisal.
__ADS_1
"Cukup Raymond! kamu harus menerima kenyataan!!" teriak pak Faisal kesal dengan khayalan Ray tentang Tisha yang sudah tiada
"Pah tenang pah, jangan teriak-teriak gitu. Nanti jantung papa kumat" Dean mengingatkan papanya
"Raymond! kamu pergilah ke kamar mandi bersihkan kepala dan seluruh tubuhmu dengan air dingin! supaya kamu sadar kalau mantan istri dan anakmu itu sudah tiada!" Pak Faisal sedih bercampur kesal melihat Ray hanya menatap kosong.
"Kakek ngomong apa sih? udah ah aku mau pulang, istri sama anakku udah nunggu di rumah" ucap Ray kerasa kepala.
Dean, Daniah dan kedua anaknya senang melihat Ray dalam kondisi terpuruk.
Setelah itu Ray menjalani hari-hari nya di rumah, dan untuk sementara waktu perusahaan di pegang oleh Armand, anak sulung Dean dan Daniah.
Setiap hari kerja Ray hanya tidur, minum-minum, merokok. Kadang ia membayangkan sosok Tisha berada di rumah yang hanya ada dirinya disana.
" Tisha, apa kau sudah selesai menghukum ku? cepatlah pulang! aku menyesal, aku menyesal sudah bersikap dingin padamu selama ini. Amu janji jika kamu kembali dengan anak kita, aku akan membahagiakan kamu dan anak kita. Aku mohon cepatlah pulang.." Ray menangis, inilah keadaan saat ia sadar kalau Tisha sudah tiada. Dan tak lama kemudian ia mulai bicara sendiri seolah Tisha ada disana.
"Latisha! aku ingin nasi goreng! buatkan aku nasi goreng dan ayam panggang, aku sedang mau itu. Latisha.. lihat aku, aku sedang meminum minuman ini? minuman yang kamu larang. Ayo marahi aku, cerewet lah padaku.. hahaha" Ray tertawa sendiri.
Ray berjalan sempoyongan sambil membawa botol minuman yang sudah habis.
Tak sengaja Ray menjatuhkan botol itu hingga jatuh dan pecah ke lantai.
PRANG!!!
Pecahannya berserakan dimana-mana, terinjak-injak oleh Ray sampai kakinya terluka. Namun ia tak peduli sama sekali, bahkan mungkin ia tidak merasakan apa-apa.
Lantai yang dilewati Ray, banyak noda darah disana. Rumah nya tampak berantakan sama seperti pemiliknya. Hari itu bi Ani datang seperti biasanya untuk membereskan rumah, ia kaget melihat Ray yang sedang rebahan di lantai, dan telapak kaki Ray berarah darah.
"Astagfirullah hal adzim! tuan muda! tuan muda tidak apa-apa?" Bi Ani cemas dan langsung menghampiri Ray yang terlihat tidak sadarkan diri itu.
"Bi Ani?" Ray langsung duduk di lantai, ia tersenyum pada pembantu rumah tangga nya itu.
Bi Ani merasa kasihan pada Ray yang kondisinya sangat tidak baik seperti orang yang sudah seperti terkena gangguan jiwa. Ia berusaha membujuk Ray agar kakinya mau diobati.
Dengan susah payah bi Ani membujuk Ray, ia membalut luka di kaki Ray dengan perban. Setelah itu Bi Ani mulai membersihkan rumah, kekacauan yang ada disana.
Nyonya , tolong bantulah tuan supaya tuan bisa bangkit dan semangat lagi. Kasihan tuan.
Ting tong! Ting tong!
π΅π΅π΅
Bell rumah berbunyi, Bi Ani langsung membuka pintu rumah itu. Terlihat Sam dan Grace ada disana.
"Maaf bi, Ray nya ada?" tanya Sam
"Ada tuan Sam, tapi.. keadaannya..." Bi Ani menundukkan kepalanya dengan sedih. Bi Ani tidak tahu bagaimana cara nya mendeskripsikan keadaan Ray saat ini.
Sam dan Grace seperti nya sudah mengerti apa yang terjadi pada Ray. Mereka masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan nya secara langsung
"Ternyata pak Gerry benar, kamu benar-benar kacau" gumam Sam pada sahabatnya yang sekarang berpenampilan seperti pengemis itu sedang minum minum di kursi ruang tengah rumahnya.
"Mau sampai kapan kamu begini terus Ray? kamu ingin menghancurkan hidupmu?" tanya Grace prihatin dengan kondisi Ray yang tampak menyedihkan dimatanya setelah kepergian Tisha.
"Kenapa kalian kemari? mau menertawakan ku?" tanya Ray sambil tersenyum sini, inilah Ray saat dalam keadaan warasnya. Ray hendak mengambil botol minuman keras nya.
Sam mengambil botol itu dari tangan Ray, ia tak mau temannya terus berlarut-larut dalam kesedihannya. "Cukup Ray! kamu bisa mati kalau terus-terusan seperti ini!"
"Berikan padaku, Sam!" Ray marah pada temannya yang mengambil botol berisi minuman alkohol itu.
"Ray, apa kamu pikir dengan kamu yang seperti ini? Tisha dan anakmu bisa kembali? jangan bodoh Ray, Tisha dana anakmu hanya akan sedih di surga sana. Kelakuan mu ini sudah membuat mereka malu! bukannya mendoakan mereka agar tenang, kamu malah seperti ini!" Grace melemparkan kata-kata pedasnya pada Ray.
"Apa maksudmu aku harus mendoakan mereka di surga sana? Hey! itu jika Tisha dan anakku sudah tiada! Tapi aku tidak akan melakukan itu karena mereka masih hidup!" seru Ray setengah berteriak, keyakinan nya masih sama bahwa Tisha masih hidup dan sedang bersembunyi darinya.
Mata Ray berderai oleh air, setelah langit seolah telah runtuh.
"Ray.. ikhlaskan mereka Ray.. ikhlaskan.." Sam menepuk pundak Ray seraya menenangkan nya.
"Aku akan menunggu nya pulang, tidak peduli berapa lama aku menunggu! aku akan tetap disini sama Tisha dan anakku pulang!" Ray menangis mengingat Tisha dan bayi mereka yang belum lahir.
Grace dan Sam menatap Ray dengan sedih, mereka tak menyangka kalau Ray akan sehancur ini.
__ADS_1
...---***---...