Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 116. Ray manja


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Malam itu, Tisha berada di teras rumah setelah anak nya tidur. Dia kebingungan dengan siapa yang akan menjaga Rasya ketika dia pergi ke kantor untuk penandatanganan kontrak. Apa Tisha titipkan saja anak nya pada Ray?


Rasanya tidak mungkin karena Ray juga pasti sibuk bekerja. Kalau dititipkan pada pak Faisal atau bi Ani, dia takut kalau Daniah akan berbuat sesuatu pada Rasya. Tisha masih menaruh curiga pada Daniah dan Dean, takutnya mereka akan berbuat jahat pada Rasya.


"Apakah aku bawa saja ya?" gumam Tisha bingung


"Bawa apa?" tanya Ray yang tiba-tiba sudah berdiri di depan nya


"Kak Ray? kenapa tiba-tiba kamu ada disini?" tanya Tisha sambil beranjak dari tempat duduknya


"Bukannya tiba-tiba.. apa kamu tidak dengar suara mobilku?" tanya Ray sambil duduk mendekati Tisha, dia melonggarkan sedikit dasi nya.


Dia terlihat sangat lelah, apa dia baru pulang kerja dan langsung kemari? Tisha melihat Ray yang terlihat lelah.


"Duduklah dulu disini, aku akan buatkan teh" titah gadis itu kepada Ray, mempersilakan Ray duduk di kursi teras rumahnya.


"Makasih. Tapi, kamu gak mau aku masuk ke dalam rumah?" tanya Ray dengan senyuman di wajah lelahnya


"Tidak baik perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim berada di dalam satu atap malam-malam begini" Tisha menasehati


"Jadi.. kalau siang boleh?" tanya Ray seraya menggoda Tisha, dia duduk di kursi teras depan rumah


"Ten-tentu saja tidak boleh juga! sudah lah, aku mau ambil teh dulu" Tisha bicara dengan gaya jaim nya


"Makasih atas perhatiannya ya" Ray tersenyum senang dengan perhatian Tisha padanya


"Ini bukan perhatian, tapi kewajiban seorang tuan rumah kepada tamunya"


"Oh gitu ya? aku iya in aja deh biar cepat" Ray lagi-lagi menggoda Tisha dengan kata-kata nya


"Terserah!" ucap nya sambil melangkah, kemudian dia menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Ray


"Ada apa lagi? kamu merindukan ku? bahkan baru beberapa detik saja" Ray tersenyum seksi pada Tisha.


Curang! bagaimana bisa wajah setampan itu menggoda orang? Jangan terjerumus Tisha, jangan.. batin Tisha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


"Jangan bicara sembarangan! aku kesini lagi karena mau tanya pada kakak, apa kakak sudah makan malam?" tanya Tisha


"Sudah kuduga, kamu cemas kan padaku?" bukannya menjawab, pria itu malah semakin menggoda Tisha dengan tidak tahu malu.


"Di mohon untuk jangan keluar dari topik, aku kan sedang bertanya...kamu sudah makan malam atau belum? terus, makanan tadi pagi sudah habis belum?" Tisha mengomeli pria itu, dalam hatinya dia sangat memperhatikan Ray. Dia tau kalau Ray telat makan maag nya akan kambuh, dia khawatir kalau Ray akan sakit


Tisha..Tisha, kenapa sulit sekali untukmu mengakui kalau kamu memang cemas padaku? . Ray tersenyum memandang ke arah Tisha


"Kamu bisa serius gak sih? aku lagi tanya!" seru Tisha kesal


"Makanan tadi sudah habis, terus aku juga belum makan malam" jawab Ray serius


"Nah gitu dong, jawab nya benar. Kalau begitu aku bawakan teh dan makan malam nya sekalian"


"Tidak perlu" tangan Ray memegang Tisha dengan erat

__ADS_1


"Ada apa?" Tisha tidak menolak ketika Ray menggenggam tangannya, dia melihat pria itu dengan tatapan cemas


"Aku kedinginan, aku lelah" Ray menatap wanita itu dengan tatapan nanar


"Kakak kedinginan? aku akan bawakan selimut dan teh hangat biar kamu gak kedinginan"


"Gak usah, aku punya cara agar tubuhku kembali hangat" Ray tersenyum


"Kamu jangan macam-macam ya" Tisha memicing menatap Ray dengan curiga


GREP


DUK


Ray menarik Tisha hingga tubuhnya terduduk di kursi teras tepat disebelah pria itu. Kemudian Ray bersandar di bahu Tisha sambil memegang tangannya.


"Kamu.. modus lagi!" Tisha kesal


"Begini sudah cukup hangat, sebentar saja.. kumohon biarkan seperti ini" pinta Ray dengan suara lembutnya.


"Kakak ini..." Tisha menghela napas, dia tidak menolak sentuhan dari mantan suaminya itu. Tisha malah berniat membalas pelukan Ray, namun dia mengurungkan niatnya kembali.


"Ray.." Ray menyebut namanya sendiri


"Kakak bilang apa?" tanya Tisha pada pria yang bersandar di bahu nya itu


"Aku mau dipanggil Ray" pinta Ray


"Kak..."


"Bukan kak, tapi Ray. Aku ingin sekali saja mendengar kamu memanggil namaku, tanpa kata awalan" pinta Ray memohon pada Tisha


Tisha menolak memanggil pria itu dengan namanya, kemudian dia berkata "Jangan manja deh"


"Aku mohon.. panggil namaku, mungkin perasaan ku akan jadi lebih baik" ucap nya dengan suara pelan


"Memangnya ada sesuatu yang terjadi di kantor?" tanya Tisha yang mulai cemas mendengar suara lemah Ray, suara yang agak parau seperti kelelahan


"Ya, banyak yang terjadi. Makanya aku butuh asupan semangat...pelukan kamu saja sudah cukup"


"Melihat sikap kakak seperti ini, kakak terlihat seperti Rasya yang merengek minta dibelikan permen" Tisha mengelus kepala Ray perlahan-lahan.


"Terserahlah kamu mau menganggap ku manja seperti Rasya atau tidak, yang penting kamu memelukku dan aku mendapatkan apa yang ku mau" kata Ray sambil tersenyum


"Hanya hari ini saja, aku akan membiarkan kamu.. haaahh.." Tisha menghela napas, dia ingin menghibur Ray yang terlihat lelah itu


"Ray.. panggil juga namaku" rengek nya manja


"Sudah di peluk masih minta lebih, huh!" gerutu nya sebal


"Kumohon.." Ray menatap gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca. Tisha tidak bisa mengatakan tidak setelah melihat Ray merengek dengan wajah yang mengingatkan nya kepada Rasya.


"Baiklah, Ray" ucap nya pelan

__ADS_1


"Yang keras manggilnya" protes pria itu


"Banyak nawar ya?" keluh Tisha


"Cepatlah! aku gak bisa lama-lama disini, besok aku harus bekerja"


"Raymond.. RAY! puas!!" ucapnya setengah berteriak


"Yang lembut dong bilangnya"


Kenapa dia banyak maunya?. batin Tisha terheran-heran dengan sikap manja Ray padanya


"Ray"


"Tisha" Ray memeluk Tisha, dia senang karena Tisha memanggil namanya tanpa ada kata kakak di sana.


Setelah itu Tisha segera melepaskan pelukan Ray, dia mengambil teh untuk Ray. Ray menolak makan malam karena dia sudah makan bersama kliennya.


Malam itu Tisha mengatakan pada Ray bahwa dia akan mulai pergi ke kantor tempatnya bekerja besok, dia bingung mau menitipkan Rasya pada siapa.


"Besok, kamu mau penandatanganan kontrak saja kan?" tanya Ray pada Tisha


Gerry bilang kalau Tisha bekerja di perusahaan Apparel desain, perusahaan yang akan menjadi mitra kerjasama ku. Itu berarti kita akan bertemu lagi besok.


"Iya, seperti nya aku akan membawa Rasya saja ke kantor. Aku harap bos baru ku tidak keberatan" gumam Tisha sambil menyeruput teh hangat nya pelan-pelan.


"Kenapa dibawa? bukannya dia sudah mulai sekolah?" tanya Ray heran


"Dia mulai sekolah hari Senin" jawab Tisha


Ray tersenyum santai lalu dia berkata, "Ya sudah biar aku saja yang membawanya"


"Eh? dibawa ke kantor? apa dia tidak akan mengacau?" tanya Tisha terkejut


"Mengacau apanya? Rasya kan anak baik, dia tidak akan mengacau. Ya kalaupun dia mengacau, dia kan anakku" jelas Ray tidak keberatan


"Kakak tidak tau saja dia seperti apa kalau berada di luar ruang lingkupnya" kata Tisha sambil tersenyum dan menggeleng geleng


"Aku akan tetap membawanya" ucap Ray mantap membawa Rasya ke kantor nya


"Baiklah, kalau dia mengacau atau berbuat nakal. Berjanjilah kakak tidak akan memarahinya dengan keras" Tisha melirik tajam ke arah Ray, mengingatkan pria itu jika Rasya berbuat nakal jangan memarahinya dengan keras


Rasya itu kelihatan nya saja tenang di luar, tapi sebenarnya dia adalah anak yang super aktif kalau berada di tempat asing dan membosankan, apalagi kantor.


"Tenang saja aku tidak akan marah, apapun yang dilakukan anakku.. dengan senang hati aku terima" Ray berlapang dada dan santai


"Oke, kalau begitu aku titip Rasya pada kakak. Jangan mengeluh padaku kalau nanti Rasya berbuat ulah" Tisha tersenyum sendiri


"Memangnya anakku bisa senakal apa sih sampai kamu bilang begini?" tanya Ray yang beranggapan kalau Rasya adalah anak kalem dan santai.


"Kita lihat saja besok ya kak" jawab Tisha singkat


Kemudian, keesokan harinya..

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2