Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab. 200. Menuju bahagia


__ADS_3

Setelah Fayra melahirkan, Derrick melamar wanita itu untuk menjadi istrinya. Dia juga bersedia menjadi ayah untuk anaknya dan mencintai mereka dengan tulus.


Walaupun Sam tidak jadi menikahi Fayra, dia tetap melakukan tanggungjawab nya sebagai ayah kandung dari bayi nya Fayra. Sam memberikan Fayra dan anaknya semua kebutuhan yang dibutuhkan oleh mereka berdua. Dia tidak lepas dari tanggungjawab nya, meski dia tau bahwa kesalahannya pada Fayra sangat besar, dia mencoba menebusnya dengan segala cara. Fayra juga mencoba memaafkan Sam, walau hatinya masih berat untuk memberikan maaf untuk pria itu.


Grace dan Milena juga turut andil membantu Fayra mengurus bayi kecil itu seperti sebuah keluarga bahagia. Bayi kecil itu dipanggil baby Al, nama lengkapnya adalah Alexander Estian Mackie, mengambil nama belakang dari nama Derrick. Pernikahan Derrick dan Fayra akan dilaksanakan setelah baby Al berusia 2 bulan. Mereka sudah sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Grace dan Sam juga membantu persiapan pernikahan Fayra dan Derrick.


Sementara Tisha, kehamilan nya sudah mau menginjak 9 bulan. Perutnya sudah semakin membesar, tinggal menunggu lahiran saja. Ray dan Rasya tidak sabar ingin segera menyambut keluarga baru mereka.


"Ma, baby Al sangat lucu ya ma?" Rasya duduk disamping mama nya yang sedang makan buah-buahan.


"Iya dia sangat lucu, tapi sayangnya dia mirip dengan papa nya," ucap Tisha sebal karena baby Al bukan mirip Fayra tapi mirip Sam.


"Gak apa-apa dong mirip si Sam juga, dia kan ayahnya," Ray ikutan nimbrung bersama istri dan anaknya.


"Aku lebih suka kalau baby Al mirip kak Fayra, pasti dia akan sangat imut," ucap Tisha sambil mengunyah buah pisang dengan lahapnya.


Ray mengusap noda buah di pipi dan sudut bibir istrinya. "Kamu belepotan sayang,"


"Makasih sayang," Tisha tersenyum manis pada suaminya.


"Ma, pa, kapan dede bayinya keluar ya?" Rasya bersandar pelan di perut mama nya yang sudah besar itu. Dia tak sabar menantikan adiknya lahir ke dunia.


Tisha tersenyum sambil mengelus rambut Rasya, "Kalau perkiraan dokter sih harusnya satu minggu lagi,"


"Oh jadi seminggu lagi? Aduh, gimana ini?" gumam Ray dengan suara pelan, dia terlihat bingung.


Rasya langsung ceria mendengar ucapan mama nya. Dia tak sabar ingin melihat adiknya dan segera bermain dengannya. "Asik! Beneran pa? Ma? Aku bisa lihat dedek bayi secepatnya! Dia pasti akan lucu dan tampan seperti baby Al,"


"Sayang, kita kan gak tau bayinya laki-laki atau perempuan. Kok kamu ngomongnya gitu sih?" Tisha heran dengan keyakinan Rasya bahwa adiknya adalah laki-laki.


"Aku kan udah bilang kalau aku mau adik laki-laki, berarti adiknya pasti laki-laki!" Rasya tersenyum semangat penuh keyakinan.


"Tapi papa maunya adik bayi perempuan tuh," ucap Ray sambil menyilangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Gak bisa pa, adiknya pasti laki-laki! Aku gak mau adik perempuan!" Seru Rasya.


Akhirnya anak dan ayah itu malah berargumen tentang bayi yang belum lahir. Ray ingin anak perempuan yang lucu dan imut seperti Tisha, sementara Rasya ingin adiknya laki-laki, dia tidak mau mempunyai adik perempuan yang menurut dia sangat meresahkan.


"Papa, bayinya pasti laki-laki pa!"


"Rasya sayang, bayinya pasti perempuan. Kamu gak lihat ya mama kamu cantik dan sering berdandan. Pasti bayinya perempuan dong, kamu harus terima itu!" Ray tidak mau kalah dari anaknya.


"Anak perempuan itu nanti menye-menye pa kaya si Maura," Rasya kesal ketika dia mengingat Maura.


"Oh gitu ya? Bukannya kamu suka main sama dia, walaupun kamu selalu bilang kalau dia menye-menye ya? Itu artinya kamu suka sama dia kan dan kamu suka adik perempuan kan?" tanya Ray dengan tatapan tajam pada anaknya.


"Aku gak suka sama Maura! Aku juga gak suka adik perempuan!" Rasya menatap ke arah papa nya dengan kesal. Wajah Rasya memerah ketika nama Maura disinggung oleh Ray.


Maura? Aku suka dia? Gak, aku gak suka dia!


"Woah nak, beraninya kamu menatap papa mu seperti itu? Bola matamu seperti akan keluar saja!" Seru Ray kesal.


Dia dan anaknya saling bertatapan tajam, beradu argumen tentang anak laki-laki dan anak perempuan. Tisha dibuat pusing oleh kedua pria yang sedang berdebat itu.


Wanita hamil itu berjalan menuju ke kamar, dia sudah sangat lelah dan ngantuk ingin segera memeluk bantal juga guling di ranjang empuknya.


"Tuh kan gara-gara papa, mama jadi marah!"


"Kamu ini ya, ini semua gara-gara kamu!" Ray mencubit gemas pipi anaknya itu.


"Papah.. ish.. sakit papa!" Rasya cemberut. Tak lama setelah itu mereka tertawa-tawa bersama, memang kalau bertengkar mereka tak pernah lama. Selalu cepat berbaikan dan kembali seperti semula.


Malam itu Tisha dan Ray tidur di ranjang yang sama seperti biasa. Ray tampak tertidur pulas, sementara Tisha terbangun di tengah malam. Dia merasakan gerakan di perutnya yang lebih aktif dari biasanya.


Si bayi menendang dengan kuat dan membuatnya kesakitan. Dia sudah kesulitan untuk tidur dengan beragam posisi. "Huhh.. haahh.. kamu kenapa sayang? Ada apa menendang terus? Apa kamu mau sesuatu?" Tisha bertanya pada perut buncitnya itu.


"Aduhduh," rintih Tisha merasakan bayi nya menendang lagi. Perutnya semakin mengencang, kemudian kembali lagi seperti semula.

__ADS_1


Tisha juga sering terbangun dan pergi ke kamar mandi malam-malam. Hari-hari nya memang sudah mendekati ke hari lahirannya. Hanya tinggal satu Minggu lagi dari perkiraan dokter kandungan, bahwa bayi itu akan segera lahir.


"Sayang, kamu dari kamar mandi lagi?" Ray duduk di ranjang sambil mengucek matanya, melihat Tisha dengan jelas.


"Iya," jawab Tisha sambil duduk di atas ranjang itu. Wajahnya berkeringat dan terlihat lelah.


"Apa kamu baik-baik saja? Bukankah kamu terlalu sering ke kamar mandi malam hari?" tanya Ray sambil menyodorkan air minum pada istrinya.


"Gak apa-apa kok kak. Dulu waktu hamil Rasya juga seperti ini, mendekati hari lahiran pasti akan sering bolak-balik ke kamar mandi," jelasnya pada sang suami. Tisha meminum segelas air hangat dari tangan Ray.


"Benarkah gak apa-apa Sha?" tanya Ray khawatir karena istrinya sering pergi ke kamar mandi malam-malam dan itu menganggu tidurnya. Ray kasihan melihat perjuangan sang istri yang tengah hamil besar itu.


Dia belum pernah melihat Tisha hamil sebelumnya, jadi dia sangat cemas karena baru pertama kali melihat istrinya seperti itu. Terkadang Ray menemani Tisha dan ikut bangun ketika istrinya bangun untuk pergi ke kamar mandi. Agar dia merasakan hal yang sama dengan Tisha, tapi tentu rasanya berbeda dengan apa yang Tisha rasakan karena Tisha sedang hamil anak mereka.


"Aku gak apa-apa kak, aku mau tidur lagi ya. Aku ngantuk," ucap Tisha sambil berbaring kembali di ranjang empuk itu dengan susah payah.


Ray menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut tipis, karena sekarang Tisha mudah berkeringat dan tidak tahan panas. Bahkan terkadang Ray menyalakan AC kamar sepanjang malam.


"Tidur ya sayang," Ray mengecup kening istrinya dengan penuh perhatian.


"Kamu juga, besok kan kamu mau pergi bekerja," ucap Tisha pada suaminya.


"Hem iya, kamu duluan ya," ucap Ray pada Tisha.


Tak lama setelah Tisha kembali tertidur. Ray diam-diam pergi keluar dari kamar itu sambil membawa ponselnya. Dia menelpon Gerry tengah malam, untuk bertanya pada sekretarisnya itu masalah pekerjaan.


Ray memiliki rencana perjalanan bisnis ke Yogjakarta selama 2 hari. Ray bermaksud membatalkan atau mengundurkan dulu jadwal perjalanan bisnis itu. Alasan Ray membatalkan perjalanan bisnisnya karena dia khawatir dengan Tisha yang akan melahirkan, dia tidak mau melewatkan kelahiran anak keduanya,


"Bagaimana Gerry? Apa bisa aku memundurkan jadwalnya?" tanya Ray serius.


"Maafkan saya pak, tapi kalau bapak memundurkan jadwalnya lagi. Jadwal bapak yang lain akan berantakan dan bapak tidak akan bisa cuti. Terlebih lagi pihak Mh store akan menganggap kalau Argantara grup bersikap tidak profesional," jelas Gerry sambil memeriksa jadwal-jadwal Ray di tab nya.


"Haaahhh,"

__ADS_1


Bagaimana ini? Aku harus bicara dulu dengan Tisha.


...---***---...


__ADS_2