Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 151. Rasya rewel


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Setelah pembicaraan nya dan Bu Lisa usai, Tisha menggendong Rasya yang masih ketakutan itu, kemudi membawanya pulang. Tisha menunggu taksi di depan rumah sakit.


"Sayang..kamu gak apa-apa kan?" Tisha cemas, merasakan tubuh mungil anaknya itu gemetar.


"Aku gak mau lihat nenek sihir itu ma! Aku takut.. jangan ketemu nenek sihir itu lagi!" Rasya menangis dan memeluk Mama nya dengan erat.


Rasya teringat kembali kenangan buruknya ketika Zee menyekap dan menggoreskan luka di tubuhnya dengan silet. Rasya ketakutan sampai gemetar ketika melihat wanita yang pernah menculik nya itu.


"Iya sayang, maafkan mama ya. Mama tidak tahu kamu akan seperti ini, kita tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Kamu tenang ya sayang" Tisha mengelus kepala hingga punggung Rasya dengan lembut. Dia menyesal telah membawa Rasya untuk menemui Zee dan Bu Lisa.


"Hiks...hiks..aku mau pulang ma, pulang sekarang.." Rasya menggeleng-geleng, dia ingin segera pergi dari sana.


"Iya sayang, kita tunggu taksi dulu ya"


Seharusnya aku tidak melakukan nya, Rasya memiliki ingatan yang kuat. Aku pikir Rasya sudah melupakan nya, apa dia akan memiliki trauma sama seperti kak Ray? Ya Allah, itu gak akan terjadi kan? Rasya itu anak yang kuat.


Dreet..


Dreet...


🎢🎢🎢


Dengan susah payah Tisha mengambil ponselnya di saku bajunya karena Rasya tidak mau turun dari gendongan nya. Tisha juga tidak tega membiarkan anaknya yang sedang syok itu berjalan dengan tubuh gemetar.


"Halo kak" jawab nya pada Ray.


"Sha, kamu sama Rasya ada dimana?" Ray sedang menyetir mobilnya.


"Aku di depan rumah sakit kak" jawab Tisha sambil menepuk-nepuk punggung Rasya, tidak biasanya Rasya manja seperti ini. Dia bahkan jarang menangis, kali ini Tisha sangat merasa bersalah.


"Hiks.. hiks.. aku mau pulang, aku mau ketemu sama papa.." Rasya masih menangis, dia memanggil papa nya.


"Iya ayo kita pulang dan ketemu sama papa ya, udah Rasya jangan nangis lagi" Tisha menenangkan anaknya itu.


"Rasya menangis? Tumben sekali.. ada apa Sha?" Ray keheranan mendengar suara anaknya menangis di telpon.


"Nanti saja aku jelaskan, aku akan pergi ke rumah kakak.. Rasya mau bertemu," kata Tisha terburu-buru.


"Aku akan kesana, tunggu lima menit ya. Kamu dan Rasya duduk dulu saja. Eh, rumah sakit mana?" tanya Ray.

__ADS_1


"Citra Medika" jawab Tisha singkat.


"Oke"


"Hati-hati,"Tisha mengingatkan.


"Hem..,"Sahutnya sambil tersenyum.


Ray memutar balik mobilnya, dia mengarahkan kendaraan nya ke arah rumah sakit. Beberapa menit kemudian, Ray sampai dan menjemput Tisha juga Rasya disana.


Rasya masih menangis, dia minta pada papanya untuk digendong. Mendadak anak yang tenang itu menjadi sangat rewel, tapi Tisha tidak pernah marah. Ya, ini memang kesalahan nya karena membawa Rasya pada Zevanya.


"Biar aku yang menyetir, kamu gendong Rasya"


"Oke" jawab Ray yang sedang menggendong Rasya.


Tisha menyetir mobil, sementara Ray memangku anak nya dan duduk di samping Tisha.


"Papa...hiks.. ada nenek sihir jahat pa," rengek nya pada Ray.


"Nenek sihir jahat? Apa maksudnya sayang?" tanya Ray keheranan, dia menatap Rasya dengan cemas. Tangannya menyeka air mata dari wajah si mungil kecil itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ray keheranan.


Mereka pun sampai di rumah Tisha, Ray membawa Rasya yang sudah tenang masuk ke dalam kamar. Anak itu tertidur pulas setelah lama menangis.


Ray mengajak Tisha bicara, menanyakan apa yang terjadi pada anak mereka. Tisha dan Ray duduk di sofa rumah tamu, setelah menyajikan teh hangat barulah mereka bicara.


Tisha menceritakan semua yang terjadi di rumah sakit pada Ray. "Jadi begitu ceritanya, ini bukan salah kamu kok. Kamu kan tidak tahu Rasya akan menjadi seperti ini"


"Tetap saja, aku sudah membawanya kesana tanpa memikirkan perasaan Rasya. Padahal dia cuma mau meminta maaf pada ku dan Rasya, dia juga mendoakan kita agar hidup bahagia"


"Rasya akan baik-baik saja, kamu gak usah khawatir. Semua rintangan sudah kita lewati, tunggu satu bulan lagi dan setelah itu kamu tidak akan bebas dariku,"


"Kamu berkata seolah aku akan ditahan" Tisha tersenyum.


"Tidak, kamu akan dipenjara. Setelah jadi istriku, kamu harus patuh dan taat padaku," ucap nya dengan mata tajam mengarah pada Tisha yang duduk di sebrang.


"Baiklah, tapi kamu juga harus begitu"


"Tentu saja, pernikahan adalah kenyamanan dan pengertian dari dua orang yang berlawanan arah..artinya menyatukan dua pikiran dan dua hati menjadi satu, aku baru menyadari nya sekarang" jelas Ray tentang pernikahan.

__ADS_1


"Kakak menjadi lebih dewasa, apa aku bisa menganggap kalau kamu sudah berubah?" tanya Tisha sambil tersenyum bangga.


"Mungkin" jawab Ray sambil tersenyum, "Seperti nya aku gak bisa berlama-lama disini, aku takut hal yang tidak-tidak akan terjadi" Ray menatap Tisha dengan tatapan nanar.


"Kalau begitu cepatlah pulang! Kita kan belum menikah" Tisha meminta Ray untuk segera pulang ke rumahnya. Ray juga mengatakan bahwa malam ini adalah pengumuman surat wasiat Alm. kakeknya, jadi dia harus pulang cepat.


Begitu sampai di depan pintu, kecupan manis dari Ray mendarat di kening Tisha.


Cup!


"Aku pulang dulu," Ray sudah bersikap layaknya suami yang akan berangkat kerja.


"Hati-hati"


Ray tersenyum, kemudian perhatian nya tertuju pada bibir bengkak Tisha, "Tisha, bibirmu.."


"Bi-bibir? Ada apa?" Tisha langsung memegang bibirnya, dia menelan saliva. Takut kalau Ray tau, Zayn mencium nya tadi siang.


"Bibir mu bengkak, apa yang terjadi?" Ray memegang sudut bibir Tisha yang bengkak dan sedikit luka. Tangan kekarnya mengangkat dagu, mata nya memicing fokus pada bibir itu.


"Ah, gak apa-apa kok. Ini karena di gigit serangga" Tisha segera menepis tangan Ray, memalingkan wajahnya dari pria itu.


Bibir ku bengkak? Apa itu karena....


"Bibir di gigit serangga?" Ray menaikkan alisnya, menunjukkan kalau dia tidak percaya, "Serangga macam apa?"


"Eh.. aku gak tau, tiba-tiba saja tadi pagi sudah begini,"


"Apa benar tadi pagi sudah bengkak begini?" tanya Ray tidak percaya.


"Tadi pagi kamu tidak bertemu denganku, jadi kamu tidak tau. Sudahlah, cepat pulang!" Tisha mendorong Ray hingga sampai di dekat mobilnya.


Ray masih menatap Tisha dengan curiga, dia yakin bengkaknya bibir itu bukan karena digigit serangga. Dia tidak banyak bicara dan masuk ke dalam mobilnya menuju perjalanan pulang.


"Bibir itu, aku yakin bukan karena digigit serangga.. tapi kenapa bisa begitu?" Ray berfikir dan curiga pada Tisha. Apalagi pada sikap gugupnya seperti menyembunyikan sesuatu.


...---***---...


Next Chapter : Bab 152. Surat wasiat


Please like komen nya ya☺️☺️😍

__ADS_1


__ADS_2