
...πππ...
Selagi menunggu Rasya bangun dari tidur nya, Ray membelikan makanan untuk Tisha dan Rasya. Dengan tangannya sendiri tanpa dibantu oleh anak buahnya. Ray pergi ke restoran yang tak jauh dari sana, membeli makanan kesukaan Tisha dan Rasya.
Hati Tisha seperti tersayat pisau, melihat luka-luka ditangan Rasya akibat ulah Zevanya. Tisha menatap luka itu dengan mata berkaca-kaca, hatinya sungguh tak tenang.
Bagaimana bisa Rasya menahan semua luka itu tanpa menangis? dia pasti kesakitan? bahkan orang dewasa saja pasti akan menjerit kesakitan? setelah dipikir-pikir lagi, Zee memang sudah gila karena berani melukai anak kecil. Tisha sudah memutuskan matang matang kalau dia akan menyerahkan semua hukuman Zee pada Ray, sekalian dia ingin melihat seberapa sayang Ray pada darah daging mereka. Dan Tisha akan membicarakan ini setelah Ray kembali dari restoran tempatnya membeli makanan.
15 menit telah berlalu sejak Ray pamit untuk membeli makanan. Namun, Ray masih belum kembali. Tisha masih menjaga Rasya disana.
"Kemana dia membeli makanannya? kenapa lama sekali?" gumam Tisha yang mulai cemas, dia memeriksa ponselnya. Siapa tau ada telpon atau pesan dari Ray untuknya.
Memang tidak ada telpon ataupun chat dari Ray di ponselnya, tapi ada beberapa panggilan tidak terjawab dari nomor tidak dikenal.
"40 panggilan tidak terjawab? dari unknown number? siapa?" Tisha menatap bingung, dia ingin menelpon kembali orang yang menghubungi nya, tapi nomor itu disembunyikan.
Dreet...
Dreet..
πΆπΆπΆ
Unknown number calling..
Suara dering ponsel terdengar kencang dari ponsel Tisha, dia segera membawa pergi ponselnya dari sana. Dia tidak ingin Rasya terbangun karena suara itu.
Tit!
"Halo Assalamualaikum" Tisha menjawab telpon dari unknown number itu.
"Waalaikumsalam Tisha" suara seorang pria terdengar menjawab salam Tisha.
"Zayn? ini kamu?" tanya Tisha yang mengenali suara sahabatnya.
"Iya Tisha, ini aku" jawab Zayn sambil merebahkan duduknya di sofa dengan wajah galau, dia menatap jendela apartemen nya. Dia melihat banyak wartawan dan para penggemar nya yang masih berdiri di bawah sana.
"Zayn, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu" ucap Tisha pada Zayn.
Aku belum bertemu Zayn sejak berita kemunduran nya dari dunia hiburan, karena aku sibuk mengurus masalah Zevanya. Tisha lupa masalah Zayn karena dia sibuk dengan masalah Zevanya juga Rasya.
"Aku juga ada" jawab Zayn dengan suara yang sedih dan lemah.
__ADS_1
"Zayn, kamu kenapa? apa kamu sakit?" tanya Tisha cemas mendengar suara Zayn
"Ya, keadaan ku memang tidak baik" jawab Zayn
"Kalau begitu kita harus bertemu dan bicara, tapi Zayn aku tidak bisa kalau harus bertemu sekarang"
"Kenapa tidak bisa? apa kamu di larang oleh Raymond?" Zayn menuduh Ray melarang Tisha bertemu dengannya.
Karena Raymond, dia melupakan dan menjauhi ku, dia bahkan tidak menghubungi ku sama sekali. Tisha, aku tidak bisa membiarkan ini lagi. Zayn beranggapan Raymond yang membuat Tisha jauh dari dirinya.
"Tidak Zayn, aku tidak bisa pergi karena Rasya sedang sakit. Saat ini, aku juga sedang berada di rumah sakit" Tisha memperjelas kenapa dia tidak bisa bertemu dengan Zayn, karena Rasya dan bukan Ray.
Zayn beranjak dari sofa nya, begitu mendengar berita Rasya sakit dan masuk ke rumah sakit. Sebenarnya apa yang terjadi pada Rasya?
"Tisha, apa yang terjadi??! Rasya sakit? Dia masuk rumah sakit??" tanya Zayn cemas, kecemasan dan kekhawatiran nya itu tidak dibuat-buat. Dia memang sayang pada bocah yang bernama Rasya, menganggap Rasya layaknya anak sendiri.
"Terjadi sesuatu, aku tidak bisa cerita lewat telpon. Nanti ketika kita bertemu, akan aku ceritakan" Tisha menghela napas
Zayn mengambil jaket nya di sofa, dia memakainya dengan buru-buru."Tisha, di rumah sakit mana?"
"Rumah sakit citra Medika, ada apa?" tanya Tisha lagi pada Zayn dengan bingung.
"Eh? kenapa dia memutus telponnya begitu saja?" gumam Tisha bingung karena Zayn memutus telpon nya begitu saja.
Di apartemen Zayn masih di kepung oleh penggemar dan para wartawan. Dengan susah payah, Zayn menyiapkan penyamaran. Dia bahkan sampai berpura-pura memakai pakaian seorang kurir untuk mengelabui orang-orang yang ada dibawah apartemen nya.
Zayn pun berhasil masuk ke dalam taksi, pria tampan itu menghela napas. Di mulutnya masih terpasang masker, dia takut kalau ada orang yang mengenali nya. Karena dia adalah trending topik di semua media saat ini.
"Mau kemana mas?" tanya supir taksi pada Zayn
"Rumah sakit Citra Medika, cepetan ya pak!" seru Zayn pada supir itu.
Hanya butuh waktu 5 menit saja untuk Zayn sampai dirumah sakit itu. Zayn berjalan menuju ke meja resepsionis, disana tampak banyak orang yang mengantri.
"Eh tunggu.. kalau aku ke meja resepsionis dan mengantri lama disana hanya untuk menanyakan dimana ruangan Rasya, bukankah aku bisa ketahuan? ah.. aku tanya saja pada Tisha dimana ruangan nya" gumam Zayn sambil mengambil ponselnya, dia menelpon Tisha, lalu menanyakan dimana Rasya di rawat.
Zayn berlari begitu Tisha menyebutkan kamar tempat Rasya dirawat. Zayn membuka pintu kamar itu, dilihatnya Tisha sedang duduk disamping Rasya yang sedang tertidur dengan selang infus terpasang di tangannya.
"Paket!" kata Zayn menggoda Tisha
"Maaf, tapi saya gak pesan paket..." Tisha melihat ke arah Zayn yang masih memakai masker dan topi, Zayn juga memakai baju kurir.
__ADS_1
Kenapa dia seperti familiar ya? aku pernah melihatnya, tapi dimana?. batin Tisha memerhatikan wajah Zayn, lalu menatap kedua mata Zayn yang berwarna biru itu.
"Zayn!" teriak Tisha yakin bahwa pria berpakaian kurir itu adalah Zayn.
Zayn menutup pintu kamar itu, kemudian dia membuka masker juga topinya. Wajahnya berkeringat. Zayn langsung menghampiri Rasya, dia melihat ada banyak luka sayatan di tangan anak berusia lima tahun ini.
"Tisha, apa yang terjadi? kenapa tangan Rasya bisa terluka seperti ini? apa dia bermain silet atau pisau?" Zayn menatap sedih luka sayatan di tangan Rasya yang jumlahnya lebih dari 10 sayatan.
"Sebenarnya ini ulah Zevanya" jawab Tisha tak tega menceritakan kejadian yang menimpa Rasya.
"Tisha.. ada apa? cerita saja padaku! bukankah kita selalu saling terbuka satu sama lain?" bujuk Zayn pada Tisha, sambil duduk dan memegang kedua tangan Tisha.
Zayn melihat keresahan yang ada di wajah Tisha, hati Zayn tersentak begitu Tisha menepis tangannya.
"Sebenarnya.."
Tisha menceritakan semua kejadian yang menimpa Tisha dan Rasya pada Zayn. Zayn semakin beranggapan kalau kembalinya Tisha dan Rasya ke Indonesia adalah hal yang salah.
"Seharusnya kamu jangan kembali ke Jakarta, sha.. jika kamu tetap di New York, kamu tidak akan bertemu bahkan berurusan dengan Zevanya. Ini semua salah Raymond, kalau saja dia tidak datang ke New York dan bertemu dengan kalian.. maka..."
"Zayn, ini bukan salahnya. Pertemuan kami sungguh tidak disengaja, kamu tau kan? dia bahkan bertemu dengan Rasya sebelum bertemu denganku. Pertemuan kami adalah takdir dari Tuhan" Tisha membela Ray, beranggapan bahwa pertemuan nya adalah takdir yang tidak bisa dihindarkan
"Tapi karena pertemuan kalian dengannya, kalian jadi seperti ini. Tisha, apa jangan-jangan kamu masih mau kembali dengannya?" tanya Zayn tajam, dia menatap Tisha dan berharap wanita itu akan mengatakan tidak.
"Zayn, aku akan memberikan dia kesempatan" Jawab Tisha yakin
"Tidak boleh!" Zayn memeluk Tisha dengan erat.
GREP
"Zayn! apa yang kamu lakukan??" tanya Tisha bingung dengan pelukan erat Zayn
Cekret..
Pintu kamar itu terbuka, terlihat lah Ray disana dengan membawa 2 kantung keresek besar. "Tisha.. maaf aku terlambat"
Ray menatap tajam ke arah Tisha dan Zayn yang sedang berpelukan.
BRAK!
...---***---...
__ADS_1