
...πππ...
Derrick pusing dengan kedua pria yang terus menganggu nya itu. Meski pusing dibuat okeh mereka, tapi Derrick tetap kekeh dengan janji nya pada Tisha untuk merahasiakan keberadaan mereka.
Ray dan Sam sampai menjatuhkan harga diri mereka untuk wanita yang mereka cintai di depan Derrick. Agar Presdir Apparel desain itu memberitahukan dimana Tisha dan Fayra. Hingga sampai sore itu, Ray dan Sam masih berada di kantor Derrick menunggu jawaban seperti sedang menunggu hasil ujian.
"Mereka benar-benar gila, apa mereka berencana menginap disini atau bagaimana? Tisha, Fayra, aku harus bagaimana? Tidak! Aku tidak boleh memberitahu mereka dimana keberadaan kalian, aku kan sudah janji." gumam Derrick bingung.
"Pak, bagaimana ini? Pak Raymond dan pak Samuel masih berada disana." Dion melapor pada Derrick bahwa kedua CEO itu masih berada di ruang tunggu.
"Biar aku yang urus." Ucap Derrick sambil menghela napas.
Derrick keluar dari ruangan nya, dia melihat dua orang pria yang masih menunggu kabar dari dua wanita hamil yang menghilang. Kantung mata mereka menebal, mereka berdua terlihat sedang makan nasi box.
"Kenapa tidak sekalian saja kalian pasang tenda disini?!" Tanya Derrick menyindir dua orang pria yang sedang makan nasi box itu.
Ray dan Sam buru-buru menyimpan nasi box mereka di kursi, kemudian dengan kompaknya mereka menghampiri Derrick. Kembali lah mereka melontarkan pertanyaan yang sama dan berulang-ulang pada Derrick,menanyakan dimana keberadaan Fayra dan Tisha.
"Aku mohon Derrick, kamu pasti tau keberadaan Tisha kan? Kamu tidak kasihan pada ku? Aku rindu anak dan istriku, kasihan juga Rasya di rumah sendirian!" Ray memelas di hadapan pria itu.
Raymond sudah gila!. Derrick mengernyitkan dahinya, dia tak percaya bahwa Raymond Argantara bisa dibuat gila oleh Tisha.
"Aku mohon pak Derrick, beritahu aku juga dimana Fayra berada. Aku harus menebus kesalahan ku padanya!" Sam juga memohon lagi pada Derrick untuk ke sekian kalinya.
Si pak Samuel juga sama saja. Mereka sama-sama gila. Derrick juga heran dengan Sam.
Mendengar mereka terus merengek, akhirnya Derrick memutar otak untuk menipu mereka berdua. Menutupi kebohongan dengan sedikit kejujuran.
"Baiklah, aku akan jujur pada kalian..aku memang tidak tahu berada keberadaan Tisha atau Fayra-"
"Bohong!" Sanggah Ray tidak percaya.
"Benar, kamu pasti bohong!" Seru Sam yang juga tidak percaya pada ucapan Derrick.
"Kalian ini, aku belum selesai bicara. Aku tidak tau keberadaan Tisha dan Fayra, tapi aku tau bagaimana cara kalian menghubungi mereka."
"Benarkah? Kamu tau?!" Ray dan Sam sama-sama terperanjat mendengar ucapan Derrick.
__ADS_1
Akhirnya Derrick memberikan nomor telpon yang dipakai Tisha pada Ray. Setelah itu Derrick bergegas untuk segera pulang ke rumahnya seolah dia menghindar dari Ray dan Sam.
"Hubungi dia, jangan marah-marah padanya. Bujuklah dia supaya mau pulang, jangan kecewakan dia lagi, ingat itu Ray!" Derrick mengingatkan pada Ray untuk membujuk Tisha.
"Pasti. Terimakasih Derrick!" Ray tersenyum bahagia mendapatkan nomor telpon istrinya.
Ray dan Sam berada di dalam mobil, mereka menelpon nomor itu. Dan Tisha langsung mengangkat nya tanpa tau siapa yang menelpon nya, karena Ray menelpon memakai nomor baru.
"Halo assalamualaikum, ini siapa ya?" tanya Tisha sambil menyimpan telpon itu di meja dengan mode loud speaker karena dia sedang memotong sayur untuk masak makan malam.
Sam dan Ray terdiam, mereka yakin itu adalah suara Tisha.
"Tisha, siapa yang telpon?" tanya Fayra setengah berteriak dari kamarnya.
"Fayra? Itu suara Fayra, jadi Fayra benar-benar bersama Tisha?" bisik Sam pada sahabatnya itu.
"Sam, diam lah dulu! Biar aku bicara pada Tisha dulu ya," Ray meminta Sam untuk diam dulu
"Gak tau siapa kak!" Jawab Tisha pada Fayra, "Halo ini siapa ya? Kenapa tidak bicara?" tanya Tisha pada seseorang yang sedang berkomunikasi dengan nya lewat ponsel. "Apa apaan sih? Kok gak ngomong, salah sambung kali ya!" Tisha kesal karena tak kunjung mendapat jawaban dari si penelpon itu, dia hendak mematikan telpon nya. Namun, jari nya terhenti ditengah jalan ketika mendengar suara tidak asing dari sambungan telpon itu.
"Sayang.." lirih nya memanggil sang istri.
"Tisha sayang, jangan dimatikan dulu telponnya! Please!" Seru Ray memohon pada istrinya.
"Apa sih?" tanya nya ketus.
"Sayang, apa kamu dan anak kita baik-baik saja? Apa si kecil kita rewel?" tanya Ray lembut, merayu wanita yang sedang marah itu.
"Dia baik-baik saja," jawab Tisha cuek.
"Lalu kamu? Apakah kamu juga baik-baik saja sayang?" tanya Ray lembut ,penuh perhatian dan kasih sayang.
"Memangnya kamu masih peduli padaku sampai menanyakan kabarku segala?" tanya Tisha ketus.
Dia masih marah, sabar Ray. Sabar...
"Tentu saja aku peduli sama kamu sayang, apalagi kamu pergi bawa-bawa anak kita. Aku khawatir sama kamu. Kamu benar-benar baik baik saja kan?" tanya Ray dengan suara lembut.
__ADS_1
Sam terkejut dan setengah tak percaya karena dia baru pertama kali melihat sisi lembut sahabatnya. "Dia benar-benar sudah takluk oleh istrinya, bucin maksimal." batin Sam.
"Aku baik-baik saja kok," jawab Tisha cemas mendengar suara Ray yang lemas.
Apa kak Ray baik-baik saja? Kenapa suaranya seperti itu?
"Syukurlah kalau begitu, sayang.. aku kangen kamu, kapan kamu pulang? Kamu ada dimana?" tanya Ray yang memang kangen berat dengan istrinya.
"Aku akan pulang setelah hatiku sudah tenang,"
"Jadi kapan hatimu tenang?" tanya
"Sampai kamu benar-benar menyesal sudah membohongi ku," ucap nya tegas.
"Harus dengan cara apa lagi aku meyakinkan kamu, sayang? Pulanglah sekarang ya sayang, pulang ke rumah kita. Aku jemput kamu ya?" Ray berkata selembut mungkin dihadapan Tisha. Membujuknya untuk pulang.
"Tidak mau! Aku tidak mau pulang sekarang, aku akan pulang setelah hatiku tenang!" Seru Tisha tegas, dan kerasa kepala.
"Baiklah, kamu boleh mendinginkan dulu kepala mu. Tapi, beritahu aku dimana kamu dan Fayra berada? Agar aku tenang,"
Tisha terdiam sejenak, dia ragu untuk mengatakan dimana dia berada."Hem..aku,"
"Kalau kamu gak mau bilang ya udah, tapi kamu harus kembali besok. Kalau kamu gak kembali besok, aku akan jemput kamu!" Suara Ray terdengar lembut namun mengancam.
"Insyaallah," jawab Tisha.
"Sha, gak mau lho marahan sama suami lama-lama." Ray tersenyum manis mengingat perkataan Tisha yang kini dia ucapkan balik padanya.
"Aku tau, aku hanya butuh sendiri dulu," Tisha menunduk sedih.
"Tisha, apa Fayra juga baik-baik saja?" tanya Sam langsung menyerobot ponsel Ray.
"Hey!" Ray berteriak kesal pada Sam.
"Kak Fayra baik-baik saja,"
"Syukurlah, bilang padanya aku tidak akan memaksanya lagi. Dan juga, aku ingin bicara padanya nanti, Tisha titip Fayra ya," kata Sam pada Tisha.
__ADS_1
Tisha langsung menutup telponnya, dia terlihat bingung.
...---***---...