
π Inggris, Apartemen Zayn..
Fayra mulai berfikiran yang tidak tidak setelah dia mengalami gejala aneh itu. Tapi dia tidak mau mengindahkan nya. Zayn bertanya padanya apa yang terjadi, Fayra menjawab bahwa dia hanya sakit kepala dan masuk angin karena perjalanan jauh dari Jakarta ke Inggris.
Kita lihat saja nanti, kalau Minggu depan aku belum mendapatkan haid ku. Berarti aku memang...Tidak Fayra, itu tidak mungkin! Kamu sudah minum pil itu setiap waktu dan tidak melewatkan nya.
Fayra duduk sambil menikmati pemandangan pagi hari di apartemen berlantai 12 itu. Dia tidak mau menjadi pelakor, dia tidak mau menghancurkan kebahagiaan Grace dan Sam. Jika dia benar-benar seperti apa dugaannya, maka dia akan disebut pelakor.
****
π Jakarta..
Di cafe itu, Tisha dan Derrick duduk bersama. Mereka mengobrol serius. Intinya tentang kejadian masa lalu yang terjadi antara Ray dan Derrick. Tisha berusaha menasehati Derrick untuk tidak keras kepala lagi dan memaafkan Ray.
"Aku akan memaafkan nya kalau kamu mau melakukan sesuatu hal untukku."
"Aku? Kenapa minta padaku?" tanya Tisha heran, dia mengernyitkan alisnya.
"Karena hanya kamu yang bisa mewujudkan nya." Derrick tersenyum.
"Memangnya apa yang mau bapak minta?" tanya Tisha sambil menatap pria itu dengan bingung.
"Jadilah adikku ya?"
"APA?!" Tisha terperanjat mendengar permintaan Derrick yang tidak masuk akal.
Untuk menghilangkan rasa kaget Tisha, Derrick menjelaskan bahwa dia ingin Tisha menjadi adiknya karena dia merasa kalau sikap Tisha mirip dengan mendiang adiknya yang telah tiada. Tisha bisa merasakan tidak ada manipulasi di dalam perkataan pria itu, dia tersenyum tulus ketika memintanya. Tisha mengatakan bahwa dia akan meminta izin dulu pada suaminya, apakah suaminya bersedia dia mempunyai Kakak ipar? Lalu, Derrick berkata bahwa dia sudah memaafkan Tisha, hanya dengan Tisha setuju menjadi adiknya.
Padahal itu hanya alasan saja. Intinya dia ingin menjadikan Tisha sebagai adiknya.
Tanpa disangka, kedua orang yang sempat berselisih itu bisa mengobrol dengan akrab layaknya saudara. Waktu sudah semakin siang, Tisha harus segera memasak makan malam untuk Rasya dan menjemput Rasya pulang sekolah.
"Mau aku antar?" tanya Derrick menawarkan dengan ramah.
"Tidak perlu, aku bersama supir dan bodyguard juga." jawab Tisha sambil tersenyum.
Tisha berjalan sambil membawa belanjaannya, ketika sampai di depan pintu supermaket. Tiba-tiba saja wanita itu jatuh pingsan.
BRUGH!
Semua orang disana menghampiri nya dengan panik, bertanya-tanya apa yang terjadi pada wanita yang jatuh pingsan itu. Derrick yang belum jauh dari sana, berlari menghampiri Tisha. Termasuk dua bodyguard yang menjaga Tisha juga.
"Nyonya! Hey, kamu cepat angkat dia!" ujar seorang pria satu
"Bos akan marah kalau aku menyentuh istrinya." jawab pria dua bingung.
"Tapi, ini kan darurat!"
Derrick lah yang akhirnya menggendong Tisha. "Kalian berdua jangan seperti orang bodoh! Ikuti aku ke rumah sakit!" Derrick memerintah kepada dua bodyguard Ray.
"Ha?"
"Baik pak!"
Derrick membawa Tisha yang tidak sadarkan diri dan pergi ke rumah sakit. Kedua bodyguard nya juga mengikuti, kemudian mereka mengabarkan pada Ray kalau Tisha jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit.
"Gerry! Kamu jemput anakku di sekolah, aku akan pergi ke rumah sakit!"
"Baik pak, tapi ada apa pak?" tanya Gerry.
"Tisha masuk rumah sakit." jawab Ray singkat. Dia langsung mengambil kunci mobil, dengan buru-buru dia mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, Ray sampai di rumah sakit, ia melihat ada Derrick dan kedua bodyguard nya disana. Ray langsung menghampiri Derrick, menyergap dan menuduh pria itu sudah berbuat macam-macam pada istrinya.
Kemarahan Ray harus tertunda karena seorang dokter keluar dari ruangan Tisha. Ray langsung menghampiri dokter itu dan menanyakan keberadaan istrinya. "Dok, bagaimana keadaan istri saya?"
"Apa anda suaminya?"
"Iya dok, saya suaminya." jawab Ray sambil menganggukkan kepalanya.
"Selamat pak, istri bapak sedang hamil. Usia kandungan nya menginjak 3 minggu." jelas dokter dengan wajah bahagia nya.
__ADS_1
"A-Apa dokter bilang?" Ray terpana mendengar nya, dia berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh dokter itu.
"Istri bapak sedang hamil." jawab dokter itu lagi.
"Istri saya hamil? A-Apakah itu benar? Hamil? Saya tidak salah dengar kan dok?" tanya Ray sambil menutup kedua mulutnya. Dia tidak percaya dengan ucapan dokter.
Perlahan-lahan terlihat senyuman nya yang menyungging, menyiratkan kebahagiaan. Usaha dan perjuangan nya tidak sia-sia, ternyata tak lama setelah mereka menikah Tisha sudah hamil anaknya. Derrick ikut tersenyum mendengar pemberitahuan dari dokter itu, kemudian diam-diam dia pergi dari sana.
Cekret..
Ray langsung masuk ke dalam ruangan tempat istrinya diperiksa. Tisha baru saja siuman, dia melihat suaminya sedang duduk disampingnya sambil memegang tangannya, tersenyum dengan penuh rasa syukur.
"Kak Ray? Aku ada dimana? Seperti nya rumah sakit ya?" Tanya Tisha dengan mata melihat ke sekelilingnya. Ruangan dengan cat putih dan beberapa ranjang pasien ada di sana, sudah pasti dia berada di rumah sakit.
Suaminya langsung mencium kening Tisha dengan bahagia. Tisha bertanya-tanya apa yang terjadi dan apa yang dilakukan oleh Ray di tempat umum. Wanita itu cemberut karena kesal pada suaminya.
"Sayang, kamu boleh memarahiku sepuas hatimu. Kamu boleh melakukan apa yang kamu mau, aku akan mengabulkan semua keinginan mu." Ray tersenyum lebar, dia memeluk istrinya dengan penuh rasa bahagia.
Dia belum pernah merasa sebahagia ini, karena sekarang Tisha yang sedang mengandung anaknya berada disisinya. Sedangkan dulu saat Tisha mengandung Rasya, Ray tidak ada bersamanya. Kini dia akan ada menemani Tisha di saat saat terpenting dalam hidupnya.
"Ada apa sih denganmu?" tanya Tisha sambil mengerutkan keningnya.
"Sha, dokter bilang kalau Rasya akan menjadi kakak! Dia akan segera mempunyai seorang adik." Ray menjelaskan pada Tisha tentang kehamilan anak keduanya, dengan kata Rasya.
Ucapan Ray membuat Tisha terpana, "A-Apa? Rasya...apa aku-?" bibirnya membulat, dia menatap suaminya dengan menebak-nebak, apakah yang dia pikirkan sama dengan apa yang dipikirkan suaminya.
"Ya sayang, Rasya akan menjadi kakak. Kamu sedang hamil!" teriak Ray saking bahagianya dia akan menjadi seorang ayah.
"Aku hamil?" Tisha tersenyum bahagia, dia memeluk suaminya. Sungguh amanah sekaligus hadiah terindah untuk Tisha dan Ray yang sudah melalui berbagai macam penderitaan dalam hubungan mereka.
"Tisha, aku berjanji. Aku akan selalu bersama dengan kamu dan anak kita, kamu tidak akan sendirian lagi. Ada aku yang akan berada di samping kamu dan anak kita, untuk selamanya." Pria yang sudah bucin istri itu, memegang perut Tisha yang masih datar dengan penuh kasih sayang.
Setelah mendengar berita bahagia itu, Tisha dan Ray langsung berkonsultasi dengan dokter kandungan. Mereka membicarakan seputar kehamilan, Ray mendengarkan bahkan mencatat setiap yang dikatakan oleh dokter tentang kondisi ibu hamil.
Sepulang dari sana, Tisha dan Ray langsung pergi menuju ke supermarket. "Aku baru saja pulang dari supermarket, lalu kita ke supermarket lagi?" tangannya menepuk jidat.
"Kalau kamu mau pulang, aku suruh Joni mengantar mu pulang duluan." ucap Ray pada istrinya. Joni adalah salah satu bawahan Ray.
"Kenapa kamu menghela napas? Apa kamu lelah? Apa kamu haus? Perlukah kita berhenti dulu sebentar?" pria itu cerewet, dia langsung banyak bertanya pada istrinya.
"Kamu cerewet sekali kak! Fokus menyetir saja!" teriak Tisha marah.
"Tenang dong sayang, jangan marah-marah! Tidak baik untuk bayi kita." ucap Ray yang mengingat baik perkataan dokter.
"Haih.. sudahlah.." Tisha tersenyum melihat suaminya yang protektif padanya. Dia bahagia karena dimasa kehamilan nya kali ini ia tak sendirian lagi.
Sesampainya di supermarket, Ray langsung membelikan Tisha sepatu tanpa hak. Dia sangat menjaga istri nya dari hal-hal yang mungkin akan membahayakan nya.
Tisha sangat terharu dengan perhatian Ray padanya, seakan-akan dunia hanya milik mereka berdua. Begitu sampai di dalam Supermarket, Ray langsung membeli kebutuhan dan makanan Tisha. Termasuk susu ibu hamil, sayuran, dan buah-buahan yang banyak. Dibantu oleh kedua bodyguard nya. Tisha tidak bisa menghentikan semangat suaminya.
π Sekolah Rasya π
Semua siswa sudah bubaran dan dijemput oleh orang tua mereka masing-masing. Rasya dan semua murid TK B baru saja mendapatkan pengumuman kalau sebentar lagi dia akan lulus dari TK.
"Lho? Kenapa pak Gerry yang jemput aku? Mama mama?" tanya Rasya yang heran karena dia dijemput oleh Gerry dan bukan mama nya.
"Bu Tisha berada di rumah sakit."jawab Gerry cepat.
"APA?! Mama di rumah sakit?!" tanya Rasya terkejut dengan mata membulat.
"Eh, pak Gerry bilang apa ya? Pak Gerry cuma bilang kalau Bu Tisha lagi di rumah." Gerry berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ah! Aku keceplosan!
"Bohong, barusan aku denger pak Gerry bilang kalau mama di rumah sakit! Cepat pak bawa aku kesana!" Rasya langsung masuk ke dalam mobil, dia terlihat cemas dengan keadaan mama nya.
Gerry mendapatkan SMS dari Ray kalau dia dan istrinya sudah berada di rumah. Maka Gerry dan Rasya pun langsung pulang ke rumah. Beberapa menit setelah perjalanan, Rasya langsung berlari begitu dia sampai di depan rumahnya. Dia tidak sabar untuk melihat keadaan mama nya yang katanya baru keluar dari rumah sakit.
Namun, dia melihat kedua orang tuanya sedang meniup balon bersama dengan santai.Tisha juga tidak terlihat seperti orang yang sakit.
"Lho? Mama? Papa?"
__ADS_1
Ray dan Tisha kompak melirik ke arah putra mereka, menyambut Rasya dengan senyuman hangat. "Kamu lupa salam!" Tisha mengingatkan.
"Assalamualaikum ma, pa, aku pulang!"' Rasya mencium tangan mama dan papa nya secara bergantian. Dia melihat ruang tamu yang di dekorasi. "Mama, papa, apa ada pesta ulang tahun?" tanya Rasya polos melihat balon disekitar sana.
"Sayang, ini lebih bagus dari pesta ulang tahun!" Ray langsung memangku Rasya di pangkuannya.
"Apanya yang bagus?"
"Hari ini kita akan merayakan berita bahagia yang selalu kamu tunggu-tunggu." Ray tersenyum bahagia.
"Berita apa pah?" Rasya menatap papa dan mamanya dengan penasaran.
"Selamat ya sayang, kamu akan segera menjadi kakak!" Tisha tersenyum menyampaikan berita bahagia itu pada anak nya.
"Woah!! Apa ini beneran? Mama lagi mengandung adik bayi? Aku mau jadi kakak! Yes!!!" Rasya langsung beranjak dari pangkuan papanya. Anak itu berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Kedua orang nya melihatnya dengan bahagia juga. Mereka merasakan bahagia yang sama.
Ya Allah.. aku harap keluarga kami selalu bahagia selamanya. Jangan ada masalah berat lagi seperti sebelumnya. Tisha menatap ke arah Ray dengan penuh cinta.
Ya Allah, jaga selalu istriku dan anak anak kami. Jangan pisahkan kami, satukan kami untuk selamanya. Aku tidak akan meminta apa-apa lagi. Ray menatap istrinya dengan penuh cinta.
"Ehem ehem, maaf pak. Tapi bapak masih ada rapat," ucap Gerry pada Ray.
"Kamu memang suka mengacau ya Gerry!" Ray menajamkan pandangannya pada sekretarisnya itu.
"Maafkan saya pak."
"Sayang, udahlah jangan marah. Sana pergi kerja!" titah Tisha pada suaminya.
"Iya sayang, aku berangkat rapat dulu ya. Rasya, jaga mama kamu baik-baik ya nak." ucap Ray sambil mengelus kepala putra kecilnya.
Anak itu mengangguk patuh. Ray berpamitan pada Tisha dan anaknya. Wajahnya masih berseri-seri, inginnya dia di rumah saja. Tapi, pekerjaan kantor sudah menantinya.
Tisha langsung memasak makan siang untuk anak nya. Kemudian dia menyuruh anaknya untuk segera ganti baju, makan siang dan tidur siang. Namun, anak itu malah asyik bermain game.
"Ayo sekarang ganti baju, terus makan siang, lalu tidur siang." Tisha tersenyum pada putranya itu.
"Nanti dulu ah ma, aku mau game dulu." ucap Rasya sambil fokus memegang PSP nya. Dia masih mengenakan baju seragam nya.
Wanita itu menggelengkan kepala. Dia langsung mengambil PSP itu dari tangan Rasya. "Dede bayinya marah lho, katanya kakak gak patuh sama mama!"
"Dede bayi bisa marah?" tanya Rasya menatap ke arah mamanya.
"Heem, bisa lah! Sekarang aja ade nya lagi marah!"
"Gimana marahnya?" tanya Rasya dengan wajah polosnya.
"Ade bayi bilang kalau dia gak mau makan kalau kakak Rasya belum makan."
"Apa Dede bayi bilang gitu? Gak boleh dong, Dede bayinya harus makan!"
"Kalau gitu, ayo Rasya juga makan!" Ajak Tisha sambil tersenyum pada anaknya.
"Iya deh. Aku ganti baju dulu ya ma, terus kita makan siang bareng sama mama sama adik bayi." Rasya tersenyum lebar. Dia bahagia karena dia akan segera menjadi seorang kakak.
Tak terasa 4 bulan sudah berlalu..
Rasya sudah masuk kelas 1 SD, usianya juga sudah menginjak 7 tahun. Kehamilan Tisha sudah memasuki usia 5 bulan, Tisha dan Ray selalu rajin mengikuti kelas hamil juga check up ke rumah sakit. Perutnya sudah mulai membuncit, menunjukkan ada nya kehidupan di dalam sana.
Suatu hari Grace berkunjung ke rumah Tisha, dia curhat tentangnya dan Sam yang sudah kembali rujuk. Tisha juga sudah tau tentang kisah Sam dan Fayra dari Ray.
"Aku tidak menyangka kau pak Sam akan berbuat seperti itu. Tapi, yang penting dia sudah menyesalinya kak, Kak Fayra juga.."
"Aku tau kalau dia tidak bersalah, karena dia sebenarnya adalah korban. Maka dari itu aku kemari untuk memintamu memberitahu ku dimana keberadaan Fayra." ucap Grace sambil menatap Tisha dengan serius..
...---***---...
Hai Readers ku yang baik, mohon bantuan like komen gift atau vote nya ya πππ thanks buat yang sudah mendukung karya author sejauh ini.. π Selamat hari Senin dan selamat beraktifitas..
Sambil nunggu up boleh mampir ke karya author yang satu ini π
__ADS_1