Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 135. Ray kembali


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Itu kan gelangnya Zee?


Bu Lisa menoleh ke arah mayat yang sudah tutupi oleh kain itu. Alangkah terkejutnya dia begitu membuka kain putih itu, dia melihat wajah anaknya yang pucat pasi dan terbaring di atas tandu itu.


"Zee!!" teriak Bu Lisa histeris melihat anaknya yang pucat pasi.


PRANG!


Rantang yang dibawanya terjatuh ke bawah. Wanita itu memeluk tubuh Zee sambil menangis. Pergelangan tangan Zee di bungkus oleh kain, kemudian di mulutnya ada selang oksigen.


"Ibu tenang saja Bu! Anak ibu masih hidup, namun keadaan nya kritis! Semalaman penuh kami sudah coba menyelamatkan nya, kami akan membawanya ke rumah sakit" kata seorang petugas ambulan berusaha menenangkan Bu Lisa.


"Anak saya masih hidup?" Bu Lisa mendongakkan kepalanya, dia sudah berfikir yang macam-macam tentang Zee.


Zee dimasukkan ke dalam mobil ambulan, Bu Lisa juga menemani anaknya itu. Dia terus memegang tangan anaknya, sambil berbicara pada Zee untuk bertahan.


"Mengapa kamu melakukan hal bodoh ini sayang? Kematian tidak akan menyelesaikan masalah, mama mohon.. kamu harus hidup.. kamu harus hidup" Bu Lisa memegang tangan anaknya yang terasa dingin, melihat luka di pergelangan tangan Zee membuat Bu Lisa yakin kalau anaknya itu mencoba mengakhiri hidup.


Ya Allah, selamatkan putriku.


Wiuw.. wiuuw..


Suara sirene ambulan menyertai perjalanan Bu Lisa dan Zee menuju ke rumah sakit. Hati Bu Lisa masih berdebar melihat keadaan Zee yang belum siuman.


****


Kendala cuaca yang buruk di Belanda, membuat Ray pulang terlambat. Siang itu dia baru sampai di Jakarta dengan helikopter yang mendarat di perusahaan Argantara. Setelah pendaratan, dia langsung pergi ke rumah sakit tempat kakek nya di rawat.


Sesampainya di rumah sakit, dia melihat Dean berada disana. Hal yang jarang terjadi, Ray melihat perhatian om nya kepada sang kakek. Ray menjadi heran dengan sikap Dean pada kakeknya.


"Ray?" Dean terperangah melihat Ray sudah kembali dari perjalanan bisnisnya.


"Om ngapain disini? Gak kerja?" tanya Ray dengan suara datarnya pada pria yang sedang duduk disamping pak Faisal yang masih belum sadar.


"Tentu saja om disini buat kakek kamu, memang nya mau apa lagi?" jawab Dean dengan suara sinis nya.


"Tumben" ucap Ray singkat, "Tapi, bagaimana kakek bisa jatuh dari tangga? Apa om tau?" tanya Ray sambil menatap curiga ke arah Dean.

__ADS_1


"Apa kamu menuduhku?!" tanya Dean tidak suka tatapan Ray kepadanya.


"Aku tidak menuduh, aku kan cuma bertanya.. jangan berlebihan," jawab Ray dengan senyuman tipis di bibirnya.


Apa om Dean benar-benar ada hubungan nya dengan kecelakaan kakek? Aku harus menyelidiki nya. Ray curiga kepada pamannya.


"Kenapa kamu sudah pulang? Bukankah kamu sedang dalam perjalanan bisnis?" Dean heran karena Ray sudah kembali.


"Aku tunda urusan bisnisku. Oh ya om, lebih baik om pulang saja atau pergi kerja.. aku yang akan menjaga kakek" Ray menawarkan diri untuk menjaga kakeknya yang sedang koma.


"Aku memang akan kembali ke kantor, aku titip papa padamu" kata Dean sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Ya"


Tidak banyak percakapan diantara mereka berdua, karena hubungan mereka juga tidak baik. Ray masih mencurigai Dean sebagai penyebab kematian kedua orang tuanya, itulah alasannya mengapa dia bersikap dingin pada om nya itu.


Dean kembali ke kantornya, Ray di rumah sakit menjaga kakeknya. Dia belum tidur sama sekali, karena memikirkan kondisi pak Faisal dan ingin segera pulang menemuinya.


Ray mengambil ponselnya dan menelpon Gerry, "Gerry"


"Ya pak?"


"Siap pak" jawab Gerry patuh seperti biasanya.


Hanya obrolan singkat diantara bos dan sekretaris nya itu. Ray langsung merebahkan tubuhnya di sofa, dia memegang kepalanya yang terasa pening. Sesekali dia melihat dokter memeriksa kondisi kakeknya. Dan jawaban dokter masih sama, dia tidak tahu kapan pak Faisal akan siuman, lalu entah pak Faisal bisa kembali siuman atau tidak.


Sore itu sepulang kerja, Tisha dan Rasya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk pak Faisal. "Ma, itu papa?" Rasya tersenyum lebar melihat ayahnya sedang tidur di sofa yang tak jauh dari sana.


Kak Ray sudah kembali. Tisha tersenyum senang melihat Ray sudah kembali.


"Pelan-pelan jangan berisik ya sayang, nanti papa kamu bangun,"ucap Tisha pada anaknya untuk mengecilkan suara.


Rasya mengangguk setuju, dia duduk disamping Ray yang sedang tidur. Dilihat dari pakaian nya, Ray pasti belum sempat pulang ke rumah.


Tisha melihat pria itu dengan cemas, mengkhawatirkan segala yang ada pada dirinya. Apa pria itu sudah makan, apakah dia sudah tidur? Mengapa pria itu tertidur sangat lelap? Tidak ragu lagi Tisha menunjukkan perhatian nya, wanita itu mengambil bantal dan mengangkat kepala Ray untuk diberi bantal dibawahnya. Dia takut kepala atau leher nya akan sakit kalau Ray tidur tidak memakai bantal.


"Begitu bangun nanti, lehermu akan sakit kalau tidur tidak pakai bantal" bisik Tisha sambil meletakkan bantal itu tepat di bawah kepala Ray.


Deg

__ADS_1


Deg


Tisha, dia perhatian padaku?. Hati Ray berdebar ketika Tisha menyentuh kepalanya dengan lembut. Dia sudah bangun tapi masih pura-pura tidur.


Dia pasti belum sempat makan, apa aku belikan saja makanan untuknya ya?. Tisha melirik ke arah Ray dengan cemas, dia melonggarkan sedikit tali dasi yang agak mencekik leher Ray itu dengan perlahan-lahan.


GLUK


Aku harus tahan, aku harus tahan napas!


Ray tidak tahan dan tidak sabar ingin membuka mata, dia ingin memeluk Tisha dan anaknya. Tapi dia menahan nya, karena dia tau jika dia membuka mata. Pasti Tisha akan mengelak dan bersikap jaim seperti biasanya, dia masih ingin menikmati perhatian Tisha kepadanya.


Sementara Rasya melihat ke arah papa nya dengan tatapan curiga dan senyum licik dibibir nya.


"Rasya, mama titip papa dan kakek mu sebentar ya. Mama mau beli makanan dulu ke luar, mama gak akan lama kok" kata Tisha berpamitan pada anaknya.


"Oke ma, tenang aja" jawab Rasya santai.


"Kamu gak boleh kemana-mana ya?"


"Siap ma!" Rasya memberi hormat pada Tisha dengan patuh.


Tisha pun keluar dari ruangan itu untuk membeli makanan. Setelah yakin mama nya sudah pergi jauh, Rasya memegang tangan papa nya dan menggoyangkan tubuh kekar papa nya itu.


"Ayo bangun pa, mama udah pergi kok" Rasya tersenyum pada papa nya.


Ray langsung membuka matanya dan menatap pada Rasya yang sedang duduk tak jauh darinya.


Pria itu langsung menghela napas, seolah dia menahan napasnya sejak tadi. "Haahh.. haahhh.. haahh.."


"Jadi, kapan kamu tau kalau papa sudah bangun?" tanya Ray pada anaknya yang cerdik itu. Dia menatap Rasya dengan gemas.


"Pertanyaan nya salah pa, harusnya.. sejak kapan aku tau kalau papa pura-pura tidur" Rasya tersenyum lalu memeluk papanya.


"Memang deh, anakku ini paling pintar. Mama mu bahkan tidak tahu kalau papa pura-pura tidur" Ray memeluk anaknya dengan gemas. Padahal baru sehari tak bertemu tapi dia sudah rindu. "Papa kangen banget sama kamu"


"Aku juga kangen papa" Rasya duduk dipangkuan papa nya dengan manja.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2