Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 86. Berdebar


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Rasanya seperti pulang ke rumah, rasanya seperti mempunyai keluarga yang lengkap. Begitulah yang dirasakan oleh Ray ketika dirinya mendapat sambutan hangat dari Tisha dan Rasya, hal yang tidak pernah ia dapatkan setelah orang tuanya meninggal.


Mereka berdua seperti rumah untuk Ray yang kesepian. Seperti nya mulai sekarang, kedua orang itu adalah tempat dimana dia akan kembali.


Ray memeluk putranya dengan hangat, penuh kasih sayang dan cinta. Dia juga bahkan mempunyai niatan untuk memeluk Tisha, namun ia tau bahwa Tisha akan marah jika dirinya melewati batasan. Mereka bukanlah pasangan suami istri seperti enam tahun yang lalu, faktanya mereka sudah bercerai.


Sesuatu yang mungkin bisa membuat mereka terikat dan menyatukan kembali mereka adalah Rasya. Buah cinta mereka yang hadir tanpa disengaja, melalui paksaan Ray enam tahun yang lalu.


Sama sekali Tisha tidak pernah menyesal atas kehadiran Rasya di dalam hidupnya, justru dia sangat menyayangi dan cinta pada buah hatinya itu. Walau cara kehadiran nya memang bukan hal indah bagi Tisha.


Kepulangan Raymond ke rumah besar keluarga Argantara membuat Daniah dan suaminya merasa tidak senang. Mereka merasa kalau kehadiran Tisha dan Rasya adalah sebuah petaka yang bisa membuat posisi mereka berada dalam bahaya.


"Bagaimana bisa gadis itu masih hidup? bahkan dia membawa anak nya juga" gerutu Dean sambil melonggarkan tali dasi nya, wajahnya kesal dan muram. Pria itu menjatuhkan dirinya di sudut ranjang.


"Mungkin karena keajaiban, makanya dia dan anaknya masih hidup. Entahlah sayang..aku juga tidak tahu" jawab Daniah yang juga duduk di samping suaminya


Si Zevanya itu memang tidak berguna, bukankah dia bilang kalau dia sudah menghabisi gadis itu anaknya. Tapi kenapa dia masih hidup? pasti ada seseorang yang membantunya dari kecelakaan itu.


"Persetan dengan keajaiban! Kehidupan kita sudah semakin sulit dengan kehadiran Ray, berkali-kali kita mencoba mencelakai dan menyingkirkan nya. Tapi anak itu selalu beruntung, dia juga adalah cucu kesayangan papa" Dean mengeluhkan semua yang ada di dalam hatinya pada sang istri, selama ini dia merasa selalu di anak tirikan oleh pak Faisal.


Karena memang sebenarnya pak Dean bukanlah anak kandung pak Faisal melainkan anak angkat di keluarga itu yang diangkat pak Faisal saat pak Faisal dan istrinya belum mempunyai anak.


Dalam hatinya Daniah mengeluh karena posisi suaminya tidak kuat dalam keluarga itu, dia takut kalau suatu saat nanti tidak mendapatkan warisan dari pak Faisal karena suaminya bukanlah darah daging keluarga keluarga Argantara. Seharusnya dulu dia menikah dengan Raphael (papa Ray) bukannya dengan Dean yang tidak punya posisi kuat di keluarga nya.


"Kalau begitu kita harus bagaimana sayang? kedua anak kita tidak mendapatkan posisi di perusahaan dan kamu juga tidak dipercaya oleh papa untuk mengambil alih perusahaan utama" jelas Daniah yang juga mengeluhkan posisi suaminya, "Kalau papa kamu terus seperti ini pada kita, mungkin kita tidak akan mendapatkan sepeserpun ketika papa meninggal nanti. Dan semua warisan itu mungkin akan jatuh ke tangan Raymond, terus bagaimana dengan hidupku dan anak-anak kita?" tanya Daniah sedih memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.


Dean termenung memikirkan ucapan istrinya, apa yang dikatakan Daniah itu memang ada benarnya. Kasih sayang Pak Faisal pada Raymond sangat lah besar, bukan hal yang tidak mungkin bila pak Faisal meninggal nantinya dia akan memberikan semua warisan pada Ray.


"Niah, sayang.. kamu tenang saja, aku sudah memikirkan rencana agar si Ray itu menyerah pada semua warisan nya. Aku akan membuat si Ray itu tidak punya apa-apa, warisan papa akan menjadi milik kita" Dean membelai pipi istrinya dengan lembut


"Kamu punya rencana apa, sayang? awas kalau sampai gagal lagi" Daniah menyandarkan tubuhnya di bahu suaminya dengan manja.


"Kali ini rencana nya agak berbahaya, kamu dan anak-anak kita seperti nya harus turut ikut campur di dalamnya juga" ucap Dean sambil memeluk Daniah


"Kami harus ikut campur juga?" tanya Daniah sambil menengadahkan kepalanya pada sang suami, dia mengernyitkan dahinya


"Benar sayang. Kita harus menyingkirkan semua penghalang untuk selamanya, mencabut sampai ke akarnya tanpa ada yang tersisa" Dean tersenyum menyeringai ketika memikirkan rencana di kepalanya itu


Hari sudah berganti malam, Tisha keheranan karena dia tidak dapat menghubungi pria yang berniat menggusur makam ibu dan kakak nya. Tisha menunggu telpon dari pria yang sebelumnya menelpon nya.


"Aneh sekali, kenapa nomornya tidak bisa dihubungi?" gumam Tisha kebingungan melihat nomor pria yang mengaku akan menggusur makam keluarga nya itu.


"Kamu lagi apa?" tanya Ray setengah berbisik pada Tisha dari belakang.


"Astagfirullah hal adzim!!" Tisha terkejut dengan suara yang ada dibelakang telinganya, sampai dia menjatuhkan ponsel yang sedang di pegang nya ke wastafel dan akhirnya ponselnya itu tamat.


PRAK


"Ah!! gimana ini?! ponselku, ya Allah..." Tisha mengangkat ponsel itu dari lubang wastafel dengan wajah panik. "Haahhh.. ponselnya mati, ya ampun..gimana ini.." keluh Tisha dengan wajah cemberut nya melihat ponsel yang sudah mati itu. Tisha melotot ke arah Ray dengan kesal


"Apa salahku? aku cuma nanya kamu lagi apa" Ray angkat tangan seolah dia tidak bersalah dengan wajah polosnya


"Dalam hal seperti ini kamu mirip dengan anak kamu, selalu merasa tidak bersalah setelah berbuat kesalahan. Lihat! karena mu ponselku mati! mati!!" teriak Tisha marah marah pada Ray


"Rasya berkata benar, kalau kamu itu galak. Kenapa kamu jadi galak sih? dulu kamu gak galak galak banget. Lagian apa ini salahku? memangnya aku yang merusak ponsel kamu?" gerutu nya yang tak mau disalahkan.


"Ini salah kamu! kalau kamu tidak mengagetkan aku, ponselnya tidak akan jatuh. Huhh!"


Ray mengambil ponsel mati itu dari tangan Tisha, pria itu tertawa sinis melihat ponsel Tisha. "Kenapa kamu membeli ponsel murah seperti ini? kamu kan sudah menjadi seorang desainer. Lagian kenapa kamu marah sampai segitunya? atau... apa jangan-jangan ponsel ini masih kreditan?" tuduh Ray


"A-Apa?? kreditan?" Tisha mengambil ponsel nya dari tangan Ray dengan wajah kesal. "Kamu tau kan kak dari dulu aku tidak suka berhutang! walaupun gaji ku tidak besar, tapi aku membeli ponsel ini dengan cash"


"Ya baiklah, maafkan aku. Kalau begitu aku ganti ya ponselnya, dengan merek terbaru dan yang paling bagus" bujuk Ray pada Tisha


"Tidak usah, aku akan memperbaiki ponsel ini saja" ucap Tisha sambil meneruskan kembali cucian piring nya.


Kayanya dia marah deh.


"Aku akan beli yang baru, jangan marah ya"

__ADS_1


"Bukan masalah ponsel baru atau tidak, tapi disini banyak nomor penting. Foto foto Rasya waktu kecil juga banyak disini" gerutu Tisha yang masih marah


"Maaf deh, kalau gitu mana ponselnya biar aku bawa ke konter hp biar bisa diperbaiki" ucap Ray merasa bersalah


"Nanti sama aku aja" jawab Tisha sambil menyimpan piring di tempatnya


"Hum.. Tisha kamu bukan pembantu, kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini" protes Ray pada Tisha yang sedang mencuci piring.


'Kamu pikir hanya pembantu saja yang melakukan pekerjaan ini?"


"Lalu siapa yang melakukan pekerjaan ini selain pembantu?" Ray berdiri di belakang Tisha.


"Seorang wanita, seorang ibu, atau seorang istri" jawab Tisha sambil tersenyum


"Jadi, sekarang kamu sedang menjadi siapa? wanita, ibu, atau istri seseorang?" bisiknya pada Tisha, dengan senyuman menggoda.


Deg!


Tisha menghentikan aktivitas nya mencuci piring, tiba-tiba saja dia merasa jantungnya berdetak kencang, ketika Ray mengatakan kalimat itu dengan berbisik di telinganya.


Kenapa aku jadi malu mendengar ucapannya? padahal dia hanya merayu, dan aku malah baper. batin Tisha sambil menelan saliva nya kuat-kuat.


"He-hentikan itu! da-dan pergilah temani Rasya selagi aku mencuci piring" titah Tisha pada Ray dengan suara tergagap.


"Tisha kamu gugup? kamu berdebar karena ku, kan?" tanya Ray tanpa ragu, pria itu tersenyum berseri-seri. Dirinya begitu percaya diri.


"Kamu ngomong apaan sih, kak? siapa yang berdebar karena kamu?! gr!" sangkal Tisha sambil menyimpan piring di tempatnya.


Lama tidak mendengar suara Ray, Tisha berfikir bahwa pria itu sudah pergi. "Dasar! memang dia orang ternarsis sedunia. Percaya dirinya itu sama dengan anaknya, siapa yang berdebar karenanya? iya, aku memang berdebar sih..hatiku berdebar saat dia ada di dekatku"


Tisha selesai mencuci piring nya dan dia berbalik ke arah belakang. Dia terkejut lagi melihat Ray masih berdiri disana dengan senyuman manis di bibirnya. "Kak RAY!!"


"Aku sudah dengar semuanya, kamu mengaku barusan, kamu tidak bisa mengelak..hehe" Ray nyengir


Kenapa dia masih ada disini? dia pasti mendengar semua ocehan ku. Tisha merasa malu, sampai tidak mau melihat ke arah Ray.


Tisha berjalan mendahului Ray, tapi Ray menahannya dan memegang tangan Tisha.


"Aku boleh tanya, kenapa kamu berdebar?" tanya Ray sambil menarik wanita itu ke depan nya. Tisha tak berani menatap Ray, dia malu terlihat dari wajahnya yang memerah.


"Si-siapa yang berdebar? aku tidak bilang begitu!!"


Malunya aku.


"Latisha.." ucap Ray sembari menaikan dagu Tisha, dia ingin wanita itu menatapnya.


"Aku tidak berdebar" sangkal nya sambil memalingkan wajah


"Tisha.." lirihnya


Dia masih menyangkal nya, baiklah aku juga tidak mau disebut pemaksa. Mungkin waktu untuk kami masih belum cukup.


"Kalau benar kamu tidak berdebar, izinkan aku mengecek nya" lirik Ray pada dada Tisha


"A-Apa??!! dasar mesum!" Tisha memukul kepala Ray dengan keras.


PLETAK


"Aduh! sakit!!" rintih Ray sambil memegang bagian belakang kepalanya


Benar, begini lebih baik. Bercanda denganmu seperti ini mungkin akan membantuku untuk lebih dekat denganmu lagi.


"Pfutt.. hahaha.. rasakan. Suruh siapa kamu mesum!! " Tisha tersenyum lalu dia tertawa


"Senangnya aku bisa membuatmu tersenyum dan tertawa" gumam Ray pelan, dengan senyuman lembut di bibirnya.


"Kamu bilang apa kak?" tanya Tisha yang tidak mendengar jelas apa yang di gumamkan oleh pria itu


"Aku bilang, sini hp nya" Ray menadahkan tangannya ke arah Tisha, meminta ponsel yang sudah rusak itu.


"Karena kamu memang harus bertanggungjawab, jadi aku kasih hp ku ini. Kalau bisa cepat-cepat ya perbaiki nya"

__ADS_1


"Iya, disini kan ada foto anak kita yang belum sempat aku lihat" Ray mengambil ponsel itu dari tangan Tisha.


"Makasih ya.. tapi kak Ray, aku mau pinjam telpon rumah" ucap Tisha memohon izin


"Kenapa mesti minta izin? pakai saja"


Siapa yang mau ditelpon nya ya? apa si Zayn?


"Kamu tidak bertanya aku mau menelpon siapa?" tanya Tisha bingung


"Itu kan urusan mu, aku tidak akan tanya" jawab Ray


Sebenarnya aku sangat penasaran, tapi aku harus menahan diri. Menyebalkan.


"Oh ya sudah" Tisha tersenyum santai.


Segera setelah selesai mencuci piring, dia memakai telpon rumah yang ada di ruang tamu. Tisha menelpon ke sekolah Rasya untuk mengabari bahwa Rasya akan cuti selama satu minggu dengan alasan urusan keluarga.


Ray dan Rasya mendengarkan pembicaraan itu diam-diam. "Papa nguping ya?" tanya Rasya pada papa nya


"Memangnya kamu, enggak?" tanya Ray pada putranya yang duduk dipangkuan nya.


Bukan satu minggu Tisha, tapi kamu akan tinggal disini selamanya. Kamu dan Rasya tidak akan pernah kembali kesana. Ray berfikir dengan ide liciknya.


"Papa tenang aja, mama gak punya teman cowok kok" ucap Rasya dengan polosnya


"Benarkah? lalu om Zayn mu itu?"


"Oh ya.. om Zayn adalah satu satunya teman mama, dia juga baik sama aku pa. Selama ini dia selalu bantuin aku dan mama, tapi papa gak perlu cemburu sama om Zayn. Karena mama pernah bilang kalau mama sama om Zayn cuma sahabatan" jelas Rasya memenangkan papa nya


"Sahabatan? oh ya Rasya, jika kamu harus memilih antara papa atau om Zayn.. kamu mau pilih siapa?" tanya Ray penasaran dengan jawaban Rasya.


"Wah.. pertanyaan papa sulit sekali" gumam Rasya kebingungan


"Kamu pasti pilih papa, kan?" tanya Ray


Aku belum kenal dekat dengan dengan papa Ray, tapi kayanya dia orang yang baik. Sedangkan om Zayn, aku dan mama sudah kenal lama sama dia. Dan om Zayn juga adalah orang yang baik.


"Rasya sayang?"


"Aku akan memilih papa sama om Zayn, kalian berdua sama-sama orang yang baik bagi mama dan aku" jawab Rasya netral


"Rasya, kamu harus pilih salah satu dong. Masa, pilih dua duanya"


Rasya menggeleng-geleng, dia tetap pada keputusan nya yang tidak akan memilih siapapun diantara Ray dan Zayn.


Ray agak kesal karena Rasya belum sepenuhnya memihak nya dan masih menganggap Zayn orang penting dalam hidup nya dan sang mama. Ray tidak terima kalau posisi nya harus setara dengan Zayn, orang asing yang sudah menyembunyikan Tisha dan Rasya selama enam tahun.


****


Malam itu, Zee pulang ke rumahnya. Bu Lisa sedang menunggu nya dengan wajah yang marah, lagi-lagi putrinya itu pulang dalam keadaan mabuk.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini, Zevanya? hanya karena pria itu kamu sampai menghancurkan hidupmu?! kamu sudah kelewat batas, nak!" ujar Bu Lisa pada anaknya yang masih saja mengejar cinta seorang Ray.


"Kenapa sih mama selalu ngomel tiap hari? aku bosan mendengar nya" ucap Zevanya sambil merebahkan tubuhnya di sofa, kaki nya masih memakai heels.


"Mama hanya khawatir sama kamu Zee, pria yang kamu cintai dan tidak mencintai mu itu, tidak bisakah kamu melepaskannya?" tanya Bu Lisa sambil duduk di kursi yang berada di depan anaknya.


"Ma, dia mencintaiku ma.. dia hanya perlu waktu untuk menerima mu kembali"


"jika dia mencintaimu apakah dia akan mengirimkan ini kepadamu?" Bu Lisa menyerahkan sebuah amplop putih kepada putrinya.


Zee langsung membaca apa yang ada di dalam amplop itu, dari luar amplop nya bertuliskan pengadilan.


SREK


SREK


"Surat tuntutan dari kepolisian?!! hanya karena anak haram itu, dia melakukan ini padaku?!" Zee langsung beranjak dari tempat duduknya, matanya menatap murka pada surat tuntutan yang berasal dari kepolisian itu.


"Siapa anak haram yang kamu maksud? apa dia anak nya Ray? anaknya dengan siapa?" tanya Bu Lisa penasaran

__ADS_1


...---***----...


__ADS_2