
Sam Fayra
...πππ...
Setelah selesai melamar ibu dari anaknya, Ray mengajak Tisha jalan-jalan dulu sebentar di taman itu. Tempat pertama kali Ray meminta Tisha untuk menikah kontrak dengannya, saat itu Tisha dikejar kejar oleh rentenir yang menagih hutang ibu dan juga kakaknya.
"Kak" panggil nya pada Ray yang masih menggenggam tangannya.
"Ya?"
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"Tisha menatap Ray serius.
"Hanya tanya saja, meminta sesuatu juga boleh" Ray menoleh ke arah Tisha sambil tersenyum, senyuman yang jarang dia tunjukkan kepada orang lain.
"Kenapa kamu melamar ku disini?"tanya Tisha penasaran.
"Aku ingin menghapus kenangan buruk mu ditempat pertama kali aku mengajakmu menikah. Makanya aku memilih tempat ini dan menjadikan nya lebih berwarna, supaya kenangan itu bisa terhapus" jelas Ray sambil menatap Tisha, tangannya membelai lembut pipi itu.
"Jadi begitu, pantas saja restoran ini banyak berubah. Apa kakak yang mengubahnya?" tanya nya.
"Sebenarnya restoran ini sudah atas nama Rasya" jawab Ray sambil tersenyum
"Ah? Apa?!" Tisha terkejut mendengar pengakuan Ray tentang nama restoran itu.
Ray menjelaskan dan menceritakan pada Tisha, bahwa dia membeli restoran itu. Dia mengubah restoran sederhana itu menjadi restoran mewah dan indah, dia juga sudah mengatasnamakan restoran itu atas nama Rasya yang berarti singkatan Raymond dan Latisha. Karena Ray ingin restoran itu menjadi saksi bisu dimana Ray kembali melamar Tisha dengan cara yang berbeda.
Tisha terharu dengan penjelasan Ray, dari mulai pembuatan cincin, bunga, bahkan restoran. Selalu ada hal yang menakjubkan tentang dirinya, dan itu selalu membuat Tisha terkejut.
"Aku baru tau kalau kamu orang yang penuh kejutan, walau kamu tidak romantis"
"Haih, ternyata aku masih tidak romantis ya? Maafkan aku, aku sungguh tidak bisa..."Ray kesal sendiri.
"Aku kan sudah bilang, jadilah dirimu sendiri. Kenapa kamu jadi tidak percaya diri seperti ini?Kemana Raymond Argantara yang tidak tahu malu itu?" Tisha memegang pipi Ray dengan kedua tangannya, dia tersenyum memandang ke arah pria yang terlihat malu itu.
"Di depanmu, aku sungguh kehilangan kepercayaan diriku. Tau tidak? Aku tiba-tiba blank, pikiranku kosong, padahal sudah ada segudang rencana di kepalaku yang ku rancang untuk menciptakan lamaran romantis.. tapi, aku malah.. Arghh" Ray gemas pada dirinya sendiri yang tidak bisa jadi pria romantis.
"Tidak penting acaranya seperti apa, tapi kamu berhasil kan melamar ku? Bahkan tanpa semua ini, aku juga akan menerima mu kembali kak.. karena hatiku dari dulu sudah untuk kamu"
__ADS_1
"Walaupun aku selalu menahan mu dan memenjarakan mu, apa kamu masih mencintaiku? Kamu tau kan aku orangnya seperti apa?" tanya Ray sambil memegang kedua tangan Tisha.
"Kamu sudah memenjarakan hatiku dari dulu, memangnya aku bisa pergi kemana? Hatiku cuma satu, dan itupun sudah untuk mencintai kamu" Tisha tersenyum bahagia, setelah terpisah enam tahun lamanya, akhirnya dia mendapatkan cinta dari Presdir yang dulu dingin padanya itu.
Mereka berpelukan lagi, entah yang ke berapa kalinya. Sampai mereka berdua lupa waktu untuk pulang karena keasyikan berduaan.
Sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Ray, "Tisha, kapan kita akan mengadakan pesta pernikahan?"
"Me-menikah?!" Tisha terperanjat mendengar pertanyaan Ray padanya, dia terlihat bingung.
"Jangan-jangan kamu belum ada rencana untuk menikahi denganku?!"
"I-itu.. sebaiknya kita jangan langsung menikah" jawab Tisha sambil tersenyum canggung.
"A-Apa??!" Ray tidak mengerti, apa maksud Tisha jangan langsung menikah? Ray tampak marah.
Apa aku digantung lagi?
"Jangan marah dulu! Aku akan jelaskan!" Tisha berusaha menenangkan api yang mencuat di wajah Ray.
Rumah Tisha,
Kedua mata Fayra terbuka lebar, melihat sang mantan kekasih sedang berdiri di ambang pintu rumah itu.
Wajahnya menunjukkan kekesalan, "Mau apa bapak Samuel kesini?" tanya Fayra ketus.
"Mau apa ya? Tentu saja bertemu dengan kamu" Sam menjawab sambil tersenyum santai.
"Kamu sangat tidak tahu diri, pergi kamu dari sini!" Fayra menunjukkan jalan keluar pada Sam, dia mengusir pria itu.
Fayra menutup pintunya, sama seperti pintu hatinya untuk Sam. Kisah mereka hanya masa lalu, dan hanya kenangan saja. Ketika Fayra akan menutup pintunya, Sam menahan pintu itu dengan kakinya.
"Fay.. kita bicara dulu, kamu jangan menghindar terus" Sam menatap Fayra dengan mata penuh kasih, dia terlihat frustasi.
"Tidak ada yang perlu aku bicarakan dengan pria yang sudah beristri dan punya anak!" seru Fayra sambil menutup pintunya, tapi Sam terus menahannya.
"Aku akan pergi, tapi kita bicara dulu sebentar.. kumohon Fay.." Sam memohon pada Fayra untuk bicara dengannya.
__ADS_1
"Janji ya, sudah bicara lalu kamu pergi?" Fayra menatap pria itu dengan curiga.
"Aku janji Fay" jawab nya sambil tersenyum.
Fayra meminta Sam duduk di kursi teras rumah itu, Fayra membuatkan kopi untuk Sam. Mereka duduk bersampingan di kursi yang ada di depan rumah.
"Cepat katakan, kamu mau bicara apa?" tanya Fayra sambil kedua tangannya di dada.
Samar-samar tercium bau alkohol ketika Fayra berdekatan dengan Sam. Hati nya bertanya-tanya, apakah Sam minum alkohol? Dia ingin bertanya pada Sam, namun dia menahan nya.
"Fay, aku ingin menjelaskan alasan aku menikahi Grace" Sam menatap pada Fayra, dia seperti tertekan dan ingin mengatakan alasan dia menikahi Grace.
"Bukannya itu sudah jelas? Kenapa kamu mau memperjelas nya lagi?" Fayra kesal, dia sudah tau arah pembicaraan itu mau kemana.
"Tidak, semuanya belum jelas. Termasuk perasaan ku sama kamu Fay" Sam menggeleng, dia menatap Fayra dengan tatapan nanar.
"Kamu benar-benar keterlaluan, kalau istri dan anakmu mendengar semua ini. Dia pasti akan kecewa sama kamu, otak kamu dimana Sam? Sebenarnya apa yang kamu mau dengan menjelaskan semua ini padaku?! Kalau kamu berharap kita bisa kembali seperti dulu, kamu gak akan bisa Sam? Mending kamu pergi dari sini!" teriak Fayra emosi, dia tidak suka dengan sikap Sam.
Fayra juga memikirkan perasaan Grace dan Milena, bagaimana jika mereka tau kalau Sam masih menemui dirinya. Fayra melangkah pergi, mengusir pria itu dengan kesal.
GREP
"Sam! Apa yang kamu lakukan?!" Fayra terkejut, ketika kedua tangan kekar melingkar di tubuhnya, terlebih lagi ketika bibir Sam menyentuh ubun-ubun nya dengan lembut.
"Fay, aku masih mencintaimu...Aku tidak mencintai istriku"bisik Sam sambil memeluk erat Fayra.
"Sam, kamu mabuk! Jangan gila ya kamu! Lepaskan aku Samuel Hirata!" Fayra berusaha melepaskan diri dari tangan kekar yang membelenggu tubuhnya dengan erat. "SAM!"
Sam kehilangan akal sehatnya, dia mencium bibir manis Fayra untuk kedua kalinya. Tangan Fayra memukul mukul tubuh Sam dengan keras.
Sam, brengsek kamu!
...---***---...
Hai Readers! Jangan lupa mampir ke novel temanku ya πππ
__ADS_1