Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 124. Gara-gara martabak


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Seharian itu Tisha saling berkabar dengan Zayn dan Ray. Niat hati tidak ingin membalas pesan Zayn, tapi dia juga sadar bahwa hubungan nya dengan Ray belum sejauh itu. Lalu kenapa Tisha harus menjaga perasaan Ray dengan menjauhi Zayn? Toh, belum ada hubungan yang jelas diantara mereka. Zayn juga adalah sahabat Tisha, lebih lama mengenal nya daripada kenal dengan Ray.


Kini Tisha berada di persimpangan jalan, tentang siapa yang akan dia pilih. Tadinya dia sudah memantapkan hati memilih Ray karena sejak awal Ray sudah mengisi hatinya, namun bagaimana pula dengan Zayn yang sudah banyak membantunya? Hatinya bimbang karena kata-kata Fayra.


****


Malam itu Ray baru saja pulang dari kantor nya, dia pulang agak terlambat. Sebelum itu dia mengirim pesan pada Tisha, menanyakan apakah wanita itu sudah makan atau belum.


...R: Sha.. kamu dan Rasya udah makan malam belum?...


...T: Belum, baru saja aku mau memasak...


...R: Mau masak apa?...


...T: Kenapa? Mau numpang makan? πŸ˜‚...


...R: Kenapa seorang Raymond Argantara harus numpang makan? 🐱...


...T: πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ€­...


...R: Apa Rasya suka martabak?...


Begitulah Ray, dia senyum-senyum sendiri sambil saling berkirim pesan pada Tisha. Gerry hanya tersenyum melihat lihat bos nya dari balik kaca mobil yang ada di depan.


"Oh ya pak, besok mau berangkat jam berapa pak?" tanya Gerry pada bos nya itu


"Berangkat? Kemana?" tanya Ray bingung dengan apa maksud Gerry


"Besok kan bapak ada perjalanan bisnis ke Belanda" jawab Gerry


Jangan bilang dia lupa?


Ray terperangah dan langsung meletakkan ponselnya di saku jas, "Besok? Kamu yakin jadwalnya besok?" tanya Ray sambil memegang kepalanya yang terasa pusing dengan banyaknya pekerjaan kantor akhir-akhir ini. Belum lagi dia kesal harus bekerjasama dengan Zayn meski dia tidak mau melakukan nya.


Jika bukan karena Tisha, Ray pasti sudah membatalkan kerjasama itu. Ray benar-benar dibuat gusar oleh rival cintanya yang masih berusaha mengejar Tisha.


"Benar pak, besok jadwal perjalanan bapak ke Belanda" jawab Gerry yang sedang menyetir.


"Bodoh! Kenapa kamu tidak bilang padaku sebelum nya? Kalau tau aku pergi besok, mungkin aku akan mengambil libur hari ini dan menghabiskan waktu seharian dengan istri juga anakku! Kamu benar-benar lamban!" gerutu Ray kesal pada sekretaris nya itu.


"Maaf pak, tapi saya sudah mengingatkan bapak dari satu Minggu yang lalu" jawab Gerry sambil tersenyum ke arah Ray


"Kamu berani menjawab ku?! Mau potong gaji ya!" ancam Ray pada sektretaris nya itu

__ADS_1


GLEK


Begitu mendengar kata potong gaji, Gery langsung menciut. Dia membenarkan semua omongan Ray, meski dia tau bahwa ini bukan salahnya tapi salah Ray yang lupa jadwal.


"Iya pak, bapak benar. Saya lamban dan saya bodoh" jawab Gerry sambil nyengir.


Ya, bapak memang selalu benar. Pekiknya dalam hati


"Betul, dan selalu Ingatlah pasal pegawai" ucap Ray dengan suara dinginnya.


"Saya selalu mengingatnya pak, intinya bapak selalu benar" kata Gerry dengan suara yang ditekan seolah menunjukkan penegasan.


"Bukan selalu benar, tapi aku memang benar. Tapi kenapa dengan suaramu itu?Apa kamu tidak setuju?" tanya Ray tidak senang dengan nada suara Gerry


"Mana mungkin saya berani pak, hehe" Gerry nyengir dengan canggungnya. Dia tidak bisa melawan pria itu.


Dasar, dia tidak mau kalah. Bos selalu benar Gerry, selalu benar. Ingat pasal pegawai!


"Gerry! Jangan langsung pulang ke rumah, cari tukang martabak dulu!" titahnya pada Gerry


"Baik pak, siap" jawab Gerry patuh


Sebelum pergi ke rumah Tisha, Ray mampir dulu ke salah satu toko yang menjual martabak. Ray memesan 2 bungkus martabak, 1 martabak telur dan satunya lagi martabak coklat keju. Untuk siapa martabak itu? tentu saja untuk Tisha dan Rasya.


Dengan hati gembira di balik lelahnya, Ray menunggu martabak itu. Senyumnya perlahan menghilang ketika melihat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Masalahnya bukan pada mobil mewah itu, tapi pada siapa yang turun dari sana.


Walaupun sudah berhenti menjadi artis, wajah Zayn tetap saja di kenali masyarakat. Dan dia tidak bisa sembarangan pergi keluar dengan bebas.


"Kenapa ya aku bertemu denganmu terus hari ini?" tanya Zayn heran karena dia bertemu dengan Ray sebanyak 3 kali. Pertama di kantor, lalu di dalam rapat, kemudian malamnya di tukang jual martabak.


"Benar-benar sial sekali hariku, harus bertemu dengan mu" Ray tersenyum menyeringai, tidak senang dengan keberadaan Zayn disana.


"Aku juga merasakan hal yang sama" kata Zayn sambil mendekati tukang martabak itu. "Mbak, saya pesan martabak telur 1, martabak coklat keju nya satu!"


"Ya mas, silahkan tunggu dan duduk dulu" kata si penjual martabak yang masih sibuk menyiapkan pesanan Ray. Dia menyuruh Zayn menunggu.


Zayn pun duduk di kursi yang berhadapan dengan tempat Ray duduk.


Ray melirik ke arah Zayn dengan sinis. "Mbak, jangan dibuatkan pesanan nya!" kata Ray pada tukang martabak itu.


"Loh? Kenapa?" Zayn melotot ke arah Ray dengan pandangan tidak senang.


"Pesanan kita sama, jadi buat apa repot-repot kamu memesannya. Martabak itu untuk Tisha dan Rasya kan? Kamu tidak perlu repot-repot membelikan nya, karena aku sudah pesan" Ray tersenyum sinis pada pria itu


"Lalu apakah aku harus mengalah pada anda karena martabak?" Zayn tersenyum menyeringai, dia tidak mau kalah dari pria itu.

__ADS_1


"Mas, ini martabaknya sudah jadi" kata wanita penjual martabak itu yang akan memberikan martabak nya pada Ray, namun Zayn menyabet keresek berisi martabak itu.


Zayn tersenyum licik, dia mengejek Ray yang kalah cepat dirinya. Zayn langsung membayar martabak itu dengan dua lembar uang seratus ribu di dalam dompetnya. "Ini mbak uangnya"


"Waduh mas, ini sih kebanyakan!"


"Ambil aja semua nya mbak, makasih" Zayn mengatakan dengan ramah dan hangat. Pria itu tersenyum, namun karena masker yang ia pakai ,senyumnya tidak terlihat.


"Mbak, gimana sih? Saya sudah pesan martabak nya lebih dulu!" protes Ray pada penjual martabak itu, tidak terima karena martabak nya diambil begitu saja.


"Maaf mas, uang bicara" penjual martabak itu tersenyum santai, lalu melanjutkan aktivitasnya melayani pelanggan yang lain.


Sialan! Aku bisa saja membeli semua warung martabak yang ada di dunia ini!


Ray mendengus kesal karena martabak yang dia tunggu selama hampir 30 menit itu, diambil oleh Zayn begitu saja. Dan dengan tidak tahu malunya, Zayn malah melangkah pergi menuju ke dalam mobilnya.


Ray menarik baju Zayn beserta tubuhnya. Lalu terjadilah perdebatan diantara mereka gara-gara martabak.


"Kenapa Presdir yang terkenal kaya raya harus meminta martabak dari saya?" tanya Zayn yang tetap tidak mau menyerahkan martabak itu


"Si*lan kamu! Martabak yang kamu ambil itu adalah milikku! Dasar pria licik!" seru Ray kesal menatap tajam ke arah Zayn


"Tapi sekarang sudah ada ditangan ku, jadi ini milikku" Zayn dengan santainya melangkah masuk ke dalam mobil


Tiba-tiba Ray tersenyum menyeringai, dia menarik tubuh Zayn dan membuka masker juga topi yang ada di kepala Zayn.


Zayn panik, tanpa sadar dia menjatuhkan keresek berisi martabak itu. Dengan cepat Ray mengambilnya.


"Zayn! Ada Zayn Alterra disini!!" teriak Ray dengan sengaja di depan orang-orang yang ada disana. Ray tersenyum mengejek ke arah Zayn.


"Zayn? Pria itu bilang apa??!" tanya seorang wanita yang sedang duduk di dekat warung martabak.


"Zayn disini?!!" kata seorang gadis berusia belasan tahun histeris


Orang-orang disana langsung mengerubungi Zayn yang akan membuka pintu mobil nya. Para bodyguard nya tidak sempat menghadang orang-orang yang mengenali Zayn. Zayn sudah terkepung oleh fans nya.


"Zayn! Zayn!! Aku padamu!!"


"Zayn! Minta tandatangan nya!!"


Ditengah-tengah kerumunan fans nya yang didominasi oleh kaum hawa itu, membuat Zayn kebingungan. Sementara Ray dengan senyum liciknya, dia berhasil mendapatkan martabak.


"Mampus kau, Zayn! Makanya jangan macam-macam denganku" Ray merasa menang dari Zayn, dia terkekeh melihat Zayn dikerubungi fans nya dan tidak bisa kemana-mana.


Zayn menatap kepergian Ray dengan tatapan marah. "Sialan! Lihat saja Raymond! Aku akan membalas mu!"

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2