
πππ
Ray masih menggenggam tangan Tisha dengan lembut, matanya menatap gadis itu penuh harapan. Berharap bahwa Tisha akan memberi kesempatan padanya untuk berubah. Namun, Tisha masih terdiam belum menjawab pertanyaan dari Ray. Dan pria itu juga masih menunggu nya.
Dia tau setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kesempatan untuk memperbaiki kesalahan nya.
"Kamu minta kesempatan apa?" tanya Tisha sembari menyingkirkan tangan yang menggenggam nya.
"Kesempatan untuk hidup bersama kamu dan Rasya" jawab Ray tanpa ragu
"Kalau kesempatan itu, maaf aku tidak bisa"
"Kenapa?" tanya Ray dengan wajah kecewanya.
"Kamu tidak ingat bagaimana kita menikah dulu, kak? tidak ada kepercayaan, tidak ada kata berbagi, tidak ada kasih sayang apalagi cinta. Kita tidak bisa menjalani semua itu diatas kontrak. Hanya aku saja yang mencintai kamu, hanya aku saja yang berjuang dengan perasaan ini. Aku tidak bisa kembali pada orang yang sama sekali tidak mencintaiku"
"Sha, itu kan dulu.. saat aku belum menyadari perasaan ku ini. Kali ini dan untuk seterusnya aku benar-benar serius ingin menjalin hubungan dengan kamu. Bukan hanya dengan kamu saja tapi dengan Rasya juga, aku ingin kita menjadi satu keluarga yang bahagia. Mungkin kamu memang masih belum percaya bahwa aku sayang sama kamu dan anak kita, maka dari itu, apa aku boleh minta ganti kesempatan nya??"
"Ganti kesempatan?" tanya Tisha bingung dengan maksud Ray.
"Kesempatan untuk bersama, aku ganti dengan kesempatan untuk membuktikan perasaan ku padamu"
"A-Apa?" Tisha menengadah ke arah Ray, dahinya mengernyit, kedua alisnya terangkat.
"Please, berikan kesempatan untuk aku membuktikan bahwa aku mencintaimu dan anak kita" Ray berusaha merayu Tisha dengan kata-kata nya.
Tisha lagi-lagi diam, entah apa yang dia pikirkan. "Aku beri waktu 3 detik, kamu harus jawab ya.. satu.. dua... ti...
Tisha menutup mulut Ray dengan satu jari telunjuk nya, "Oke, fine. Aku setuju, aku akan berikan kamu kesempatan. Tapi aku juga punya syarat"
Apa aku manfaatkan saja semua ini untuk mencari siapa yang sudah membuat ku kecelakaan mobil enam tahun yang lalu? Tisha berfikir
Aku tau Tisha, kamu tidak tahan melihat ku sedih karena kamu masih cinta sama aku. Ray percaya diri soal perasaan Tisha padanya
"Apa syarat nya?"tanya Ray penasaran, dia mulai tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan langsung percaya kalau kamu sayang padaku dan Rasya, jika kamu bisa menemukan siapa orang yang sudah membuatku, Zayn, ibu dan kakak kecelakaan enam tahun yang lalu" jelas Tisha memberikan syarat untuk Ray membuktikan perasaan
Mencari dalang dibalik kecelakaan itu? selama enam tahun ini aku selalu mencari nya, tapi belum ditemukan juga. Aku curiga pada Zevanya tapi aku tidak punya bukti. Aku harus menyewa beberapa orang hebat lainnya untuk mencari keberadaan si supir truk yang menghilang itu. Karena dia adalah kunci dari semuanya.
"Kak Ray? kamu dengar aku? apa kamu bisa?" tanya Tisha pada pria itu
Satu tangan Ray membelai pipi Tisha dengan lembut, tatapan nya juga menghangatkan hati. "Tanpa kamu minta aku sudah lama mencarinya. Orang yang sudah membuat kamu berpisah dariku, aku tidak akan melepaskan nya. Tisha.. aku akan menemukan nya, jadi tinggallah disini untuk dua bulan"
"Dua bulan?"
"Hm.. tinggal di rumah ini, dan aku akan menunjukkan perasaan ku pada kamu, juga anak kita. Dalam waktu dua bulan itu, atau sebelum waktu dua bulan itu aku janji akan menemukan pelaku nya. Aku janji.."
"Baiklah, aku akan mempercayai mu kali ini. Tapi, masalah tinggal disini atau tidak aku tidak bisa memutuskan nya sendirian. Semuanya tergantung Rasya"
"Jika Rasya setuju untuk tinggal disini, apa kamu akan tinggal?" tanya Ray
"Ya" jawab nya singkat
"Baiklah"
Semoga kamu bisa menjaga kepercayaan ku kak Ray. Harapan Tisha pada Ray.
Setelah pembicaraan mereka itu, Tisha membantu Ray untuk tidur siang tanpa obat tidur. Dengan terpaksa, Tisha memijat kepala Ray karena dia yang sudah membuang semua obatnya.
"Kamu harus bertanggungjawab"
"Ini kan aku sedang bertanggung jawab, tidurlah.. kamu bisa sakit kalau tidak tidur" ucap Tisha yang masih memijat kepala Ray, Ray dengan sengaja duduk di paha Tisha. "Kak Ray.."
"Aku butuh bantal, aku bisa tidur kalau berada di pangkuan mu" ucap nya merengek
"Kak Ray, jangan manja deh! dikasih hati minta jantung!" seru Tisha kesal karena pria itu duduk dipangkuan nya.
"Please.. sebentar saja ya. Izinkan aku tidur disini, agar aku tidak mimpi buruk dan tidurku nyenyak" ucap Ray sambil memanfaatkan kesempatan untuk memegang tangan Tisha.
"Kamu ini ya.. baiklah aku akan membiarkan mu untuk kali ini saja. Setelah kamu tidur nyenyak, aku akan menendang mu!" ancam Tisha yang berusaha terlihat galak di depan Ray
__ADS_1
"Kamu tidak akan tega" kata Ray yakin, terlihat senyuman manis dibibir nya itu.
"Sudahlah! cepat tidur!" Tisha melanjutkan kegiatan nya memijat kepala Ray dengan lembut.
Mata Ray mulai menutup, pijatan dari wanita itu membuat nya nyaman."Seperti nya sebentar lagi aku akan tidur"
"Jangan bicara terus, kamu harus tidur.." ucap Tisha lembut
"Ya.. seperti nya aku bisa tidur nyenyak kalau kamu dan Rasya ada disisi ku. Aku tidak akan mimpi buruk lagi.. Tisha, terimakasih sudah memberikan aku kesempatan" Ray pun menutup matanya dan tertidur di pangkuan Tisha.
Berapa besar cinta atau rasa bersalah di hati Ray untuk Tisha dan Rasya? sehingga membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak selama enam tahun tanpa mereka. Tisha mulai iba, ada perasaan tidak nyaman di dalam hatinya melihat kondisi Ray. Dia merasakan kalau tubuh Ray kurus, kantung mata yang hitam, terlihat jelas hidupnya tidak baik.
"Kenapa kamu tidak hidup dengan baik kak? kenapa kamu harus menyiksa dirimu sendiri? kenapa juga kamu masih sendiri? bukannya bersama wanita itu dan hidup bahagia dengannya. Bukankah dulu kamu sangat cinta mati padanya? aku dan anak kita sudah pergi tapi kenapa kamu malah mengejar ku? kenapa kamu malah mencari ku dan Rasya? Hiduplah dengan baik kak.. kamu harus hidup dengan baik walau tanpa ada aku" ucap nya pada pria yang sedang tertidur lelap dipangkuan nya itu. Matanya menatap berkaca-kaca, hatinya masih ada cinta untuk Ray.
Tisha mengelus kepala Ray dengan lembut. Semakin dia melihat Ray, semakin dia melihat Rasya anaknya sendiri. Hanya saja Rasya dalam ukuran besar.
"Wajahmu sama sekali tidak berubah, padahal sudah enam tahun berlalu. Kamu selalu kelihatan awet muda, curang" gumam Tisha pada pria itu.
****
Entah berapa lama Tisha berada di ranjang bersama Rasya. Tisha melihat anak nya sedang duduk di ranjang itu.
"Mama sudah bangun?" tanya Rasya dengan wajah polosnya, tersenyum pada mama nya
"Astagfirullah!! mama ketiduran, sayang kamu gak apa-apa kan? kamu udah bangun dari tadi?" tanya Tisha yang panik langsung beranjak dari ranjangnya dan duduk.
"Mama jangan panik, aku gak apa-apa kok. Aku habis makan kue sama donat disuapi sama papa" jawab Rasya ceria
"Mana papa kamu?" tanya Tisha yang tidak melihat keberadaan Ray disana.
"Papa katanya mau pergi kasih pelajaran sama nenek sihir" jawab Rasya sambil memakan donat coklat yang ada disana.
"Nenek sihir?" tanya Tisha bingung siapa yang dimaksud Rasya sebagai nenek sihir itu.
...****...
__ADS_1