
...πππ...
Mendengar kata maaf yang terucap dari mulut suaminya, membuatnya terpaku. Kata-kata itulah yang selalu ingin ia dengar ketika Ray menyakiti nya di masa lalu. Lalu kenapa baru sekarang Ray meminta maaf? disaat hubungan mereka sudah diambang kehancuran dengan talak satu yang sudah diucapkan oleh Ray.
Tisha kebingungan dengan jawaban yang akan ia berikan pada suaminya. Berikan kesempatan ya atau tidak? bisakah hubungan yang sudahlah seperti gelas yang pecah itu diperbaiki? akankah bisa kembali seperti semula pecahan gelas itu? Jujur saja, Tisha sudah lama memaafkan kesalahan Ray yang pernah menyakiti nya. Tapi, bagaimana dengan ancaman Bu Daniah dan Zee padanya?
Ray masih menunggu, menatap istrinya dengan rasa penasaran. Menantikan jawaban yang akan diberikan oleh istrinya.
Ya Allah aku bingung, benar-benar bingung. Aku harus jawab apa? ancaman Bu Daniah dan Zee pasti tidak main-main. Ini berkaitan dengan masalah kakek.
"Maaf kak, aku sudah kenyang. Aku mau tidur.."
SREK
Ray beranjak dari tempatnya duduk, ia menatap istrinya dengan tajam. Ray masih penasaran dengan pertanyaan nya yang belum terjawab.
"Kamu mau menghindar dari pertanyaan ini. Jawab sekarang juga atau kamu tidak akan bisa tidur malam ini" ancam Ray yang sangat menginginkan jawaban itu.
Hadapi saja lah Tisha! kamu harus bicara padanya. Tisha menghela napas dan mulai menyiapkan kata-kata
"Kakak ingin menghapus kontrak pernikahan kita kan? lalu setelah itu apa yang akan kita lakukan?" tanya Tisha sambil melirik ke arah Ray dengan penuh pertanyaan
"Memangnya apa lagi? tentu saja kita akan hidup bersama" jawab nya yakin
"Hidup bersama ya? kalau begitu apa kakak mencintaiku?makanya kakak mau hidup bersamaku?" tanya Tisha sambil tersenyum tipis
DEG!
Cinta? kenapa dia tiba-tiba membahas soal perasaan? TIDAK! ini belum saatnya, aku tidak bisa mengatakan perasaanku padanya dengan cara seperti ini.
"Kenapa pertanyaan nya jadi kesini?" tanya Ray berusaha mengalihkan pertanyaan Tisha ke arah yang lain.
Dia selalu mengalihkan pembicaraan saat ditanya soal perasaan, apa sih maunya? apa saat dia meniduri ku juga bukan karena cinta? Apa ini.. mengapa aku sangat kecewa? mengapa hatiku sakit?
Tisha tak bicara lagi, menghindar mungkin lebih baik baginya. Dirinya sudah terlanjur kecewa dengan sikap dingin suaminya. Tisha merasa suaminya seperti layangan yang jika ia genggam akan terasa dekat dan jika ia lepaskan akan pergi jauh darinya. Dia juga banyak pikiran, besok adalah hari terakhir dari seminggu yang Bu Daniah dan Zee katakan tentang perceraiannya dan Ray.
Kalau tidak mencintaiku, untuk apa hidup bersama? apa gunanya aku berada di sisimu? keputusanku untuk bercerai itu sudah benar! batin Tisha terasa perih memikirkan hubungan mereka.
__ADS_1
Tanpa bicara apa-apa, Tisha melangkah pergi ke kamarnya. Tak menghiraukan Ray yang memanggilnya, Tisha menutup pintu kamarnya begitu saja.
CEKRET
Dug dug dug
"Latisha! kita belum selesai bicara? hey!" ucap Ray sambil mengetuk pintu kamar Tisha selama beberapa kali.
Apa aku ada salah bicara padanya? kenapa dia marah?
"Aku ingin tidur, aku lelah. Sisa makanan nya nanti akan ku bereskan" ucap Tisha dengan nada yang rendah, seperti malas bicara pada Ray.
"Latisha! beraninya kamu mengabaikan suamimu! buka pintunya!" Ray mulai kesal karena diabaikan oleh Tisha.
Sebelum merebahkan tubuhnya di ranjang, Tisha meminum sebuah pil yang ada di laci kamarnya.
***
Ray sangat kesal karena istrinya yang mengabaikan nya, ia sudah mengetuk pintu kamarnya beberapa kali namun tak ada jawaban juga. Untuk mendinginkan kepalanya, Ray pun memakai jaket dan setelan casual nya. Malam itu ia akan pergi keluar rumah menemui teman-teman nya.
"Pergilah kak, kamu memang selalu begitu" Tisha menangis sedih dan duduk di sudut ranjang nya.
Disaat sedih seperti itu, ponsel nya tiba-tiba berdering. Tanpa melihat siapa yang menelponnya, Tisha langsung mengangkat nya.
"Halo, sha?"
"Ha..halo..." jawab Tisha dengan suara yang agak parau, seperti orang yang sedang flu
"Tisha, kamu baik-baik aja? suara kamu kok gitu?" suara cemas seorang pria yang menelpon nya.
"Za-Zayn.. oh ini kamu? maaf, aku kira siapa.. uhh.. haa.." Tisha menyeka air matanya dan berusahalah memulihkan suaranya.
"Tisha kamu nangis?"tanya Zayn mulai cemas mendengar suara sedih dari wanita yang sedang ia telpon
"Ah enggak kok, aku cuma lagi flu aja. Ada apa Zayn?" Tisha berkata seolah ia baik-baik saja
Zayn terdiam sejenak, ia memang pernah mendengar dari orang-orang bahwa Tisha dan Ray menikah bukan karena saling cinta. Mendengar Tisha menangis, Zayn semakin yakin kalau Tisha memang tidak bahagia dengan pernikahannya itu. Zayn pun mencoba memposisikan dirinya sebagai teman baik Tisha agar bisa membuat gadis itu bicara masalahnya padanya.
__ADS_1
"Ada apa Tisha? kamu bisa ceritakan masalahmu padaku? kita teman kan? dulu aku juga suka cerita masalahku padamu" Kata Zayn membujuk supaya Tisha mau curhat padanya
"Sungguh tidak ada apa-apa" Tisha menutup mulutnya meski ia ingin curhat pada seseorang untuk meringankan beban hatinya. Namun, ia lebih memilih menyimpan lukanya sendiri.
πππ
Di sebuah klub malam, Ray bertemu dengan Sam dan Andrew. Kebetulan kedua temannya itu sedang free dan santai, mereka memutuskan bertemu di klub malam milik Andrew. Terlihat beberapa orang disana sedang ngopi, main gadget, joged joged menikmati alunan musik, ada juga yang bermain wanita. Ya, begitulah dunia malam.
"Bro, ada apa? kamu sudah bosan dengan istri mu? sampai malam-malam begini kamu menemui kami" goda Sam pada temannya itu
"Istri mu cantik dan masih muda ya, aku baru tau kalau ternyata Raymond Argantara sudah menikah diam-diam selama dua tahun dan menyembunyikan istri yang cantik" jelas Andrew sambil meneguk minuman soda yang ada di atas meja
"Sudahlah! jangan membicarakan dia! aku sedang tidak ingin membahasnya", kata Ray kesal sambil meneguk minuman berwarna agak hitam yang ada di dalam gelas
"Wow wow.. ada apa ini? apa kamu ada masalah dengan istrimu? atau dengan Zee?" tanya Andrew sambil tersenyum, ia menebak-nebak alasan Ray kesal seperti ini bisa jadi karena Zee atau istrinya.
"Jangan sebut-sebut nama Zee lagi!" seru Ray yang sudah mulai mabuk meski hanya minum beberapa gelas saja.
Ray pun curhat kepada kedua teman dekatnya itu tentang pertengkaran nya dengan Tisha. Lebih tepatnya Ray mengira Tisha yang marah padanya tanpa alasan.
"Bro, sekarang aku tanya kamu.. apa kamu cinta sama istrimu?" tanya Andrew serius
"Ya, aku cinta" jawab Ray jujur disaat mabuk, kedua temannya juga tau kalau Ray selalu bicara jujur saat sedang mabuk.
"Lalu kenapa kamu tidak bilang saja cinta padanya? aku yakin dia tidak akan meminta bercerai lagi padamu" ucap Sam sambil menepuk pundak Ray seraya menyemangati nya
"Aku mau bilang cinta padanya, setelah satu bulan masa kencan kami.. " jawab Ray setengah tidak sadar.
"Bodoh! sekarang aku tau kenapa istrimu marah padamu, dia hanya butuh kata cinta darimu. Jangan tunggu satu bulan, kelamaan.. kalau dia jatuh cinta pada orang lain baru tau rasa kamu ya" kata Sam mengingatkan sahabat nya itu
"Tidak mungkin, dia sangat mencintaiku.. selama dua tahun dia mencintaiku.. dia tidak akan pernah mencintai pria lain selain aku" Ray tersenyum penuh percaya diri bahwa selamanya Tisha akan selalu mencintainya
"Baiklah baiklah, kamu memang sangat percaya diri! lalu bagaimana jika ada seseorang yang ingin merebutnya darimu, lalu dia bersedia pergi bersama pria lain? kamu mau bagaimana?" tanya Andrew penasaran
Ray terdiam dan terlihat berfikir untuk menjawab pertanyaan Andrew.
...---***---...
__ADS_1