Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 24. Tisha mengalah


__ADS_3

Gadis itu menghindar dan menjauh dari Ray, ia bingung menjelaskan situasi yang sudah terjadi padanya. Ray menatapnya dengan serius, penuh pertanyaan.


Ada apa dengannya? kenapa dia diam saja? kenapa wajahnya memar dan matanya bengkak seperti itu?. Ray mencemaskan istrinya itu


"Latisha, jawab!" seru Ray lugas


"Aku sudah bilang kalau aku flu dan sakit mata" jawab Tisha


"Latisha Anindita!" suara Ray semakin terdengar tegas, mulai meninggi


"Tandatangani saja dokumennya, aku akan mencetak dokumen yang belum di print" Tisha mengalihkan pembicaraan, ia mengambil masker dan kacamata hitamnya. Menaruh kacamata nya di mata.


Ada apa dengannya? kamu kira aku bodoh? flu? sakit mata?. Ray tetap dengan ekspresi dinginnya itu.


BRUK


"Waduh!!" Tisha memegang kakinya yang tak sengaja menyandung kursi, karena pandangan nya buram memakai kacamata hitam membuatnya kurang fokus.


Ray menahan tawa melihat Tisha yang hampir jatuh dan memegang kakinya. "Pfutt!!"


Apa dia barusan tertawa? apa dia menertawai ku?. Tisha terkejut sekaligus malu karena mendengar Ray yang menertawakannya.


"Buka saja kacamatanya"


"Tidak usah, aku baik-baik saja kok. Kakak gak usah cemas" jawab Tisha sambil memegang lututnya yang kesakitan


"Ya, kamu baik-baik saja dan aku juga gak cemas. Tapi aku kasihan aja tuh kursinya ketabrak sama kamu, dia kan gak salah apa-apa" jelas Ray menusuk


JLEB!


Kata-kata nya itu memang seperti sambel. Malu nya aku, habis jatuh tertimpa tangga ini namanya..


"Hmphh!!" Tisha terlihat sebal, ia kembali ke meja nya dan mulai mengetik beberapa dokumen.


Diam-diam Ray memperhatikan istrinya dari belakang, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, saat Tisha izin ke kamar mandi. Ray memanggil Gerry ke ruangannya.


"Bapak memanggil saya?" tanya Gerry


"Ya, apa kamu apa yang terjadi pada Latisha?" tanya Ray


"Memangnya apa yang terjadi pada nyonya, pak?" tanya Gerry


"Jadi kamu tidak tau kalau wajahnya lebam?" tanya Ray


"Saya tidak tau pak, tadi pagi sih saya lihat, nyonya.. masih baik-baik saja" jawab Gerry sambil mengingat-ingat


"Selidiki siapa yang makan siang bersamanya, bawa mereka kehadapan ku! dan kalau perlu periksa kamera CCTV juga!" ujar Ray pada sekretarisnya itu.


Aku pikir dia terjatuh atau mungkin ada yang membully nya di kantor ini?. batin Ray bertanya-tanya


"Baik pak, siap laksanakan!"

__ADS_1


"Gerry, satu lagi"


"Ya pak?"


"Jangan beritahu istriku kalau aku menyelidiki nya"


Haha, dasar tsundere. batin Gerry tertawa sendiri


"Iya siap pak"


"Lakukan secara diam-diam, kamu paham?" tanya Ray


"Paham pak" jawab Gerry


KLAK


Tisha membuka pintu ruangan itu, ia baru kembali dari urusannya di toilet. Tisha membungkuk dan tersenyum ramah pada Gerry, meskipun raut wajahnya tidak terlihat oleh masker dan kacamata.


"Nyonya, kenapa anda pakai kacamata dan masker?" tanya Gerry agak terkejut


"Hehe, saya lagi flu sama sakit mata" jawab Tisha sambil kembali ke tempat duduknya


Flu? sakit mata? di musim panas begini? apa mungkin ini yang dimaksud pak Presdir?


Gerry tidak bertanya apa-apa lagi, ia langsung pamit pergi dari ruangan itu. Gerry merasakan bahwa Tisha memang agak berbeda, dan tingkahnya agak aneh. Melihat nya memakai masker dan kacamata hitam.


Sampai pulang bekerja, Ray terus saja melihat Tisha dengan tatapan tajam. Itu karena pertanyaan nya tidak kunjung mendapat jawaban dari Tisha. Dengan kekeh gadis itu tetap bilang kalau ia sedang flu dan sakit mata , berikutnya lagi ia bilang kalau ia jatuh di kamar mandi.


"Yang mana yang benar?flu, sakit mata, atau jatuh? kalau mau bohong carilah alasan yang bagus" kata Ray sambil menandatangani beberapa dokumen di mejanya.


"Oh ya, ini sudah jam pulang kerja. Kakak tidak akan pulang?" tanya nya sambil melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 5 sore.


"Kamu duluan saja, masih ada beberapa dokumen yang harus diurus" jawab Ray cuek


Gerry pasti sudah menyelesaikan apa yang aku minta, kan?


"Gak papa nih kalau aku pulang duluan?" tanya Tisha


"Iya, jangan lupa buatkan aku makan malam juga" kata Ray mengingatkan


"Oke, aku pulang duluan ya" Tisha tersenyum walau tidak terlihat karena masker menutupi bibirnya.


"Ya" jawab nya singkat


Huh, dasar si es batu. Cuma ya doang? tambahin dikit kek, hati-hati atau apalah gitu? dasar Presdir berdarah dingin.


Tisha pun segera pergi dari ruangan Presdir dan dari kantor itu, naasnya di depan kantor ia bertemu lagi dengan kakak nya, kali ini Arya datang bersama ibunya. Mereka seperti sedang menunggu Tisha di depan kantor.


"Bu, tuh si Tisha! si adik durhaka"


"Ibu..." Tisha membuka masker dan kacamata nya

__ADS_1


Luka di pipi dan bibir nya itu bahkan belum kering, Bu Fani melayangkan tamparan pada Tisha dan membuat luka baru. Bu Fani memaki anaknya itu, menyebutnya anak durhaka, tidak tahu di untung, kacang lupa kulitnya. Arya seperti nya senang karena Tisha diperlakukan kasar oleh ibunya.


Bukannya kata maaf atau rindu yang ia dapatkan dari ibunya, ia malah mendapatkan makian dan tamparan. Tisha jadi berfikir yang bukan-bukan, apakah ia benar anak kandung dari bu Fani? apakah semua ibu sikapnya seperti ini? Tisha sakit hati, merasa bahwa dirinya bukanlah bagian dari keluarga.


Kemarahan Tisha meledak, ia mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya pada ibu dan kakaknya.


"Kenapa kalian seperti ini padaku?! apa aku benar-benar keluarga kalian? apa kamu ibuku? apa kamu Kakak ku? kenapa kalian tidak bersikap seperti ibu dan kakak ku seperti keluarga yang lain?!" teriak Tisha marah


"Anak tidak tau diri.. jadi kamu menganggap kami bukan keluarga kamu? mentang-mentang sudah jadi istri orang kaya, kamu jadi belagu ya. Kakak kamu benar, kamu kaya kacang lupa kulitnya. Gak tau diri!" Bu Fani menatap Tisha dengan penuh kemarahan, ujaran kebencian terdengar dari suaranya memaki Tisha.


"Iya kan Bu? dia gak tau diri? bahkan dia tadi beraninya ngusir aku dari kantornya." Arya berkacak pinggang, memandangi adiknya seolah gadis itu adalah pendosa.


Tangan gadis itu gemetaran menahan amarah, ia mengigit bagian bawah bibirnya dengan geregetan, matanya memicing dan berkaca-kaca.


Tisha merasa seperti dirinya lah yang bersalah disini, Tisha sudah lelah dengan perlakuan kakak dan ibunya. Apalagi setelah ayahnya meninggal, mereka semakin menjadi-jadi. Sampai ayahnya bangkrut dan jatuh miskin, itu karena ibu dan kakaknya yang suka berfoya-foya. Yang satu suka pamer kekayaan dan menghamburkan uang, yang satunya lagi suka bermain judi dan selalu kalah, dua duanya sama saja.


Tisha ingin berteriak, memaki kedua orang yang ibaratkan sudah seperti parasit dalam hidupnya. Namun, ia teringat kalau ia masih ara ikatan keluarga dengan dua orang menyebalkan itu.


"Baiklah,kalian mau tempat tinggal dan uang kan?" tanya Tisha yang akhirnya menyerah dengan ibu dan adiknya


"Ya, kami mau uang dan tempat tinggal"


"Kalau aku berikan uang dan tempat tinggal, kalian tidak boleh menggangguku lagi" Tisha berkata dengan tegas


"Tergantung dari uang dan tempat tinggal yang kamu kasih" jawab Bu Fani dengan nada bicaranya yang angkuh.


Tisha terlihat merenung, memikirkan sesuatu.


...***...


Ruangan kerja Ray..


Gerry membawa dua orang yang sebelumnya makan siang bersama Tisha. Ray mengintrogasi kedua temannya itu, tentang apa yang terjadi pada istrinya. Kedua gadis itu menjelaskan kalau mereka hanya tau tentang seorang pria berpakaian seperti preman yang datang membuar keributan di resepsionis untuk menemui Tisha.


"Terimakasih untuk informasinya, Gerry naikan gaji mereka bulan ini" ucap Ray pada Gerry


"Terimakasih pak Presdir" kata dua orang wanita itu sumringah


Setelah kedua wanita itu pergi dari ruangan presdir, Ray meminta Gerry untuk memeriksa kamera CCTV yang ada di depan kantor dan ruangan dekat ruangan resepsionis. Gerry pun melaksanakan perintah presdir nya dengan cepat, ia menunjukkan rekaman dari kamera CCTV yang berada di dekat ruangan resepsionis dan di depan kantor.


Terlihat dari salah satu rekaman CCTV itu kalau Tisha dipukul oleh seorang pria berpakaian preman, dan orang itu adalah Arya.


"Ya ampun pak! pria itu siapa? kenapa dia memukul nyonya seperti itu? sungguh keterlaluan!" seru Gerry ikut gemas melihat rekaman CCTV itu.


"Bawa satpam penjaga yang dibawah itu kemari!" seru Ray marah


"Baik pak, akan saya panggilkan" ucap seorang pria yang memantau CCTV di kantor itu.


Ray berekspresi dingin, matanya menunjukkan bahwa ia bukan hanya sekedar marah. Pria yang memukul istrinya itu sudah membuatnya murka. Ray adalah orang yang menyelesaikan masalah sampai ke akarnya. Dan ia ingin menyelesaikan masalah sampai ke akarnya, menumpas, atau menghancurkan nya. Orang-orang yang ikut terlibat, pasti akan di usut nya.


...---***---...

__ADS_1


Mohon maaf readers 😘 kemarin author tidak up πŸ₯°


Mau up lagi? please komen, like dan gift nya ya untuk dukungan kalian pada karyaku ini.. makasih,😘πŸ₯°πŸ™


__ADS_2