
...πππ...
Dengan semangat Rasya berlari duluan masuk ke dalam lift untuk segera bertemu ibunya yang dirawat di lantai 2 rumah sakit itu. Alangkah bahagianya hati Rasya, mendengar mama nya sudah siuman dan dalam keadaan baik-baik saja.
Fayra dan Farhan menyusul Rasya dari belakang, "Rasya jalannya pelan-pelan, nanti kamu jatuh" Fayra mengingatkan anak laki-laki yang sudah sampai di depan lift dan sedang menekan tombol lift.
"Tante Fayra aja yang jalannya lama, ayo tante!" Rasya tersenyum lebar, ia menyaksikan pintu lift itu terbuka
TING!
Saat lift itu terbuka, terlihat lah sosok dua pria dewasa yang tadi berkelahi di depannya. Rasya menatap kedua pria itu.
Om Zayn? om eskrim?
"Rasya, ternyata kamu ada disini. Om udah nyariin kamu dari tadi" sapa Zayn sambil tersenyum lebar pada Rasya
"Iya om, aku mau ke ruangan mama" jawab Rasya dengan wajah polosnya, ia berbicara dengan Zayn tapi malah menatap Ray dengan tatapan aneh dan bingung.
Ray juga sama, ia menatap anak itu yang ternyata adalah anak kandungnya. Anak yang selalu ia panggil biji kacang dan fotonya selalu ia bawa kemana-mana. Matanya berkaca-kaca melihat ke arah Rasya, rasa sedih, marah, haru, bercampur di dalam hatinya.
Ya Allah.. anak yang tidak pernah aku ketahui kehadiran nya. Ternyata benar-benar ada, dia ada dihadapan ku. Dia adalah si imut, dia sendiri yang mendoakan agar aku bertemu dengan Tisha dan anakku. Akhirnya doa anak sholeh terkabul.
Presdir Argantara grup itu menggendong Rasya secara tiba-tiba, saat Zayn ingin menggandeng tangannya. Zayn kesal karena keduluan oleh Ray.
"Dia anakku" bisik Ray pada Zayn sambil menggendong putra nya.
Zayn menarik kembali tangannya, ia gemas dan kesal. Merasa seperti posisi nya sedang di rebut oleh Ray.
"Om.. om kenapa gendong aku?" tanya Rasya pada Ray yang tiba-tiba menggendongnya.
"Kamu mau ketemu mama kamu kan? om juga mau kesana, kita bareng aja kesana nya" Ray menunjukkan senyuman terbaik nya pada Rasya.
"Om, gak usah gendong aku. Aku kan udah besar" keluh Rasya dengan bibir monyong nya.
"Gak papa dong, om gendong ya.. om mau gendong kamu" Ray merajuk, ia tersenyum manis dan membujuk bocah berusia 5 tahun itu agar setuju digendong olehnya.
"I-iya deh, boleh. Tapi, kalau sampai di ruangan mama.. om harus turunin aku ya" Rasya menurut pada Ray namun ada syaratnya.
"Oke, om setuju" Ray tersenyum manis dan menggendong anak itu dengan penuh kasih sayang.
Kenapa aku tidak sadar, kemampuan anak ini bernegosiasi sangat mirip dengan ku waktu kecil. batin Ray sedih dan haru melihat Rasya ada di dalam gendongan nya.
Fayra, Farhan, Gerry terkejut melihat senyuman manis di bibir Ray yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Apa itu Presdir kejam dan dingin yang ku kenal? mengapa dia terlihat berbeda di depan anak nya?
Gerry terperangah.
Aku baru tau kalau Presdir Raymond bisa tersenyum semanis itu? bahkan dia sangat lembut pada anaknya. Farhan juga terpana melihatnya
Dia sangat tampan aslinya. Orang-orang bilang kalau dia dingin dan kejam, tapi dia tidak terlihat seperti itu saat bersama Rasya. Fayra yang selama ini melihat Ray dari foto, terkejut melihat Ray tersenyum pada Rasya. Padahal selama ini fotonya yang terlihat di media, tak pernah tersenyum seperti itu.
Mereka pun naik ke dalam lift menuju ke lantai 2, ruangan tempat Tisha di rawat. Di sepanjang perjalanan, Zayn terlihat diam saja. Pria itu kesal karena Ray bisa dekat dengan Rasya dengan mudahnya. Zayn heran juga, kenapa Rasya bisa dekat dengan Ray padahal Rasya adalah tipe anak yang tidak mudah dekat orang lain.
__ADS_1
Apa ini yang namanya ikatan batin? pertalian darah? itu sebabnya Ray dan Rasya bisa dengan mudah menjadi dekat?
Ting!
Mereka berlima sampai di lorong lantai 2, Ray masih menggendong Rasya di lengannya. Ray dan Rasya berjalan lebih dulu menyusuri lorong itu.
Sementara Zayn masih menatap mereka dengan cemburu dari belakang. Di belakangnya ada Farhan dan Fayra.
"Zayn, kamu kenapa?" tanya Fayra seraya menepuk bahu adiknya, ia merasa adiknya sedang berada dalam keadaan yang tidak baik.
"Zayn..." Farhan memangil Zayn yang terlihat kesal itu.
"Aku tidak apa-apa" jawab Zayn dengan tangannya yang terkepal itu, menahan emosi.
Jangan mundur Zayn! kamu yang sudah berada bersama mereka selama ini. Hanya karena Ray adalah ayah kandung Rasya, bukan berarti Tisha dan Rasya bisa kembali bersama Ray. batin Zayn menyakinkan dirinya sendiri.
Zayn terlihat marah, ini pasti karena kehadiran Ray. Fayra sudah menduganya
Saat sampai di depan pintu kamar Tisha, Ray menurunkannya Rasya dari gendongannya. "Om ayo masuk, kita temui mama ku" ajak Rasya pada Ray sambil memegang daun pintu.
"Kamu masuk duluan saja, om nanti nyusul" ucapnya sembari mengelus kepala anak itu dengan lembut.
Ya Allah.. anakku benar-benar imut.
"Iya deh, aku duluan ya" jawab Rasya sambil tersenyum lalu membuka pintu kamar itu.
Saat Zayn berada di dekatnya, Ray langsung mengubah raut wajahnya menjadi dingin dan tidak berperasaan.
"Kamu mau kemana?" tanya Ray sambil menghalangi Zayn masuk ke dalam ruangan Tisha.
"Haah.. kamu benar-benar tidak tahu malu" gumam Ray dengan tawa sinis nya
"Siapa yang kamu bilang tidak tahu malu?! Zayn selama ini yang merawat Tisha dan Rasya, kamu tidak berhak menyatakan seperti ini pada Zayn!" Fayra kesal pada Ray dan membela Zayn adik sepupunya, yang selama ini menjaga dan merawat Tisha dan Rasya.
"Aku berhak! karena aku adalah ayah kandung Rasya dan aku adalah suami sah Tisha" ucap Ray tegas
"Kamu!!" Zayn mendengus kesal pada Ray dengan suaranya yang setengah berteriak itu
Farhan dan Fayra kompak menahan Zayn yang emosi pada Ray. Fayra menepuk bahu Zayn seraya menenangkan nya.
"Zayn, disini ada Rasya.. kamu harus jaga tindakan" bisik Fayra pada saudara nya itu
"Kalian tunggu di luar dulu, aku akan masuk duluan. Kami tidak ingin diganggu" Ray memperingatkan ketiga orang yang ada di depannya itu, Fayra, Farhan dan Zayn.
"Apa yang mau kamu lakukan didalam sana?!" Zayn memegang tangan Ray.
"Tentu saja menjelaskan semuanya" jawab Ray penuh percaya diri. Ray menepis tangan Zayn dengan kasar.
Ray masuk ke dalam ruangan Tisha dan menutup pintunya rapat-rapat. Sementara Zayn, Fayra, Farhan dan Gerry berada di luar sana. Mereka duduk di kursi yang ada di luar ruangan itu.
"Kamu marah kan Zayn?" tanya Fayra pada saudara nya
"Apa bisa kakak tidak tanya?! bukankah kakak melihat nya sendiri?" Zayn masih emosi, terdengar dari suaranya yang meninggi.
__ADS_1
Padahal Zayn yang lembut tidak pernah menunjukkan emosi nya seperti ini. Rupanya kehadiran Ray kembali dalam kehidupan Tisha dan Raya menjadi penyebabnya.
"Tenanglah Zayn, kamu tidak berhak melarang Raymond untuk bertemu dengan Tisha dan Rasya. Bukankah ini saat nya kamu menyerah?" Fayra seperti sedang membujuk Zayn untuk menyerah tentang perasaan nya pada Tisha.
Zayn tercekat, "Apa maksud kakak menyerah? selama ini aku yang selalu berada di samping Tisha dan Rasya, bagaimana bisa aku menyerah?"
Fayra menghela napas, ia mulai bicara pada Zayn. "Zayn, mereka memiliki ikatan yang kuat. Rasya adalah salah satu ikatan mereka yang paling kuat. Aku merasa kalau mereka memang ditakdirkan untuk bersama"
Zayn marah mendengar ucapan kakaknya, ia beranjak dari kursinya dan pergi entah kemana. Dan Farhan menyusulnya, ia takut ada wartawan atau fans Zayn yang mengikuti nya.
Di dalam ruangan rawat Tisha. Terlihat wanita satu anak itu sedang memeluk putra kesayangannya dengan penuh cinta.
"Sayang, kamu udah makan siang nak?" tanya Tisha pada anaknya
"Udah ma tadi sama Tante Fayra. Oh ya ma, mama masih sakit? apa luka jahitnya sakit? kata dokter Mama jangan banyak gerak" Rasya perhatian pada mama nya
"Hm.. iya sayang, mama gak papa kok. Cuma butuh istirahat dua hari aja" jawab Tisha dengan senyuman yang menenangkan hati Rasya
Dengan langkah yang berat, hati gemetar, Ray berjalan mendekati Rasya dan Tisha. Ia memantapkan hatinya untuk bicara dengan Tisha dan anaknya yang sudah lama tidak bertemu. Mengungkapkan kebenaran yang Tisha lupakan, tentunya mengingatkan Tisha juga akan hal yang pernah terjadi diantara mereka.
"Kenapa kamu disini?" tanya Tisha sinis pada Ray.
"Mama jangan marah-marah gitu dong, om eskrim ini adalah orang yang nolongin aku" Rasya merasa tidak nyaman dengan sikap Tisha yang sinis pada Ray
Gak tau kenapa aku sedih melihat mama bersikap sinis pada om eskrim.
"Tisha, apa kabar? bagaimana keadaan kamu?" tanya Ray sambil tersenyum pahit melihat Tisha menatap nya dengan dingin, seolah sedang melihat orang asing
Hatiku rasanya sakit sekali, dia tidak mengenaliku seperti ini.
"Bapak siapa? apa kita sedekat itu sampai bapak menanyakan kabar saya?" tanya Tisha tegas
Kenapa hatiku berdebar dan sakit secara bersamaan saat melihat nya? kenapa?. Tisha memegang dadanya yang terasa sesak. Ada perasaan tak biasa saat Ray menatap matanya.
"Kita pernah saling mencintai" jawab Ray sedih
"Apa?" Tisha terpana, melihat ke arah Ray dengan mata nya yang membulat.
"Kita juga pernah menjadi suami istri" jawab Ray lagi
"Aku dan kamu??" Tisha terkejut mendengar nya
"Dan aku adalah papa nya Rasya, Rasya adalah buah cinta kita" jawab Ray sambil melihat ke arah Rasya dengan tatapan penuh rindu dan senyuman hangat.
Tisha tercengang, entah apa yang ia rasakan saat itu. Air mata nya lah yang berbicara.
Bibir dan mata Rasya membulat kaget mendengar kata buah cinta. Seperti nya ia mengerti apa arti kata yang membuatnya kaget itu.
"Om eskrim itu.. papaku? apa itu benar?" tanya Rasya memastikan bahwa Ray adalah papa nya yang selama ini ia rindukan
"Iya nak, doa mu terkabul. Aku bertemu dengan anak dan istriku yang selama ini sangat aku rindukan.. dan itu adalah kalian" jelas Ray sambil memeluk Rasya dengan penuh rindu.
"Papa!! aku punya papa, yeah.. aku bukan anak haram, aku punya papa. Papa ku ternyata sangat tampan" Rasya memeluk papanya dan berjingkrak-jingkrak kegirangan.
__ADS_1
Aku pikir Rasya akan marah dan membenciku ketika bertemu denganku, tapi ternyata dia juga menanti kehadiran ku. Tapi kenapa Tisha diam saja? kenapa dia tidak bicara?. Ray masih memeluk putranya, namun tatapan nya tertuju pada Tisha yang diam saja dan menangis
...---***--+...