Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 71. Tidak tahu malu


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"hiks..hiks.."


Rasya masih menangis, "Papa janji gak akan ninggalin aku kan? papa..akan selalu bersamaku dan mama kan?" tanya Rasya dengan suara seraknya


"Iya papa janji gak akan ninggalin kamu, tapi papa juga butuh bantuan kamu" Ray menghapus air mata Rasya, kali ini ia mengambil tisu untuk mengusap ingus anaknya. Hal yang tidak pernah dia lakukan dalam hidupnya, mengelap ingus seorang anak kecil.


"Bantuan aku? bantuan apa pa?" Rasya menghentikan air mata nya dan menatap polos pada Ray.


"Bantu papa bujuk mama kamu untuk kembali ke Indonesia.. ke tanah air kita" Ray mengutarakan niatnya tanpa basa-basi lagi.


"Ke Indonesia? Jakarta?" tanya Rasya sesegukan "huk, huk"


"Iya sayang, kamu mau kan bantu papa? kamu ingin kan, kalau keluarga kita menjadi keluarga yang utuh?" bujuk rayu Ray pada putranya


Rasya mengangguk polos, "Aku mau"


"Kalau begitu, apa kamu bisa bantu papa?" tanya Ray dengan mata yang menaruh harapan pada Rasya agar anak itu mau membantunya.


Dengan bantuan Rasya, aku bisa mendapatkan Tisha kembali. Dan kami akan menjadi keluarga yang utuh.


"Iyah, aku mau pah..aku mau papa sama Mama bersama lagi. Aku ingin seperti orang lain yang punya mama dan papa" Rasya tersenyum lebar.


Selama ini Rasya merasa iri dengan teman-teman nya yang selalu memamerkan tentang papa mereka. Sedangkan Rasya hanya bisa menceritakan sosok mama saja pada teman-teman nya, saat ditanyakan soal papanya. Rasya selalu bingung mau menjawab apa, karena nama papa nya pun ia tidak tahu. Kini Rasya bisa percaya diri menceritakan tentang papa nya yang bernama Raymond Argantara.


"Papa juga ingin kita bersama lagi, kamu, papa dan mama kamu.. kita bisa terus bersama kalau papa dan mama kembali bersama" Ray kembali duduk di kursinya setelah menenangkan Rasya yang habis menangis.


"Tapi kenapa papa dan mama dulu berpisah? kenapa juga mama seperti tidak mau menerima papa kembali?" tanya Rasya yang menyadari sikap ketus Tisha pada Ray sebelumnya. Rasya mengambil kesimpulan bahwa hubungan kedua orangtuanya itu sangat buruk.


Ray terdiam merenung, setelah mendengar pertanyaan putranya. Apa yang membuat mereka berpisah dan apa yang membuat Tisha tak mau kembali padanya? Ray sudah tau jawabannya, mungkin karena sikapnya di masa lalu, atau masih karena masalah Zefanya yang belum usai.


Lalu bagaimana ia menjelaskan nya pada Rasya tentang semua itu? tidak seharusnya anak kecil seperti Rasya tau masalah orang dewasa. Ray yang tidak tau tentang anak kecil saja bisa mengerti bahwa Rasya tidak boleh tau masalah orang tua nya.


"Itu karena kami merasa tidak cocok saja"


"Hanya karena tidak cocok? lalu mama dan papa berpisah?" Rasya mencoba menggali lebih dalam, apa yang membuat orang tua nya berpisah di masa lalu, ia sangat penasaran.


Pasti ada masalah besar sehingga mama dan papa berpisah, tidak mungkin alasannya hanya ketidakcocokan saja. Apa papa berselingkuh? atau mama yang berselingkuh?. Rasya berfikir yang bukan-bukan.


Anak ini ternyata sangat peka, rasa penasaran dan keingintahuan nya juga begitu tinggi, persis seperti aku waktu kecil. Dia langsung mengerti jika ada yang salah. Ray tersenyum mendengar pertanyaan anaknya.


"Sebenarnya papa melakukan kesalahan besar, sehingga mama mu meninggalkan papa. Kesalahan yang sulit di maafkan, tahun-tahun itulah yang sulit mama mu lupakan" jelas Ray pada anaknya secara singkat.


Ternyata Tisha tidak menceritakan apapun pada Rasya tentang masalah kami. Dia menjaga nama baikku di depan anak kamu, semua nya semakin rumit karena dulu aku setuju bercerai dengannya. Seharusnya aku tidak pernah melepaskan nya, seharusnya aku mengikatnya di sisiku terus.


Ray menyesal telah melepaskan Tisha di masa lalu.


"Kesalahan apa itu pa? sehingga mama bersembunyi dari papa?" tanya nya lagi


"Maaf nak, tapi kamu cukup tau sampai disitu saja. Masalah orang dewasa itu rumit untuk kamu pahami. Kamu cukup bantu papa saja, membujuk mama mu" Ray mengelus kepala putra nya dengan lembut, menatap nya penuh kasih sayang.


Setelah makanan datang, Rasya dan Ray langsung melahap makanan itu dengan bahagia. Ini pertama kalinya Ray dan Rasya pergi makan berdua di luar karena Tisha tidak pernah mengizinkan Ray untuk makan bersama Rasya di luar.


Itu karena Rasya adalah anak yang pilih-pilih makanan dan mudah sakit perut kalau makan sesuatu yang salah.


Lama menghabiskan waktu di luar, Rasya dan Ray akhirnya pulang ke rumah Tisha. Disana ada Tisha yang sedang duduk dan menggambar sesuatu.


Ray menggendong Rasya yang tertidur di dekapannya. "Assalamualaikum" ucap Ray pelan sambil meletakkan keresek berisi sebuah kotak di meja yang ada di depannya.


"Waalaikumsalam, kak Ray.. Rasya kenapa?" tanya Tisha cemas melihat Rasya yang tertidur pulas di gendongan mantan suaminya.


"Kamu gak usah cemas, dia gak papa kok. Cuma tidur aja, aku akan menidurkan nya di kamar" Ray tersenyum lembut, ia pun membawa anak nya yang tertidur pulas ke kamarnya.


"Iyah" jawab nya singkat


Tisha mengikuti Ray ke kamar Rasya. Dengan hati-hati Ray merebahkan tubuh anaknya di ranjang, wajah malaikat kecil itu terlihat sangat imut di mata papa dan mamanya.


Hati Ray seperti terkoyak, mengingat berapa lama waktu yang sudah ia lewatkan tanpa melihat Rasya tumbuh besar. Tapi, belum ada kata terlambat untuk memulai nya lagi. Ray siap untuk berjuang di Medan perang untuk mendapatkan istri dan anaknya kembali.


Selesai menidurkan Rasya yang masih memakai seragam, Ray dan Tisha keluar dari kamar itu.


CEKLEK


"Kamu dan Rasya terlambat pulang" ucap Tisha dengan tangan menyilang di dada. Nada bicaranya terdengar dingin dan ketus.


Ray merebahkan tubuhnya di sofa,"Kami makan di luar dan jalan-jalan sebentar"

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu duduk? pulanglah! apa kamu tidak ada kerjaan?" ucap Tisha dengan suara ketus nya mengusir Ray


"Kalau ada Rasya saja kamu bersikap baik padaku, tapi kalau Rasya tidak melihatnya kamu bersikap kasar padaku. Sebenarnya yang mana dirimu yang asli, Latisha?"


Ray protes, karena setiap kali ada Rasya, Tisha selalu bersikap baik dan seolah akur dengannya, tapi saat anak mereka tidak melihat, Tisha akan memperlakukan Ray dengan kasar dan ketus.


"Tentu saja aku yang sekarang, saat ini. Sudahlah, kamu pulang saja. Terimakasih sudah mengantar Rasya pulang" ucap nya cuek


"Hem.. aku haus, aku ingin minum dulu. Tolong dong, bawakan minuman yang dingin untukku" kata Ray sambil rebahan di sofa dengan kaki nya yang terangkat ke atas meja.


"Hah? apa kamu bilang?"


"Kamu tidak kasihan padaku? aku bilang aku haus" jawab Ray sambil mengelus ngelus tenggorokan nya dengan wajah memelas.


"Setelah minum, kamu harus pulang!" gerutu Tisha kesal


"Kamu marah-marah terus, nanti cepet tua loh. Hati-hati juga dengan darah tinggi" Ray tersenyum menyeringai


"Heh! dasar tidak tau malu" ucapnya sambil melangkah ke arah dapur dan menyiapkan segelas minuman dingin untuk Ray.


3 menit kemudian, Tisha kembali dan membawa segelas air berwarna oranye." Ini jus jeruk ya? pasti segar" Ray langsung beranjak dari rebahan nya saat melihat jus yang dibawakan oleh Tisha.


Tunggu, aku jangan dulu menghabiskan nya. Biar aku lebih lama disini. Ray meneguk pelan-pelan dan sedikit demi sedikit jus jeruk itu.


"Oh ya, aku bawa sesuatu di keresek itu. Ayo makan bersama!" ajaknya


"Kak Ray makan saja sendiri, aku masih ada kerjaan" jawabnya dingin


Sementara Tisha masih dengan wajah masamnya, dan mulai menggambar lagi meski Ray tidak ada disana. Perhatian Ray tertuju pada Tisha yang sedang menggambar, ia menghampiri Tisha yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Kamu sedang menggambar apa?" tanya Ray penasaran dengan apa yang digambar oleh Tisha.


"Apa urusannya denganmu?" jawab Tisha ketus seperti biasanya.


Mengapa dia begitu tidak tahu malu?. batin Tisha kesal karena Ray belum pulang juga.


Ray sempat melirik kesal pada Tisha, tapi ia menahan kesalnya itu. Ray melihat sendiri apa yang digambar oleh Tisha.


"Apa sekarang, kamu seorang desainer?" tanya Ray melihat gambar-gambar Tisha yang berserakan di meja. Ada gambar desain kalung, desain baju, dan desain hiasan rumah.


Rupanya tingkat kesabarannya itu cukup tinggi. Hah!


Tisha merasa heran karena Ray tidak marah marah padanya setelah di perlakukan ketus dan sinis oleh Tisha.


GLUP


Lagi-lagi Ray menahan ludah nya sendiri, sudah berapa kali ia diperlakukan ketus dan menahan kesalnya.


"Apa sekarang kamu suka menggambar?" tanya Ray yang tidak tahu menahu tentang Tisha.


"Dari dulu juga aku suka" jawab Tisha yang masih fokus menggambar dengan pensilnya.


"Kenapa aku tidak tahu kamu suka menggambar?" gumam Ray bingung


"Mana mungkin kamu tau tentangku, kamu kan hanya sibuk dengan dirimu sendiri dan mantan pacar kamu" sindir Tisha dengan mulut pedasnya itu.


"Mulutmu pedas dan dingin sekali padaku, sejak kapan Latisha yang lemah lembut menjadi wanita galak dan dingin seperti ini" Ray mengernyitkan dahinya, keheranan dengan sikap Tisha yang sudah banyak berubah.


"Aku pernah hangat, tapi kamu nya yang dingin padaku" gumam Tisha pelan.


"Kamu bilang apa?" tanya Ray tidak jelas mendengar apa ucapan Tisha.


Tisha beranjak dari tempat duduknya lalu menatap Ray dengan sinis, "Aku bilang pulanglah, tugasmu sudah selesai disini. Jangan ganggu aku"


GREP


"Ah! apa yang kamu lakukan?!" Tisha kaget dengan kedua tangan kekar yang melingkar di lehernya. Ray memeluknya tanpa aba-aba.


"Please.. berikan aku kesempatan satu kali lagi saja, untuk memperbaiki semuanya. Aku ingin tau semua tentangmu, aku janji akan memperbaiki sikapku padamu" bisiknya lembut pada telinga Tisha.


DEG!


Tisha tersentak kaget mendengar kata-kata manis yang meluncur dari mulut Ray. Membuat Tisha jadi teringat saat pernikahan mereka dulu.


Pernikahan kontrak tanpa cinta, dan hanya cinta sepihak saja.


Mengapa baru sekarang? mengapa tidak dari dulu? Apa setelah kehilangan diriku, kamu jadi seperti ini? Apa kamu menyesal? ataukah kamu memang mencintai ku? namun apa gunanya lagi semua itu disaat harapan diantara kita sudah tidak mungkin.

__ADS_1


"Aku tidak mau" tolak nya tegas


"Pikirkan baik-baik,jangan langsung menjawabnya!" sanggah Ray yang tidak mau mendengar jawaban tidak dari mantan istrinya.


"Mau sekarang atau nanti, jawabannya akan tetap sama"


"Tidak!! jangan bilang begitu..kamu akan berubah, hatimu akan berubah" kata Ray sambil memeluk Tisha semakin erat.


Tisha mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Ray, namun Ray enggan melepaskan nya. "Lepaskan aku kak!!"


Ray tidak bersuara, ia membalikkan tubuh Tisha ke hadapannya lalu menyesap bibir Tisha.


"Akhp!!"


Kedua mata Tisha membulat kaget mendapatkan serangan yang tiba-tiba itu. Tisha memukul-mukul tubuh Ray, ingin pria itu melepaskan dirinya.


SRET


"Auch..." Ray melepaskan pelukan dan ciuman nya dari Tisha, ia memegang bibirnya yang berdarah. Merintih kesakitan.


"Tidak tahu malu!" Tisha melayangkan tangannya ke wajah Ray


PLAK!


Dengan sengaja Ray membiarkan dirinya terkena pukulan dari Tisha. Bahkan pukulan itu sampai mengeluarkan suara.


Tisha terpana melihat pipi Ray yang merah akibat perbuatan nya, "Mengapa kamu tidak menghindar?!"


Dia sendiri yang memukulku dan dia sendiri yang cemas padaku? Sungguh lucu.


Tangan Ray meraih tangan kanan Tisha dengan lembut, seraya bertanya padanya, "Apa tanganmu sakit? terluka atau tidak?"


Bibir Tisha gemetar mendengar pertanyaan Ray padanya yang terdengar seperti bentuk perhatian.


"Tidak tahu malu! kamu tidak tahu malu, pergi dari rumahku sekarang juga!" seru Tisha seraya menunjukkan pintu keluar rumahnya pada Ray.


Jangan kamu kira, aku bisa goyah hanya dengan tindakan mu saja.


Cepat atau lambat, kamu akan luluh lagi padaku Tisha. Ray yakin


"Baiklah, karena suasana hatimu sedang kurang baik dan aku juga ada rapat. Maka aku akan pulang sekarang, tapi jangan lupa makan yang ada di kotak itu. Rasya yang membelikan nya, dia ingat pada ibunya.. jadi kamu harus memakan nya" jelas Ray mengingatkan pada Tisha untuk menghabiskan makanan yang ada di kotak.


"Iya" jawabnya singkat dan dingin


"Dan terimakasih bentuk cinta mu" Ray tersenyum menyeringai, ia tidak malu menunjukkan bibirnya yang digigit oleh Tisha


Wajah Tisha memerah melihat betapa tidak tahu malu nya Ray.


"Pergi!" seru Tisha mengusirnya lagi


"Oke oke aku pergi, nanti aku datang lagi. kamu tidak bisa mengusirku, apalagi di depan Rasya.."Ray tersenyum menggoda pada Tisha


Ray mengucapkan salam lalu ia pergi dari rumah itu. Ray segera pergi ke hotel untuk rapat dengan kolega bisnisnya, hanya tinggal 2 hari lagi untuk Ray kembali ke Jakarta


Sore itu Rasya terbangun dari tidur pulas nya, Tisha menyuruhnya untuk segera mandi dan mengganti bajunya. Setelah itu Rasya mengerjakan PR nya.


"Loh, sayang kamu kenapa? mata kamu sembab?" tanya Tisha yang baru menyadari kalau mata putranya sembab


"Hehe aku gak papa ma" sahut Rasya sambil tersenyum lebar, dan menutup buku tugasnya.


Tisha memasang wajah cemas, ia memegang kedua tangan anaknya, "Gak papa gimana? apa kamu tadi habis nangis? kamu habis berkelahi? atau si pria tidak tahu malu.. maksud mama, apa papa kamu mengganggu kamu?"


"Aku memang menangis ma, aku juga berantem di sekolah. Tapi aku senang, hehe" Rasya tersenyum lebar dan bahagia


"Kamu berantem, kamu menangis tapi kamu senang? mama sungguh tidak mengerti kamu Rasya" Tisha bingung dengan apa yang dikatakan oleh anaknya


"Aku senang ma, karena aku punya papa.. papa belain aku tadi di sekolah, makanya aku nangis ma.."


Mata Tisha berkaca-kaca mendengar penuturan Rasya tentang papa nya. Kebahagiaan terpancar jelas di mata Rasya, di balik senyum polosnya, tidak dibuat-buat. Keberadaan sosok Ray memang membuat Rasya bahagia.


"Mama kenapa diam ma?" tanya Rasya pada Tisha yang melamun


"Gak papa sayang.."


"Ma, ayo kita pergi ke Jakarta.." pinta bocah berusia lima tahun itu pada Mama nya.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2