
...πππ...
Tisha terperangah mendengar kata-kata ibunya, seperti yang tidak disaring itu. Siapa wanita di dunia ini yang rela di madu? Bu Fani memang bicara seenak jidatnya.
"Ibu, aku mengerti kalau ibu tidak sayang padaku. Tapi, kata-kata ibu tidak bisa diterima!" seru Tisha kesal pada ibunya
"Loh? kok kamu ngomong gitu sih? justru ibu bilang ini sama kamu karena ibu sayang sama kamu dan memikirkan masa depan kamu. Tisha dengerin ibu ya, pria seperti Ray menikahi kamu itu adalah keberuntungan besar. Kamu tidak akan menemukan pria sesempurna seperti nya lagi, meskipun kamu kuliah di luar negeri atau bekerja di perusahaan manapun. Pria tidak akan melirik wanita yang tidak punya kecantikan, kekuasaan, dan kekayaan. Kamu punya kecantikan, tapi kamu gak punya kekuasaan ataupun kekayaan untuk menarik perhatian laki-laki. Keluarga kita sudah bangkrut dan hanya berbekal nama ayah kamu saja. Kamu tidak boleh melepaskan suamimu begitu saja, kamu harus bertahan" Omelan Bu Fani semakin lama semakin membuat Tisha pusing.
Kepalanya sudah mau pecah mendengar ibu nya terus berbicara hal yang sama secara berulang-ulang. Tisha tak mau dianggap anak durhaka, namun ia benar-benar kesal pada ibunya yang materialistis itu.
Astagfirullah, kepalaku pusing sekali.
"Ibu, keluarlah! aku mau istirahat bu.." pinta Tisha sambil memegang kepalanya yang sudah terasa pening
"Tisha kamu dengarkan ibu ya! kamu tidak boleh bercerai dari suami kamu.. Perceraian dibenci oleh Allah, kamu kan selalu bilang itu! tidak masalah dimadu, kamu akan tetap jadi istri pertama dan sah!" ujar Bu Fani mewanti-wanti anaknya itu.
Tisha hanya menghela napas mendengar ocehan panjang ibunya, ia menyeret nyeret ibunya keluar dari kamar. Lalu menutup pintu kamarnya.
"Hey! Tisha! kamu dengar ibu kan? kamu gak boleh cerai! gak boleh! nanti kamu akan jadi janda dan tidak akan ada yang mau sama kamu!" teriak Bu Fani di depan kamar Tisha, dibelakang Bu Fani ada Ray yang sedang berdiri.
"Kalau aku jadi janda, maka aku tinggal menikah lagi Bu. Mudah saja kan? lagipula aku masih muda" jawab Tisha sambil tersenyum santai. Lalu ia merebahkan dirinya di ranjang.
Dia bilang dia akan menikah lagi setelah menjadi janda? beraninya dia bicara begitu saat suaminya masih ada disini. Ray tidak bicara apa-apa, namun wajahnya menunjukkan kemarahan.
"Kamu jangan bicara sembarangan! ibu gak akan biarin kamu bercerai dari menantu Ray!" ujar Bu Fani pada putrinya dari balik pintu kamar. Saat Bu Fani membalikkan badannya, ia terkejut melihat Ray sudah berdiri dibelakangnya dengan wajah dingin.
Sejak kapan dia berdiri di belakangku? apa dia mendengar kata-kata Tisha tadi? seperti nya dia mendengar nya. Gawat! aku harus membujuknya, kalau tidak aku dan Arya bisa diusir dari sini. batin Bu Fani ketakutan akan diusir oleh Ray
"Menantu, tadi Tisha hanya bercanda saja kok. Tenang saja, ibu akan memastikan kalau Tisha tidak akan bercerai dari kamu" Bu Fani membujuk Ray yang terlihat kesal pada istrinya itu.
Apa sia-sia saja aku membawa ibu dan kakak nya kemari? kalau begitu apa boleh buat, bukankah aku harus berusaha keras agar istriku tidak menceraikan ku? aku akan mengikatnya dengan segala cara. batin Ray sambil menyeringai.
Kenapa menantu Ray? tadi dia terlihat marah, sekarang malah senyum-senyum. Menakutkan sekali. Bu Fani bergidik melihat menantunya yang tadi sedang marah, lalu sekarang senyum-senyum.
"Ibu mertua tidak usah cemas, nikmati saja waktu ibu mertua dan kakak ipar dengan baik di rumah ini. Tapi kamar kalian ada di lantai atas, jangan pernah menginjakkan kaki di kamar bawah tanpa seizin ku" jelas Ray pada Bu Fani tegas
"Menantu ku tenang saja, ibu dan Arya akan segera pindah ke lantai sekarang juga. Selamat berjuang ya, buat Tisha tidak bisa pergi darimu"
"Itu pasti ibu mertua" Ray tersenyum percaya diri bahwa ia bisa membuat perceraian nya batal.
Meski harus menggunakan cara kejam sekalipun, aku harus membuatmu tetap disisi ku dan mengembalikan sikap mu seperti sedia kala. Yang selalu hangat, menyambut ku ketika pulang bekerja, dan tersenyum padaku setiap hari.
Bu Fani dan Arya langsung naik ke lantai atas apartemen itu, yang tidak kalah luas dan mewahnya dengan lantai bawah. Bahkan dilantai atas juga sudah disediakan keperluan untuk ibu dan anak itu.
"Wah bu, disini juga ada kulkas dan dapur. Seperti nya adik iparku itu sudah menyiapkan segalanya untuk membuat kita nyaman tinggal di apartemen mewah ini" ucap Arya sambil mengambil cemilan di dalam kulkas 3 pintu yang mewah itu
"Arya, setelah ibu pikir-pikir kita tidak bisa terus bergantung pada Tisha dan suaminya. Tisha tidak bisa dibujuk, dia seperti nya sudah sangat yakin bahwa dia akan bercerai dengan suaminya" Bu Fani terlihat berfikir, ia merebahkan dirinya di kursi empuk.
"kalau begitu kita harus membujuknya lebih keras lagi bukan? ini kan tujuan kita tinggal di sini?" tanya Arya sambil memakan cemilannya dengan lahap
"Itu benar. Tapi ini hanya untuk jaga-jaga saja kalau suami Tisha mengusir kita dari sini, kamu harus mencari pekerjaan yang bagus. Ya, mungkin bekerja di perusahaan argantara bagus untukmu. Kita punya pegangan untuk hidup kita ke depannya" jelas Bu Fani pada anak sulungnya itu
"Bekerja? ah aku tidak mau bu, mending di rumah saja bisa bersantai-santai" Arya menolak saran ibunya untuk bekerja
BUGH!
Bu Fani memukul kepala anaknya, ia kesal karena anaknya tidak mau bekerja. Padahal dia memiliki ijazah dan nilai-nilai yang bagus, sayang sekali kalau dia terus bermain judi menyia-nyiakan kepintarannya. Bu Fani memaksa anaknya yang pemalas itu untuk bekerja di perusahaan Argantara yang memiliki seleksi ketat. Namun, Arya akan dengan mudahnya masuk ke sana karena ada Ray di sana.
__ADS_1
****
CEKRET
Ray membuka pintu kamar Tisha yang dikuncinya, dengan kunci cadangan yang ia pegang. Tisha tertidur dengan posisi yang tidak biasa, tubuhnya terlentang memenuhi ranjang.
"Pfutt.." Ray tertawa melihat posisi tidur Tisha yang tidak biasa. Ray mendekati Tisha dan memindahkan Tisha dengan hati-hati, tak lupa ia memberikan selimut hangat pada tubuhnya yang mungil itu.
Ray menatap Tisha dengan penuh cinta dan kesedihan, tangannya membelai rambut panjangnya yang tergerai.
"Maafkan aku, aku harap aku tidak terlambat untuk mengubah hatimu. Maaf baru menyadarinya sekarang kalau aku cinta padamu" Ray mencium kening Tisha dengan lembut.
Ray naik ke atas ranjang, lalu berbaring di sebelah Tisha dan memeluk gadis yang sedang tidur pulas itu.
Sinar mentari mulai menyinari melalui celah jendela. Membangunkan Tisha dari tidur pulas nya. Gadis itu masih enggan membuka mata, tangan dan kakinya nyaman menindih sesuatu yang keras.
Hum.. apa ini? seperti bukan guling. Empuk empuk, ada beberapa pack disini.. Apa? pack??!
Tisha terkejut saat tangannya memegang sesuatu yang aneh dan memiliki beberapa pack yang keras. Tisha membuka matanya perlahan-lahan dengan perasan takut.
KLEK
Tisha terkejut melihat sepasang mata indah, wajah tampan, dengan hidung mancung dan bibirnya yang tersenyum. Berada disisinya dan ia menindih tubuh pria bertelanjang dada yang sedang menatapnya itu.
"Kamu sudah bangun?" tanya Ray dengan senyuman santainya menyambut Tisha yang baru saja bangun
"Ka-kamu!!!" Tisha beranjak bangun dari tubuh suaminya, ia kaget kenapa Ray bisa tiba-tiba ada di sampingnya dan tidur dengannya?
GREP
Ray memeluk erat Tisha dalam dekapannya, hingga Tisha tak bisa bangun dari tubuhnya.
"Apa kamu pikir hanya kamu satu satunya yang memiliki kunci? kamu lupa ya ini rumah siapa?" tanya Ray sambil tersenyum manis, tangannya masih memeluk istrinya.
"Lepaskan aku! aku bisa terlambat kerja"
"Suami memeluk istri pun tidak boleh?" tanya Ray dengan nada manja
"Aku tidak mau dipeluk olehmu, kalau mau peluk ya kamu peluk saja Zefanya!" seru Tisha kesal
"Tisha, kamu cemburu?" tanya Ray sambil menatap istrinya
"Omong pasang apalagi yang kamu bicarakan? untuk apa aku cemburu, aku juga tidak mencintaimu lagi" Tisha beranjak dari tubuh suaminya
"Pembohong" gumam Ray yang tidak percaya kata-kata yang keluar dari mulut istrinya.
Kau mengatakan ini karena kau marah padaku, aku tau kau masih cinta padaku.
"Kalau aku berbohong, aku tidak akan mungkin mengajakmu bercerai" ucap Tisha tegas
Aku mencintaimu kak, aku sangat cinta. Tapi, aku juga benci.
"Baiklah kalau kau memang tidak mencintai ku, tidak apa-apa. Tapi, selama satu minggu ini kamu harus menjalankan kewajiban mu sebagai seorang istri"
"Apa maksud kamu?" tanya Tisha
"Jalankan kewajibanmu sebagai seorang istri kepada suami, contohnya menyiapkan pakaian suami, mengurus keperluan mandinya, dan tentu saja termasuk hubungan suami istri" jelas Ray tegas pada Tisha
__ADS_1
DEG!
Tisha terpana mendengar kata-kata suaminya.
Apa yang dia katakan? kenapa aku harus melakukan itu? kami kan akan bercerai?
"Kalau kau mau melakukan itu, lakukan saja dengan Zefanya. Jangan minta padaku!"
"Kamu lupa ya? aku adalah suamimu dan Zefanya adalah orang asing bagiku. Kamu mau berdosa tidak melayani suamimu?" tanya Ray sambil mendekati Tisha yang sudah berdiri di ambang pintu.
Benar juga, aku masih istrinya dan kami belum bercerai. Jadi aku masih memiliki kewajiban untuk melayaninya. Aku tidak boleh mengabaikan kewajiban itu. batin Tisha berfikir
"Baiklah, aku akan melakukan kewajiban ku sebagai istri. Kamu akan mandi kan? aku akan siapkan airnya" kata Tisha santai, ia melangkah ke arah kamar mandi.
Tiba-tiba saja Ray menarik tubuhnya ke dalam kamar mandi. Ray mencium bibir istrinya dengan penuh gairah dan kelembutan.
"Hmphh!!"
Pintu kamar mandi itu terbuka lebar, Ray masih mencium istrinya dan semakin mendorongnya ke dalam. Mereka pun sama-sama jatuh ke bathub.
BUGH!
"Haahh.. apa yang kamu lakukan sih? bukannya kamu mau mandi?" tanya Tisha yang saat ini berada diatas tubuh Ray
"Ya, aku mau mandi bersama mu"
"Apa kamu sudah gila?!!" Tisha menatap suaminya dengan penuh kesedihan dan luka
Kak Ray.. apa kamu bersikap seperti ini karena mencintaiku? atau karena kamu hanya membutuhkan aku?
"Aku sehat-sehat saja. Wajar kan kalau aku mau mandi bersama istriku, bukanlah itu tugasmu juga sebagai seorang istri?"
"Kamu menggunakan kata-kata istri lagi!" Tisha ngambek dan wajahnya langsung cemberut.
Dia curang!
Kalau lagi marah, dia imut banget. batin Ray sambil senyum-senyum melihat istrinya.
"Apa aku mengatakan hal salah? setahuku itu benar, kamu istriku kan?" Ray dengan santainya melingkar kan kedua tangannya di pinggul istrinya seraya menggodanya.
"Iya kamu benar. Kalau begitu mandi saja sendiri! aku mandi dikamar mandi luar saja!" Tisha beranjak dari tubuh Ray yang ada di bathtub itu. Tapi Ray tidak membiarkannya pergi begitu saja.
"Kamu boleh pergi, tapi cium dulu" Ray tersenyum dan menunjuk nunjuk ke arah pipinya yang minta dicium.
"Pipi saja ya!"
Tisha, ini kewajiban mu. Kalau menolak, maka aku berdosa.
"Iya iya, cepat nanti ku lepaskan" kata Ray
Tisha mempersiapkan bibirnya untuk mendarat di pipi suaminya. Tapi, Ray membalikkan kepalanya, saat Tisha akan mencium pipinya.
CUP
Bukannya pipi nya yang tercium oleh bibir Tisha, tapi bibir suaminya. Mata Tisha membulat kaget, padahal ini bukan kali pertamanya berciuman dengan Ray. Namun, entah mengapa ciuman ini berbeda.
"Terimakasih istriku, aku jadi semangat kalau kamu melakukan ini. Apalagi setiap pagi " Ray tersenyum tidak tahu malu setelah mendapat kecupan cinta dari bibir manis istrinya.
__ADS_1
...---****---...