Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 39. Keributan Pagi hari


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Dasar genit, kenapa dia jadi tidak tahu malu seperti ini? kemana sikap es batu nya itu? dia seperti Ray yang berbeda. Tisha menyentuh bibirnya dengan jari jari nya.


Tisha menunduk setelah dirinya merasa ditipu oleh Ray, bukan ciuman di pipi tapi malah ciuman di bibir. Ray benar-benar nakal dan tidak tahu malu.


Ray tersenyum puas melihat istrinya yang merona, setelah sukses ia menggodanya.


Apa aku memang harus jadi tidak tahu malu seperti ini, agar kamu membatalkan perceraian kita?. Batin Ray berfikir keras


Tisha buru-buru berdiri, ia pun keluar dari kamar mandi meninggalkan Ray sendirian disana.Tak lupa Tisha membawakan handuk untuk suaminya sebelum pergi keluar dari kamar mandi.


"Ini handuknya, aku akan siapkan baju dan sarapan dulu" kata Tisha malu-malu melihat suaminya telanjang.


"Sekalian bungkus juga untuk makan siang ku" ucap Ray pada istrinya, ia tidak malu membuka bajunya di depan Tisha.


"Iya " jawab Tisha singkat. "Eh, kakak mau sarapan apa?" tanya Tisha lagi


"Apapun yang kamu buat pasti akan aku makan" jawab Ray sambil tersenyum lembut


Apa aku sudah cukup lembut padanya? aku akan coba lebih perhatian lagi padanya, agar hatinya kembali padaku. batin Ray


Dia bicara seperti playboy, padahal dia tidak pernah bicara seperti ini sebelumnya. Tapi aku Latisha Anindita, tidak akan menarik kembali keputusan ku.


Tisha keluar dari kamarnya, ia menyiapkan sarapan dibantu oleh Bu Fani. Saat Bu Fani sedang menata makanan di meja makan. Tisha pergi kamar mandi untuk membersihkan dirinya, agar bisa segera berangkat bekerja ke kantor seperti biasanya.


Bu Fani menata makanan ke kotak bekal yang akan dibawa Ray. Isinya ada sosis asam manis, ayam goreng, nasi secukupnya, dan mie goreng yang sudah di masak Tisha.


"Sudah beres. Oh ya, Arya kemana ya? pasti dia masih tidur. Aku akan bangunkan dia" Bu Fani melangkah pergi dari dapur, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara orang yang membuka pintu apartemen itu dengan code.


Tit..tit.. Tit..


KLAK


"Sayang, aku datang!!" Zee muncul sambil membawakan sekotak makanan di tangannya, gadis cantik itu tersenyum lebar saat masuk ke dalam rumah. Namun, senyumannya menghilang saat melihat wanita paruh baya berpakaian lusuh sedang berdiri tak jauh darinya.


Zee menatap nya dengan tatapan sinis dan merendahkan. Bu Fani sendiri tidak takut untuk menatap Zee dari atas sampai ke bawah.


Siapa wanita cantik ini? kenapa penampilan nya seperti pelacur? Tapi, aku seperti pernah melihat wajahnya. batin Bu Fani menilai penampilan Zee yang seksi, dan bajunya terbuka.


"Kamu pasti pembantu baru ya? mana bi Ani?" tanya Zee sambil duduk di meja makan dengan tidak tahu malu. Duduk di kursi yang biasanya Tisha tempati.


"Enak saja kamu bicara! kamu yang siapa? aku adalah ibu mertua pemilik apartemen ini" tanya Bu Fani sinis, dia marah karena Zee memanggilnya pembantu.


"Apa? oh jadi kamu ibu si gadis kampung itu, pantas saja sama-sama kampungan" Zee tersenyum mengejek pada Bu Fani

__ADS_1


"Apa kamu bilang?! aku dan putriku, apa?" tanya Bu Fani yang kesal di ejek oleh Zee, lebih tepatnya di hina oleh Zee.


"Kampungan, kalian ibu dan anak sama-sama kampungan!" Zee tersenyum santai, ia seperti tidak takut apapun.


Bu Fani menggigit bibir bawahnya dengan kesal, ia gemas ingin mendidik bibir dan lidah cantik yang sudah menghina dirinya dan Tisha. Bu Fani bersiap-siap mengambil segelas air untuk disiram kan pada Zee.


Namun, Tisha datang dan mengambil gelas yang berisi air minum itu dari tangan Bu Fani


"Biar aku saja bu" ucap Tisha dengan wajah kesal, matanya melirik ke arah Zee yang masih tersenyum mengejek nya.


CURR..


"PFut.." Bu Fani tertawa melihat keberanian Tisha menyiram air ke kepala Zee. Zee terlihat sangat kesal pada Tisha dan Bu Fani.


Aku tidak menyangka Tisha terlihat sangat berani. Apa wanita ini yang akan menjadi istri kedua menantuku?


"Oh my God! kalian benar-benar ya, orang-orang kampungan yang tidak tau etika!" seru Zee setengah berteriak, kini rambut Zee yang sebelumnya rapi itu menjadi basah kuyup begitu pula dengan bajunya.


"Mulutmu itu yang tidak punya etika. Kamu boleh menghina ku sepuas hatimu, tapi kamu tidak boleh menghina keluargaku. Cepat! minta maaf pada ibuku!" seru Tisha sambil memelototi gadis yang ada di depannya itu dengan marah.


Dia boleh saja menghina ku, tapi dia tidak boleh menghina keluargaku. Apalagi ibu, meskipun aku masih marah padanya. Tapi ibu tetaplah ibuku, dan orang yang lebih tua darinya.


DEG!


Hati Bu Fani tersentak mendengar Tisha membelanya. Ada rasa tidak nyaman di hatinya saat putrinya membelanya.


"Minta maaf? aku tidak mau meminta maaf pada orang rendahan seperti kalian! dan kamu juga sudah menumpahkan air ke kepalaku, kamu juga harusnya minta maaf padaku!" Zee menatap Tisha dengan wajah kesal


Bu Fani menyiram lagi Zee dengan air, kali ini Bu Fani mengarahkan air itu ke wajah Zee.


BYUR4


"Oh my God!! kalian benar-benar menyebalkan!" Zee tidak tahan lagi, ia pun menghampiri Bu Fani dan menjambak rambut nya.


"Hey! apa yang kamu lakukan pada rambutku? dasar pelakor tidak tahu malu!" Bu Fani tidak terima begitu saja dirinya di jambak oleh Zee. Mereka pun saling menjambak satu sama lain.


"ACK! hey kampungan, apa yang kamu lakukan pada rambut berhargaku?! aku baru saja ke salon tadi malam!" Zee kesakitan saat tangan Bu Fani menjambak rambutnya.


Bu Fani tidak habis pikir bagaimana bisa ada orang yang begitu tidak tahu malu seperti Zee. Pelakor yang sangat tidak berakhlak, sudah tau ada istrinya di rumah masih saja ingin menganggu rumah tangga orang.


Akhirnya terjadilah keributan diantara mereka berdua, Bu Fani dan Zee saling jambak satu sama lain. Mereka sama-sama tidak mau mengalah.


"Kalian jangan bertengkar lagi! sudah!!" seru Tisha mencoba menengahi Zee dan ibunya yang sedang saling jambak itu. Namun, mereka berdua tidak mendengar kata-kata Tisha.


Ya ampun!

__ADS_1


"Kamu lebih baik pergi saja dari sini! jauh jauh dari anak dan menantuku! sayang sekali wajah cantikmu itu kamu gunakan untuk menggoda suami orang!" seru Bu Fani mengejek sambil menjambak rambut Zee dengan keras.


"Lebih baik, kamu suruh anak kamu saja yang menyingkir dari Ray! sejak awal Ray adalah milikku, anakmu yang merebutnya!" seru Zee yang tangannya semakin menggenggam erat rambut Bu Fani yang tidak begitu panjang itu.


"Merebut?? kamu yang pelakor hah! anakku adalah istri sah suaminya!"


"Mending aku pelakor daripada anakmu tuh yang pelacur!"


Mendengar kata pelacur yang kasar keluar dari mulut Zee, amarah Bu Fani semakin meledak. Bu Fani mendorong Zee dan mencakar cakar tangannya. Zee tidak berdaya dengan kekuatan Bu Fani menyerang nya.


"Kamu bilang apa? anakku pelacur?!!" Bu Fani menatap tajam Zee yang berada di bawah badannya.


"Lepaskan aku! dasar kalian makhluk-makhluk bar-bar! aku akan menuntut mu dan anak mu yang pel*cur itu karena telah melakukan kekerasan padaku!" teriak Zee mengancam, ia juga berusaha melawan Bu Fani yang menindih tubuhnya.


Sialan! wanita kampungan ini, tenaganya cukup besar.


"Atas dasar apa kamu mengatakan kalau anakku adalah pelacur?!!" tanya Bu Fani dengan suaranya yang menggelegar


Arya yang baru saja selesai mandi, segera turun ke bawah begitu mendengar keributan dari lantai bawah. Bersamaan itu, Ray juga keluar dari kamarnya setelah bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


"Dengar ya wanita kampung, anakmu menikah dengan pacarku karena dia membutuhkan uang untuk membayar hutang-hutangnya. Dan mereka berada dalam pernikahan kontrak, dia menyerahkan dirinya demi uang. Apalagi namanya kalau bukan pel*cur?" Zee tersenyum sinis, Zee puas melihat wajah Bu Fani yang terlihat terpukul dan sedih.


DEG!


Hati Arya dan Bu Fani terhentak mendengar ucapan Zee. Berisi kebenaran tentang pernikahan Tisha dan Ray, bahwa Tisha dan Ray hanya menikah kontrak karena hutang. Entah kenapa Arya dan Bu Fani yang selalu menindas Tisha, saat itu malah terlihat sedih dan merasa bersalah dengan ucapan Zee.


Tisha menikah dengan pria ini karena dia membayar hutang? apa ini karena ibu dan aku? jadi Tisha menikah dengan nya bukan karena mereka saling cinta?. Batin Arya merasa tertohok


"Apa yang dikatakan si pelakor ini, benar Tisha??!" tanya Bu Fani sambil beranjak dari tubuh Zee, lalu ia melirik ke arah putrinya dan Ray.


Lagi-lagi rasa sesak mendatangi Tisha, kebenaran pernikahan kontraknya kembali membuka luka lama di hatinya. Tisha tak bergeming, matanya seolah mengatakan semuanya benar.


Bu Fani dan Arya juga terdiam melihat Tisha yang tidak bergeming. Disisi lain Zee langsung menghampiri Ray dan menggandeng tangannya, ia menunjukkan luka luka di wajahnya akibat ulah Bu Fani.


"Ray, lihat! wajahku di lukai oleh mereka berdua. Mereka menindas ku, kamu harus lakukan sesuatu" Zee memelas dengan sikap manjanya pada Ray.


"Salah kamu sendiri yang tidak menjaga mulutmu!" Ray menepis tangan Zee. Mau gadis itu melakukan apapun, hatinya sudah tidak tergerak padanya. Hatinya seperti sudah mati, semua rasa yang pernah ada untuk Zee.


Kenapa Ray? kenapa kamu seperti ini? dulu kamu sangat mencintaiku?. Lagi-lagi Zee menelan kepahitan dan kekecewaan dari sikap Ray padanya.


Ray menghampiri ibu mertuanya dan menanyakan keadaan ibu mertuanya itu. Bu Fani tiba-tiba berubah sikapnya pada Ray menjadi lebih dingin.


Bu Fani dan Arya menatap Tisha dengan penuh rasa bersalah. Mata nya berkaca-kaca saat melihat ke arah Tisha.


Ada apa dengan ibu dan kak Arya? kenapa mereka menatapku begitu?

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2