
πππ
Tisha tertegun dengan kata-kata Ray padanya, seolah hatinya yang dingin itu mulai kembali menghangat. Sempat terlintas pikiran, haruskah dia mengakhiri semua ini dan menerima Ray kembali? Jika dia berfikir panjang, Rasya memang butuh papa kandungnya. Bagaimana pun juga seorang ayah pasti akan mencintai putranya melebihi apapun di dunia ini. Sama seperti hal nya Ray yang mencintai Tisha.
Namun setelah dia pikir-pikir lagi ini masih terlalu cepat dan Ray belum bisa menemukan dalang dibalik kecelakaan yang membuat ibu dan kakak laki-laki nya tiada.
"Ini terlalu cepat kak... kamu bahkan belum menemukan siapa dalang dibalik kecelakaan enam tahun lalu. Jangan harap aku akan menerima mu sebelum kamu melakukan nya"
"Aku mengerti, aku tidak akan memaksamu" Ray tersenyum pahit mendengar penolakan lagi dari bibir manis Tisha. Di dalam hatinya Ray yakin bahwa sebentar lagi kebenaran akan terungkap, Tisha dan Rasya akan bersamanya lagi. Hanya masalah waktu saja untuk membuka semua kebenaran.
Puas bermain-main disana, Rasya mengajak kedua orang tuanya untuk bermain di tempat karaoke. Akan tetapi Tisha menolak karena hari sudah mulai gelap dan mereka juga belum membeli baju Rasya. Takutnya mall akan segera tutup.
Tisha, Rasya dan Ray berjalan bersama, mereka pergi ke toko pakaian anak. Disana ada berbagai macam baju anak-anak, Tisha dan Ray memilih baju untuk Rasya dengan fokus. Hampir semua baju yang disebutkan oleh Tisha bagus, dibelikan oleh Ray. Alhasil Ray dan Tisha membeli banyak baju untuk Rasya.
"Tidakkah ini terlalu banyak? ini kan namanya pemborosan" gerutu Tisha melihat 5 pengawal Ray membawa banyak kantung baju dan itu semua adalah baju untuk Rasya.
"Uang itu ada untuk dihabiskan, lagian ini uang ku kan? dan juga aku membelikan barang bermanfaat untuk Rasya" jawab Ray cerdik
"Haaa.. iya bermanfaat sih bermanfaat tapi jadi mubazir" Tisha tetap saja mengeluh, menurutnya belanja banyak seperti ini adalah pemborosan.
"Kamu tidak berubah, selalu menganggap kalau semuanya mubazir. Bilang saja kalau kamu pelit" Ray tersenyum menyeringai, dia ingat benar kalau dulu Tisha pernah berbelanja dengan sekali dan Tisha selalu mengatakan mubazir jika belanja banyak.
Kenapa aku jadi ingat waktu dulu aku menikah dengannya? saat itu dia masih gadis manis yang imut. Tapi kenapa dulu aku mengabaikan dirinya? bodohnya kamu Ray, kebodohan mu sungguh tidak tertolong lagi. Ray menyesal karena dulu dia mengabaikan Tisha yang perhatian padanya dan selalu memperhatikan nya.
"Ini bukan pelit! tapi hemat, penghematan..paham??" Tisha berkacak pinggang, dia tak mau kalah bicara dari Ray.
"Pah, mama emang pelit pah. Setiap aku makan banyak dan jajan banyak, mama juga suka bilang mubazir" ucap Rasya sambil mengemut eskrim nya dengan lidah.
"Mama bilang begitu karena setiap mama dan tante Fayra membelikan kamu makanan, kamu selalu tidak menghabiskan nya!" seru Tisha tidak mau kalah dari anaknya juga
"Sudahlah, kenapa sih sama anak sendiri aja gak mau kalah?" Ray tertawa kecil dengan sikap Tisha dan Rasya dari dekat terlihat seperti musuh.
"Aku hanya menegur nya saja agar dia tidak boros seperti papa nya" kata Tisha mengingatkan.
__ADS_1
"Haaa.. kamu masih saja mengatakan aku boros. Ya sudah deh terserah kamu saja, ckckck" Ray menggandeng tangan Rasya dan berjalan lebih dulu dari Tisha.
"Heh! kenapa kalian meninggalkan ku? ayo pergi bersama" Tisha cemburu melihat Rasya dan Ray berjalan bersama, namun di dalam hatinya dia senang karena anak dan papa itu semakin dekat.
Setelah selesai belanja dan menemani Rasya jalan-jalan, Rasya tertidur pulas di pangkuan Tisha. Mereka sampai di dalam mobil dan Rasya masih belum bangun, dia malah seperti nya tertidur nyenyak.
Dengan langkah hati-hati, Tisha menggendong Rasya keluar dari mobil. Ray menjaga agar kepala Tisha tidak terantuk bagian atas mobil dengan tangannya. Beberapa pengawal Ray membawakan barang-barang itu masuk ke dalam rumah.
"Biar aku saja yang menggendong nya" pinta Ray sembari merentangkan tangannya, bersiap menggendong Rasya. Kini Ray sudah mahir menggendong Rasya dengan nyaman, dia belajar dari video YouTube dan internet.
"Tidak perlu, kali ini biarlah aku yang menggendong nya. Sudah lama dia tidak tertidur di pangkuan ku" Tisha tersenyum memandangi buah hatinya dengan penuh kasih sayang
"Baiklah" jawab Ray sambil menarik tangannya kembali. Ray mengikuti Tisha dan Rasya dari belakang dengan patuh. Malam itu semua orang seperti nya sudah tidur, terlihat dari lampu ruang tamu dan gelap.
Dengan langkah perlahan, Tisha menaiki tangga menuju ke lantai dua sembari menggendong putranya. Ray masih mengekori dua orang tersayang nya dari belakang.
CEKRET
Ray membukakan pintu kamar itu perlahan-lahan untuk Tisha dan Rasya. "Makasih" ucap nya pada Ray sambil tersenyum lembut.
"Aku tarik lagi saja kata terimakasih itu kalau kakak gak suka" ucap Tisha kembali ketus pada Ray. Senyum Ray menghilang saat kata-kata pedas dan ketus itu di lontarkan oleh Tisha.
Dasar, kata-kata nya pedas sekali.
Tisha menidurkan Rasya di ranjang nya, tubuh Tisha berkeringat dan lelah. Dia pun meminta Ray untuk keluar dari kamar itu karena dia akan pergi mandi. Ray pun menurut dan pergi dari kamar itu tanpa basa-basi, dia tidak mau di kira memaksa lagi. Mungkin kali ini dia harus bersikap lembut pada Tisha untuk mendapatkan hatinya.
Beberapa menit kemudian Tisha keluar dari kamar mandinya, dia sudah berganti baju menjadi piyama tidur. Ray mengetuk pintu kamar itu pelan-pelan, dia mengatakan pada Tisha bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan nya.
Tisha dan Ray duduk di kursi yang ada di dekat balkon. "Ini ponselmu sudah diperbaiki" ucap Ray sambil menyerahkan ponsel Tisha yang sempat rusak.
"Oh, kakak mau bicarakan ini? ya udah aku ambil ponsel kak Ray yang kakak pinjamkan padaku" ucap Tisha sambil beranjak dari kursinya. Ray menahan tangan Tisha dan meminta wanita itu kembali duduk.
"Gak papa, kamu ambil aja. Kamu bisa punya dua hp. Duduklah!" ujar pria itu lembut
__ADS_1
"I-iya" Tisha gugup dan melepaskan tangannya dari genggaman Ray. Wanita itu kembali duduk di depan Ray.
Mendadak Ray kehilangan kata-kata ketika melihat wajah cantik Tisha yang terlihat bersinar lebih cerah pada malam itu. Padahal banyak yang ingin dia katakan pada Ray. Kedua nya sama-sama merasakan yang namanya gugup. Mungkinkah mereka sedang merasakan rasa yang pernah ada? atau rasa yang pernah ada itu mulai kembali.
"Ehm.. kak Ray mau bicara apa?" tanya Tisha hati-hati
"Em.. pertama-tama aku ingin minta maaf karena tadi sore aku bersikap kasar padamu. Aku hanya cemburu kamu akan bertemu pria lain" jawab Ray tanpa ragu mengungkapkan isi hatinya.
"Cemburu?" gumam Tisha yang merasa hatinya senang kalau Ray cemburu
"Apa kamu terluka?tadi Rasya bilang tanganmu merah?" tanya Ray sambil memegang pergelangan tangan Tisha, dan melihat ada sedikit merah disana.
"Tidak apa-apa kak, besok juga hilang" ucap Tisha sambil menarik tangannya kembali.
"Aku ambilkan dulu kotak obat ya" Ray beranjak dari kursi nya. Tisha juga ikut beranjak dari kursinya.
"Tidak perlu kak, aku benaran tidak apa-apa" jawab Tisha salah tingkah.
Tingkahnya yang salah tingkah di depan Ray itu membuatnya salah langkah. Tak sengaja kakinya tersandung kaki kursi dan membuat Tisha terjatuh.
"Hey! hati-hati!!" seru Ray sambil merentangkan kedua tangannya menangkap tubuh Tisha yang sudah oleng ke arahnya.
"KYAAA!!!"
BRUGH!!!
Tubuh Tisha kini berada di atas tubuh Ray, kedua tangannya menyentuh dada Ray.
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Ini suara jantung.. kenapa bisa begitu cepat? apakah ini memang suara yang normal?. Kepala Tisha terbenam tepat di dada Ray.
...---***---...