Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 133. Cepat pulang


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Zevanya dibawa kembali ke dalam sel nya setelah dia melihat Tisha sudah pergi. Zee membawa sebuah silet ditangannya secara diam-diam dan menyembunyikan silet itu di saku bajunya.


Semoga kamu bahagia bersama Raymond, dan selamat tinggal Latisha. Zee tersenyum pahit dan meninggalkan tempat kunjungan itu, sambil menangis.


Β 


Wanita itu keluar dari penjara, setelah pertemuan nya dengan Zeevanya yang menguras hati. Kebenaran yang selama ini mengganjal di hati nya, telah terjawab. Ray tidak pernah mengkhianati nya, dia tidak pernah tidur dengan wanita lain selain dirinya. Semua itu hanyalah rekayasa Zeevanya.


Keresahan hati nya, kini sudah sirna! Jalannya untuk kembali bersama ayah dari anaknya, semakin terbuka lebar. Tidak ada alasan lagi untuk Tisha menolak Ray, seandainya pria itu memang menginginkan dia kembali bersamanya. Tisha sudah pasti akan setuju, karena mau bagaimana lagi? Semuanya telah terjawab!


Hatinya bahagia bercampur sedih, bahagia karena dia mengetahui kebenaran dan sedihnya kenapa setelah 6 tahun baru terbongkar? Kenapa tidak dari dulu? Ya, ini sudah terjadi. Masa lalu biarlah berlalu, sekarang yang perlu di hadapi adalah masa depan. Begitulah pikir Tisha dalam hati.


Tanpa sadar dia meneteskan air mata, sungguh hatinya sangat lega dengan kejujuran Zevanya. "Kak Ray.. ternyata kamu tidak pernah mengkhianati ku.. ternyata kamu tulus padaku.. ternyata kamu tidak mencintai Zevanya lagi.. hiks"


Apakah akhirnya kita akan bersama kak? Apakah kamu benar-benar jodoh yang dikirim Tuhan untukku?


Dreet..


Dreet..


🎢🎢🎢


Baru saja berada di pikiran Tisha, pria bernama Ray itu menghubungi nya. Tisha menyeka air matanya, dia langsung mengangkat telpon dari pria itu dalam sekali dering.


"Halo, Tisha ada apa? Kamu menelpon ku sampai 5 kali? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Ray cemas. Ray sedang berjalan di bandara Belanda bersama Gerry, di baru saja sampai di tempat tujuan.


"Ka-kamu baru sampai?" tanya Tisha yang berusaha mengendalikan dirinya.


"Hey.. ada apa? Kamu nangis?" Ray mendengar suara Tisha yang terdengar parau.


"Aku gak apa-apa, aku baik-baik saja" Tisha sesegukan.


"Gak apa-apa gimana? Siapa yang buat kamu nangis? Bilang padaku!" seru Ray bersiap menghukum orang yang sudah membuat Tisha menangis.

__ADS_1


"Itu kamu bodoh" jawab Tisha sambil tersenyum manis di dalam air matanya.


"Apa?" Ray terpana.


Ini bukan saatnya membicarakan tentang kami, tapi masalah kakek lebih urgent. Tisha teringat pak Faisal yang sedang koma setelah jatuh dari tangga.


"Kak.. Kakek masuk rumah sakit, dia jatuh dari tangga" Tisha memberitahukan pada Ray tentang pak Faisal.


Deg!


Ray menghentikan langkahnya begitu mendengar sang kakek masuk rumah sakit karena jatuh dari tangga. Gerry juga ikut berhenti melangkah karena Presdir nya berhenti berjalan. Dia menatap Ray dengan khawatir.


"Apa?! Jadi kamu menangis karena ini? Kakek jatuh dari tangga? Lalu bagaimana keadaan nya?" tanya Ray cemas, dia langsung menanyakan kondisi pak Faisal.


"Kakek koma dan dokter gak tau kapan kakek akan sadar" jawab Tisha.


"Baiklah, aku akan segera kembali. Tisha, boleh aku titip kakek dulu sama kamu? Jangan biarkan dia dekat-dekat dengan om Dean atau bibi Daniah" pesan Ray pada Tisha untuk menjaga kakeknya selama dia belum pulang.


"Aku tau, kamu tenang saja kak. Cepatlah pulang" pinta Tisha sambil menangis, dia tak sabar ingin memeluk Ray dan mengatakan semua kebenaran yang dia dapatkan dari Zevanya.


"Kalau aku bilang iya, apa kamu percaya?" jawab Tisha lalu dia bertanya.


Deg!


"Kamu berhasil buat aku berdebar lagi, baiklah aku akan segera pulang untuk kamu, Rasya dan kakek" kata Ray dengan hati yang senang karena Tisha mengakui rindu kepadanya.


"Ya.. kamu harus kembali ya" Tisha berharap Ray segera kembali.


Setelah itu mereka memutuskan panggilan telpon mereka. Ray langsung menyuruh Gerry untuk menunda perjalanan bisnis pentingnya, kemudian memberitahukan orang-orang nya untuk menjaga pak Faisal, Rasya dan juga Tisha.


"Ah ya Gerry, suruh orang-orang kita untuk mengeluarkan helikopter pribadi. Bilang ini darurat, aku harus pulang secepatnya!" Titah Ray pada Gerry


"Siap pak" jawab Gerry patuh.


****

__ADS_1


Dean dan Daniah baru saja pulang dari rumah sakit. Mereka meminta Bi Iyam untuk berjaga di rumah sakit sementara waktu karena Daniah dan Dean akan berganti pakaian dan makan malam dulu.


Mereka berdua segara masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Wajah suami-istri itu terlihat resah dan tegang.


"Sayang, kenapa kita tidak habisi saja papa? Kalau dia sadar mungkin dia akan menjebloskan kita ke dalam penjara" Daniah memegang erat tangan suaminya, dia tidak mau berada di dalam jeruji besi.


"Dimana otakmu itu Daniah? Kamu mau aku membunuh papa ku sendiri?! Apa kamu sudah gila?!" tanya Dean dengan suara yang sedikit meninggi. Sekilas, wajah Dean terlihat sedih.


"Iya aku tau dia papa kamu, tapi apa kamu tidak takut kalau dia sadar lalu dia akan menyeret mu ke dalam penjara?! Aku tidak mau dipenjara sebelum harta kekayaan papa jatuh ke tangan kita dan anak-anak kita!" seru Daniah tidak mau berakhir di bui.


"Aku juga sama takutnya denganmu, tapi...aku tidak bisa menghabisinya! Dia papa ku dia papa kandungku!" teriak Dean yang menjadi tampak emosional setelah mendengar ucapan Pak Faisal sebelum pria itu masuk rumah sakit dan berada dalam keadaan koma.


#FLASHBACK


Beberapa jam sebelumnya, Pak Faisal berniat pergi keruang kerjanya untuk mengambil kacamata bacanya yang tertinggal disana.


"Kenapa pintunya terbuka? Perasan sudah ku kunci" Pak Faisal mengerutkan keningnya, dia yakin sudah mengunci pintunya. Lalu mengapa pintu ruang pribadinya itu terbuka lebar?


Pak Faisal melangkah perlahan-lahan menuju ke arah pintu. Sontak saja kedua matanya membulat melihat Dean dan Daniah sedang mengobrak-abrik barang-barang di laci mejanya.


"Sayang, papa mu benar-benar mewariskan banyak hartanya pada Raymond dan anak nya! Sedangkan anak-anak kita hanya mendapatkan sedikit? Apa apaan ini?" protes Daniah begitu dia melihat salah satu surat yang dibungkus amplop coklat.


"Papa benar-benar keterlaluan, hanya karena aku hanyalah anak angkat.. papa memperlakukan ku dengan buruk sampai akhir" Dean mendengus kesal melihat surat wasiat itu.


"Apa yang sedang kalian lakukan?!" teriak Pak Faisal pada pasangan suami istri itu yang tengah berada di dalam ruangan pribadi nya. Matanya melotot, dia tampak kecewa dan marah disaat yang bersamaan.


Deg!


Suara keras itu sontak saja membuat Daniah dan Dean terkejut setengah mati. Mereka sudah ketahuan berada di dalam ruangan papa nya.


Dean dan Daniah menoleh ke arah Pak Faisal yang tengah berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajamnya.


...---***---...


Mau lanjut, komen dulu 🀭❀️

__ADS_1


__ADS_2